[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22. Cuman Mimpi
"Kok aku?"
"Yang nyuruh lo tidur siapa?"
"Nggak ada."
"Gue nggak nyuruh Lo tidurkan! Trus ngapain lo tidur?"
"Ngantuk," jawab Zahra cepat.
Verrel mendengus kasar, mendengar Zahra tetap saja menyahut ucapannya, apa perlu ia ingatkan Zahra sekali lagi, bahwa ia tuan di sini!
Hening sesaat!
Verrel menyimpan buku itu kembali ke tempatnya, dan saat ia menoleh ia malah mendapati Zahra yang melamun entah apa yang tengah di fikirkan oleh gadis itu.
"Woyy Pen!" seru Verrel dengan nada normal, melihat Zahra masih saja tak bergeming membuat Verrel harus sabar memanggil Zahra berulang kali.
Verrel sudah berdiri di ambang pintu sedangkan Zahra masih di tempat yang sama.
"PEN! SADAR NGGAK LO!" teriak Verrel sekali lagi.
Zahra terpelonjak kaget mendengar teriakan Verrel, hampir saja ia terpingkal dari duduknya, untung gadis itu dengan sigap memegang ujung meja untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Zahra menoleh ke arah Verrel, pemuda itu tengah berdiri sambil bersedekap dada di ambang pintu menatap Zahra dengan tatapan kesalnya.
"Lo ngapain masih di situ? Mau nginep? Nggak punya rumah?" sinis Verrel.
"E--nggk," jawab Zahra kikuk. Zahra menggeleng kan kepalanya berusaha menghilangkan jejak mimpi itu, Iya! Barusan Zahra melamun mimpi itu kembali, mimpi itu sangat nyata olehnya, tapi tidak lagi. Zahra yakin itu cuman mimpi Verrel tidak mungkin bersikap manis atau mengajaknya ke tempat itu. Verrel yang asli sangat menyebalkan dan harus ekstra sabar menghadapinya.
Verrel memutar bola matanya malas akan tingkah aneh gadis itu, ia menyuruh Zahra untuk menjaganya, ia tidak ingin ada siswi-siswi yang menemukannya dan melakukan hal macam-macam padanya dalam keadaan tertidur, kan nggk lucu! Tapi gadis itu malah tidur lebih nyenyak darinya bahkan sempat-sempatnya memasuki dunia mimpi.
Verrel melangkah lebih dulu keluar area perpustakaan berjalan dengan santainya, karena sekolah ini memang sudah sepi sedari tadi. Bel pulang sudah berbunyi 20 menit yang lalu, Verrel bangun saat mendengar bel pulang berbunyi. Dan waktu 20 menit itu ia gunakan untuk menunggu Zahra terbangun, tak kunjung bangun Verrel pun melempar buku di tangannya dan tepat sasaran mengenai kepala Zahra hingga gadis itu meringis.
"Pen! Ambilin tas gue," titah Verrel yang berdiri di ambang pintu kelasnya yang kosong.
Tak mendengar sahutan dari Zahra, Verrel memutar tubuhnya 180° dan mendapati gadis itu lagi-lagi tengah melamun.
Verrel memutar bola matanya malas dan memilih mengambil tasnya sendiri daripada menunggu Zahra yang tak sadar-sadar. Dengan cepat dia menyambar tasnya dan melewati Zahra yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kamu mau kemana?" bingung Zahra setelah tersadar dari lamunannya, kini gadis itu benar-benar yakin itu hanyalah mimpi. Tidak mungkin cowok muka datar yang berdiri di depannya ini bersikap manis seperti itu.
"Mau pulanglah," sahut Verrel yang melenggang pergi menyusuri koridor yang sepi.
Zahra dengan cepat mengambil tasnya dan berlari mengikuti Verrel yang mulai menjauh. Zahra berlari tanpa alas kaki, dan saat kakinya tidak sengaja menginjak batu kerikil membuat gadis itu meringis.
"Verrel tungguin aku ..."
Verrel mengabaikan panggilan Zahra. Zahra berusaha berlari agar langkah pemuda itu dapat ia susul. Bukan tanpa alasan Zahra mau bersikap seperti ini, melainkan ia akan menagih janji pemuda itu.
"VERREL!" panggil Zahra lagi dengan suara yang lumayan keras di sekolah yang sudah sepi ini.
Verrel tetap mengabaikan.
"Ver ... issh" ringis Zahra. Saat menginjak batu kerikil yang membuat kakinya sedikit berdarah.
Verrel yang tak mendengar teriakan Zahra pun menoleh ke belakang, dan berlari menghampiri Zahra yang sedang memegangngi kakinya. Verrel sempat bingung apa yang di lakukan Zahra tapi ia yakin ada apa-apa sehingga gadis itu berhenti mengejarnya.
Setelah sampai, Verrel berjongkok di samping Zahra dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. "Lo gapapa? Lo kok bisa nginjak kerikil? Nggak sekalian paku aja," ujar Verrel dengan santainya, tak terlihat raut bersalah sedikit pun di wajahnya. Zahra sampai gondok di buatnya bagaimana ia bisa seceroboh waktu itu, seandainya saja seandainya saja, itulah dua kata yang selalu Zahra ulang-ulang saat kekesalannya meningkat ke stadium akhir.
"Ini semua itu gara-gara kamu, pertama di hukum, kedua sepatu aku kamu lempar, ketiga kamu mukul aku pakai buku, ke empat kaki aku sakit gara-gara kamu, apalagi sih Verrel apa masih ada kelima, keenam, ketujuh hah?" tutur Zahra dengan kesal, ia benar-benar mengeluarkan semua unek-uneknya kali ini. "Dan satu lagi cuman dua bulan kan? Ok! aku akan terus bersabar ngadepin sikap kamu yang semena-mena dengan aku hingga kesabaran itu pun mulai lelah dengan kesabaranku. Dan setelah dua bulan itu berakhir jangan harap aku bakal nurutin apa mau kamu lagi!" kesal Zahra terdengar tajam untuk Verrel, Verrel menatap Zahra dengan tatapan yang tak dapat di artikannya.
Verrel tidak menyangka jika sikapnya selama ini di anggap serius oleh Zahra, sedangkan Verrel? Ia hanya menganggapnya sebuah permainan.
Deg!
Verrel dengan cepat mengalihkan pandangannya, perasaan aneh yang mulai muncul pada dirinya segera ia tepis jauh-jauh. Verrel bangkit dan langsung berlari keluar koridor sekolah, menuju parkiran dan meninggalkan Zahra sendiri di sekolah yang sudah sepi ini.
"KAMU MAU KEMANA?" teriak Zahra saat pemuda itu berlari meninggalkannya sendiri.
"VERREL KAMU UDAH JANJI MAU GANTI SEPATU AKUUU!!!" teriak Zahra lagi lebih keras. Tiba-tiba saja ia teringat dengan sepatunya yang terlempar, jika Verrel melupakan janjinya bagaimana nasib Zahra?
Zahra terduduk lemas dengan air mata yang mengalir begitu saja membasahi pipinya. "Aku ... takut ... hiks ..." lirih Zahra. Ia benar-benar takut sekarang ini, kepada siapa lagi ia harus meminta tolong dengan keadaan sekolah yang sudah kosong?
Zahra menyeka air matanya, dan mulai merogoh tasnya mencari benda untuk menghubungi sang kakak agar dapat menjemputnya. Tapi lagi-lagi hal yang tidak diinginkannya menimpa dirinya, ponselnya mati! benda tak bernyawa itupun tak dapat membatu dirinya.
"Bismillah ..." Zahra berusaha bangkit, ia harus segera keluar dari sekolah ini, ia takut jika pak Bono telah mengunci gerbang utama. Zahra tidak tahu apa yang harus di lakukannya jika itu benar-benar terjadi.
Zahra berjalan dengan letih melewati koridor, ia melirik jam yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul 2.45 pm.
"Aww ... ish yang naroh kerikil di sini siapa sih?" pekik Zahra karena menginjak batu kerikil untuk kedua kalinya. Zahra menggerutu sendiri akibat jalan yang di tapakinya ini masih panas, sinar matahari masih terlihat walau tak sepanas di siang bolong.
"Kak Rai ..." lirih Zahra, menyeka air matanya yang tiba-tiba meluncur bebas di pipinya.
"Nih." Tiba-tiba saja seorang pemuda dengan nafas yang memburu, menyodorkan sepasang sandal yang baru di belinya.
Zahra mendongakkan kepalanya, menyeka air matanya dan diam-diam mengucap syukur karena pemuda itu kembali. "Kamu dari mana?" tanya Zahra saat menerima sepasang sandal itu dan segera memakainya.
"Gue kedepan beli sandal ini buat lo, dan Gue udah janji mau beli sepatu buat lo kan? Walau gue nggak mau gue tetep bakalan nepatin janji gue. Gue bukan cowok pengecut!" tukas Verrel, kepalanya menunduk menatap gadis di depannya yang masih mencerna ucapannya, diakibatkan ia mengucapkan itu dengan nafas yang masih memburu.
Tiba-tiba Zahra terkekeh pelan mendengar penuturan Verrel. "Tumben kamu ngomong panjang gitu," kekeh Zahra dengan senyum mengejeknya.
Verrel memalingkan wajahnya, menarik nafas gusar dan mulai berjalan menuju gerbang utama. "Kita naik taxi aja yah, gue nggak tahan naik angkot soalnya," ujar Verrel tanpa menoleh ke arah Zahra.
Lagi-lagi Zahra terkekeh mendengar penuturan Verrel, rasa kesal dan marahnya terhadap Verrel hilang begitu saja. "Iya iya." Zahra menatap geli pemuda di sampingnya.
Verrel melirik Zahra dengan ekor matanya, wajah pemuda itu memerah entah karena apa. Bahkan Verrel pun bingung, apa karena cuaca yang sedang panas?
"Gue kenapa sih, jadi salting gini," batinnya.
"Taxi ..." panggil Verrel.
Dan segera berjalan menghampiri taxi yang berhenti di seberang jalan, tentu dengan Zahra yang mengekorinya dari belakang.