Terikat, membelenggu dirinya dalam ruang gelap yang dingin. Pewaris Perusahaan Shimizu, merupakan sebuah takdir yang terwariskan padanya. Lumi harus hidup sesuai darah yang sudah mengalir padanya.
Terang dan uluran tangan, bahkan ketulusan seseorang padanya dia kubur dalam-dalam. Baginya gelap dalam sebuah dendam yang tergenggam akan jauh lebih baik tanpa ada secerca cahaya apapun.
Tapi, kehidupannya sedikit terguncang akan dua sosok wanita yang mengisi relung pikirannya. Wanita yang dia rindukan tapi rupa wajahnya tidak Lumi kenali. Lalu satu sosok wanita yang tulus perhatian padanya meski mereka saling membenci.
Apakah, Lumi akan membuka tirai dan membiarkan secerca cahaya masuk dalam dunia gelap dengan penuh dendam?
Lalu, kemana hatinya akan berlabuh? wanita masalalu? atau wanita yang dia anggap pengacau sekarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mesta Suntana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - Flashback : Tidak Ada Perubahan
Nyaring, nyaris memekakkan telinga. Suara teriakannya memecah keheningan. Bergema dan begitu usik, namun seseorang yang berada di ruangan itu nampak santai terbangun. Kain tebal yang menutupinya tenang, kini mulai menggeliat. Seseorang dari gulungan kain halus dan hangat itu meronta keluar. Tangannya menjulur mulai merayap dari balik selimut mencoba mencapai alarm yang ada di mejanya.
Ketemu.
Tangan kekar itu langsung menekan tombol off dari terkaan rabaan tangannya. Bunyi bising pun tidak terdengar kembali. Keheningan kembali jatuh dalam ruangan. Tubuhnya mulai bangkit dari tidurnya, setengah rasa kantuk terlihat pada raut wajahnya. Selimut yang membungkus dirinya perlahan dia sibak seraya menggeserkan badannya ke tepi kasur. Kaki panjang itu sudah menginjak lantai, dia terduduk di tepi kasur dengan tatapan yang begitu kosong. Tangannya kembali meraba-raba mencoba mencari sesuatu.
Licin, padat dan dingin teraba oleh tangannya. Gagang laci — satu tertarik, laci pun terbuka. Tangannya kembali meraba dan menelusup masuk menjelajahi ruang kecil dalam laci.
"Srek!"
Suara barang bergesek kasar — tak sengaja oleh tangannya. Tapi suara tersebut memberikan petunjuk bagi tangannya untuk meraih benda tersebut.
Dingin dan keras menyentuh jari-jari tangan, tanpa pikir panjang Lumi langsung mengambilnya. Benda itu terlihat seperti ada empat bagian yang terlipat. Tapi saat mereka di turunkan, benda itu menjadi satu dan tegak seperti tongkat.
Mengkilap layaknya besi padat — yang sebenarnya, tongkat Instisblind itu terbuat dari alumunium — ringan dan kokoh dalam gengggamannya. Tidak lupa handle tongkat dirancang senyaman mungkin. Bagian ujung kaki tongkat yang bergerak kesana-kemari, menyapu jalan begitu awas — terbuat dari karet tebal anti slip berwarna hitam, berfungsi untuk daratan yang dianggap kurang ramah dan mampu membahayakan penggunanya. Lalu seutas tali berwarna hitam nampak menjuntai di bagian atasnya, biasanya tali itu akan terkalung pada pergelangan tangannya — menjaga tongkat agar tetap berada dalam jangkauannya.
Langkahnya pelan menyusuri setiap ruangan dengan tongkatnya yang menjadi pengganti matanya. Bagaikan pemandu dalam perjalanan, tongkat itu selalu menjadi arah bagi Lumi untuk melangkah. Meski matanya gelap dan kosong, berkat tongkat yang dia genggam, seisi ruangan masih bisa dia baca — layaknya navigasi monitor.
"Tuk!"
Bunyi dentuman ringan terdengar, akan kaki tongkat yang menyentuhnya. Langkahnya mulai melambat dan perlahan mendekat. Tubuhnya mulai condong ke depan seolah ingin mendekatkan telinga dan rasa penasaran pada benda yang tertangkap tongkatnya.
Tuk...Tuk...
Lumi kembali mengetuk pelan. Suaranya teredam, namun cukup memberi petunjuk. Ada sesuatu di sana—dan tongkatnya telah memberitahu lebih dulu, sebelum kakinya sempat salah langkah.
"Keras, ada bagian yang datar, bunyinya begitu bulat dan bertenaga," gumam Lumi seraya menerka-nerka benda apa itu. Hingga dia mulai menyadari dan yakin benda apa yang dia tangkap.
"Kursi," ucapnya pelan, tapi tajamnya aura kemarahan begitu besar.
Tangan Lumi terkepal keras. Raut wajah Lumi terlihat beringas. Tanpa rasa kesabaran, tidak perlu banyak pertanyaan — Lumi menendang keras kursi yang menghalangi jalannya. Dimana kursi itu tepat berada di ambang tangga, seakan sengaja untuk membuatnya terjatuh dari atas tangga.
Gebrakan keras dan berdentum menghantam lantai tangga. Bunyinya begitu menggema ke seluruh ruangan — memberikan kejut yang mengkilat bagi mereka yang mendengar. Langkah tak teratur, berlarian menghampiri suara keras tersebut. Semua pelayan berhamburan dengan wajah cemas dan penuh penasaran.
Beragam ekspresi tertuang pada wajah mereka. Tapi yang pasti dan tak terelakkan — keterkejutan merenggut habis hati mereka — nampak jujur tergurat pada wajah para pelayan yang silih berdatangan. Dahi mereka mengkerut penuh tanda tanya dan juga awas diri — kala serpihan kayu dan potongan kasar tak beraturan tergeletak di bawah lantai. Sesuatu merangkak pada hati mereka, membawa ketidak nyamanan yang begitu buruk. Pandangan mereka serempak menelusuri darimana benda itu berasal — serpihan dan potongan tersebut masih menyisakan di setiap anak tangga. Tanpa mereka sadari alur mata yang menyusuri setiap serpihan membawa mereka dalam keterkejutan yang luar biasa.
Setiap sorot mata mereka terbelalak begitu hebat. Gemetar nampak terlihat dari pupil matanya yang mengecil — penuh ketakutan seakan meraih jiwanya. Merinding — mencekam kala atmosfer nampak suram begitu kelam menyelimuti ruangan. Nafas mereka tercekat seketika, kala suara ketukan sepatu terdengar seperti panggilan kematian. Angkuh penuh amarah yang yang tertahan, tatapannya dingin dan tajam menusuk jantung mereka. Kekosongan pada matanya menambah kesan bengis dan tidak simpati.
"Sayang sekali bukan aku yang jatuh," ucap Lumi pelan seakan menaruh pelatuk yang siap menembak.
Seringai terukit begitu getir, di setiap langkah kakinya yang menuruni anak tangga. Gemeretak serpihan kayu yang terinjak, bunyinya mengintimidasi para pelayan.
Meski hatinya bergumul takut, tapi sorot mata mereka tak pernah bisa lepas dari rasa takut yang berjalan menghampiri mereka.
Di pertengahan anak tangga, cukup untuk semua pelayan memandang jelas dirinya. Lumi menghentikan langkahnya. Dia biarkan suasana hening jatuh dengan seruak tegang yang memakan jiwa mereka.
Menatap penuh was-was, bahkan untuk bernafas saja mereka tidak bisa. Menelan salivanya sendiri saja tak mampu.
"Kalian semua berkumpul di atas, saya tunggu," titahnya dengan nada rendah, penuh intruksi yang tidak dapat di tolak.
Penolakan sama dengan mati.
Bagai badai petir yang gemerlap menyambar mereka. Merambat berwarna merah seperti akar namun penuh ledakan kematian. Langit-langit rumah nampak gelap dengan petir yang merambat. Sungguh mimpi buruk bagi para pelayan. Nafas yang tercekat kini benar-benar mencekik mereka dalam ketegangan. Langkahnya lunglai — antara kabur dan pasrah. Setiap anak tangga yang mereka naiki — sudah tidak ada harapan untuk belas kasihan. Wajahnya menekuk, seakan akan di adili dengan kejam.
.
.
.
.
.
Berkumpul secara rapih tanpa perlu intruksi. Berdirinya mereka memendam hati yang meringkuk cemas ketakutan. Semua para pelayan berkumpul tepat di lantai atas dekat tangga kejadian.
Meski dia tidak bisa melihat, tapi sorot matanya seperti stalaktit yang akan menghujami mereka. Wajah cemas, harap ada malaikat penolong, melantun dalam hati mereka.
"Satu pria, siapapun itu ambil kursi kayu yang mana saja, dan cepat bawa kemari!" titahnya, membangunkan jiwa mereka yang dilanda kecemasan.
Dengan cepat salah satu dari mereka berlari mencari kursi, hingga kakinya hampir terpelintir terjatuh saking tergesanya dia berdiri. Mereka yang melihat rekannya hampir terjatuh sejenak was-was — meski diakhir lega tapi tetap saja kekhawatiran masi melanda mereka.
"Lalu ambilkan aku dasi hitam," lanjutnya seraya mengacungkan tongkatnya lurus ke arah depan. Bergerak pelan, memilah target yang tepat.
Melihat tongkat itu masih mengacung melayang dan belum kukuh menunjuk, hati mereka mengkerut cemas, peluh dingin bercucuran.
"Kau yang di dekat balustrade." Tunjuk Lumi pada seorang pelayan wanita yang tersentak. "Ambil, sekarang!" serunya dipatuhi dengan langkah kaki yang terdengar berlari saat itu juga.
"Ini Tuan kursinya." Suara gugup itu terdengar dari samping Lumi. "Simpan di sana." Tunjuk Lumi untuk menyimpannya di ambang tangga.
Tak berselang lama, pelayan wanita yang dia tunjuk berlari datang menghampiri. Deru nafas tak beraturan terdengar begitu lelah. "Ini Tuan dasinya," ucapnya menahan senggalan nafas. Tubuhnya merunduk seraya tangannya menyodorkan dasi hitam yang dia bawa.
"Simpan di atas kursi," perintah Lumi.
"Baik Tuan," patuhnya segera berlari menuju kursi, menaruhnya perlahan di permukaan. Lalu kembali pada barisan.
"Mulai dari kanan," tongkat itu kembali teracung fi udara, "dan berlanjut secara horizontal," tongkat itu bergerak dari kanan ke kiri. "Kalian ambil dasi itu, lalu bawa kembali ke tempat kalian berdiri. Setelah itu tutup mata kalian dengan dasi itu dan berjalanlah ke arah kursi itu." Tunjuk Lumi oleh tongkatnya, tepat pada kursi yang bertengger di ambang pintu. Persis sama dengan beberapa waktu lalu, kursi yang hampir membunuhnya.
Ketegangan yang menegangkan tubuh mereka, serentak lemas kehilangan tenaga. Mereka merasa hancur dan putus asa. Para pelayan kembali terbelalak, mereka tidak percaya akan mendapatkan hukuman seperti itu. Kesalahan yang bukan mereka perbuat, tapi mereka tanggung secara paksa. Begitu buntu tak ada jalan keluar. Suara mereka tertahan karena rasa takut, tak mampu untuk membela.
Hening sejenak dengan pikiran yang kacau. Terlihat jelas wajah pelayan pertama yang akan melakukannya begitu pucat.
"Ayo maju!" teriak Lumi.
Titahnya menggelegar menghentikan jantung mereka sejenak. Terutama bagi orang yang pertama akan melakukannya.
Para pelayan mulai melirik si pelayan wanita pertama, menyudutkannya karena tak kunjung bergerak. Seperti robot yang rusak, langkahnya kecil dan gerakannya kaku seperti di seret.
"Ayo maju!" teriak Lumi kembali, membuat jantungnya kembali tersentak kemudian berdetak cepat.
Langkahnya sedikit melebar meski gerakannya berjalan begitu terhuyung-huyung. Meragu — pasti. Berat hati — sudah tak dipungkiri. Hatinya berteriak menangis untuk berlari, tapi tubuhnya berkata lain — tetap bergerak mengikuti intruksi tuannya yang kejam.
Peluh dingin ketakutan menghiasi pelipisnya. Begitu berat hatinya mengambil dasi itu.
"Kenapa kau membuang waktu!" teriaknya sekali lagi menggelegar.
Membuat berat hatinya yang ragu segera mengambil dasi tersebut. Berlari kembali pada barisan seraya membawa peruntungan kematian dalam genggamannya. Tangannya yang gemetar mulai merentangkan dasi hitam tersebut. Nampak bentangan hitam yang siap menutupi penglihatannya. Bibirnya mulai gemetar, matanya berkaca-kaca dan hatinya tak kuasa untuk melakukannya — setiap jarak antara matanya dan dasi hitam tersebut kian menipis oleh kedua tangannya sendiri.
Gelap sudah menutupi kedua matanya. Terikat kuat mengelilingi kepalanya. Menghela nafas pelan, meski sulit. Tangannya langsung merentang dan meraba-raba udara di sekitarnya. Langkahnya bergerak seperti menghitung. Terseret paksaan. Hatinya berharap ada keajaiban. Di balik matanya yang tertutup, tangisan sudah pecah membasahi kain hitam tersebut.
Baru setengah langkah wanita itu berjalan, dari arah tangga terdengar suara teriakan menyela. Wanita itu berhenti bergerak. Rasa lega dalam ketegangan menetralisir sejenak ketakutannya.
"Ada apa ini?" tanya Bu Sri yang menghampiri Lumi cepat bersama Pak Diar.
"Tidak ada.... hanya memberi hukuman," ucap Lumi dengan posisi yang tidak bergeming menghadap para pelayannya.
"Hentikan ini," titah Pak Diar lembut, namun tegas.
"Tidak!" tolak Lumi.
Brugh!
Seseorang terjatuh bersimpuh.
Suara itu terdengar dari depan Lumi. Barisan kedua paling tengah. Nampak seorang pelayan wanita yang sudah terpuruk bergetar — terduduk memohon kepada Lumi. "Tolong ampuni saya Tuan, saya minta maaf, saya yang ceroboh menyimpan kursi itu di sana," mengakuinya yang menunduk malu dihiasi air matanya yang berlinang berjatuhan menghujani lantai. Dia menangis seraya menggosokkan kedua tangannya dengan tubuh yang begitu gemetar, namun wajahnya masih kukuh merunduk.
Tidak cukup di situ saja, wanita itu langsung menghampiri Lumi — merangkak rendah kemudian bersujud di atas kaki Lumi. "Tolong Tuan maafkan saya. Saya akan memperbaikinya kembali, saya mengaku salah.... ampuni saya Tuan," mohonnya putus asa, suaranya begitu parau di selingkuh ia akan tangis penyesalan. Disetiap kata yang keluar suaranya sedikit menghilang akan tenggorokan yang begitu tercekat.
"Jika kumati apa kau bisa memperbaiki itu."
Pelayan itu tersentak air mata berderai lebih deras akan penuturan tuannya yang membuat dirinya semakin bersalah.
Tubuhnya mulai turun perlahan, kepalanya merunduk mensejajarkan wajahnya dengan si pelayan. Lumi mendekat pada pundak pelayan wanita. Satu hirupan membuat samar tercium harum yang dia kenal. "Ini memang kau, wangi yang murahan yang menyebar samar di udara waktu sebelumnya ini memang dirimu," tangkap Lumi yang sudah tahu sedari awal. Lumi bisa tahu hanya dari penciumannya yang dia asah. Meski samar dan terkontaminasi dengan udara, Lumi masih bisa mengetahui jelas aroma yang tertinggal.
Dalam isakan tangis, matanya yang satu memerah berderai air mata — mata itu masih bisa melebar tersentak. Hatinya melemah penuh rasa malu, akan dirinya yang seharusnya mengaku sejak awal. Nafas yang tersenggal-senggal akibat isakan tangis, kini sepenuhnya tertutup — nafasnya mulai berat seraya menangis pilu lebih deras.
Lumi kembali bangkit, tangisan pelayan wanita yang bersimpuh di hadapannya, tidak membuat hatinya melunak. "Pecat dia," perintah Lumi pada Bu Sri.
Wajahnya menegang sejenak dengan mulutnya yang terperangah. Pelayan wanita itu kini terkulai tak berdaya, pipinya masih dibanjiri dengan air mata. Wajah merunduk meratapi lantai —— yang sebenarnya dia meratapi kehidupannya. Kata maaf terus terucap lemah dari mulutnya — menghiasi tangisannya dalam simpuhannya.
Lumi tak peduli, dia lebih memilih untuk menutup telinga dan juga hatinya. Kakinya menyatakan penolakan dengan dirinya yang mulai melangkah meninggalkan pelayan malang tersebut.
"Tolong beri dia kesempatan," mohon Bu Sri pada Lumi yang hendak meninggalkan mereka.
Langkah Lumi terhenti. "Jika aku terjatuh dari tangga, tetap saja mereka tidak akan mendapat uang dariku." tuturnya begitu dingin dan mampu memberikan kejutan pada mata mereka sekaligus sedih akan kenyataan. Tidak ada yang bisa menyangkal itu, mereka semua tidak berkutik dibuat Lumi.
Lumi meninggalkan mereka dalam suasana yang tidak menyenangkan.