NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Darah Bangsawanku

Suara ketukan penggaris kayu panjang di atas permukaan meja batu membungkam sisa kasak-kusuk di dalam ruang kelas sejarah yang luas. Di depan papan tulis hitam raksasa, berdiri Profesor Alistair, seorang pria paruh baya berkacamata dengan jubah akademisi berwarna ungu tua yang memancarkan pendaran mana tipis di sekitar jari-jarinya.

"Selamat pagi, para murid tahun pertama," ucap Profesor Alistair sembari merapikan beberapa tumpukan buku tebal bersampul kulit hewan purba. "Hari ini kita akan membuka lembaran pertama mengenai fondasi geopolitik dan sejarah besar yang menopang berdirinya Elegrand Kingdom. Sebagai keturunan bangsawan dan ksatria pilihan, kalian wajib memahami dari mana otoritas dan beban darah yang kalian miliki saat ini berasal."

Sander Duster duduk dengan punggung tegak di barisan kursi tengah, mendengarkan setiap penjelasan dengan saksama. Di samping kanannya, Elena Aurelius tampak fokus memperhatikan papan tulis, sementara Sylvia Frost di sisi kirinya mulai menggerakkan pena bulu angsa miliknya untuk mencatat poin-poin penting dengan telaten. Gideon Valentine duduk di ujung barisan, menyandarkan dagunya di atas lipatan tangan dengan ekspresi santai namun sepasang mata hijaunya tetap menatap tajam ke depan.

Profesor Alistair mulai menggerakkan tongkat sihir pendeknya, memicu lingkaran rune kecil yang memproyeksikan sebuah peta hologram raksasa dari benua Asteria di tengah ruangan.

"Dunia Aetheria yang kita huni saat ini berdiri di atas kedamaian yang rapuh," lanjut sang profesor, suaranya menggema datar mengisi ruangan kelas. "Kerajaan Elegrand dikenal di seluruh penjuru benua sebagai Kerajaan para Ksatria karena memiliki kekuatan militer dan jumlah ksatria profesional terbanyak. Dan otoritas mutlak tertinggi dari kerajaan ini dipegang oleh Keluarga Kerajaan Aurelius yang membawa simbol Singa Emas."

Elena Aurelius hanya menatap hologram singa emas tersebut dengan pandangan jernih, sama sekali tidak menunjukkan keangkuhan meskipun statusnya sebagai Putri Pertama kerajaan sedang dibahas di depan umum.

"Namun, sebuah takhta tidak akan pernah bisa berdiri kokoh tanpa adanya pilar yang menopangnya," Profesor Alistair mengetuk peta hologram, memicu pendaran tiga warna berbeda di tiga wilayah perbatasan kerajaan. "Di bawah keluarga kerajaan, terdapat Tiga Keluarga Grand Duke yang bertindak sebagai tiga pilar pertahanan tertinggi Elegrand Kingdom. Bloodline dan kontribusi mereka adalah sesuatu yang tertulis dengan tinta emas di dalam sejarah peradaban manusia."

Layar hologram bergeser memperlihatkan lambang Elang Perak di wilayah dataran barat. "Pertama, House Valentine, sang penguasa wilayah barat yang dikenal dengan kecerdasan strategi, diplomasi, dan kekuatan ksatria Elang Perak mereka." Gideon hanya tersenyum tipis mendengar nama klannya disebut.

Hologram kembali berputar menuju wilayah selatan, menampilkan lambang Singa Emas variasi faksi militer. "Kedua, House Sterling, sang penguasa wilayah perbatasan selatan yang memegang komando ksatria Singa Emas yang beringas."

Terakhir, peta hologram mengunci pada wilayah paling atas benua yang dipenuhi oleh visualisasi badai salju abadi, memunculkan sebuah simbol kepala serigala es yang sangat megah.

"Dan ketiga, House Duster, sang penguasa wilayah Utara yang menyandang gelar Pelindung Utara dengan simbol Serigala Frost." Profesor Alistair menghentikan gerakannya, menatap lurus ke arah seluruh murid kelas. "Selama ratusan tahun, klan Duster telah berdiri tegak di Benteng Aethelgard, menahan hantaman badai salju ekstrem dan membantai ribuan monster purba yang mencoba merangsek masuk dari Northern Frozen Expanse. Di mata rakyat dan militer, House Duster adalah simbol pengorbanan, keberanian, dan kehormatan absolut yang berada di puncak hierarki ksatria benua."

Penjelasan tersebut membuat atmosfer di dalam ruang kelas mendadak terasa sangat berat. Banyak murid dari klan menengah dan bawah menoleh secara refleks, melemparkan pandangan mata yang dipenuhi rasa segan dan kagum yang mendalam ke arah bangku tempat Sander Duster duduk. Nama besar ayahnya, Grand Duke Gabriel Duster sang Frost Wolf ranah Saint Rank, adalah sebuah legenda hidup yang menakutkan bagi seluruh musuh kerajaan.

Sander menyentuh lencana perak di dada kirinya, merasakan beban berat yang tak kasat mata dari nama besar keluarganya yang kini mulai menekan pundaknya. Menjadi seorang Duster berarti memikul ekspektasi seluruh benua sebagai pedang terkuat kerajaan, sebuah kehormatan yang harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.

Namun, di tengah keheningan penuh rasa hormat tersebut, sebuah suara dengan nada lantang dan dipenuhi riak provokasi mendadak memecah ketenangan kelas.

"Profesor Alistair, saya memiliki sebuah pertanyaan mengenai materi sejarah klan Grand Duke ini," Damian von Drake berdiri dari kursi barisannya di faksi selatan, membusungkan dadanya sembari melempar pandangan mata merahnya yang beringas tepat ke arah wajah Sander. "Anda mengatakan bahwa keturunan Frost Wolf selalu diidentikkan dengan kekuatan tempur yang mengerikan dan penguasaan sirkulasi energi es yang luar biasa padat. Lalu, mengapa pada upacara pengujian kelayakan dan tes dasar kemarin, ada seorang putra kandung dari klan Duster yang bahkan tidak bisa memicu setetes pun energi Pawn Rank terendah dan berada di titik kosong?"

Pertanyaan terang-terangan yang dipenuhi nada merendahkan tersebut seketika membuat seluruh ruangan kelas menjadi sangat sunyi parah. Damian von Drake menyunggingkan seringai sombong yang sangat lebar, sengaja memanfaatkan momen pelajaran sejarah ini untuk mempermalukan Sander di depan umum.

"Jika seseorang tidak memiliki Life Energy dan tidak bisa mencapai hierarki ksatria tradisional tradisional, apakah orang tersebut masih layak menyandang beban darah bangsawan tertinggi dan duduk sejajar dengan para calon monster jenius di akademi kerajaan ini?" lanjut Damian dengan nada suara yang semakin meninggi.

Profesor Alistair tampak terkejut mendengar pertanyaan sensitif yang menyerang faksi Grand Duke tersebut, wajahnya beralih menjadi sedikit kaku dan ia tidak berani memberikan jawaban sembarangan demi menjaga stabilitas politik faksi bangsawan.

Di atas bahu kiri Sander, sepasang mata emas Behemoth mendadak menyala terang dengan warna emas kosmik yang pekat. Seluruh tubuh berbulu hitamnya kembali menegang, dan ia melepaskan setitik desisan batin yang dipenuhi amarah pekat langsung di dalam kepala Sander.

(Sander! Manusia kadal bermata merah itu benar-benar menantang batasan kesabaranku! Dia terus menggonggong menggunakan nama batu penguji murahan itu untuk meremehkan keberadaan kita! Izinkan aku mencabik urat lehernya sekarang juga agar dia tahu bahwa darah makhluk agung mengalir di sepanjang pembuluh darah fisik murnimu semalaman!)

Sander mengulurkan jari tangan kanannya, mengelus punggung Behemoth dengan gerakan yang sangat tenang dan stabil untuk meredam riak emosi kucing hitamnya. Wajah pemuda berusia empat belas tahun itu tetap datar, jernih, dan sepasang mata hitamnya menatap langsung ke arah Damian von Drake tanpa menunjukkan setitik pun rasa goyah, takut, ataupun rendah diri.

Ia tahu, beban nama Duster bukanlah sesuatu yang dibuktikan melalui warna pendaran sebuah batu penguji, melainkan melalui tekad besi untuk berdiri kokoh melindungi apa yang paling ia cintai di bawah langit ini. Dan badai konspirasi serta ejekan dari faksi Damian di hari pertama kelas sejarah ini hanyalah sebuah langkah awal yang harus ia lalui untuk menapaki jalannya sendiri sebagai ksatria sejati.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!