NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Ke Masa Lalu

Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, namun terasa menyenangkan karena diisi dengan obrolan santai serta rasa kenyang di perut, akhirnya mobil yang membawa Roy Arka Denta, Bhumi, dan Bayu memasuki kawasan perumahan yang tenang namun terjaga keamanannya. Melalui jendela kaca, pandangan Bhumi dan Bayu mulai menangkap suasana yang terasa begitu akrab, seolah ingatan lama yang selama ini tersimpan rapi di sudut hati perlahan mulai terangkat kembali. Sesampainya di depan sebuah bangunan megah namun tetap memancarkan kesan hangat dan sederhana, kendaraan pun berhenti. Inilah kediaman keluarga besar Sikumbang-Arka Denta, tempat di mana mereka menghabiskan masa kanak-kanak sebelum akhirnya harus dibawa ke tanah leluhur di Pande Sikek.

Saat melangkah turun dan berdiri di halaman rumah itu, Roy Arka Denta menatap kedua keponakannya dengan pandangan yang penuh makna.

“Inilah rumah tempat kalian dilahirkan dan tumbuh sampai usia empat setengah tahun” ujarnya pelan dengan suara yang terdengar berat namun lembut. “Dulu, rumah ini sempat dilalap si jago merah dan terbakar habis, menyisakan hanya puing-puing serta kenangan yang tak pernah bisa hilang begitu saja dari ingatan. Namun, sejak beberapa tahun lalu, Om telah merenovasinya dan membangunnya kembali persis mengikuti tata letak, bentuk, hingga suasana aslinya. Om ingin agar suatu hari nanti ketika kalian pulang, kalian tidak merasa asing, melainkan merasa kembali ke tempat yang sesungguhnya menjadi rumah kalian sendiri.”

Setelah membuka pintu utama yang kokoh namun terasa hangat, Roy mengeluarkan seikat kunci yang terbuat dari logam berkualitas dan telah disiapkan khusus, lalu menyerahkannya seluruhnya ke tangan Bhumi dan Bayu.

“Mulai hari ini, rumah ini adalah milik kalian berdua sepenuhnya. Semua ruangan, isi perabotan, tanah di halaman, serta segala sesuatu yang ada di dalamnya menjadi hak dan tanggung jawab kalian. Om hanya menjaganya selama ini, merawatnya dengan penuh rasa hormat, sampai waktunya tiba untuk diserahkan kembali kepada pemiliknya yang sesungguhnya.”

Begitu keduanya melangkah masuk melewati pintu depan, sesuatu yang ajaib dan menenangkan terasa menyelimuti hati mereka. Tanpa perlu diberi tahu atau ditunjukkan arahnya, Bhumi dan Bayu seolah hafal setiap sudut ruangan, setiap lekukan dinding, hingga letak jendela dan tangga menuju lantai atas. Semuanya terasa sangat akrab, seolah ingatan masa kecil yang selama ini terpendam dalam lembaran memori yang paling dalam, kini muncul kembali dengan jelas dan terang di hadapan mata. Mereka berjalan perlahan menyusuri lorong, menoleh ke kiri dan kanan, merasakan suasana yang sama persis seperti yang mereka bayangkan: tempat di mana ayah dan ibu mereka dulu sering duduk bercengkrama sambil minum teh sore, tempat mereka bermain berlari-larian mengejar bola, dan tempat di mana suara tawa riang keluarga selalu terdengar mengisi setiap sudut ruangan.

Di dalam benak mereka, seolah terputar kembali gambaran-gambaran masa lalu yang indah namun menyakitkan. Terlihat jelas bayangan almarhum Arya Arsyad Sikumbang yang sedang duduk di kursi kayu besar sambil membaca kitab adat, sementara istrinya, Citra Arka Denta Kanaya, sedang menyiapkan makanan ringan di meja makan. Di dekat kaki mereka, terlihat sosok mungil adik bungsu mereka yang masih berusia balita, berjalan tertatih-tatih sambil sesekali terhuyung ke kiri dan kanan, lalu tertawa renyah tanpa rasa takut sedikit pun. Suara tawa itu terasa begitu nyaring dan jelas di telinga mereka, seolah baru saja terjadi kemarin sore. Bhumi dan Bayu berhenti sejenak, menghela napas panjang, dan membiarkan perasaan rindu yang membuncah itu meluap perlahan tanpa perlu ditahan. Mereka kembali merasakan kehangatan kasih sayang kedua orang tua dan kehadiran adik kecil yang selalu mereka jaga dan sayangi.

Saat terus berjalan menuju ruang tengah yang lebih luas dan lapang, pandangan mereka tertuju pada sebuah dinding yang sengaja dikosongkan dan dicat dengan warna lembut, khusus untuk memajang kenangan keluarga. Di sana tergantung sebuah bingkai foto besar yang terbuat dari kayu jati yang diukir dengan motif khas warisan leluhur, tampak sangat terawat dan bersih. Begitu melihat isi foto itu, langkah Bhumi dan Bayu terhenti seketika seolah terpaku di tempatnya. Itulah foto keluarga lengkap mereka, yang diambil saat acara syukuran adat sebelum kepergian ayah mereka ke tanah rantau untuk mengurus urusan keluarga.

Di dalam foto itu terlihat jelas: Arya Arsyad Sikumbang berdiri tegak dengan gagah mengenakan pakaian adat lengkap berwarna hitam pekat dengan hiasan benang emas, dengan keris pusaka terselip rapi di pinggang, memancarkan wibawa seorang kepala keluarga dan keturunan bangsawan yang bijaksana. Di sampingnya, Citra Arka Denta Kanaya duduk anggun mengenakan baju kurung berhias kain songket bermotif bunga, dengan senyum lembut dan pandangan mata yang selalu menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Di pangkuannya terbaring lembut sosok Nadya Arka Denta, adik bungsu mereka yang saat itu baru berusia enam bulan, masih mungil, kulitnya putih kemerahan, dan tampak sangat damai dalam tidurnya. Di sisi kiri dekat sang ayah berdiri Bhumi yang masih kecil, tampak tenang dan serius menatap kamera, sedangkan di sisi kanan dekat sang ibu berdiri Bayu yang berusia tiga tahun, dengan wajah ceria dan senyum lebar yang khas, memperlihatkan gigi susunya yang masih tumbuh sempurna.

Bayu melangkah mendekat dengan langkah perlahan, lalu mengangkat tangannya perlahan dan meraba permukaan kaca bingkai foto itu seolah ingin menyentuh wajah orang-orang yang sangat dicintainya. Tanpa disadari, butiran air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, lalu perlahan menetes membasahi pipinya yang terasa hangat. Ia menelan ludah berulang kali, berusaha menahan rasa haru yang meluap, namun dadanya terasa sesak menahan rindu yang begitu dalam dan tak tertahankan. Sementara itu, Bhumi hanya berdiri diam di sampingnya, matanya juga berkaca-kaca namun ia berusaha tetap tegar, membiarkan adik kembarnya itu meluapkan segala perasaannya yang selama ini dipendam rapat.

Tepat di sebelah foto keluarga besar itu, tergantung pula sebuah bingkai yang lebih kecil namun terlihat sangat istimewa dan dijaga dengan hati-hati. Isinya adalah foto potret Nadya Arka Denta sendiri, diambil saat ia sudah mulai bisa duduk tegak dan tersenyum lebar menatap kamera dengan mata yang berbinar cerah. Wajahnya yang mungil, pipi yang tembem, dan rambutnya yang halus terlihat begitu menggemaskan dan tak terlupakan. Melihat foto itu, hati Bayu seakan terguncang lebih hebat lagi. Ia mendekat, mengusap lembut kaca bingkai itu dengan ujung jarinya, lalu tiba-tiba memeluk bingkai foto itu erat-erat seolah ingin memeluk sosok adiknya yang sebenarnya ada di hadapannya.

Tak lama kemudian, tangisnya meledak tersedu-sedu tanpa bisa ditahan lagi. Lututnya terasa lemas dan tak bertenaga hingga ia jatuh terduduk di lantai yang beralaskan keramik halus, masih tetap memeluk erat bingkai foto itu seolah tak ingin melepaskannya, seolah tak ingin membiarkan adik kecilnya pergi terlalu jauh darinya. Di sela-sela isak tangisnya yang terputus-putus, ia berbicara dengan suara parau dan bergetar hebat, seolah sedang berbicara langsung kepada Nadya:

“Abang Bayu kangen kamu, Dik… Sangat kangen sekali… Kamu adik abang yang paling cantik, yang paling abang sayang melebihi segalanya… Nadya… Adik kecil abang yang lucu sekali… Kenapa kamu pergi begitu cepat meninggalkan abang dan Abang Bhumi? Abang ingin sekali menggendongmu lagi, melihatmu tertawa, dan mendengar suara merengekmu minta digendong atau diberi susu… Jangan jauh-jauh dari abang ya, Dik… Abang sayang sekali sama kamu, selamanya…”

Suara tangis dan kata-kata yang terucap begitu tulus dan penuh perasaan itu menyentuh hati Bhumi hingga ia pun tak kuasa menahan air matanya lagi. Ia segera berjongkok di samping Bayu, lalu merangkul bahu adik kembarnya itu dengan lembut, mengusap punggungnya perlahan untuk menenangkan dan memberikan kekuatan.

“Sudah, Bay… Sudah… Jangan menangis terlalu lama, nanti sakit kepalamu dan lelah tubuhmu setelah perjalanan jauh ini,” bisik Bhumi dengan suara lembut namun tegas.

“Mereka semua ada di sini, di hati kita. Ayah, Ibu, dan Nadya tidak pernah benar-benar pergi, mereka selalu menyertai kita di mana pun kita berada, menjaga dan memberi kekuatan.”

Setelah tangis Bayu mulai mereda dan ia hanya terisak pelan sambil menyeka air matanya, Bhumi membantu adiknya berdiri kembali.

“Ayo, kita naik ke lantai atas. Sudah waktunya kita melihat kamar-kamar kita dan beristirahat sejenak sebelum malam tiba.”

Mereka pun melangkah menaiki tangga kayu yang halus dan kokoh, menuju lorong kamar-kamar yang tertata rapi dan bersih. Di ujung lorong, tepat di sebelah kamar tidur utama, Bayu tiba-tiba berhenti melangkah seolah teringat sesuatu. Ia berdiri tegak di depan sebuah pintu kayu berwarna putih bersih dengan hiasan ukiran bunga kecil yang masih terlihat segar dan indah. Ia mengenali pintu itu dengan sangat jelas—ini adalah kamar kecil adiknya, Nadya.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena perasaan yang meluap, Bayu memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Begitu pintu terbuka lebar, pandangannya terasa terhenti dan terpesona sekaligus terharu. Ruangan itu ditata persis seperti saat masih ditempati Nadya, bahkan terasa lebih lengkap dan terawat dengan sangat baik selama bertahun-tahun ini. Di dalamnya terhampar kasur kecil berwarna krem dengan kelambu yang halus, dindingnya dihias dengan gambar-gambar binatang dan bunga yang cerah dan menyenangkan untuk anak kecil. Di sepanjang rak dinding dan meja kecil yang rendah tersusun rapi berbagai jenis mainan anak-anak, mulai dari yang cocok untuk usia tiga bulan hingga satu tahun: giring-giring berbunyi lembut, boneka kain yang empuk dan aman, bola warna-warni yang berkilau, mainan yang bisa digoyang dan mengeluarkan suara, hingga alat musik kecil yang menghasilkan nada merdu. Semuanya terlihat bersih, bebas dari debu, dan terawat seolah baru saja disiapkan untuk penghuninya yang akan segera kembali.

Bayu melangkah masuk perlahan, matanya kembali berkaca-kaca melihat segala sesuatu yang mengingatkannya pada masa-masa indah itu. Ia berjalan menyusuri setiap sudut ruangan, menyentuh satu per satu mainan yang ada dengan lembut, seolah bisa merasakan kehadiran adik kecilnya sedang bermain di sana. Perasaannya yang sudah sedih dan rindu kini terasa semakin meluap, namun rasa lelah setelah menangis cukup lama dan perjalanan jauh sejak pagi hari mulai terasa membebani seluruh tubuhnya. Tanpa sadar, ia berjalan menuju pojokan ruangan yang paling tenang dan terkena cahaya matahari sore yang lembut, lalu perlahan duduk bersandar pada dinding yang dilapisi kertas dinding berwarna lembut, memeluk lututnya sambil terus menatap sekeliling kamar.

Hatinya terasa damai meski masih terasa berat karena rindu, dan rasa kantuk yang luar biasa mulai menyelimuti matanya. Perlahan tapi pasti, kelopak matanya terasa semakin berat, napasnya menjadi teratur dan tenang, dan akhirnya ia pun terlelap dalam tidur yang dalam, tetap duduk bersandar di pojok kamar adiknya itu—terlelap karena kelelahan menangis, namun seolah merasa dekat kembali dengan sosok yang sangat dicintainya.

Bhumi yang baru saja melangkah masuk dan melihat keadaan adiknya itu hanya menghela napas panjang, lalu menutup pintu kamar perlahan agar tidak mengganggu tidur Bayu yang lelap. Ia tahu, di tempat inilah adiknya bisa merasa paling tenang untuk sementara waktu. Roy Arka Denta yang mengamati dari ujung lorong hanya tersenyum sedih sambil mengusap dadanya, menyadari bahwa kenangan di rumah ini memang takkan pernah bisa dipisahkan dari rasa rindu yang abadi.

Keesokan Harinya

Pagi hari menjelang dengan cahaya matahari yang lembut menyelinap masuk melalui celah jendela, menerangi setiap sudut rumah yang kini terasa hidup kembali. Suasana masih terasa tenang, namun hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Bayu. Sekitar pukul tujuh pagi, terdengar langkah kaki ringan melangkah menuju kamar Nadya. Sosok wanita muda yang anggun dan berpenampilan rapi berdiri di depan pintu, lalu mengetuknya perlahan dua kali.

“Bayu… Bayu, bangunlah. Sudah pagi,” panggil suara lembut namun tegas dari balik pintu.

Itu adalah Dyah Ayu Kirana, putri sulung Roy Arka Denta, kakak sepupu Bayu dan Bhumi yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak kemarin sore. Ia membuka pintu perlahan dan melihat Bayu yang masih terlelap tidur duduk bersandar di pojok kamar, kepalanya sedikit menunduk ke depan. Dengan langkah hati-hati, Kirana mendekat dan menyentuh bahu Bayu dengan lembut.

“Bangun, Yu. Sudah pagi benar. Jangan tidur di lantai seperti ini, nanti badanmu pegal dan sakit,” ujarnya sambil menolong Bayu untuk bangun dan duduk tegak.

Bayu terbangun dengan kaget, matanya masih terasa berat dan sedikit kabur karena baru terlelap dalam waktu yang cukup lama. Ia mengusap matanya dengan punggung tangan, lalu melihat sekeliling, baru sadar bahwa ia tidur sepanjang malam di kamar adiknya sendiri. Ia menatap wajah Kadita yang tersenyum lembut namun terlihat serius.

“Kak Kirana… Sudah pagi ya?” tanyanya dengan suara yang masih serak dan berat.

“Iya, sudah pagi. Dan hari ini adalah hari yang sangat penting untukmu, Bayu,” jawab Kirana sambil membawanya keluar dari kamar dan menuntunnya menuju kamarnya sendiri agar bisa membersihkan diri.

“Papaku sudah menyiapkan semuanya, dan aku pun datang pagi-pagi untuk membantumu bersiap. Dengarkan baik-baik apa yang akan Kakak katakan sekarang.”

Setelah Bayu duduk di tepi tempat tidurnya, Kirana menatap matanya dengan pandangan yang penuh perhatian dan kekuatan.

“Tadi malam, Kakak tahu kamu menangis sangat banyak dan merindukan Ayah, Ibu, serta Nadya. Wajar saja, perasaan itu manusiawi dan tidak ada yang salah dengan merindukan orang yang kita cintai. Tapi ingatlah satu hal penting: kamu harus belajar menjadi lebih tegar dan kuat mulai hari ini.”

Ia melanjutkan penjelasannya dengan nada yang semakin mantap.

“Hari ini, kau harus hadir dan melakukan presentasi resmi di hadapan seluruh manajer, dokter, perawat, serta seluruh staf yang bekerja di Rumah Sakit Arka Denta Coorp. Rumah sakit itu bukan hanya sekadar bangunan atau tempat usaha, Bayu. Itu adalah amanah terbesar yang telah dititipkan dan dipercayakan oleh Ibunda kita, Citra Arka Denta Kanaya, kepada keluarga kita dan khususnya kepadamu. Beliau mendirikan dan membangunnya dengan keringat, doa, dan niat tulus untuk membantu orang banyak yang membutuhkan pertolongan kesehatan.”

Kirana menepuk bahu Bayu dengan lembut namun tegas, memberikan semangat:

“Kau baru saja diterima masuk di Fakultas Kedokteran, sebuah jalan yang telah dipersiapkan untukmu agar bisa melanjutkan perjuangan itu. Jadi, hari ini kau harus berdiri tegak, menahan rasa sedihmu, dan menunjukkan bahwa kau siap melanjutkan amanah yang telah Ibundamu tinggalkan. Jangan biarkan rasa rindu membuatmu lemah, jadikanlah itu sebagai semangat untuk membuktikan bahwa kau bisa menjaga dan mengembangkan apa yang telah dipercayakan kepadamu. Kau bisa melakukannya, kan?”

Mendengar kata-kata itu, hati Bayu terasa tergugah. Ia menarik napas panjang, mengusap sisa air mata yang hampir menetes kembali, lalu mengangguk mantap.

“Baik, Kak. Bayu mengerti. Bayu akan berusaha sekuat tenaga untuk tegar dan tidak mengecewakan harapan semua orang, terutama Amanah dari Ibu.”

“Baguslah begitu,” jawab Kirana sambil tersenyum bangga.

“Sekarang, mandilah dan bersiaplah dengan rapi. Kakak akan menunggumu di ruang makan. Setelah sarapan, kita akan langsung berangkat menuju tempat itu.”

Bayu berdiri tegak, menatap cermin di dinding kamarnya, dan membisikkan kata-kata di dalam hatinya:

“Ibu, Ayah, Nadya… Doakan Abang hari ini. Abang akan menjaga amanah ini sebaik mungkin.”

Dengan semangat baru dan tekad yang semakin kuat, ia pun bersiap menghadapi hari besar itu, membawa serta rasa rindu yang kini berubah menjadi kekuatan untuk melangkah ke depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!