Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.
Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.
Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!
Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?
#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern
#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa
#ZeroToHero #BenciJadiCinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buffering di Ambang Batas Lantai Empat Puluh
Suara deru mesin lift barang itu tidak lagi terdengar seperti mesin hidrolik biasa. Berkat modifikasi spiritual instan yang dilakukan Dika, suara itu kini lebih mirip raungan naga kuno yang dipaksa menelan solar nonsubsidi. Kabin lift bergetar hebat, membuat lampu kuning di langit-langitnya berkedip kesurupan.
Lina terpaksa berjongkok sambil mencengkeram besi pegangan di dinding lift, sementara map dokumen Hendra ia jepit kuat-kuat di antara kedua lututnya. Di depannya, Dika masih berusaha berdiri tegak dengan satu tangan bertumpu pada panel tombol. Wajahnya terlihat sangat karismatik, penuh wibawa seorang mantan Penguasa Takdir yang tak gentar menghadapi badai.
Namun, jika ada yang bisa mendengar apa yang bergaung di dalam tempurung kepala Dika saat ini, wibawa itu langsung menguap tanpa sisa.
“Tiga menit! Tiga menit lagi, Linaaa! Ini lift barang atau roket buatan sekte sesat sih?! Cepatnya nggak ngotak!” jerit batin Dika, nadanya naik dua oktaf hingga membuat Lina spontan meringis menahan pening di pelipisnya. “Gue bisa ngerasain energi dari lantai atas mulai tersedot masuk lewat sol sepatu pantofel KW gue yang mangap ini. Rasanya kayak kesetrum listrik bertegangan tinggi tapi dicampur kuah soto panas! Kalau jantung fana gue meledak duluan sebelum sampai atas, tolong kuburkan gue di dekat warung bakso urat jumbo yang tadi ya, Lin!”
"Bisa diam nggak, Dika?!" balas Lina lewat transmisi suara, giginya mengatup rapat menahan guncangan. "Energi spiritual dari atas yang kesedot ini bikin tekanan udara di dalam lift jadi kacau tahu! Kuping gue rasanya kayak mau pecah! Lagian, lo yakin ini formasinya bekerja dengan benar? Kok pendar emas di tangan lo malah kedip-kedip kayak lampu sein motor bebek?"
Dika refleks melihat ke arah telapak tangan kanannya. Benar saja, pendar emas murni tiga puluh persen yang tadi melingkari jemarinya kini tidak lagi bersinar stabil. Pendar itu meredup, lalu menyala terang, lalu meredup lagi dengan ritme yang sangat mencurigakan.
Ting!
Sebuah simbol spiritual berbentuk lingkaran berputar kecil mendadak muncul mengambang di atas punggung tangan Dika. Itu adalah simbol takdir yang sedang mengalami... buffering.
"Waduh," ucap Dika pelan, kali ini suaranya benar-benar keluar dari mulut fananya, bukan lagi lewat batin.
"Waduh kenapa?!" Lina langsung mendongak, matanya melebar panik melihat simbol lingkaran berputar di tangan Dika. "Jangan bilang kalau energi dewa lo mendadak lag di saat-saat kritis begini?!"
"Kayaknya... sistem meridian tubuh fana ini mengalami overload karena terlalu banyak menyedot energi hitam dari luar," jawab Dika dengan senyum getir yang dipaksakan. "Ibaratnya, gue ini handphone jadul yang dipaksa download file ukuran bergiga-giga pakai jaringan gaib. Sisa energi dewa gue bukannya bertambah, tapi malah tertahan di memori antara karena pinggang gue mendadak kram lagi! Aduh... koyo cabai di bagian pinggang bawah kayaknya sudah kehilangan daya rekatnya karena keringat!"
Belum sempat Lina melayangkan omelan terbaiknya, lampu indikator di atas pintu lift mendadak berubah dari angka 39 menjadi 40.
Denggg!
Pintu besi lift barang yang tebal itu terbuka dengan sentakan keras. Namun, pemandangan di balik pintu sama sekali tidak ramah. Mereka tidak langsung dihadapkan pada koridor mewah berkarpet bulu domba, melainkan sebuah dinding pelindung transparan berwarna ungu pekat yang memancarkan aroma kemenyan dan melati busuk yang luar biasa menyengat.
Itu adalah Tabir Isolasi Jiwa tingkat tinggi—sebuah barikade gaib yang sengaja dipasang untuk mengurung seluruh Lantai 40 agar tidak ada satu pun energi luar yang bisa mengacaukan ritual Tuan Besar Wijaya.
Tepat di tengah ruangan luas yang bergaya minimalis modern namun sarat akan dekorasi mistis itu, duduk seorang pria paruh baya berambut klimis dengan setelan jas abu-abu mahal. Dialihi oleh meja kerja kayu jati raksasa, pria itu—Tuan Besar Wijaya—sedang mendekap sebuah kotak kayu hitam berukir naga tanpa mata. Wajahnya yang semula tenang kini tampak pucat pasi, napasnya tersengal-sengal karena setengah dari energi kultivasi hitamnya baru saja tersedot paksa oleh pergerakan lift barang tadi.
"Siapa... siapa yang berani mengacaukan Formasi Penyelaras Jiwa milikku?!" raung Tuan Besar Wijaya, suaranya parau penuh kemurkaan. Namun, begitu matanya menangkap sosok Dika yang berdiri di ambang pintu lift dengan mantel wol hitam yang berkibar, pupil matanya mengecil drastis.
"Kau... Wadah Nomor 404?! Bagaimana mungkin kau masih hidup setelah jantungmu ditembus?!"
Dika tidak langsung menjawab. Ia tahu, dalam kondisi energi yang sedang buffering alias macet di angka dua puluh lima persen ini, bertindak gegabah sama saja dengan bunuh diri sukarela. Dengan ketenangan yang luar biasa—yang sebenarnya adalah bentuk kepasrahan total—Dika melangkah keluar dari lift. Setiap kali kaki pantofelnya menyentuh lantai, ia dengan sengaja menghentakkan energinya agar memicu suara deg-deg-deg yang bergaung berat di dalam dimensi spiritual, menciptakan ilusi kekuatan yang tak tertandingi.
"Wijaya," suara Dika keluar dengan nada rendah yang bergetar hebat, memanfaatkan sisa-sisa wibawa langitnya. "Dua puluh tahun kau mempermainkan anyaman takdir yang bukan milikmu. Mengurung jiwaku dalam wadah keputusasaan, merekayasa penderitaan pemuda malang ini... apakah kau benar-benar berpikir bahwa langit akan menutup mata?"
Tuan Besar Wijaya menggertakkan giginya hingga mengeluarkan suara gemertak. Rasa ngeri sempat melintas di hatinya melihat ketenangan Dika, namun ego sebagai penguasa korporasi sekaligus kultivator hitam selama puluhan tahun segera membakar habis rasa takutnya.
"Jangan berlagak sombong, Mantan Penguasa!" teriak Wijaya sambil mengangkat tangan kirinya yang melepuh merah. "Kau hanyalah jiwa yang tersesat di dalam tubuh fana yang cacat! Tabir pelindungku ini dibuat dari darah seratus korbanku. Kau tidak akan bisa menembusnya dengan tubuh ringkih itu!"
Wijaya menyentakkan tangannya ke depan. Tabir ungu transparan di depan lift mendadak memadat, membentuk jalinan rantai-rantai gaib berujung tombak yang melesat lurus menuju dada Dika. Kecepatan serangan itu begitu tinggi hingga menciptakan distorsi udara di dalam ruangan kerja.
"Dika, awas!" teriak Lina yang masih berada di belakang.
Dika berniat menggunakan Jentikan Pembalik Poros Langit untuk menghancurkan rantai-rantai itu dalam sekali gerak. Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan dua jarinya ke depan dengan gaya yang sangat meyakinkan.
Namun, tepat di detik yang paling krusial... simbol lingkaran berputar di atas tangannya mendadak berkedip merah.
Sinyal spiritual: Turun menjadi 5%. Proses pemulihan meridian... tertunda karena masalah saraf pinggang.
“Mampus! Buffering-nya macet total!” jerit batin Dika dengan kepanikan skala kiamat kosmik. “Tangan gue nggak bisa digerakin! Pinggang gue mendadak mati rasa! Lin! Tolongin gue, Lin! Ini bukan lagi encok, ini namanya mogok masal tingkat seluler!”
Rantai-rantai ungu itu sudah berjarak kurang dari satu meter dari wajah Dika. Dalam kondisi darurat yang luar biasa konyol itu, Lina yang berada di belakang tidak punya waktu lagi untuk berpikir jernih. Nalurinya sebagai sekretaris yang terbiasa menangani kekacauan mendadak langsung mengambil alih tubuhnya.
"Dasar dewa gak berguna!" teriak Lina frustrasi.
Sambil melompat maju, Lina mengayunkan map berkas dokumen dokumen Hendra yang tebal dan kaku itu dengan sekuat tenaga, layaknya seorang atlet kasti yang sedang memukul bola home run. Map yang dilapisi segel lilin hitam dari sisa-sisa energi spiritual kuno milik Hendra itu tanpa sengaja bergesekan dengan aura emas tipis yang menguar dari tubuh Dika yang sedang lag.
Plakkk!!!
Ujung map dokumen itu menghantam rantai ungu pertama tepat di titik simpul energinya. Keajaiban metafisika terjadi; segel lilin hitam di map itu ternyata bertindak sebagai isolator alami yang memantulkan kembali energi hitam milik Wijaya. Rantai ungu itu berbelok arah dengan drastis, menghantam jalinan rantai lainnya hingga memicu ledakan energi spiritual yang berisik. Duarrr!
Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang melempar Lina kembali ke dalam lift, sementara Dika yang tubuhnya sedang kaku seperti papan ikut roboh ke depan, jatuh tertelungkup dengan wajah menghantam karpet bulu domba mahal milik Tuan Besar Wijaya.
"Aduh... hidung fana gue..." gumam Dika pelan, suaranya teredam oleh bulu-bulu karpet yang tebal.
Namun, jatuhnya Dika ke lantai lagi-lagi memicu reaksi berantai yang tidak terduga oleh siapa pun. Saat tubuhnya menghantam lantai dengan posisi tertelungkup, tekanan fisik yang tiba-tiba itu menekan tepat pada sisa dua lembar koyo cabai premium yang masih menempel di punggung atasnya.
Rasa panas yang luar biasa pekat—seperti disiram minyak cabai mendidih—seketika menyengat saraf tulang belakang Dika. Sengatan rasa sakit yang teramat sangat itu bertindak seperti kejutan listrik pemacu jantung (defibrillator) spiritual. Simbol buffering di tangan Dika mendadak pecah, dan aliran energi emas yang tadinya macet total langsung melesat naik seperti air bah yang jebol dari bendungan.
Ting!
Koneksi pulih. Sisa energi: Tiga puluh lima persen. Status: Koyo cabai menyatu dengan jiwa.
Dika mendadak merasakan seluruh kekuatannya kembali, bahkan sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Rasa sakit di pinggangnya menguap, digantikan oleh sensasi terbakar yang memberinya energi ledakan yang luar biasa. Dengan satu gerakan lentur yang menentang hukum fisika, Dika melenting berdiri dari lantai tanpa menggunakan tangan, mantel wol hitamnya kembali berputar rapi di sekeliling tubuhnya.
Matanya kini memancarkan pendar emas yang begitu pekat hingga membuat bayangan Tuan Besar Wijaya di dinding ruangan itu tampak bergetar ketakutan.
"Permainan selesai, Wijaya," desis Dika, suaranya kini benar-benar murni seperti guntur yang membelah langit malam. "Kau ingin melihat bagaimana seorang Penguasa Takdir menghancurkan ilusi kemegahanmu?"
Dika melangkah maju, mengabaikan tabir pelindung ungu yang tersisa. Setiap langkah yang diambilnya kini meninggalkan jejak kaki berbentuk lingkaran emas yang membakar habis karpet bulu domba di bawahnya. Tuan Besar Wijaya menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga, menyadari bahwa tidak ada lagi tempat untuk lari dari anyaman takdir yang telah berbalik arah ini.