Evina adalah wanita biasa yang hidupnya penuh dengan luka. ketika kecil dia pernah dilecehkan oleh orang dekatnya. Ia juga harus menerima segala sakit fisik maupun mental karena keluarganya yang berantakan. Dan Fahri sang pujaan hatinya yang dia kira akan menyelamatkan hidupnya. Nyatanya justru menjadi puncak dari segala dukanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuisakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EP 22 CURIGA
Sebentar lagi semester berganti. Itu tandanya Evina akan naik ke kelas tiga. Naik kelas tiga berarti adalah waktunya untuk praktik industri atau magang.
Hari ini Evina bersama beberapa teman sekelasnya pergike daerah kawasan industri didekat pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Mereka ingin mengajukan permohonan magang ke perusahaan.
Karena di tahun 2008 ini angkutan umum tidak ada yang masuk ke area kawasan industri, Evina dan teman – temannya memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke perusahaan itu. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perabotan elektonik rumah tangga.
“Capek, Vi, istirahat bentar lah,”ujar Galuh yang kebetulan satu tim dengan Evina dalam magang. Ia sudah tak tahan dengan perjalanan yang tak kunjung sampai di perusahaan yang mereka tuju itu.
“Ya, udah istirahat dulu lah, aku juga udah ngga kuat,” ujar Evina yang kemudian memilih duduk di trotoar jalan.
“Nggone ning ndi to, kok rak tekan – tekan. Lempoh, nda nek ngene. Rak ono bakul es san,” ( Tempatnya di mana sih? Kog ngga sampai – sampai. Capek, bro kalau begini. Mana ngga ada penjual es )
Teman – teman Evina pun ikut duduk di tepi trotoar. Terlihat wajah – wajah lelah muda mudi belasan tahun itu. Evina yang pun tak kalah lelah. Bagaimana pun ia seorang wanita, staminanya tak seperti teman laki - lakinya. Apalagi Semarang adalah kota yang panas, terutama di daerah pelabuhan.
Sesaat beristirahat sejenak melepas penat. Mereka bangkit berdiri dan melanjutkan perjalanan lagi. Mengingat hari sudah mendekati sore. Jika tidak segera sampai, mereka tidak bisa masuk ke perusahaan itu, karena jam kerja telah usai.
Pada akhirnya, mereka samapai ke tempat tujuan tepat waktu. Sampai disana mereka diminta menunggu sebentar. Beruntunglah, surat permohonan mereka di terima. Semester depan mereka berjumlah lima orang itu sudah bisa melaksanakan magang.
⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽⚽
Sampai di rumah, Evina meletakkan tasnya yang sudah lusuh dengan sedikit melemparkannya. Tak henti – hentinya ia menghela napas karena kelelahan. Bagaimana pun, perjalan tadi siang sangat melelahkan. Segera ia berganti pakaian dan bergegas mandi.
Di rumahnya tidak ada siapa pun. Matahari padahal sudah terbenam, tanda maghrib tiba. Namun hanya dia yang ada di rumah. Setelah mandi, ia segera mencari makanan di dapur.
Lumayan masih ada tempe goreng sisa tadi pagi. Ia segera mengambilnya dengan nasi. Lalu menyantapnya dengan lahap. Sudah tak peduli ia bagaimana rasanya. Perut lapar yang menderanya tak menjadikan rasa sebagai masalah. Yang penting ia bisa mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
Mas Indra baru saja pulang, ia menengok ke kamar adiknya. Namun tak menemukan Evina dikamar. Lantas ia pun pergike kamarnya. Terlalu lelah dengan pekerjaan hari ini, mas Indra langsung merebahkan diri ke kasurnya yang sudah keras.
“Mas, ga adhus sek?” 6( mas tidak mandi dulu?) tanya Evina ketika ia hendak ke kamarnya, namun melihat kakaknya yang sudah pulang.
“Engko wae. Awakku rak penak, kesel meni,”( nanti saja badanku tidak enak, capek sekali) jawab kakaknya yang terlihat sangat kelelahan itu.
Kakaknya adalah kuli bangunan. Itu saja sudah syukur, sebagai orang yang tamat sekolah itu pekerjaan yang paling baik yang bisa dilakukan.
Evina segera meninggalkan kakaknya, karena harus segera ke kamar. Di bukanya tasnya yang tadi diletakkannya di atas kasurnya. Ia lalu mengambil sebuah buku dari dalam tasnya. Sebuah buku berjudul ‘IMAN ISLAM’ yang ia pinjam dari perpustakaan.
Sudah beberapa bulan ini Evina tertarik dengan buku – buku yang bertema spiritual. Ia mencoba memahami bagaimana cara beribadah yang baik. Cara memandang kehidupan. Dan mencoba menerapkannya di dalam hidupnya.
Namun ia tak pernah bertanya pada siapa pun, begitu juga Fahri. Ia senang mencari segala sesuatuyang berhubungan tgentang kehidupan. Namun hatinya seolah mengganjal. Ia ingin bisa beribadah seperti orang lain, namun ia malu jika harus bertanya.
Setelah puas membaca buku Evina segera merapikannya dan memasukkan kembali ke dalam tas. Ia juga memasukkan beberapa buku yang juga ia pinjam.karena sudah akhir semester, perpustakaan meminta semua buku pinjaman untuk di kembalikan.
🎉🎋🎉🎋🎋🎉🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎉🎋🎉🎋🎋🎉🎋🎉🎉🎋🎊🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎉🎋🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎉🎋🎉🎋🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉🎋🎉
Fahri beranjak dari masjid, setelah melaksanakan sholat ‘isya. Jarak rumahnya dengan masjid tak terlalu jauh, terlalu dekat malah karena persis di depan rumahnya. Sesaat sebelum masuk ke dalam rumah, kakak perempuannya Hanifah menepuk pundaknya.
“Kowe mau ngopo wae kog balik bar maghrib?” ( kamu tadi ngapain ajakog pulang habis maghrib?) tanya kakaknya itu.
“Yo sekolah lah, emange seko endi meneh?” ( ya sekolah dong, memangnya dari mana lagi?) jawab Fahri.
“Jare pak Amat, kowe boncengan karo wong wedhok?” ( kata pak Amat kamu boncengan sama perempuan) tanya Hanifa.
Pak Amat adalah tetangganya yang bekerja sebagai pak bon di sekolahnya. Fahri langsung bingung ketika kakaknya mengatakan itu. Mbak Hanifa berbeda dengan kakak laki -lakinya, ia pastiakan memberitahukan kepada orangtuanya.
“Konco sekolah, to biasa. Moso rak enthuk mboncengke konco?” ( teman sekolah, biasa. Masa ngga boleh boncengin temen) ujar Fahri menyangkal. Dalam hatinya ia kesal sekali dengan pak Amat tetangganya. Kenapa harus melaporkan hal ini ke kakak perempuannya.
“Yakin konco? Kowe ojo aneh -aneh lho. Ngko nek bapak karo ibu reti kowe di pindah ning pondok lho. Emang ket maune mending mondok ae. Ndadak sekolah umum. Ngko nek kowe melu pergaulan sing ora ora lho,” ( yakin teman? Kamu jangan aneh – aneh. Nanti kalau bapak dan ibu tahu kamu bisa di pindah ke pesantren. Memang dari awal harusnya ke pesantren saja. Kamu malah minta di sekolah umum. Nanti kamuikut pergaulan yang tidak jelas)
"Halah opo tow mbak? Mikire sing ora – ora. Opo yo aku sampe koyo ngunu. Wes ah, ngko ibu reti darani aku sing ora- ora. Rak usah su’udzon,” ( alah, apa sih, mbak mikir yang tidak – tidak . apa aku mungkin sampai begitu.. sudahlah nanti kalau ibu dengar aku dikira yang tidak – tidak. Jangan su'udzon) jawab Fahri seraya meninggalkan kakaknya itu. Ia bergegas ke kamar dan mencari handphonenya.
Ia segera mengirim sms ke Aris.
‘Ris, ada yang ngasih tau soal Evina ke mbak Hanifa,’
Fahri segera mengirim pesan itu ke nomor Aris. Namun beberapa saat menunggu tak juga ada balasan.
Fahri melemparkan handphonenya itu, karena Aris tak segera membalas smsnya.
Ia lalu merebahkan diri dia atas kasur empuknya. Tiba – tiba saja ia terbayang wajah Evina, lalu ia memejamkan matanya sambil tersenyum.
‘Andai kamu punya handphone, Vi. Rasanya kangen banget. Mana seharian ini aku ngga ketemu kamu’ batin Fahri dalam lamunannya.
Drrrtt! Drrrtt! Terdengar bunyi sms masuk di handphonenya. Fahri segera bangun untuk mengambil handphonenya. Di bukanya sms itu, itu balasan dari Aris.
‘Lah, siapa yang ngasih tahu? Aku ngga lho, Ri,’ Aris.
‘Pak Amat, Ris. Pak bon sekolah kita,’ Fahri.
‘Lho pak Amat kog kenal sama mbak Hanifa?’ Aris.
‘Pak Amat kan tetanggaku,’ Fahri.
‘wah berarti kamu mesti hati- hati. Jangan sering keliatan berdua sama Evina,’ Aris
Fahri tak melanjutkan sms-an nya dengan Aris. Hatinya kesal, kenapa ia harus membatasi diri bertemu Evina. Belum lagi sikap Evina yang selama ini tidak mau terbuka dengannya.
“Evina...... kapan kau bilang sayang ke aku,” ujar Fahri lirih.
FAHRI
Terimakasih kepada para readers yang sudah membaca novel pertama saya. Semoga readers menikmati kisahnya ya. Jangan lupa untuk kasih rate, like, vote dan komen supaya author bisa berkarya lebih baik lagi. Silahkan kritik dan sarannya. Terimakasih......
mampir juga di karyaku My Kids My Hero
mampir juga di karyaku
Kangen fahri evina,,