Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan Rahasia di Meja Makan
Begitu keluar dari kamar mandi, Kinasih menghampiri Kenan yang masih terbaring lemas dan matanya belum terbuka. Ia menepuk lembut bahu kekar pria itu, suaranya terdengar datar dan sedikit bergetar menahan segala perasaan yang berkecamuk.
“Kak… Kak Kenan… bangun sebentar,” panggilnya berulang kali.
Setelah beberapa kali dipanggil, Kenan perlahan membuka matanya yang masih sayu, menatap Kinasih dengan pandangan kabur namun masih menyimpan sisa gairah. “Hhh… Kenapa… Sayang? Masih ingin lagi?” bisiknya parau.
Kinasih menggeleng cepat, jantungnya terasa teriris mendengar panggilan itu. “Bukan, Kak. Tolong segera transfer uangnya malam ini juga… Ibu harus segera dioperasi pagi ini, nggak boleh ditunda lagi. Aku butuh uangnya sekarang juga,” ucapnya tegas meski suaranya terasa dingin.
Mendengar itu, kesadaran Kenan perlahan kembali pulih sepenuhnya. Ia mengangguk samar, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di meja samping sofa dengan tangan yang masih terasa berat dan lemas. Tanpa banyak bicara lagi, ia membuka aplikasi perbankannya dan langsung memasukkan nomor rekening yang disebutkan Kinasih, lalu menekan tombol kirim, dua ratus juta rupiah langsung berpindah rekening dalam hitungan detik.
“Sudah… uangnya sudah masuk,” gumam Kenan lemah, lalu kembali memejamkan matanya, kelelahan itu segera menyerangnya lagi.
Tak butuh waktu lama, ponsel Kinasih bergetar dan notifikasi masuk terbaca jelas di layarnya. Uang itu sudah benar-benar diterima, cukup untuk menyelamatkan nyawa ibunya. Namun di saat yang sama, hatinya terasa hancur berkeping-keping mengingat apa yang baru saja ia korbankan malam ini.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, tanpa menoleh kembali sedikit pun, Kinasih langsung menyambar tasnya yang tergeletak di sudut ruangan. Ia melangkah cepat menuju pintu kamar, membukanya, lalu keluar dan menutup pintu itu rapat-rapat seolah ingin mengunci semua kenangan pahit dan manis malam itu agar tak pernah teringat lagi.
Di dalam kamar yang masih remang itu, Kenan tetap terbaring lemas, matanya terpejam namun hatinya terasa kosong sekaligus terasa terikat pada sosok yang baru saja pergi. Ia tahu gadis itu akan pergi, tapi ia tak menyangka perpisahannya terasa secepat dan sedingin ini.
Di depan ruang operasi Rumah Sakit Sentral Medika Bandung, Kinasih dan Damar duduk tegang di kursi tunggu. Waktu terasa berjalan sangat lambat, setiap detik terasa seperti berjam-jam. Keduanya hanya bisa berdoa dalam hati, berharap semuanya berjalan lancar. Rasa cemas menyelimuti hati Kinasih, bukan hanya soal nyawa ibunya, tapi juga beban berat yang kini tergantung di pundaknya sebagai bayaran atas apa yang telah ia korbankan semalam.
Hingga akhirnya, lampu tanda “sedang berlangsung” itu padam. Pintu ruang operasi terbuka, dan dokter keluar dengan senyum lega di wajahnya.
“Syukurlah… operasinya berjalan sangat lancar dan berhasil. Cincin jantungnya sudah terpasang dengan sempurna. Nyawa ibumu selamat, dan kondisinya sekarang sudah stabil,” jelas dokter itu dengan nada melegakan.
Mendengar kata-kata itu, rasanya beban seberat gunung seketika terangkat dari dada mereka berdua. Damar memegang bahu adiknya, napasnya terhembus panjang, dan matanya berkaca-kaca karena rasa syukur yang luar biasa.
“Terima kasih, Dok… terima kasih banyak…” ucap Damar terbata-bata, suaranya tercekat.
Kinasih hanya terdiam, air matanya mengalir deras membasahi pipinya, kali ini bukan lagi karena kesedihan, tapi karena rasa lega yang mendalam. Ia berhasil menyelamatkan ibunya, walau dengan harga yang sangat mahal.
Setelah ditenangkan, Damar menatap Kinasih dengan tatapan penuh rasa bersalah dan tanggung jawab. Ia menggenggam tangan adiknya erat-erat.
“Kin… Kakak janji. Mulai hari ini Kakak akan cari pekerjaan sampingan apa pun, lembur sesering mungkin, dan akan melunasi semua hutang ini secepatnya. Kakak tidak akan membiarkan kamu menanggungnya sendirian,” ucapnya tegas, berusaha meyakinkan Kinasih.
Mendengar itu, Kinasih hanya menunduk dalam, bibirnya terkatup rapat. Ia tak sanggup berkata apa pun. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa “hutang” itu bukan sekadar uang yang bisa dilunasi dengan bekerja keras, melainkan kehormatan dan raga yang telah ia serahkan sepenuhnya? Ia hanya bisa mengangguk samar, menahan tangis yang ingin meledak kembali.
“…Iya, Kak…” jawabnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Satu minggu berlalu. Kondisi Nurhalimah berangsur membaik sangat pesat, dan dokter pun mengizinkannya untuk pulang ke rumah guna melanjutkan perawatan di rumah. Melihat ibunya sudah bisa duduk dan tersenyum kembali, hati Kinasih terasa sedikit lebih tenang. Namun, rasa cemas dan bersalah itu tak pernah benar-benar hilang.
Suatu sore, saat mereka sudah berada di rumah, Kinasih memegang tangan ibunya lembut dan berkata dengan suara pelan:
“Ibu… Mas Damar… Kinasih minta izin besok kembali ke Jakarta ya. Kuliah Kinasih sudah banyak tertinggal, dan pekerjaan Kinasih di kafe juga harus dilanjutkan. Ibu istirahat yang baik di sini ya, Damar yang jaga.”
Nurhalimah menatap wajah putrinya lekat-lekat, merasa ada yang berbeda dari sorot mata Kinasih, namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengerti. Ia mengangguk pelan sambil mengusap pipi Kinasih.
“Iya, Nak… Pergilah, urus masa depanmu. Terima kasih sudah berjuang sekeras ini demi Ibu. Ibu janji akan cepat sembuh,” ucapnya lirih.
Damar juga mengangguk, memastikan adiknya aman dalam perjalanan pulang.
Sesampainya di Jakarta dan kembali ke kamar kostnya, Kinasih baru saja meletakkan barang-barangnya ketika pintu diketuk. Begitu ia membukanya, tampak Amara berdiri di sana dengan wajah cemas dan penuh kekhawatiran, langsung memeluk tubuh Kinasih erat-erat.
“Ya ampun Kin… akhirnya kamu balik juga! Gue udah panik banget nggak ada kabar darimu, baru dengar dari teman kalau Ibumu sakit parah dan harus dioperasi. Maaf banget Kin… gue nggak bisa bantu banyak, uang gue juga terbatas banget sampai nggak sanggup bantu biayanya… maafin gue ya…” ucap Amara terbata-bata, air matanya sudah menetes.
Kinasih membalas pelukan sahabatnya itu, lalu melepaskannya dan tersenyum lemah sambil menggeleng pelan.
“Nggak apa-apa, Mara… nggak usah merasa bersalah. Kamu sudah jadi teman yang sangat baik buat gue. Syukurlah, Kak Damar sempat meminjam uang ke kenalannya, jadi biaya operasinya sudah terpenuhi dan Ibu sekarang sudah aman serta mulai pulih,” jawab Kinasih berbohong halus, tak sanggup membocorkan rahasia kelam yang menghantui hatinya.
Ia memeluk Amara sekali lagi, kali ini lebih erat. “Terima kasih ya… sudah menjadi sahabat terbaik yang gue punya. Cukup dukungan dan doamu saja sudah lebih dari cukup buat gue,” ucapnya tulus, meski di dalam hatinya badai rasa bersalah masih bergemuruh hebat.
Namun, Kinasih belum menyadari satu hal, kepulangannya ke Jakarta berarti ia juga akan segera bertemu kembali dengan Kenan, pria yang kini menjadi rahasia terbesar dalam hidupnya.
Setelah tenang sejenak, Amara segera menarik tangan Kinasih dengan semangat, seolah tak mau membuang waktu sedikit pun.
“Nah, pas banget kamu sudah balik! Makanya gue datang ke sini. Selama kamu cuti seminggu ini, dosen-dosen ngasih tugas dan PR bertumpuk banget, apalagi buat mata kuliah yang penting. Kalau dibiarkan nanti malah menumpuk dan susah dikejarnya,” ujar Amara cepat sambil tersenyum khawatir.
Ia melanjutkan lagi, “Jadi ayo ikut gue ke rumah sekarang. Di rumah lebih tenang, ada ruang belajar yang luas, buku-buku lengkap, dan nggak akan ada gangguan. Kita kerjakan bareng-bareng sampai selesai, biar nggak ketinggalan pelajaran sama sekali.”
Mendengar ajakan itu, wajah Kinasih seketika memucat. Tangan yang digenggam Amara terasa dingin dan gemetar pelan. Jantungnya berdegup kencang bukan karena senang, tapi karena rasa takut yang seketika menyerang seluruh tubuhnya.
Ke rumah Amara? Itu berarti… ada kemungkinan besar ia akan bertemu lagi dengan Kenan. Pria yang semalam merenggut kesuciannya, pria yang menjadi alasan ibunya selamat sekaligus menjadi luka terbesar dan rahasia paling kelam dalam hidupnya.
Bayangan malam itu seketika melintas dengan jelas di kepalanya, rasa sakit, rasa nikmat yang memabukkan, suara desahan mereka, dan semua sentuhan yang membakar tubuhnya. Hatinya terasa dicengkeram kuat, napasnya terasa sesak. Bagaimana ia bisa berdiri tegak dan menatap wajah Kenan lagi? Bagaimana ia bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa, padahal raga dan hatinya sudah terikat erat oleh kejadian itu?
Amara yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya langsung mengerutkan kening bingung. “Kin? Kenapa mukamu pucat gitu? Sakit lagi ya? Kalau belum kuat istirahat, kita tunda saja nggak apa-apa kok.”
Kinasih segera menggeleng cepat, berusaha menyembunyikan ketakutannya sebaik mungkin. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang itu. Kalau ia menolak sekarang, Amara pasti akan curiga. Ia tak mau ada orang yang tahu apa yang terjadi malam itu, terutama sahabatnya sendiri.
“Nggak… nggak apa-apa, Mara. Gue cuma masih sedikit lelah perjalanan tadi, tapi nggak apa-apa kok,” jawab Kinasih berusaha tersenyum, meski senyum itu terasa sangat pahit dan dipaksakan. “Iya… ayo kita pergi ke rumahmu. Memang lebih enak di sana, biar cepat selesai tugasnya.”
Amara tersenyum lega, tak menyadari badai ketakutan yang sedang melanda hati sahabatnya itu. “Baguslah kalau begitu. Ayo, sekarang kita berangkat!”
Sepanjang perjalanan menuju rumah Amara, Kinasih hanya bisa duduk diam menunduk. Kakinya terasa lemas, tangannya terus menggenggam ujung roknya dengan erat. Di dalam hatinya, ia terus berdoa berulang kali, berharap semoga Kenan tidak ada di rumah, berharap semoga pria itu sedang sibuk bekerja di kantor dan tidak akan muncul sama sekali.
Tapi di sisi lain, ada rasa takut yang lebih besar, bagaimana jika Kenan memang ada di rumah? Bagaimana ia harus bersikap? Apakah Kenan akan bersikap biasa saja seolah tak ada apa-apa, atau justru akan mengingatkannya pada malam itu dan membuatnya makin terhina?
Semakin dekat gerbang rumah megah keluarga Hartmann itu terlihat, semakin kencang pula detak jantung Kinasih berpacu. Ia merasa seolah melangkah menuju tempat yang paling berbahaya dan menakutkan baginya saat ini, tempat di mana orang yang telah merenggut kehormatannya itu mungkin saja sedang menunggu, atau hanya ada di balik dinding yang sama.
Rumah keluarga Hartmann terasa sangat sepi dan hening saat mereka berdua masuk. Hanya terdengar suara langkah kaki mereka menyusuri lorong, ditambah sesekali sapaan singkat dari Pak Joko dan Mbok Siti yang menyambut dengan ramah.
Amara langsung mengajak Kinasih menuju ruang belajar pribadinya yang luas dan nyaman. Di sanalah mereka duduk berjam-jam, membuka buku, mengerjakan tugas, dan membahas materi kuliah yang tertinggal. Kinasih berusaha keras berkonsentrasi, meski di dalam hatinya terus berdoa semoga Kenan tidak pulang dan tidak akan bertemu dengannya hari ini. Beruntungnya, sampai tugas-tugas itu selesai dikerjakan, rumah tetap sepi dan tak ada tanda-tanda kehadiran pria itu.
Setelah menutup buku dan membereskan meja, Amara menoleh dengan senyum lebar. “Nah… akhirnya selesai juga! Sudah sore banget, perut gue keroncongan nih. Ayo kita makan malam dulu di bawah.”
Kinasih tertegun sejenak, lalu menggeleng ragu. “Ehm… makasih Mara, tapi gue harus segera ke kafe, masih ada jadwal kerja malam ini…”
Amara langsung memotong pembicaraan sambil melambaikan tangan. “Wah nggak usah dipaksain! Lihat deh jamnya, sudah lewat jam tujuh malam, pasti tempat kerjamu sudah mulai ramai. Lagian jalanan juga macet parah malam ini. Lebih baik makan di sini saja, nanti gue antar pulang sekalian. Nggak enak lho kalau perut kosong terus.”
Mendengar penjelasan itu, Kinasih hanya bisa menghela napas panjang. Ia sadar waktunya memang sudah terlambat, dan menolak terus akan terasa mencurigakan. “Ya sudah… baiklah, gue terima. Terima kasih banyak ya.”
Keduanya turun ke ruang makan yang luas dan megah. Begitu masuk, terlihat meja panjang yang sudah terisi penuh dengan hidangan lezat dan mewah yang mengeluarkan aroma menggugah selera. Di ujung meja sudah duduk Ibu Laras, yang langsung tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka.
“Wah, sudah selesai belajarnya? Ayo sini duduk. Ibu sudah siapkan makan malam. Jangan sungkan ya, Kinasih, anggap saja rumah sendiri,” ujar Ibu Laras lembut.
“Terima kasih banyak, Bu… maaf merepotkan,” jawab Kinasih sopan sambil menunduk sedikit, lalu duduk tepat di seberang kursi yang masih kosong.
Belum sempat mereka mulai menyendok makanan, suara langkah kaki tegas terdengar masuk ke ruang makan. Bersama dengan Markus Hartmann, ayah keluarga itu, datanglah Kenan.
Seketika jantung Kinasih seolah berhenti berdetak. Wajahnya memucat dan matanya terbelalak tak percaya. Begitu pula Kenan, langkahnya terhenti sejenak, matanya langsung terpaku pada sosok gadis yang tak pernah lepas dari pikirannya seminggu belakangan. Ia benar-benar terkejut menemukan Kinasih ada di meja makannya sendiri.
Namun Kenan segera menguasai diri. Ia tersenyum tipis, lalu melangkah tenang mendekati meja dan duduk tepat di hadapan Kinasih, posisi yang membuat mereka saling berhadapan, hanya dipisahkan oleh deretan hidangan dan jarak yang tak terlalu jauh.
Saat semua orang mulai sibuk menyantap makanan dan mengobrol santai, Kenan justru tak melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajah Kinasih. Senyum manis dan menggoda terus terukir di bibirnya, lalu secara diam-diam dan perlahan, ia mendekatkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, menciumnya lembut, lalu mengarahkan gerakan itu tepat ke arah Kinasih, seolah mengirimkan ciuman rahasia yang hanya bisa dilihat oleh mereka berdua saja.