NovelToon NovelToon
Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Jejak Bintang Di Ujung Mantra

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:781
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.

Namun takdir berkata lain.

Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.

Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Cahaya yang Membebaskan

Hutan Ilusi kembali diselimuti oleh keheningan. Namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena seluruh makhluk didalamnya seolah ikut menahan napas. Retakan-retakan hitam yang menyelimuti tubuh raksasa itu terus melebar, ia memuntahkan kabut pekat yang berputar seperti pusaran badai.

Kini, raungannya berubah menjadi sebuah jeritan panjang yang menggema di antara pepohonan tua, raungannya itu bahkan memecahkan kesunyian hingga ke batas hutan. Di balik retakan itu, sepasang mata emas masih menatap lurus ke arah Aurelia.

Tatapan yang diberikannya tidak diselimuti dengan kebencian maupun ancaman, namun tatapan itu terlihat adanya kelelahan yang begitu mendalam dan juga sebuah permohonan untuk ditolong.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Bisik Aurelia lirih, karena Aurelia tampak bisa merasakan tatapan perempuan dihadapannya saat ini.

Orion tampak menggenggam erat pedangnya, untuk pertama kalinya sejak Aurelia mengenal dirinya, wajah pria itu terlihat tengah kehilangan ketenangannya yang selama ini ia miliki.

“Itu bukan monster.” Suara Orion terdengar berat. “Tapi dia adalah Penjaga.” Ucapnya lagi yang membuat Aurelia langsung menoleh ke arahnya.

“Penjaga?” Orion mengangguk perlahan

“Penjaga Astralis.” Kalimat itu bahkan sampai membuat Caelum mendongakkan wajahnya. Terlihat jelas dalam ekspresinya bahwa ia juga tidak menduga kenyataan tersebut.

“Mustahil,” gumamnya tidak percaya. “Bukankah Para Penjaga Astralis seharusnya sudah lenyap selama ratusan tahun lalu.” Orion tidak membantah pernyataan yang di lontarkan oleh Caelum.

“Kau benar.” Jawab Orion dan Aurelia serta yang lainnya tampak masih tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi saat ini. “Dan yang berdiri didepan kita sekarang adalah tubuh kosong yang dipenuhi oleh kegelapan.” Lanjut Orion dan makhluk itu kembali meraung.

Kabut hitam yang keluar dari tubuhnya kini semakin banyak, kabut itu kemudian membentuk puluhan tangan bayangan yang mencengkram pepohonan di sekitarnya hingga batang-batang besar itu patah satu per satu. Lyra yang melihat itu pun spontan melangkah mundur.

“Relia,” suara Lyra mulai terdengar bergetar. “Aku bisa merasakan mana gelap yang sangat besar. Kalau terus begini, hutan ini akan runtuh.” Lanjutnya lagi.

Di luar Arena Celestia, puluhan professor telah membentuk lingkaran sihir raksasa di sekeliling arena. Kristal-kristal pelindung mulai bersinar terang, sinarnya berusaha untuk mempertahankan kestabilan Hutan Ilusi yang kini mulai kehilangan kendali, Profesor Cedric bahkan sampai mengeluarkan keringat dingin.

“Segelnya sudah benar-benar retak.” Ujar professor Cedric.

“Kalau energi itu sampai lolos keluar, seluruh akademi akan terkena dampaknya.” Professor Elowen menggenggam tongkatnya lebih erat.

Kepala Akademi Aldric tidak mengalihkan pandangannya dari langit. Awan hitam yang menggantung di atas akademi kini mulai berputar membentuk pusaran raksasa, sebuah fenomena yang hanya tercatat sekali dalam sejarah.

“Jadi, ramalan itu sudah benar-benar dimulai.” Gumam Aldric yang tidak melepaskan pandangannya dari langit tersebut

Sedangkan didalam hutan, tubuh Aurelia tiba-tiba diselimuti cahaya keemasan, tongkat Astralisnya kembali terlepas dari genggamannya dan perlahan melayang di depan wajahnya. Kristal berbentuk bintang itu kembali berdenyut lembut dan terasa hangat, seolah sinarnya tengah memanggil seseorang.

“Pergilah. Ini terlalu berbahaya.” Kata Orion tanpa menoleh. Namun kaki Aurelia tetap terpaku, karena ia merasa bahwa sebenarnya ia tidak boleh pergi dari sana.

Tatapan mata emas itu terus memanggil dirinya, seperti ada sesautu yang belum selesai dan sesuatu yang hanya ia sendiri yang mampu melakukannya. Tanpa sadar, kaki Aurelia melangkah maju mendekat pada sosok di hadapannya.

“Relia.” Spontan Lyra menarik lengan sahabatnya itu. “Aku mohon jangan.” Namun sebelum sempat menghentikannya, cahaya Astralis memancar lembut menyelimuti tangan Lyra, cahaya itu bukan untuk mendorongnya, namun seolah berkata untuk mempercayainya.

Kemudian, Lyra melepaskan genggamannya pada lengan sahabatnya, tatapannya benar-benar dipenuhi dengan kecemasan, tetapi ia memilih percaya, percaya pada sahabatnya.

Setiap langkah yang Aurelia ciptakan akan membuat cahaya keemasan di setiap pijakannya. Rumput yang sebelumnya menghitam kembali menghijau, pepohonan yang layu perlahan muncul daun-daun yang baru, bahkan udara yang dipenuhi oleh mana gelap mulai terasa lebih ringan.

Makhluk raksasa dihadapannya tidak bergerak, ia hanya memandangi Aurelia. Semakin dekat gadis itu dengan makhluk tersebut, cahaya merah di matanya semakin meredup dan yang tersisa hanyalah sepasang mata emas.

Aurelia berhenti beberapa langkah didepannya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia dapat mendengarnya sendiri. “Aku…” Aurelia menarik napasnya dalam-dalam. “… tidak tahu siapa dirimu. Tapi aku tidak ingin melihatmu menderita.” Makhluk itu mulai menundukkan kepalanya secara perlahan.

Tubuhnya yang begitu besar kini tampak rapuh, lalu suara itu kembali terdengar, bukan melalui telinga, melainkan langsung di dalam hati Aurelia. “Anak cahaya.. akhirnya kau datang.” Aurelia membelalak dan tanpa sadar air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya.

Entah mengapa suara itu begitu akrab dan begitu hangat. Seperti seseorang yang telah lama menunggunya pulang. “Apa yang harus kulakukan?” bisiknya.

“Sentuhlah cahaya didalam kegelapan.” Aurelia mengangkat tangan kananya. Perlahan, ia menyentuh retakan hitam yang memenuhi dada makhluk itu. Begitu ujung jarinya menyentuh permukaan retakan, sebuah ledakan cahaya keemasan memenuhi seluruh Hutan Ilusi.

Seluruh pepohonan didalam sana diterangi ribuan partikel menyerupai bintang, kabut hitam mulai menghilang satu per satu seperti salju yang mencair diterpa matahari pagi. Raungan makhluk itu berubah menjadi helaan napas panjang yang terdengar damai dan tenang hingga retakan-retakan hitam dalam tubuhnya mulai memudar.

Kini, tubuh raksasa itu perlahan hancur menjadi ribuan cahaya kecil yang beterbangan ke langit. Tidak ada suara ledakan yang terjadi, yang ada hanya sebuah cahaya, dan ditengah ribuan cahaya itu terdapat sosok pria berjubah putih tengah berdiri disana.

Sosok pria itu memiliki rambut panjang yang berwarna keemasan, matanya juga berwarna emas dan ia tersenyum lembut pada Aurelia. Semua orang disana membeku, bahkan Orion perlahan menundukkan kepala sebagai bentuk kehormatan.

“Penjaga Astralis…” bisiknya. Pria itu memandang Orion, lalu mengangguk pelan sebelum kembali menatap Aurelia.

“Terima kasih.” Suaranya kini terdengar sangat jelas. “Bukan karena kau telah membebaskanku, melainkan karena kau masih memilih belas kasih.” Aurelia menundukkan kepalanya.

“Aku hanya mengikuti kata hatiku,” ucapan itu membuat pria dihadapannya tersenyum lagi dan senyumannya semakin hangat.

“Itulah alasan kenapa Astralis memilihmu.” Katanya yang membuat Caelum memejamkan kedua matanya untuk sesaat, karena semua dugaannya kini telah menjadi kenyataan.

Pria berjubah putih itu kini mengangkat tangannya. Di udara muncul sebuah bintang kecil yang bercahaya, ia meletakkannnya tepat di depan Aurelia. “Bawalah itu. Itu bukan kekuatan, melainkan sebuah kenangan. Suatu hari nanti, ketika waktunya tiba, bintang ini akan menunjukkan jalan menuju jawaban yang selama ini kau cari.” Pungkasnya.

Belum sempat Aurelia mengajukan pertanyaan, tubuh pria itu mulai berubah menjadi cahaya.

“Siapa.. sebenarnya aku?” Pria itu tersenyum dengan begitu lembut,

“Lihatlah langit, karena jejakmu selalu berada di antara bintang-bintang.” Kalimat terakhir itu menghilang bersamaan dengan tubuhnya, dan ribuan cahaya kecil naik ke angkasa secara perlahan menembus dedaunan, lalu menghilang di balik awan.

Hutan Ilusi kembali diselimuti dengan keheningan, namun keheningan sekarang buka hening yang mencekam, tetapi keheningan yang terasa damai. Lalu, Orion tiba-tiba menghembuskan napas panjangnya.

“Sudah berakhir.” Orion tampak merasa lega saat ini.

Di waktu yang bersamaan, seluruh Hutan Ilusi perlahan diselimuti cahaya keemasan yang lembut. Sihir buatan akademi perlahan menghilang dan suara Kepala Akademi Aldric terdengar menggema dari segala penjuru.

“Seluruh peserta segera kembali ke Arena Celestia, ujian dihentikan.” Aurelia menggenggam bintang kecil yang kini berada ditelapak tangannya. Benda itu terasa hangat dan untuk pertama kalnya sejak memasuki Akademi Aetherion, ia merasa dirinya baru saja melangkah satu langkah lebih dekat menuju kebenaran.

Sedangkan ditempat yang jauh akademi, lebih tepatnya sebuah kastel dibalik pegunungan Utara, seseorang perlahan membuka matanya. Di hadapannya, sebuah bola kristal memperlihatkan seluruh kejadian yang terjadi di Hutan Ilusi dan pria berjubah hitam itu menyunggingkan senyum tipis miliknya.

“Jadi, Pewaris Astralis akhirnya benar-benar telah terbangun.” Gumamnya pelan. Di belakang pria itu terdapat puluhan sosok berjubah gelap segera berlutut.

“Apa Anda memiliki perintah, Yang Mulia?” Pria itu bangkit dari singgasananya. Tatapan merahnya menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang.

“Mulailah persiapannya. Karena permainan kita baru saja dimulai.” Katanya yang masih tak mengalihkan pandangannya dari kristal miliknya dengan smirk yang ia lukiskan di bibirnya.

1
Diana Novitasari
rekomendasi dari kak Adib, aku baru baca sampai bab 5 🤭, sudah bagus👍
ujang casper
lanjut
ujang casper
ceritanya menarik, ada unsur harry potternya, keren min
Anonim
bagus ceritanya, kalimatnya tersusun rapi
Anonim
lanjut kak
kyu rin97
ceritanya sejauh bab 5 yg aku baca bagus, recommended, pertahanin kak
kyu rin97
seru kak, next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!