Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 06
Sean sudah melewati masa kritisnya, tapi dia belum sadar hingga saat ini. Hal itu membuat Rean semakin gelisah memikirkannya. Bagaimana keadaan Sean? kenapa sampai sejauh ini.
Dia tau, jika sampai beberapa jam kedepan Sean tidka juga sadar, maka adik kembarnya itu di nyatakan koma.
"Rean, bagaimana keadaan adik kamu?" tanya ibunya ketika sampai di rumah sakit.
Dia berlari sebisa yang dia lakukan agar bisa segera bertemu dengan anak-anaknya. "Bu, kenapa berlari?" tanya Rean mengkhawatirkan keadaan ibunya saat ini.
"Ibu baik-baik saja, nak. Bagaimana adik kamu? bagaimana Sean?" tanya ibunya panik.
Rean terlihat gusar, bagaimana cara menjalankan pada ibunya tentang semua ini? Sungguh, dia benar-benar tidak tau harus menjelaskan bagaimana lagi.
"Sean sudah melewati masa kritisnya, tapi-"
"Tapi apa, Rean? Adik kamu baik-baik saja kan? Sean baik-baik saja kan?" cecar ibunya lagi membuat Rean langsung memeluk ibunya yang terlihat begitu rapuh.
Melihat istri dan anak tirinya berpelukan begitu membuat Pradana, ayah tirinya mundur. Dia memberikan waktu untuk mereka bicara dan melepas rindu.
Saat Pradana hendak keluar, dia bertemu dengan ayah mertuanya. Kakek Roeslan.
Melihat suami kedua dari putrinya berada disini membuatnya yakin, jika Rieka sudah berada di tempat ini juga.
"Permisi, Tuan Roeslan." pamitnya tidak ingin terjadi perselisihan di antara mereka.
Bahkan untuk memanggil ayah mertua saja dia sulit. Karena pernikahan mereka yang di tentang keluarga istrinya, walau mereka baik-baik saja. Bahkan Rean dan Sean juga menerima pernikahan mereka.
"Bagus jika kau tau diri." ucap kakek Roeslan dengan angkuh seperti biasa.
Sementara Prada tidak merasa terganggu dengan hal itu. Karena dia juga cukup tau diri untuk hal ini.
"Berdoa saja Sean akan baik-baik saja, Bu. Jika Sean tidak sadar dalam dua jam kedepan, maka dia di nyatakan koma." kedua kaki seorang ibu itu tiba-tiba saja lemas.
Beruntung Rean dengan sigap menopang tubuh rapuh sang ibu. Hati wanita mana yang tidak hancur saat mendapatkan kabar jika putranya kecelakaan, dan bahkan di nyatakan koma jika tidak sadar dalam waktu dua jam kedepan.
"Bu, Rean yakin Sean akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat. Bahkan dia memegangi sabuk hitam taekwondo bukan? Tubuhnya benar-benar kuat. Kita doakan agar Sean baik-baik saja."
"Ini semua salah ibu, Rean. Andai saja ibu tidak egois untuk tinggal di Canada bersama paman Pradana, mungkin semua akan baik-baik saja. Kalian tidak akan kekurangan kasih sayang. Kalian akan-"
"Bu, apapun yang terjadi ini sudah takdir. Sekarang bukan saatnya menyalahkan diri sendiri. Yang harus kita lakukan sekarang hanya berdoa untuk Sean. Semoga dia cepat sadar dan melanjutkan pemeriksaan lanjutan." ucap Rean menjelaskan pada ibunya.
Mereka berdua masih berpelukan, sampai terdengar suara tongkat dan langkah kaki yang mendekat membuat mereka sadar jika itu adalah kakek.
"Rean, bagaimana keadaan Sean? Apa sudah ada perkembangan?" tanya kakeknya membuat Rean hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Sementara sang ibu, masih memeluknya, dan tidak ingin berpaling untuk melihat kakeknya disana.
Hubungan ayah dan anak itu sudah hancur belasan tahun lalu. Jadi rasanya canggung sekali untuk memulai pembicaraan di antara mereka saat ini.
"Kita bawa Sean keluar negri untuk pengobatan yang lebih canggih lagi. Sean harus segera sadar."
"Kek, biarkan Sean tetap disini. Rean tidak akan membiarkan Sean pergi kemanapun. Jadi ini sudah keputusan Rean, dan ibu." ucapnya pada sang kakek membuat pria tua berambut putih itu hanya bisa menghela nafasnya dengan berat.
Rean ini jauh lebih keras kepala di bandingkan Sean yang masih bisa di ajak bicara. Tapi pribadinya, Sean lebih mengerikan jika sudah di usik daerah kekuasaannya.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh