Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama di rumah Kian
"Ini kamar kamu, ya," ucap Emily-istri Dewa lembut dengam tangan yang terus menggandeng Wanda.
Wanda terpesona melihat kamar baru yang sudah dipersiapkan keluarga Kian untuknya. Sangat mewah. Berbeda jauh dari kamarnya dulu.
"Suka kamarnya? Kalo.ada yang kurang, bilang aja." Lembut suara Emily menyapa.
Wanda menggeleng cepat. Matanya memanas oleh keharuan yang menyeruak.
"Bagus banget, kok, tante." Nuansa gradiasi warna biru laut terasa kuat terpancar lewat cat dinding, sepre dan korden.
"Kian yang milih." Senyum Emily tersungging manis. Putranya itu ternyata benar benar jatuh cinta dengan Wanda.
"Koper dari nenek kamu ada di sana. Wanda aja yang rapikan."
Wanda mengangguk, dia merasa privacynya sangat dihargai. Mungkin Tante Emily tidak merasa berhak membongkar koper pribadi miliknya.
"Istirahatlah. Besok kalian sekolah, kan?" Setelah mengusap kepala Wanda pelan, Emily melangkah keluar meninggalkan Wanda. Membiarkan Wanda sendirian untuk menikmati kamarnya.
Wanda mengusap sepre lembut di ranjang dengan perasaan campur aduk.
Sebenarnya dia dianggap sebagai apa?
Art?
Batin Wanda menolak percaya. Karena kalo art, dia ngga mungkin mendapatkan fasilitas setara nona muda begini.
"Kamu mau, kan .... bersamaku?"
Ucapan Kian terulang lagi di liang telinganya.
Sebagai apa aku bersamamu?
Jantung Wanda berdebar cepat. Agak lama dia menikmati rasa itu.
Kemudian Wanda meraih koper yang kata Tante Emily dari neneknya.
Dia duduk bersila sambil membuka kopernya. Wanda menahan nafas ketika melihat tumpukan rapi buku buku dan seragamnya.
Ada sebuah amplop ukuran keras hvs folio yang menggembung di antara seragam dan buku bukunya.
Jantung Wanda makin cepat berdebar. Dengan tangan gemetar, dia membuka amplop itu.
Seruan tertahan keluar dari mulut Wanda.Ternyata uang yang sangat banyak.
Ada satu amplop putih yang ada lagi di sana . Dengan jantung berdebar Wanda membukanya. Selembar surat dari neneknya.
Wanda sayang,
Maafkan nenek, ya. Kamu sudah sangat menderita hidup bersama nenek.
Sekarang kamu sudah berada di tempat yang aman. Nenek lega dan bahagia. Kamu tidak akan menangis diam diam lagi.
Netra Wanda memanas. Ngga disangkanya neneknya tau.
Itu uang gaji nenek selama bertahun tahun yang nenek simpan. Kamu gunakan untuk keperluan kamu di sana, ya.
Hiduplah dengan baik, jaga kesehatan.
Yang sangat menyayangimu.
Nenek
Air mata Wanda langsung tumpah . Dia mengira selama ini neneknya membencinya. Mungkin kediaman dan sikap tak peduli neneknya karena keterpaksaan. Neneknya hanya pembantu di rumah itu.jadi tidak berani melawan majikannya.
Wanda mendekap erat surat itu ke dadanya sambil membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Air matanya mengalir deras dan sesekali bahunya terguncang karena menahan isakan. Malam ini dia merindukan neneknya.
*
*
*
Paginya setelah mandi Wanda terkejut ketika melihat isi lemari pakaiannya. Dia memiliki beberapa seragam sekolah baru dan pakaian yang sangat banyak
Wanda tergugu ketika memegang bahannya.
Lembut; batinnya. Bahkan label mereknya masih ada.
Wanda merasakan debaran hangat di dadanya. Orang tua Kian memperlakukannya dengan sangat baik.
Ma, batinnya. Sekarang aku akan baik baik aja..
TOK TOK TOK
Wanda yang sudah mengenakan seragam lama yang dibawa neneknya bergegas membuka pintu kamarnya. Seorang perempuan muda berseragam art berdiri di depannya dengan wajah ramah.
"Nona sudah ditunggu di bawah untuk sarapan."
Wanda tertegun
Dia akan sarapan bersama Kian dan keluarganya.
Rasa canggung menyeliip di dalam hatinya.
"Nona ....."
Panggilan gadis muda itu menyadarkannya.
"Ya, mbak, saya ambil tas dulu." Wanda masuk lagi ke dalam kamarnya. Ngga lama kemudian dia keluar dari dalam kamar dan mengikuti artnya ke ruang makan. Ternyata di sana keluarga Kian sudah lengkap menunggunya. Wanda jadi merasa ngga enak.
Dia siapa sampai ditungguin begini?
Senyum Kian beserta orang tuanya menyambut hangat. Kian sampai berdiri dan melangkah ke arah kursi di sebelahnya. Menggesernya ke belakang, hingga membuatnya bisa duduk di samping cowo tanggung itu.
Dewa melirik istrinya sambil tersenyum simpul, sedangkan Azka cuek aja.
Jantung Wanda berdebar cepat dan raut wajahnya merona.
"Kamu mau sarapan apa?' tanya Emily hangat mengusir kecanggungan Wanda.
"Roti aja, tante," ucapnya agak malu malu. Di rumah Aditama, dia ngga pernah sarapan.
"Oke."
Mami Kian melayaninya dengan sangat baik membuat Wanda makin bertanya tanya dalam segan.
Mereka ngga menganggapnya sekadar asisten Kian?"
*
*
*
Wanda ngga tau apakah Kian dapat merasakan debar cepat dan keras di jantungnya yang memukul punggung Kian. Saat ini dia sedang dibonceng Kian dengan motor balapnya.
Kedua tangannya yang awalnya hanya mencengkeram ujung jaket Kian, kini tanpa segan memeluk pinggangnya karena laju motor yang kencang. Dia reflek aja. Ketika Wanda ingin melepaskan pelukannya di lampu merah, Kian menahan tangannya. Jantungnya makin tantrum.
Kian, apakah boleh dia berharap lebih?
Tanpa dia sadari, seseorang menatap penuh kebencian di balik.jendela mobilnya.
Mobil yang mengantar Aditama, berhenti tak jauh dari motor Kian. Dia yang awalnya ngga sengaja melihatnya, malah jadi melotot.
Di depan matanya babunya sudah memeluk musuh besarnya. Tangannya mengepal kuat.
"Pak, bisa senggol motor di sebelah nanti?" Nada suara Aditama bukan bertanya, tapi memberi perintah.
Pak Supri, supirnya terkejut mendengarnya. Dia melihat arah yang ditunjuk tuan mudanya.
Anak Bik Sunarmi, batinnya yang sangat mengenal anak perempuan itu.
"Tabrak sampai mereka jatuh!" perintah Aditama lagi.
"Tu tuan muda ...." Agak tergagap Pak.Supri menjawab. Dia tau siapa yang sedang membonceng Wanda. Seorang tuan muda juga. Jantungnya berdegup kencang saking tegangnya.
"Kenapa? Ngga berani?" decih Aditama jengkel.
Pak Supri diam tidak menjawab. Untungnya sekarang sudah lampu hijau. Motor yang membawa Wanda sudah melesat pergi sedangkan mobilnya merayap dalam kemacetan.
"Ki kita terjebak macet tu tuan muda." Dalam hati Pak Supri bersyukur karena kondisi lapangan menghambat terlaksananya perintah majikannya.
Hanya terdengar dengusan kasar Aditama.