Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri
Di atas hamparan tanah kering, Qin Zhao yang tanpa busana terlentang menatap hamparan langit. Ribuan bintang yang berkelip mengingatkannya pada sosok Kael yang yang membawanya menjelajahi semesta raya.
“Selain ibuku, kau adalah sosok terhebat yang pernah aku temui,” ucap Qin Zhao memujinya.
Pandangan Qin Zhao kemudian teralih ke arah gunung hitam yang merupakan tubuh besar Goziro.
“Sepertinya ada yang salah dengan Goziro.” Mata Qin Zhao menyipit, memperhatikan sesuatu yang terasa janggal lalu mendekatinya.
Aura monster di tubuh Qin Zhao membuat Goziro bergetar. Ia terbangun ketakutan melihat sosok Qin Zhao di dekatnya.
Samar-samar Qin Zhao merasakan ada lapisan energi yang menekan kekuatan Goziro.
“Tenanglah! Ini aku Qin Zhao,” kata Qin Zhao menenangkannya.
Sorot mata Goziro yang panik berubah normal. Ia mengenali tuannya.
“Tu … Tuan, mengapa kau begitu menakutkan?” ucapnya kemudian.
Qin Zhao ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi melihat kondisi Goziro, ia tidak ingin mengungkapkannya saat ini.
“Kau tidak perlu takut padaku. Sekarang yang terpenting adalah menyembuhkan dirimu.”
“Tu … Tuan, bagaimana kau bisa tahu?”
“Kau ini ditanya malah balik tanya.”
“Maaf, Tuan.”
“Aku akan membawamu ke alam dimensiku. Kau bisa memulihkan diri di sana.”
“Baik, Tuan.”
Setelah Goziro memasuki Alam Dimensi, Qin Zhao melihat keberadaan sebuah giok merah berbentuk lempengan yang selama ini tersembunyi di bawah perut monsternya itu.
“Ini benda asing yang menopang hidup Goziro. Sepertinya memiliki hubungan dengan Kael. Sudahlah, aku akan menyimpannya.”
Setelah itu, Qin Zhao melangkah memasuki paviliun. Seorang gadis pelayan yang melihatnya langsung berteriak, “Orang gilaaa!”
Qin Zhao bingung. Kepalanya menoleh ke belakang dan tidak menemukan keberadaan orang lain selain dirinya.
Begitu pandangannya kembali ke arah si gadis, banyak orang yang menatapnya jengkel.
“Eh, ada apa? Mengapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Qin Zhao semakin bingung.
Zhi Ruo yang baru saja bermeditasi merasa terusik oleh teriakan seorang pelayan. Ia pun turun ke lantai bawah dengan ekspresi geram.
“Kenapa kalian berisik?” tegurnya kepada semua pelayan.
“Nyonya, itu ada orang gila di pintu.” Tunjuk seorang pelayan pria ke arah pintu.
Zhi Ruo menolehkan pandangan ke arah pintu dan melihat keberadaan Qin Zhao yang masih tanpa busana.
“Bocah gila, kau masih belum berpakaian?” tegurnya seraya melemparkan gaun berwarna merah jambu ke arahnya.
Qin Zhao terpingkal baru menyadari dirinya tidak tertutupi sehelai kain dan lekas menangkupkan kedua telapak tangan untuk menutupi bagian berharganya.
“He-he, maaf,” sahutnya lalu menghilang dari ambang pintu.
“Dia bukan seorang kultivator, tetapi bisa menghilang dengan cepat. Sungguh menarik,” gumam Zhi Ruo.
Tepat di atas lempengan batu yang biasa dijadikan tempat bermeditasi, Qin Zhao mengeluarkan satu stel pakaian dari alam pikirnya.
“Untung masih ada stok pakaian milik Leluhur,” ucapnya lalu mengenakannya sekaligus memakai topeng iblis yang lama belum dipakainya.
Angin berembus kencang saat ia memakainya.
“Saatnya menampakkan diri,” gumamnya lalu melesat dalam satu langkah dan keberadaannya membuat bangunan paviliun bergetar keras.
“Ya ampun, mengapa begini?” Qin Zhao terkejut dan segera melangkah mundur sejauh mungkin.
Getaran pada bangunan paviliun berkurang, tetapi semua orang yang berada di dalamnya banyak yang terluka.
Tubuh Zhi Ruo bergetar, sementara para pelayannya memuntahkan darah dan tergolek pingsan. Bahkan beberapa orang pelayan yang berada di ranah Condensation Qi tewas seketika.
“Aku yang berada di ranah Nascent Soul pun begitu terintimidasi. Siapa orang itu?” Zhi Ruo terbang menghampirinya dan dalam jarak lima zhang, tubuhnya ambruk berdebam di atas tanah seraya memuntahkan darah. Ia lekas memasang formasi untuk melindunginya.
“Tu … Tuan, kau sudah kembali,” ucapnya terbata begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya adalah Qin Zhao.
Qin Zhao yang memandangnya masih diliputi kebingungan perihal aura yang membuat paviliun bergetar keras.
“Apa topeng yang aku kenakan ini memicu energiku?” gumamnya menduga.
Tatapannya masih terpaku ke arah Zhi Ruo yang berusaha bangkit.
“Nyonya Zhi Ruo bisa dipercaya. Mungkin saat inilah aku harus mengungkapkan jati diriku, tapi … dia sudah melihat tubuhku. Sekarang harga diriku sudah hancur!” Qin Zhao geram dan tanpa sengaja menghancurkan formasi yang dipasang Zhi Ruo dan membuatnya terlempar sampai pintu paviliun.
“Nyonya, temui aku di lempengan batu area dalam,” kata Qin Zhao yang langsung menghilang di tempatnya berdiri.
“Ba … baik, Tuan.” Zhi Ruo tertatih dengan napas tersengal.
“Kalau saja aku tidak memakai pelindung, mungkin aku sudah terbunuh oleh aura Tuan. Sungguh mengerikan!” celotehnya lalu melesat ke arah lempengan batu.
“Tuan,” ucap Zhi Ruo tidak berani melangkah lebih jauh.
“Kemarilah!” balas Qin Zhao memanggilnya.
Karena malu, Qin Zhao sengaja membelakanginya.
Di belakangnya, Zhi Ruo masih diselimuti rasa takut, tetapi melihat tuannya tidak memakai topeng, rasa takut itu diabaikannya.
Ia kemudian menghampiri Qin Zhao dan seketika kedua matanya melebar begitu tahu sosok tuannya adalah pemuda yang sebelumnya tidak berpakaian.
“Ka … kau?” Zhi Ruo langsung menundukkan wajah tidak berani menatapnya.
“Apa?” tanya Qin Zhao yang secepatnya membalikkan badan karena tidak ingin rasa malunya terlihat oleh anak buahnya itu.
“Ma … maaf, Tuan. Aku tidak tahu kalau …,” Zhi Ruo tidak berani melanjutkan ucapannya.
“Ceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan!” pinta Qin Zhao tanpa mau memandangnya.
Perasaan serba salah menghinggapi hati Zhi Ruo yang sudah melihat bagian berharga milik tuannya, bahkan para pelayannya pun telah melihatnya.
“Jangan mikir yang aneh-aneh. Ceritakan semuanya!” desak Qin Zhao.
Untuk menenangkan diri, Zhi Ruo menghela napas, lalu berkata, “Aku sudah menunggu Tuan selama setahun ini, dan aku kira Tuan tidak akan kembali lagi.”
Naluri sebagai seorang perempuan membuat Zhi Ruo mencondongkan wajah untuk melihat wajah tuannya, tetapi Qin Zhao tak memberinya kesempatan dengan memalingkan wajah ke arah yang lain.
Zhi Ruo tidak menyerah. Ia melangkah memutari Qin Zhao yang juga berputar menjauhinya.
“Berhenti dan lanjutkan ucapanmu, Nyonya!” bentak Qin Zhao.
Dibentak demikian tidak membuat Zhi Ruo takut, ia malah tersenyum simpul lalu melanjutkan ucapannya.
“Pada saat pembukaan, bukan hanya para kultivator yang hadir, bahkan dari pihak kekaisaran pun berdatangan. Kedatangan mereka bukan untuk menuntut kematian Pangeran Qin Canglan, melainkan membawa kerja sama untuk mengembangkan bangunan paviliun serta pendirian arena pertandingan.”
Zhi Ruo menggeser kakinya dan merapatkan diri dengan Qin Zhao, tetapi sekali lagi Qin Zhao menjauhinya tanpa mau menatapnya.
“Banyak keluarga bangsawan dari pihak istana. Apa kau tahu dari keluarga mana?”
“Mereka utusan langsung Kaisar.”
“Keuntungan apa yang mereka inginkan?”
“Mereka ingin kita jadi pusat informasi di wilayah timur.”
“Tidak sesederhana itu.”
“Maksudnya, Tuan?”
“Wilayah ini di luar kewenangan Kekaisaran Qin. Menurutku, Kaisar ingin mengendalikan semua praktisi baik dari sekte maupun praktisi mandiri di tempat ini.”
“Itu pernah aku pikirkan, tetapi aku hanya ingin fokus mendulang harta dan informasi dari semua tamu.”
“Lalu bagaimana dengan keuntungan kita selama ini?”
“Setiap bulan kita rutin menggelar lelang, dan pendapatan kita selama setahun ini sudah menghasilkan sejumlah lima juta emas, tiga juta batu roh, dan ratusan senjata spiritual serta pil alkemis berbagai tingkatan,” papar Zhi Ruo menambahkan.
Mendengar hal itu, mimik wajah Qin Zhao memerah. Ia menoleh dan wajah keduanya hampir beradu.
“Hei, jauhkan wajahmu, Nyonya!” bentak Qin Zhao yang terkejut melihatnya.
“Ma … maaf, Tuan,” balas Zhi Ruo yang seketika melangkah mundur.
“Benarkah yang tadi Nyonya katakan?” Soal harta, Qin Zhao tak peduli harga diri.
“Tentu benar, Tuan. Semuanya ada di sini.” Zhi Ruo menunjukkan cincin penyimpanannya.
“Simpan baik-baik. Aku percaya padamu.”
“Terima kasih atas kepercayaan Tuan kepadaku.”
Qin Zhao angguk-angguk mendapatkan kekayaan dari anak buahnya itu. Ia kemudian teringat dengan stok pakaian di alam pikirnya.
“Pakaian yang aku punya semuanya berwarna hitam. Besok belikan aku pakaian warna lainnya.”
“Baik, Tuan. Aku akan membelikan Tuan pakaian yang paling bagus.”
“Bagus. Sekarang kau kembalilah dan jangan pernah mengungkapkan jati diriku kepada siapa pun!”
“Baik, Tuan. Aku undur diri.”