Spin off If You Met Me First ...
Karina Ramadhan adalah petasan injak. Susah diatur, suka dugem, meskipun kuliah beres tapi tetap saja membuat Stefan dan Irina kesal karena putrinya sulit diatur. Teguran dari semua keluarga, diacuhkan oleh Karina. Hingga puncaknya, Karina hendak kawin lari dengan seorang DJ tapi ketahuan oleh Stefan. Demi membuat Karina anteng, Stefan dan Irina menjodohkan putrinya ke rekan kerja Irina yang bertugas sebagai atase kedutaan besar Inggris di Stockholm bernama Ravi Khan. Bagaimana kehidupan pernikahan perjodohan antara Karina yang meledak-ledak dengan Ravi yang dingin dan kaku ?
Generasi Ketujuh Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Dibatalkan
"Apakah aku harus tidur di kamar kamu ?" tanya Karina sambil makan Meatballs buatan Ravi.
"Senyamannya kamu, Karina. Kalau lebih nyaman di kamar kamu, ya aku tidur di kamar kamu." Ravi menatap wajah cantik Karina.
"Bagaimana kalau... Bosan di kamar kamu, terus di kamar aku?"
"Up to you ( terserah kamu ). Kan aku sudah bilang, senyamannya kamu," senyum Ravi.
Karina mengangguk.
***
Karina mencuci semua peralatan makan dan masak sementara Ravi membuka laptopnya untuk bekerja. Pria itu tadi memang minta ijin pada Irina tidak masuk kerja dengan alasan sedang bersama Karina. Irina tidak bertanya lebih lanjut namun hanya berpesan.
"Jaga pernikahan kalian," ucap ibu mertuanya membuat Ravi merasa hangat karena Irina sangat memahami mereka berdua.
Sekarang, Ravi membuka memo pekerjaan dari rekan kerjanya. Pria itu mulai sibuk bekerja sementara Karina membuatkan kopi buat suaminya.
"Kamu besok masuk ?" Ravi menoleh saat Karina memberikan mug berisikan kopi. "Terima kasih, sayang."
"Masuk lah, Vi. Aku sudah membolos sehari," jawab Karina. "Mobilku !"
"Sayang, mobil kamu sudah aku ambil saat kamu tidur tadi," senyum Ravi.
Karina mencium pipi Ravi. "Terima kasih suamiku..."
Wajah Ravi sedikit tersipu saat mendengar ucapan mesra Karina.
"Karina, soal kontrak ... Besok aku akan bilang ke ibumu untuk dibatalkan," ucap Ravi. "Kita tidak akan berpisah bukan?"
Karina menggelengkan kepalanya. "Nope."
Ravi mengangguk. "Terima kasih sudah mau bersamaku..."
"Ravi, selama tiga bulan menjadi istrimu, aku merasakan seperti seorang Dewi. Kamu selalu membuat aku nyaman, bisa menerima judesnya aku, bahkan mana ada suami mau memasak kalau bukan kamu ..."
Ravi mengelus pipi Karina. "Kamu adalah wanita yang aku inginkan menjadi istriku... Aku sudah tertarik padamu saat di klub hampir lima bulan lalu dan saat ibumu meminta aku menikah denganmu, aku seperti bermimpi..."
Karina menatap kesungguhan di wajah Ravi.
"Aku tahu sebenarnya kamu adalah princess yang manja meskipun kamu bukan wanita yang tidak bisa apa-apa... Aku tahu kamu sangat pembersih orangnya dan suka memasak... Itu ibumu yang cerita. Aku memberikan kebebasan padamu, mau menjalankan pekerjaan rumah atau tidak... Tanpa dipaksa, kamu mulai nyaman bukan?" senyum Ravi.
"Apakah kamu mencintaiku sedemikian besarnya?"
"Kamu yang ingin aku jadikan pasanganku saat pertama kali melihatmu. Hanya saja, gaya hidup kamu dan status kamu saat itu, aku hanya bisa berharap saja. Mana aku tahu kalau kamu putri Bossku?" jawab Ravi. "Dan saat aku diminta menjadi suamimu, aku seperti mendapatkan berkah dan apapun ceritanya, kamu akan aku jadikan ratu disini, di hatiku dan di otakku ..."
Karina menatap Ravi dengan perasaan terharu. Baru kali ini ada seorang pria yang mencintainya sedemikian rupa. Bahkan Oleg pun tidak mencintainya seperti ini. Terkadang Oleg masih suka melirik wanita lain dan Karina berusaha tutup mata karena dia sangat cinta Oleg... Saat itu.
"Karina, kita memang baru seumur jagung menikah dan kita tahu ke depannya akan banyak rintangan dan kerikil karena menikah itu bukan melulu soal hubungan intim saja, tapi juga mengkompromikan pendapat kamu dan pendapatku... Soal keuangan, soal keinginan, belum nanti soal anak ..."
"Kita sudah kompromi soal uang."
"Kamu memang harus tahu gaji aku dan bonusnya tapi aku tidak akan bertanya berapa uangmu yang sudah kamu miliki sebelum menikah karena itu adalah milikmu. Aku tidak akan utak-atik..." jawab Ravi.
"Soal uang kuliah, tidak apa-apa aku yang bayar semuanya. Toh kamu sendiri yang senang uangku dipakai untuk hal yang berguna ..." ucap Karina.
"Kalau kurang, bilang Karina. Aku tahu uang kamu banyak tapi aku suami kamu. Setidaknya, aku dilibatkan dalam biaya pendidikan kamu ..."
Karina tersenyum usil. "Kamu bayarin uang bensin aku saja."
Ravi melongo. "Hanya uang bensin ?"
Karina mengangguk. "Setidaknya itu kontribusi juga kan?"
Ravi tertawa kecil. "Iya deh. Nanti aku kasih uang bensin."
Karina tersenyum manis.
***
Malam harinya Karina tidur di kamar Ravi dan mereka hanya berbaring sambil berpelukan. Tadi Karina mengeluh masih perih dan Ravi pun bisa paham karena pertama kalinya milik istrinya bertemu dengan miliknya, jadi agak kaget.
"Apakah kamu masih mau datang dugem?" tanya Ravi sambil mengelus lengan mulus Karina yang hanya mengenakan daster batik dengan tali spaghetti.
"Tidak kepikiran... Aku lebih memilih di rumah," jawab Karina jujur.
Ravi menunduk melihat wajah istrinya. "Why?"
"Tugas kuliah aku akan semakin padat, dan ini berbeda dari kuliah S1 aku dulu. Apalagi kemarin aku sempat tertidur di perpustakaan bukan?" jawab Karina diatas dada Ravi.
"Maaf sayang, aku tidak paham matematika... Jadi aku tidak bisa membantu kamu ..." senyum Ravi. "Kalau soal politik, keimigrasian, aku bisa membantu."
Karina tertawa kecil. "Kamu bantu doa saja supaya aku tidak ketiduran lagi di perpustakaan."
Ravi tersenyum sambil memeluk erat tubuh Karina.
"Kalau kamu capek tidak sanggup nyetir mobil, hubungi aku. Pasti kamu akan aku jemput."
Karina mengangguk. "Aku ... Mulai ngantuk..."
"Ya sudah. Kita tidur."
***
Hari-hari Karina dan Ravi berjalan semakin mesra dan romantis. Ravi tidak berubah dengan sikapnya sementara Karina terkadang uring-uringan dengan tugas kuliahnya. Jika sudah begitu, Ravi lah yang selalu memberikan support.
Keduanya pun membuat jadwal setiap weekend ke rumah Stefan dan Irina yang senang melihat Ravi dan Karina sudah menjadi lebih erat. Ravi sendiri meminta kepada Irina dan Stefan untuk membatalkan kontrak sebab dirinya dan Karina tidak akan berpisah.
Stefan dan Irina tampak senang mendengar Karina bisa menerima Ravi sebagai suaminya apalagi mereka juga melihat bagaimana manjanya Karina ke suaminya. Kedua orang tua Karina itu bersyukur pilihan mereka tidak salah karena Ravi sangat mencintai Karina dengan tulus.
Akhirnya surat kontrak itu pun dibuang ke mesin penghancur kertas oleh Irina. Ravi menolak kompensasi yang dijanjikan karena baginya kehidupannya sekarang sudah membuatnya bahagia. Ravi sendiri di kantor, tetap kaku dan dingin sedangkan di rumah, dia menjadi pribadi yang hangat dan panas hanya bersama Karina.
***
Karina tiba di apartemennya menjelang pukul tujuh malam usai kuliah dan wanita itu pun masuk dengan langkah lelah.
"Ravi, aku tidak masak ya. Hari ini quiz-nya membuatku sangat lelah ..." ucap Karina sambil melepaskan sepatunya.
Karina celingukan karena apartemen tampak remang-remang dan tidak ada tanda keberadaan suaminya. Karina meletakkan sepatunya di lemari sepatu dan berjalan masuk karena bingung tidak ada Ravi padahal mobilnya sudah terparkir di area parkiran apartemen.
"Ravi ?" panggil Karina.
Tak lama pintu kamar Karina terbuka dan tampak Ravi keluar dengan membawa cake ulang tahun lengkap dengan lilinnya yang menyala.
"Selamat ulang tahun, istriku..." senyum Ravi.
Karina menatap haru ke suaminya. Aku sendiri lupa aku berulang tahun hari ini.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️