“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Kembali Ke Awal
Suara ketukan pintu membangunkan Arin dari tidurnya. Ia membuka mata perlahan, mendapati kamarnya masih gelap tanpa cahaya sedikitpun. Tubuhnya masih terbaring di tempat yang sama seperti semalam, di lantai, tempat ia tertidur sambil menangis memikirkan Mamanya.
Arin duduk perlahan, lalu berdiri saat ketukan keempat terdengar. Ia berjalan pelan menuju pintu dan membukanya.
Seorang pria bertubuh besar berdiri di hadapannya.
"Uang sewa bulan ini," ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Pak… hari ini saya akan pergi. Saya tidak akan menyewa tempat ini lagi," jawab Arin pelan.
"Kenapa? Nggak punya uang?" Lelaki itu tersenyum kecil. "Aku dengar kau dipecat tadi malam. Gimana? Kalau memang nggak bisa bayar, ya nggak apa-apa…" Senyumnya melebar, tubuhnya sedikit mendekat.
Menyadari situasi mulai terasa tidak aman, Arin buru-buru masuk ke dalam dan langsung menutup pintu. Tangannya gemetar saat memutar kunci. Ia bersandar di pintu, napasnya tertahan, seolah takut mengeluarkan suara sekecil apa pun.
"Siang ini kamar ini akan ditempati orang lain! Segera pergi!" teriak pria itu dari luar, sebelum langkah-langkahnya menjauh.
Tanpa membuang waktu, Arin segera membereskan barang-barangnya. Ia memasukkan pakaian ke dalam tas dengan tergesa-gesa. Tangannya meraih amplop kecil di lantai, gaji yang baru ia terima semalam. Ia mengecek isinya, menghitung uang yang tersisa untuk bertahan hidup.
Saat hendak memasukkan amplop itu ke dalam tas, pandangannya jatuh pada ponsel miliknya, ponsel yang sudah lama dimatikan.
Arin mengambil charger dan mulai mengisi dayanya. Begitu ponsel menyala di angka tiga persen, ia langsung menyalakannya.
Notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab memenuhi layar. Suaranya memenuhi kamar kecil itu. Arin buru-buru menekan mode senyap, lalu menggulir daftar pesan yang tak ingin ia buka, kecuali satu. Pesan dari Intan, sahabatnya.
Arin membuka pesan terbaru, dikirim dua hari lalu:
[Arin, kau ke mana…? Ini sudah tiga bulan kau menghilang dan tidak memberi kabar sama sekali. Aku harap kau baik-baik saja. Kalau kau baca ini, tolong kabari aku.]
Senyum tipis muncul di wajah Arin. Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu terakhir, ada sesuatu yang terasa hangat.
Tanpa pikir panjang, Arin membuka kontak Intan dan langsung menekan tombol panggil.
Tak perlu menunggu lama, suara nyaring menyambut dari seberang:
"Arin! Kau! Kau ada di mana?!" suara Intan terdengar begitu jelas hingga Arin refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Aku baik-baik saja… Aku merindukanmu," sahut Arin akhirnya, suaranya pelan.
"Kau di mana?! Kau jahat sekali! Pergi tanpa bilang apa-apa, kau benar-benar keterlaluan! Aku marah padamu!" seru Intan dengan suara meninggi. Arin terdiam, perasaan bersalah menyusup pelan di dadanya.
"Kau masih di sana? Arin?" suara Intan terdengar lagi, memecah lamunan.
"Maafkan aku… Waktu itu aku benar-benar nggak bisa berpikir jernih. Aku kehilangan pekerjaanku, jadi aku memutuskan pergi keluar kota sebentar," ucap Arin, berusaha menjelaskan. Walau ia tahu, itu bukanlah kebenaran sepenuhnya.
"Iya, aku mendengar itu. Aku ke tempat kerjamu, dan mereka bilang kau sudah tidak bekerja di sana lagi. Sekarang kau ada di mana?"
"Aku nggak tahu tepatnya… Aku hanya beli tiket acak di stasiun, naik bus sekitar 1 hari, dan akhirnya sampai di sebuah desa kecil yang aku nggak tahu namanya," jawab Arin jujur.
"Gila! Arin, kau gila! Kau benar-benar gila! Kau bahkan nggak kenal siapa-siapa di sana!" Intan nyaris berteriak.
"Aku akan pulang hari ini…" ucap Arin pelan.
"Hari ini?! Aku akan jemput! Kau sampai jam berapa?"
"Nggak usah, Tan. Aku juga belum tahu akan sampai jam berapa. Tapi setelah aku sampai, aku janji akan langsung mengabarimu."
"Kau janji, ya? Dan satu lagi… kalau kau mau pergi lagi entah ke mana, tolong beritahu aku. Kau membuatku khawatir setengah mati."
Arin bisa mendengar jelas nada khawatir dalam suara sahabatnya. Dan entah kenapa, hatinya terasa hangat.
"Maafkan aku…" hanya itu yang mampu ia ucapkan. Ada keinginan besar untuk memeluk Intan saat itu juga, menangis dan meluapkan segalanya. Tapi ia tahu, bagian dirinya yang selalu ingin kuat, yang tak ingin membebani siapapun, tidak akan membiarkannya menangis di depan siapapun.
...*****...
Tepat pukul dua belas malam, pengumuman pemberhentian stasiun membangunkan Arin dari tidurnya. Matanya perlahan terbuka, memperhatikan para penumpang yang mulai berdiri dan mengambil barang-barang mereka.
Arin tetap duduk di kursinya. Ia memilih menunggu hingga semua orang turun lebih dulu. Tangannya merogoh saku jaket, mengambil ponsel. Beberapa pesan masuk. Seperti biasa, Arin mengabaikan sebagian besar, kecuali satu.
Dari Intan.
[Kau sudah sampai? Kau akan tinggal di mana? Apa kau punya tempat tinggal? Kalau belum, datang saja ke rumahku. Kabari aku kalau sudah sampai, oke?]
Pesan itu membuat Arin tersenyum kecil. Ada rasa hangat di dadanya. Ia merasa sangat beruntung punya sahabat seperti Intan, layaknya ibu sendiri. Terkadang, Arin merasa sikap protektif itu muncul karena Intan adalah anak pertama, terbiasa memikul tanggung jawab besar untuk keluarganya. Dalam hati, Arin benar-benar mengagumi Intan.
Ia kembali menatap sekeliling. Gerbong sudah mulai kosong. Hanya beberapa orang yang, seperti dirinya, memilih menunggu kereta lebih lega sebelum mengambil barang.
Arin berdiri, mengambil tasnya, lalu melangkah keluar dari kereta. Tanpa banyak menunda, ia naik tangga menuju area atas stasiun.
Begitu sampai di atas, udara malam langsung menyapa kulitnya. Dingin. Gedung-gedung tinggi menjulang, suara mobil dan langkah kaki orang-orang yang lalu lalang terdengar akrab di telinga, semua terasa begitu familiar.
Arin menarik napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membuka mata kembali dan melambaikan tangan ke arah taksi yang melintas.
Sesaat setelah duduk di dalam taksi, ia membuka ponselnya dan membalas pesan Intan:
[Aku sudah sampai. Aku sudah punya tempat tinggal, memesannya secara online. Besok aku akan menemuimu, sekarang sudah larut, tidurlah :)]
Mobil mulai melaju di tengah keramaian kota yang tak pernah benar-benar tidur. Meskipun sudah tengah malam, jalanan tetap dipenuhi kendaraan. Lampu jalan menyala terang, gedung-gedung tinggi pun masih bercahaya, seakan-akan kota ini tidak pernah berhenti bekerja. Saat melewati sebuah bangunan mewah, mata Arin terpaku.
Regen Hotel.
Ia menatap gedung itu, diam, tapi hatinya kembali terasa sesak. Begitu banyak kenangan terkubur di dalam sana.
Taksi itu terus melaju, membawa Arin menjauh dari tempat yang dulu pernah ia sebut sebagai bagian hidupnya.