NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Pertolongan di tengah keterpurukan

Bab 3: Pertolongan di Tengah Keterpurukan

Malam semakin larut ketika Diana tiba di rumah petak sederhana yang menjadi tempat tinggalnya selama ini.

Udara di dalam ruangan terasa sepi dan sunyi, seolah ikut merasakan kesedihan yang menyelimuti hatinya.

Begitu menutup pintu, tubuhnya yang sudah lemas seharian akhirnya tak sanggup lagi berdiri.

Ia merosot ke lantai, bersandar pada daun pintu, dan kembali membiarkan air matanya mengalir deras.

Semua kejadian sore itu terasa seperti mimpi buruk yang nyata, namun sayangnya ia tidak bisa terbangun untuk melupakannya.

Belum lama ia tenggelam dalam kesedihannya, terdengar suara ketukan pelan di pintu.

“Diana? Kamu sudah pulang? Kenapa lampunya belum dinyalakan?”

Suara itu milik Bu Siti, ibu kos sekaligus tetangga terdekat yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.

Wanita paruh baya itu dikenal baik hati, perhatian, dan sering menolong Diana ketika gadis itu sedang kesulitan.

Dengan tenaga yang tersisa sedikit, Diana berusaha berdiri dan membuka pintu.

Begitu melihat wajah pucat dan mata bengkak milik gadis itu, dahi Bu Siti langsung berkerut khawatir.

“Ya ampun, Nak! Kenapa wajahmu pucat sekali? Matamu juga bengkak habis menangis. Ada apa ini? Jangan buat Ibu khawatir,” tanya Bu Siti sambil segera masuk dan memegang bahu Diana dengan lembut.

Diana hanya menggeleng lemah, mencoba tersenyum namun gagal.

“Tidak apa-apa, Bu. Cuma sedikit lelah saja, mungkin karena kerja seharian.”

“Jangan bohong sama Ibu, Diana. Sudah berapa lama kita kenal? Ibu tahu betul ekspresi wajahmu. Ayo, duduk dulu. Ceritakan saja apa yang terjadi. Menahan sendirian hanya akan membuat hatimu makin sakit,” bujuk Bu Siti sambil menuntun Diana duduk di kursi kecil ruang tamu.

Mendengar nada lembut dan perhatian itu, pertahanan Diana akhirnya runtuh lagi.

Ia menangis sejadi-jadinya di bahu Bu Siti, menceritakan semuanya dari awal—rencana kejutan ulang tahun,

"Dia menghkianati aku Bu!"

ia juga menceritakan pertemuannya dengan wanita itu, hingga kenyataan pahit bahwa Gilang sudah bertunangan dan hanya mempermainkan perasaannya.

Setelah mendengar semuanya, Bu Siti menghela napas panjang sambil mengusap punggung Diana menenangkan.

“Ya Tuhan… kasihan sekali kamu, Nak. Sudah berkorban begitu banyak, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaanmu, tapi balasannya seperti ini.”

“Saya bodoh ya, Bu? Terlalu percaya sampai tidak sadar kalau dia hanya memanfaatkan saya,” gumam Diana dengan suara terputus-putus.

“Jangan bicara begitu! Kamu bukan bodoh, kamu hanya terlalu baik dan tulus. Itu bukan kesalahanmu, tapi kesalahan dia yang tidak tahu menghargai kebaikan orang lain,” jawab Bu Siti tegas namun lembut.

“Ingat, Nak. Kalau seseorang pergi atau menyakiti, itu berarti dia bukan orang yang ditakdirkan untukmu. Mungkin Tuhan menjauhkannya sebelum kamu terjerat lebih dalam lagi.”

Kata-kata Bu Siti sedikit menenangkan hati Diana, meski rasa sakitnya belum sepenuhnya hilang.

"Terimakasih Bu" Ujar Diana dengan penuh haru

Malam itu, Bu Siti tinggal lebih lama, menemaninya berbicara dan memberikan semangat agar Diana tidak terpuruk terlalu dalam.

"Ya sudah, ibu pergi dulu yah. Jaga diri baik-baik, jangan terlalu banyak pikiran !" Ujar Bu Siti

"Baik Bu , sekali lagi terimakasih"

......................

Keesokan harinya, Diana berusaha bangkit seperti biasa.

Ia pergi bekerja di kantor akuntansi kecil, tempat selama ini ia bekerja.

Namun nasib baik seolah belum berpihak padanya.

Saat jam istirahat, ia dipanggil masuk ke ruangan pemilik kantor.

“Diana, silakan duduk,” ujar Pak Haris, pemilik kantor itu dengan nada yang terasa canggung.

Diana duduk dengan perasaan tidak tenang. “Ada apa, Pak? Apakah ada kesalahan dalam laporan saya?”

“Bukan soal laporan, Diana. Begini… karena kondisi keuangan kantor yang sedang menurun belakangan ini, saya terpaksa harus melakukan pengurangan karyawan.

Saya sudah mempertimbangkan matang-matang, dan sayangnya posisimu termasuk yang harus dilepas sementara waktu,” jelas Pak Haris dengan nada menyesal.

Bagaikan disambar petir untuk kedua kalinya. Hatinya yang baru saja mulai sedikit tenang kini terasa hancur lagi.

“Tapi Pak… saya sudah bekerja dengan baik selama ini. Apakah tidak ada jalan lain?”

“Maafkan saya, Diana. Saya tidak punya pilihan lain. Ini surat pemberhentian dan gaji terakhirmu, lengkap dengan pesangonnya. Terima kasih atas kerja kerjamu selama ini,” ujar Pak Haris sambil menyerahkan amplop cokelat.

Diana menerima amplop itu dengan tangan gemetar, mengucapkan terima kasih meski hatinya terasa remuk.

"Kalau begitu, saya permisi Pak!"

Ia keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, merasa seolah dunia sedang mengujinya habis-habisan.

Baru saja ditinggalkan kekasih, sekarang ia juga kehilangan mata pencahariannya.

Bagaimana ia akan membayar sewa kos dan kebutuhan hidup bulan depan?

Aku harus bagaimana?

Dengan pikiran kacau, ia berjalan menyusuri trotoar tanpa tujuan, hingga tanpa sadar menabrak bahu seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.

“Maafkan saya, saya tidak melihat jalan,” ujar Diana tergesa-gesa sambil membungkuk meminta maaf.

“Tidak apa-apa. Tapi kamu baik-baik saja? Wajahmu terlihat sangat pucat dan gelisah,” jawab suara pria yang dalam dan tenang.

Diana mengangkat wajahnya, dan matanya tertegun sejenak.

Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya, sekitar usia 45 tahun, dengan penampilan rapi, jas yang mewah,

( Visual Arga Wijaya )

dan raut wajah yang memancarkan wibawa serta tampan di usia yang tidak lagi muda.

Pria itu adalah Arga Wijaya, pemilik perusahaan besar, dan juga ayah dari Gilang—meski saat itu Diana belum mengenal siapa dirinya.

“Saya… saya baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya,” jawabnya singkat, berusaha melanjutkan langkah namun kakinya terasa lemas, hingga tubuhnya hampir terhuyung.

Arga segera mengulurkan tangannya menahan lengan Diana agar tidak jatuh.

“Tidak terlihat seperti orang yang baik-baik saja. Apa ada masalah yang sedang kamu hadapi? Kalau berkenan, mungkin saya bisa membantu sebisa kemampuan saya.”

Diana menatap pria itu dengan pandangan bingung. Mengapa orang asing terlihat begitu perhatian padanya?

Namun melihat ketulusan di matanya, tanpa sadar air mata yang baru saja tertahan kembali menetes.

Untuk pertama kalinya, ia merasa ada secercah cahaya di tengah kegelapan yang menyelimuti hidupnya.

Jauh dari orang tua, membuatnya merasa sendiri setiap saat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!