Sinopsis:
Menceritakan saudara kembar yang saling bermusuhan dan membenci. Sang kakak bernama Aksa, sedangkan adiknya bernama Arion. Meski kembar mereka memiliki kemampuan yang berbeda. Arion memiliki IQ tinggi. sedangkan Ares bisa di bilang kurang cerdas daripada Arion sehingga Ayah mereka sering membandingkan mereka berdua.
Sampai suatu masa, sahabat masa kecil mereka datang kembali. Naya, gadis yang lincah dan cantik ini menarik perhatian mereka berdua. Sehingga mereka bersaing merebut hari Naya.
Siapakah pemenang hati Naya?!🤔🤔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
...❀•°•═════ஓ๑♡๑ஓ═════•°•❀...
Aksa masih tidak bisa berhenti tersenyum mengingat kejadian tadi siang bersama Naya. Aksa akan menyimpan sebagai memori indahnya.
Tadi siang, Aksa merasakan bagaimana serunya menaiki roller coaster. Juga bagaimana asyiknya bermain arung jeram. Dan merasakan ketinggian dari bianglala. Aksa sempat merasa dirinya terlalu konyol untuk merasa kelewat senang telah bermain di Dufan, tapi Aksa tak peduli.
Bahkan, Aksa sudah berjanji di dalam hati akan mengajak Ayah dan Ibu ke sana suatu saat. Aksa benar-benar tidak bisa tidur, bahkan setelah coba memejamkan matanya selama beberapa menit.
Aksa melonjak kaget ketika terdengar suara pintu kamar terbuka. Arion muncul dari kamarnya, lalu menatap Aksa datar. Ia menghampiri Aksa.
"Lo belom tidur kan? Geseran," Arion duduk di kaki Ares yg masih terjulur.
Aksa membenarkan posisi duduknya, lalu memandang Arion heran. "Kenapa lo?" tanya Aksa akhirnya.
"Nggak bisa tidur," jawab Arion singkat.
"Oh," gumam Aksa sambil menonton TV yang sudah dinyalakan Arion. Aksa bisa maklum. Besok final, dan Arion pasti terlalu tegang sampai tidak bisa tidur.
Selama beberapa menit, tidak ada yang berbicara. Arion menyibukkan diri mencari-cari channel yang sesuai dan sepertinya tidak bisa ditemukannya. Aksa menggaruk-garuk kepalanya, dan tanpa sengaja Arion melihat cap di tangan Aksa.
"Lo abis ke Dufan?" tanya Arion, membuat Aksa sempat kaget. Dia melihat tanda di tangan kanannya sendiri.
"Iya," jawab Aksa pendek, merasa terlalu konyol untuk membicarakannya dengan Arion.
"Oh," kata Arion terdengar maklum, membuat Aksa berang.
"Kenapa emang? Kalo mau ketawa, ketawa aja," kata Aksa panas.
"Nggak ada yg lucu," jawab Arion tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.
Aksa menatap Arion sebentar, lalu kembali menekuni layar TV. Di sana tampak para pemain bola dari Intermilan dan AC Milan sedang berlarian mengejar bola. Untuk beberapa saat, keduanya memerhatikan pertandingan itu.
"IP gue," kata Arion tiba-tiba, membuat Aksa terkejut, tidak menyangka Arion yang sedang berbicara.
"Kemaren nggak begitu bagus. Gue bohong sama Ayah."
Aksa tahu dia mengangakan mulutnya sedikit, tidak percaya atas pernyataan Arion. Kenyataan bahwa Arion membicarakan sesuatu yg tidak masuk akal kepadanya pun membuatnya bingung.
"Apa pentingnya lo kasih tau gue?" tanya Aksa setelah bisa menguasai diri.
Orion mengedikkan bahu. "Mungkin, cuma pengen nunjukin kegagalan gue. Apa membantu?" tanyanya sambil menoleh kepada Aksa yg salah tingkah.
"Hah? Eh, yah, mungkin," kata Aksa tak jelas.
Aksa tak habis pikir mengapa Arion mengatakan sesuatu yg menurutnya mungkin akan membantunya. Aksa benar-benar tak tahu mengapa Arion melakukannya.
Walaupun demikian, Aksa tidak senang. Mungkin sangat berguna kalau Arion mengatakannya dulu, di saat Aksa sedang terpuruk, tapi sekarang Aksa tidak senang mendengarnya. Aksa sudah benar-benar bahagia, sampai-sampai pengakuan kegagalan Arion tidak bisa membuat Aksa lebih bahagia lagi.
"Yah, semua orang pernah gagal," kata Aksa kemudian.
"Tapi peduli amat sih. Lo kan pasti bisa bangkit lagi."
Arion menoleh untuk melihat wajah kakaknya yg salah tingkah, lalu mengalihkan pandangannya ke TV. Sudut kanan bibir Arion mengangkat sedikit. Aksa benar-benar tidak berbakat memberi nasihat.
Akhir-akhir ini, semua berjalan mulus bagi Aksa. Sangat mulus sampai terasa nyaris tidak wajar. Aksa amat berharap keadaan ini bisa berlangsung selamanya.
...❀•°•═════ஓ๑♡๑ஓ═════•°•❀...
Arion merasa sekujur tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin. Dia pun sangat tegang sehingga tak bisa merasakan kedua kakinya. Arion melirik cemas ke arah penonton yang semakin memadati halaman kampus untuk menonton final.
"Tenang, woy," Odi tertawa geli melihat tampang Arion.
"Santai aja."
Arion meringis tak jelas pada Odi, lalu tanpa sengaja matanya tertumbuk pada Raul yang sedang berbicara dengan seseorang di tribun atas. Pasti ayahnya, kalau dilihat dari sikap hormat Raul yang hampir berlebihan.
Arion juga dapat melihat beberapa utusan dari tim-tim besar IBL berdatangan dan duduk di tenda VIP. Arion sekarang serasa menelan sebongkah batu besar.
"Eh, ngomong-ngomong, si Lala sama Naya jadi akrab ya?" kata Odi lagi, membuat Arion menoleh untuk melihat Naya dan Lala.
Mereka sedang duduk bersama di tribun, tepat di seberang Arion berada, dan mereka tampak akur. Kedua gadis itu tertawa-tawa sambil memegang bendera kampus, lalu mengibar-ngibarkannya sambil bernyanyi entah apa. Arion hanya nyengir melihatnya. Arion benar-benar tidak mengerti kaum hawa.
Naya dan Lala menangkap tatapan Arion, lalu melambai ke arahnya. Arion balas melambai, lalu mendadak tersadar. Aksa tidak datang. Arion merasa setengah tenaganya lenyap tertiup angin.
Entah mengapa, Arion benar-benar mengharapkan kedatangannya di pertandingan penting ini, melebihi siapa pun. Arion ingin melihat Aksa sesekali bangga padanya.
Raul melintas di depannya sambil menatap tajam. Arion balas menatapnya. Tanpa dia duga, Raul malah mendatanginya.
"Gue sebenernya nggak mau ngelakuin ini," Raul menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi lo udah maksa gue."
"Apa sih maksud lo?" tanya Arion bingung.
"Setelah pertandingan ini, lo bakal tau," kata Raul geram.
"Jadi, kalo sampe terjadi, jangan salahin gue."
"Anceman kosong," Arion meludah.
"Lo nggak jantan. Lo kalah, makanya lo bakal balas dendam. Gue nggak takut."
"Oke, kalo gitu," kata Raul enteng.
"Kita liat aja nanti."
Raul berbalik lalu bergabung dengan tim. Arion menghela napas, lalu bergerak mengikutinya untuk bergabung dengan tim. Arion memang merasa ada sesuatu yg salah, tapi dia tidak bisa mundur lagi. Dia harus melakukannya seperti laki-laki, dan Aksa pasti bangga karnanya.
"Oke," kata Reno dengan suara khawatir yg dikuat-kuatkan.
"Kita punya tim yg bagus. Kita punya strategi bagus. Kita datang ke sini untuk menang, kan?"
Suara Reno tenggelam oleh riuh rendah para penonton yg sudah memenuhi lapangan.
"Selamat datang di UII Cup, Turnamen Bola Basket antarkampus 2005, antara Universitas Kencana dan tuan rumah, Universitas Internasional Indonesia!" suara announcer membahana, membuat suasana semakin bising.
"POSISI STARTER KAYAK KEMAREN!" sahut Reno mengatasi suara announcer dan penonton yg menggila.
"Aryo, Odi, Heru, Faisal, Arion!"
Anak-anak mengangguk mengerti, sementara Reno menjelaskan strategi. Arion malah hampir tak mendengar suara Reno. Dia hanya memikirkan akan bermain sebaik mungkin sehingga membuat semua orang bangga.
"Dari Universitas Kencana, dengan nomor punggung 5, Mario! 17, Hernan! 11, Arman! 22, Rio! 10, Simon!"Suara riuh rendah mengiringi saat para pemain basket dari Universitas Kencana memasuki lapangan.
"Dan dari Universitas Internasional Indonesia, yg pastinya sudah ditunggu-tunggu, dengan nomor punggung 13, Aryo! 9, Odi! 17, Heru! 5, Faisal! Dan, pada nomor punggung 21, sang kapten, Arion!"
Arion merasakan telinganya mulai pekak karna kebisingan yg luar biasa saat suaranya disebutkan. Dia menarik napas mantap, lalu mulai berlari-lari kecil memasuki lapangan.
Sebelumnya dia sempat melirik Raul yang menatapnya benci. Arion melemaskan semua ototnya sebelum bersalaman dengan anak-anak dari UK. Arion mengenali
salah satu dari mereka. Simon, si playmaker dari UK adalah teman SMA-nya dulu, dan juga satu tim basket. Arion melemparkan cengiran kepadanya yg segera dibalas.
Wasit sudah memasuki lapangan. Arion segera mengambil tempat. Tangannya sudah basah karna keringat, tapi Arion harus tetap fokus.
"Mulai!"
Arion dengan gesit menyambar bola hasil lemparan sang wasit dan bola itu ditangkap oleh Odi. Arion segera berlari, melepaskan diri dari kawalan Hernan, lalu Odi dengan tanggap menerima sinyal Arion. Odi mengoper bola itu kepada Arion, yg segera dilesakkan ke ring.
"Fast break yg manis dari Arion, 2-0 untuk tim UII!"
Arion kembali sigap mengawal Hernan. Dan harus tetap fokus...
"Assist pada Simon... Tembakan tiga angka yg bagus!"
Terdengar seruan-seruan marah dari penonton. Simon nyengir kepada Arion yang dibalas gugup. Arion tidak tahu Simon sudah berkembang sepesat ini. Bola tadi masuk tanpa menyentuh ring sedikit pun.
"Sekarang bola ada pada Heru... dioper ke Odi... Arion sudah ada di depan, assist, jump shot! AH! Arion gagal... di-rebound oleh Hernan..."
Sial. Arion merasa konsentrasinya pecah karna memikirkan Simon. Dia kembali fokus dan berhasil merebut bola dari tangan Hernan.
"Steal yg bagus! Arion tidak terjaga... Three points! 5-3 untuk tim UII!"
Penonton bersorak heboh. Lala bahkan menumpahkan minumannya. Pertandingan berjalan alot selama lima belas menit kuarter pertama. Hasil sekarang sudah 20-19. Arion terduduk saat time out.
"Arion, lo udah bagus. Pertahanin permainan lo. Jaga kondisi lo," kata Reno, tampak senewen.
Arion tak menjawab. Dia hanya menatap Reno sebal. Hanya dirinya pemain yg bermain penuh selama kuarter pertama tadi, dan kontribusinya sangat besar. Dari dua puluh poin milik timnya, 15 diantaranya dicetak Arion.
"Di, lo jaga Simon yg bener. Dia berbahaya," Reno memberikan arahan kepada Odi yg hanya menggumam tak jelas sambil meneguk minumannya.
Kemudian, kuarter kedua dimulai. Lagi-lagi, Arion sempat menangkap raut wajah kesal Raul. Tapi Arion tak punya waktu untuk memedulikannya.
"Bola di Mario, dioper di Arman... Steal dari Aryo, assist ke Arion... masuk! 22-19 untuk tim UII!"
Lima belas menit berikutnya terasa sangat berat bagi Arion. Reno belum juga menggantinya. Timnya memang masih unggul 40-37. Tapi dengan keadaannya sekarang, Arion yakin timnya akan tersusul apabila dia tidak diganti.
"Bola ada pada Simon, dia lepas dari kawalan Odi, three points! Sekarang kedudukan 40 sama!"
Arion mengumpat kesal. Dia butuh istirahat. Dia merasa sebentar lagi paru-parunya akan pecah.
"Bola ada pada Heru, assist pada Odi, Arion, mencoba three points... gagal! Rebound oleh
Hernan... Ini bola keempat kalinya yg miss dari Arion... tampaknya dia mulai kelelahan... sebagai catatan, hanya Arion yg belum diganti oleh pelatih Reno... Sepanjang pertandingan dia sudah mencetak 35 poin!"
"Dengar itu, sialan!" umpat Arion kesal sambil melirik Reno yg tampak tak acuh dan malah meneriaki Odi yg sedang mengawal Simon.
Kuarter kedua selesai. Tim UII sekarang tertinggal 42-50. Reno mengamuk tak karuan.
"Pengawalan lo Di, ancur! Lo liat kan beberapa kali Simon bisa nyetak three points gara2 lo ketinggalan! Terus lo Ri! Ngapain aja lo sepuluh menit terakhir? Lo cuma bisa nyetak dua angka!" sahut Reno kalap.
"Lo nggak kasih gue istirahat! Gue capek!" Arion balas menyahut.
"Oh, jadi lo capek? Lo mau diganti? Boleh, tapi jangan harap lo main lagi!" seru Reno membuat semua orang bengong.
Arion hanya mengumpat pelan sambil menendang botol minumannya. Beberapa menit kemudian kuarter tiga dimulai. Arion menarik napas dalam-dalam.
"Oh, ternyata playmaker dari tim UII kembali masuk! Entah apa strategi coach Reno, tapi sepertinya hanya Arion yg diandalkan... padahal mereka memiliki three points shooter, Raul!"
Arion sekali lagi melirik Raul, yg meremas botol minumannya sampai gepeng. Sebenarnya Arion merasa bersalah karna Raul sama sekali tidak dimainkan oleh Reno. Tapi semua ini diluar kuasanya.
Entah kenapa, Reno malah memainkan Arion secara penuh, tapi tidak memberikan kesempatan bagi Raul. Padahal, saat ini Arion akan dengan senang hati diganti untuk beristirahat sebentar.
"Bola ada di Arion, dia mencoba mengulur waktu... Tampaknya pemain ini sudah lelah... Dioper ke Faisal, ke Damar... Damar adalah pemain pengganti Aryo... Assist dari Odi ke Arion, Odi sudah melakukan rebound sebanyak 5 kali sepanjang pertandingan... Three points Arion, gagal! Rebound oleh Hernan! Simon... three points! Tim UII semakin jauh tertinggal... 42-53!"
Arion mengumpat lagi. Dia harus melakukan sesuatu. Harus. Tak peduli kalau paru-parunya sampai pecah dan urat-urat kakinya putus.
"Bola ada pada Odi... dioper ke Arion... dia melesat lepas dari kawalan Hernan, three points! Tampaknya tim UII mulai bangkit! 45-53!"
Arion bisa mendengar kembali teriakan² heboh dari pinggir lapangan yg rasanya tadi mulai menghilang. Arion merasakan semangatnya kembali berkobar.
"Bola pada Mario... Steal! Arion tidak dikawal... Three points! Ini adalah three points ketujuh kali yang dibuat Arion sepanjang pertandingan! 48-53 untuk tim UII! Sekarang bola ada pada Arman... mencoba mengulur waktu... STEAL LAGI! Three points ke delapan oleh Arion! Benar-benar luar biasa permainan Arion hari ini..."
Arion nyengir saat Odi menepuk kepalanya. Arion menikmati saat-saat ini, saat semua orang memanggil namanya keras-keras.
Kuarter keempat berakhir dengan poin 59-60 untuk tim UK. Arion sendiri sudah mencetak empat puluh tujuh poin. Sekarang dia terduduk kelelahan di pinggir lapangan.
"Begitu dong Ri kalo maen! Yg semangat!" sahut Reno senang.
"Kita sekarang cuma ketinggalan satu angka! Kita bisa menang!"
"Yeah, dan playmaker kita bisa mati," gumam Odi disambut ringisan oleh Arion.
Arion menghela napas, lalu melirik le arah penonton. Arion masih belum melihat Aksa.
Aksa mengawasi Arion dari atas gedung. Si pelatih bodoh itu sepertinya sudah gila karna tidak mengganti Arion. Arion sekarang tampak terkapar tak berdaya.
Bukannya Aksa tak senang, dia justru senang Arion bermain sangat bagus dan sebagainya. Tapi dia juga tak ingin melihat Arion mati konyol karna kelelahan bermain basket.
Aksa sudah melihat perjuangan Arion. Aksa hampir saja merasa bangga karnanya. Mungkin memang bangga, tapi sedikit rasa gengsi menyergapnya. Aksa tak pernah merasa apa yang dilakukan Arion membanggakan.
Aksa dulu merasa basket adalah hal konyol yg dilakukan Arion untuk memikat gadis-gadis. Tapi melihat Arion berjuang keras seperti ini membuatnya sadar, kalau setiap orang memiliki cita-cita yang berbeda-beda.
Basket adalah hal yang ingin dilakukan Arion,sebagaimana Aksa menginginkan menjadi pilot. Arion mencintai basket. Aksa tahu sekarang. Setiap orang bersinar dengan caranya sendiri-sendiri.
...❀•°•═════ஓ๑♡๑ஓ═════•°•❀...
alur? bukan urusanku, w gak ahli romance🗿