“Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali”
Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriarki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak dicintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi—majikan tempatnya bekerja.
Namun, kisah cinta Ana dan Huang Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Tak Terduga
Wiuuuu … wiuuuu … wiuuu
Sore itu terjadi ketegangan di rumah keluarga Huang, juru masak rumah itu—Ayi Jung tiba-tiba jatuh pingsan saat sedang menyiapkan makan malam.
Semua pekerja langsung berkumpul saat mendengar teriakan dari Ana yang juga ada di dapur. Salah satu diantara mereka langsung menelpon ambulance guna memberikan pertolongan untuk Ayi Jung.
Di tengah keriuhan dan kepanikan, Ana berdiri tenang, menyelesaikan masakan yang sempat tertunda. Semua sayur dan daging sudah disiapkan, akan sayang jika tidak dimasak, Ana pun berinisiatif menyelesaikan pekerjaan itu.
“Kamu bisa masak, An?” tanya Ayi Ling begitu selesai mengantar Ayi Jung hingga masuk ambulance.
“Bisa sedikit-sedikit, Ayi. Ayi bantu coba cicip, sesuai tidak rasanya,” jawab Ana, tangannya sibuk mengoseng paprika campur daging babi giling.
Ayi Ling berjalan pelan menuju meja tempat meletakkan masakan yang sudah matang, tangannya membawa sepasang sumpit berbahan kayu. Dahi wanita sepuh itu mengerut saat mencicipi beberapa lembar sayur juga ikan yang sudah Ana sajikan, lidahnya mengecap cepat—lalu mencicipi lagi hingga dua kali.
“Gimana, Ayi?” Ana bertanya dengan wajah meringis, bukan karena kesakitan, tapi takut masakannya tak sesuai harapan.
“Ikannya enak banget, An. Sayurnya juga pas matangnya, enak … ini enak, kamu pinter masak ternyata,” puji Ayi.
Ana menghela napas lega, tangan mengusap keringat di pelipis. “Semoga Nyonya Huang juga suka,” ucapnya sambil menyelesaikan masakan terakhirnya—tumis asparagus.
“Bukan suka lagi kalau begini, An, tapi pasti pada ketagihan. Terutama …,” Ayi Ling terkikik pelan. “Terutama Huang Lhi.” lanjutnya.
Ana mengulum senyum, pipi bersemu merah. Ia tak lagi menjawab, fokus menyelesaikan pekerjaannya di dapur.
Makan malam pun berlangsung, semua anggota keluarga yang terdiri dari Ny. Huang, Huang Lhi, Ayi Ling dan suaminya menikmati hidangan dengan tenang, sedang Ana memasang wajah tegang sambil mencuci penggorengan.
Terdengar deheman kecil dari Ny. Huang, disusul pertanyaan yang membuat Ana dan Citra saling melempar pandang.
“Siapa yang menyiapkan makan malam?”
Ayi Ling menelan pelan makanan dalam mulutnya seraya menjawab dengan suara tegas. “Ana.”
Ny. Huang kembali menikmati makan malamnya hingga tandas tak bersisa, lalu memberi titah kepada Ayi Ling. “Aku suka masakannya, pindahkan dia ke dapur nanti aku carikan satu pembantu lagi untuk membersihkan lantai dua.”
Sontak, Ana dan Citra saling berpelukan, wajah mereka di penuhi rona bahagia.
Satu minggu sejak sore itu, seorang pembantu baru tiba. Gadis Indonesia seumuran Citra—Tika namanya. Ia langsung ditugaskan di lantai dua tempat Ana bekerja dulu, sedang Ana sendiri tetap berada di dapur di setelah Ayi Jung si tukang masak terkena stroke.
Matahari baru merangkak naik saat Ana sudah sibuk di dapur. Sejak memegang tugas di dapur ia memang diberi kunci rumah, agar bisa lebih awal menyiapkan sarapan untuk Tuan rumah. Tidak banyak yang harus Ana siapkan, hanya telur rebus dan beberapa bakpao kukus.
Wanita yang sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan dapurnya itu sedikit tersentak saat melihat sang Tuan masuk ke dapur. Laki-laki yang biasanya duduk diam di meja makan itu tiba-tiba saja memanggil Ana—mengajari cara membuat kopi.
“Mulai besok siapkan kopi hitam seperti ini tiap jam delapan pagi, tak perlu buru-buru, terkadang aku hanya ingin membaca koran di meja makan sambil menunggu sarapan.” Suaranya datar, tanpa ekspresi, tapi mampu menggetarkan hati Ana, pun dua orang yang menguping dari samping tangga.
Ana menunduk sopan seraya menjawab pelan. “Baik, Tuan.”
“Minta apa dia, An?” tanya Ayi Ling baru saja turun dari lantai dua.
“Minta disiapkan kopi hitam tiap jam delapan pagi, Ayi,” sahut Ana.
Alis keriput Ayi mengerut, tatapannya menyelidik. “Sejak kapan Huang Lhi minum kopi?” gumamnya.
“Sejak ada Kak An, Ayi,” celetuk Citra, sikunya menyenggol pelan lengan Ana. “Gimana rasanya tiap pagi di tungguin Ayang, Kak?” imbuhnya, alisnya berkedut-kedut, senyumnya meledek.
“Apaan sih kamu?” kilah Ana, kepalanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah muda.
“Seumur hidup kerja di sini, baru kali ini liat Tuan Huang Lhi betah duduk di bawah sambil senyum tipis-tipis.” Citra mengambil satu buah bakpao. “Iya nggak, Ayi,” serunya, mencari suara.
Ayi tersenyum singkat, bibirnya mencebik.
Tika yang baru saja bergabung turut menimpali. “Emang dulu kaya gimana Tuan Huang Lhi itu, Cit?”
“Kaya gunung es,” sahut Citra, cepat.
Dahi Tika mengernyit, bibir mengerucut. “Gunung es?” ulang Tika.
“Iya, Tik. Jangankan ngomong, senyum aja nggak pernah.” Citra menyelesaikan sarapannya. “Baru ada Kak An ini aja berubah jadi begitu.”
Tika manggut-manggut, gadis yang baru sehari bergabung di rumah keluarga Huang itu kembali menyeletuk. “Jangan-jangan ada rasa sama Kak An itu.”
“Memang ada rasa, sayangnya masih malu-malu aja buat mengakui,” timpal Ayi Ling.
Citra tergelak hingga tersedak bakpao di mulutnya. “Uhuk … sampek keselek.” Batuk menyembur. “Betul Ayi, padahal udah jelas banget, lo.” lanjutnya setelah meneguk susu kedelai setengah gelas.
“Ayi sama Citra ini suka asal aja kalo bercanda,” kilah Ana, wajahnya memerah menahan malu.
“Kak, Tika yang baru datang aja langsung nyadar, lo, apalagi aku sama Ayi yang tiap hari merhatiin?” Citra masih keukeuh dengan prasangkanya.
“Sudahlah, An, nikmati aja. Kamu orang pertama, lo yang bikin dia begitu,” imbuh Ayi Ling semakin membuat Ana salah tingkah di buatnya.
Obrolan penuh canda itu pun berakhir dan masing-masing pekerja kembali ke bagiannya masing-masing, meninggalkan Ana yang masih bermain dengan pikirannya. Bibirnya mengulum senyum saat kembali mengingat ucapan sang majikan.
'Jika kesulitan jangan sungkan meminta bantuan.'
Bersambung.
awas 👊🏻
semangat thor untuk selalu berkarya. sehat selalu
klu yg kecil pasti anak'a roy kan?