Lanjutan dari novel "Nikah Paksa Jadi Cinta"
Yang belum baca musim pertama bisa baca dulu ya, hehe...
.
.
Karena sebuah perjodohan yang diatur oleh orang tuanya membuat Diandra harus kabur dari rumah.
Diandra tak ingin dikekang. Ia ingin bebas menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Kevin Andrea Geraldy. Seorang pria yang ia ketahui adalah mantan dari sahabatnya sendiri. Hidupnya berubah dan benih cinta antara keduanya mulai tumbuh.
Namun, disisi lain Diandra tidak ingin menyakiti sahabatnya sendiri. Apa yang akan Diandra lakukan?
Simak yuk ceritanya🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Diandra langsung berlari menuju ruangan Ayahnya saat ia sampai di perusahannya. Ia tak sabar ingin mengabarkan pada Ayahnya jika ia telah berhasil menyelesaikan misi itu. Dan itu artinya ia terbebas dari paksaan perjodohan tersebut.
"Papa... Lihat apa yang aku bawa," ucap Diandra senang. Raka menatap Diandra sekilas lalu menghentikan aktivitasnya. Ia berjalan menuju sofa tempat Diandra berada.
"Apa yang membuatmu begitu senang sayang?" tanya Raka yang kini sudah duduk di samping Diandra.
"Papa lihat sendiri saja!" Diandra menyodorkan dokumen yang ada ditangannya. Kini Raka mulai membuka dokumen tersebut dan seketika terkejut. Ia menatap Diandra dengan tak percaya.
"Kamu berhasil mendapatkan kerja sama itu?" tanya Raka memastikan. Diandra mengangguk dengan cepat. Ia tersenyum bahagia.
"Sesuai kesepakatan kita. Mulai saat ini Papa tidak boleh menjodohkanku dengan Rizal lagi. Jadi, Diandra berhak menentukan jalan hidup Diandra," ujar Diandra. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Sedangkan Raka menghela napasnya sejenak. Yah, karena itu adalah janjinya pada putrinya, Raka harus menepatinya bukan?
Raka mengusap puncak kepala Diandra. Ia ikut senang dengan keberhasilan putrinya. Bahkan awalnya ia tak yakin jika Diandra akan memenangkan tender tersebut.
"Baiklah. Papa tidak akan memaksamu untuk menikah dengan Rizal. Tapi kamu harus ingat sayang, tidak memaksa bukan berarti kamu menunda menikah. Kamu sudah cukup umur. Pergilah dan cari kebahagiaanmu sendiri," tutur Raka. Diandra langsung memeluk Ayahnya.
"Iya Pa... Diandra akan mencari kebahagiaan Diandra sendiri," balas Diandra.
***
Di ruangan pribadi, Pak Irawan masuk dan mengunci pintunya. Ia tak ingin seorangpun mendengar percakapannya dengan sosok yang ada di depannya saat ini.
Pak Irawan berjalan pelan. Ia mendekati pria itu yang berdiri membelakanginya sambil menatap area luar jendela.
"Saya sudah melakukan apa yang Anda perintahkan. Mungkin untuk kedepannya nanti, perusahaan kami akan sulit bekerja sama dengan perusahaan Andrea's Group. Tetapi saya masih penasaran, apa yang membuat Anda melakukan ini?" tanya Pak Irawan.
Pria itu berbalik. Ia tersenyum sambil menatap Pak Irawan. Lalu mendekatinya dan menepuk bahu Pak Irawan cukup kuat.
"Terima kasih. Saya tidak akan melupakan kesepakatan kita. Untuk alasannya, saya tidak bisa memberitahu Anda. Tetapi, memberikan kesempatan pada perusahaan Sanjaya bukanlah hal yang merugikan bagi perusahaan Anda bukan?" ujar Rizal. Pak Irawan mengangguk.
Rizal mengetahui kesepakatan yang dilakulan antara Diandra dan Ayahnya. Oleh sebab itu, ia ingin memastikan jika Diandra dapat memenangkan tender kali ini. Ia tidak ingin menikahi Diandra hanya karena paksaan dari keluarga. Ia ingin menikah jika Diandra sendiri yang mengatakannya dan itu tentunya jika Diandra mencintainya.
Rizal tidak ingin menyakiti Diandra. Ada banyak waktu untuk meluluhkan Diandra. Meski itu hal yang sulit, tetapi Rizal tidak ingin menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan Diandra.
"Ya, saya mengerti," jawab Pak Irawan.
"Ingat, tidak ada yang boleh tahu tentang ini." Rizal memperingati Pak Irawan. Pak Irawan mengangguk. Meski ia awalnya ingin bekerja sama dengan Andrea's Group, tetapi penawaran yang Rizal berikan tak kalah menguntungkan.
"Saya permisi." Rizal melangkah keluar dari ruangan itu. Begitu ia keluar langsung disambut oleh asistennya dan segera menuju ke mobilnya.
Di dalam mobil, Rizal mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melamun menatap luar jendela mobilnya. Hatinya sedih, namun akan sedih lagi jika ia menyakiti Diandra.
"Semoga ini keputusan yang baik. Diandra, aku harap kamu bahagia bersama siapapun yang akan menjadi pendampingmu nanti," gumam Rizal. Asisten Rizal mulai melajukan mobilnya ke arah kantornya.
"Tuan muda, Anda begitu banyak mengorbankan segalanya hanya untuk nona Diandra. Apa itu tidak berlebihan?" tanya Ronald, asisten Rizal.
"Tidak ada yang berlebihan dalam hal cinta Ron," balas Rizal. Meski ia tahu ia tak mungkin mendapatkan cinta dari Diandra, Rizal tetap membantunya sebisa mungkin.
*
"Katakan padaku Mark! Bagaimana bisa aku kalah dari gadis itu?" teriak Kevin dengan kesal. Ia tak habis pikir, ia akan kalah dari Diandra. Kevin melempar barang yang ada di mejanya. Ia sangat marah dan kesal. Baru pertama ini Diandra mampu mengalahkannya.
"Tuan muda, tenanglah." Mark berusaha menenangkan Kevin.
Kevin menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia menyandarkan tubuhnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Memejamkan matanya sejenak. Ia tidak bisa menerima kekalahan ini. Apalagi kalah dari Diandra.
"Mark, tinggalkan aku sendiri! Kau boleh pulang sekarang juga," ucap Kevin yang masih memejamkan matanya.
"Tapi tuan muda."
"Aku bilang keluar ya keluar! Apa kau tidak dengar Mark?" teriak Kevin. Mark menghela napasnya sejenak. Kemudian memilih keluar dari ruangan tersebut untuk menghindari amarah dari Kevin.
Kevin mengepalkan tangannya dengan kuat untuk meredam amarahnya sendiri. Kekalahan dan kemenangan itu hal biasa. Namun yang tidak bisa Kevin terima dalam kekalahannya kali ini adalah kalah dari Diandra. Merasa jika ia tak lebih baik dari Diandra.
Kevin tiba-tiba tersenyum sinis. Ia kembali membuka matanya. Menatap layar ponselnya yang ada di mejanya tersebut.
"Aku tidak akan kalah untuk lain kali. Anggap saja hari ini kamu beruntung Diandra," gumam Kevin.
Kevin berdiri dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Menyegarkan diri dan menjernihkan pikirannya. Ia menatap dirinya dari pantulan cermin.
*
Malam harinya...
Raka sengaja mengajak Rizal untuk makan malam bersama keluarganya di kediamannya. Raka ingin merayakan keberhasilan Diandra secara sederhana. Dan Rizal tak menolak ajakan Raka. Ia juga ingin melihat wajah bahagia Diandra.
"Malam Om, Tante," sapa Rizal yang baru saja tiba di sana. Melihat kedatangan Rizal, Diandra langsung berdiri dan berlari menghampirinya.
"Zal, kau datang juga," ucap Diandra. Rizal mengangguk.
"Ehem, sayang... Ajak Rizal makan malam," ucap Raka yang berjalan menuju ruang makan bersama istrinya.
Diandra mengajak Rizal ke ruang makan. Mereka duduk berdampingan. Rizal sangat senang karena keluarga Diandra memperlakukannya dengan istimewa. Ia sungguh beruntung.
"Di, aku ingin berbicara padamu secara pribadi boleh?" tanya Rizal selepas makan malam itu selesai. Rizal sambil memegang tangan Diandra. Diandra terlihat bingung. Namun ia mengangguk mengiyakannya.
Rizal membawa Diandra menuju teras. Ia masih berdiri di depan Diandra. Menatap Diandra dengan lekat.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Zal?" tanya Diandra.
"Bolehlah aku memelukmu sebentar?" pinta Rizal. Diandra mengernyitkan dahinya.
"Sebentar saja Di," ujar Rizal kembali. Diandra mengangguk pelan. Rizal langsung memeluk Diandra dengan erat. Meski Diandra tak tahu apa maksud Rizal memeluknya. Namun ia menurutinya.
"Mungkin ini akan menjadi pertama dan terakhir aku memelukmu Diandra... Sebelum aku melepas rasa cintaku padamu. Siapapun nanti yang menjadi suamimu, aku akan selalu mendoakanmu semoga kamu bahagia selalu," batin Rizal. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Zal, kau memelukku dengan sangat erat. Aku hampir tidak bisa bernapas," ucap Diandra sambil menatap Rizal. Rizal tersenyum tipis.
"Bagaimana jika aku tidak mau melepas pelukan ini?" tanya Rizal menggoda Diandra.
"Kau!! Jangan bercanda!" decak Diandra. Namun itu membuat pipi Diandra memerah.