Cinta pertama Ellea An Noor adalah ayahnya. Surga satunya yang dia miliki di dunia ini. Dia yang pernah berjanji tidak akan membuka hati kepada lelaki manapun harus dikejutkan atas permintaan sang ayah yang di luar prediksi.
Menikah karena ingin berbakti itulah yang dilakukan oleh Ellea dan Ahlam, putra dari kerabat ayah Ellea. Tanpa adanya pendekatan dan hanya bermodalkan kesepakatan mereka memutusakan untuk maju ke jenjang pernikahan. Merelakan kebahagiaan mereka direnggut agar bisa membuat orang tua mereka merasakan kebahagiaan.
Akankah pernikahan tanpa cinta yang mereka lakukan akan menghasilkan kebahagiaan? Atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Sang Pembicara Memberikan Bukti Cinta
Bibir Ahlam terus terangkat karena sikap Ellea pagi ini. Sungguh sang istri memberikan asupan semangat yang begitu hebat.
"Kayaknya jadi nih unboxing."
Baru saja Ahlam membuka pintu ruangannya, suara Ahjussi-nya sudah terdengar. Ahlam malah berdecak kesal.
"Dijawab juga belum," sahut Ahlam dengan ekspresi mengenaskan.
Restu malah terbahak. Itu membuat Ahlam semakin menunjukkan wajah kesalnya.
"Kalau dijawab iya, pasti langsung lu ajak ngamar kan?"
Restu begitu tahu isi kepala adik sepupunya. Ahlam pun menatap tajam ke arah suami dari kakak sepupunya itu.
"Puas-puasin deh ngejeknya," omel Ahlam.
"Gimana tuh adek mini lu? Masih aman? Apa pengen masuk ke dalam lubang?"
"AHJUSSI!!!!"
Bagi yang tidak mengenal baik keluarga singa pasti akan mengira jika mereka adalah manusia yang tak bisa diajak bercanda. Selalu mengedepankan emosi dan kekerasan. Namun, sebenarnya mereka adalah kumpulan para manusia yang hangat dan senang saling mengejek. Terlebih para singa jantan yang sudah memiliki pawang. Obrolan mereka tak patut didengar oleh para singa bujang karena semuanya berbau hal-hal permesoeman.
Setelah puas meledek Ahlam, Restu kembali ke mode serius. Mereka kembali membahas tentang pekerjaan. Begitulah keluarga singa yang bisa berubah mood dalam hitungan detik.
.
Ellea masih betah berada di dalam kamar. Dia tengah memeluk kedua lututnya di atas sofa yang biasa Ahlam pakai untuk tidur.
"Apa aku mulai mencintainya?
Suara dering ponsel membuyarkan segala pikiran yang tengah berkecamuk di kepala.
"Ayah," gumamnya.
Ellea terdiam sejenak mendengarkan kalimat demi kalimat yang ayahnya ucapkan. Setelah ayahnya selesai berbicara dan sambungan telepon berakhir, Ellea menghela napa begitu berat.
"Makan siang mewakili Ayah," gumamnya.
Ellea menghela napas begitu berat. Mau tidak mau dia harus pergi untuk mewakili ayahnya. Dia juga meminta ijin kepada sang suami sebelum berangkat.
"Mau Mas anter?"
"Enggak, Mas. Pak Sandi yang akan nganter aku."
Sepanjang perjalanan menuju hotel di mana acara makan siang bersama diadakan, Ellea terus menatap ke arah kaca samping mobil.
"Kenapa gak Mbak tolak saja?" Pak Sandi sudah membuka suara.
"Aku gak mau buat Ayah curiga," jawabnya dengan begitu lemah.
Tibanya di lokasi, Ellea menghela napas begitu berat sebelum dia keluar dari mobil. Ellea tengah menata raut wajahnya agar terlihat biasa saja.
Kehadiran Ellea disambut dengan mata sinis dari para pengusaha yang ada di sana. Tak ada yang menyambutnya sama sekali. Padahal, tamu yang lain disambut dengan begitu baik.
Ellea memilih untuk duduk di mana terpasang nama Rifal Addhitama di salah satu kursi di sana. Diacuhkan bahkan sampai tak ada yang mau mendekatinya.
"Kadang masih suka heran sama Pak Rifal. Kenapa selalu mengutus anak pembawa sial dan juga tak berpendidikan ke acara besar seperti ini."
Sindiran tersebut begitu keras dan mampu didengar oleh Ellea. Ini seperti de Javu untuknya. Di mana dua tahun yang lalu pun harga dirinya diinjak-injak habis-habisan. Sampai menjadi bahan pergunjingan.
"Harusnya anaknya juga peka. Bukan malah ngambil keputusan yang bodoh. Udah tahu anak satu-satunya. Bukan kuliah yang tinggi malah berhenti tanpa alasan gak jelas."
"Mana bisa perusahaan EL grup dipimpin oleh anak yang hanya lulusan SMA. Sudah pasti perusahaan itu akan gulung tikar."
Ellea berusaha untuk sabar dan tidak membalas kalimat yang begitu menyakitkan itu. Dia tidak ingin samanya dengan mereka yang sudah menggunjingnya.
"Beda halnya dengan tamu besar kita nanti. Dia adalah keturunan konglomerat ternama juga memiliki pengalaman luar biasa di luar negeri."
"Enggak apa-apa, El. Keputusan yang kamu ambil sudah benar. Jangan sesali itu."
Ellea terus memotivasi dirinya agar tetap kuat menghadapi gunjingan para manusia sok benar. Telinganya begitu panas dan hatinya begitu sakit. Namun, dia tetap bertahan demi nama baik sang ayah.
"Anak gak tahu malu dan gak sadar diri," sindir yang lainnya.
Ellea masih bergeming dengan menahan kesakitan yang luar biasa di dalam hatinya. Sindiran serta cacian yang Ellea terima sekarang ternyata lebih parah.
"Gak apa-apa, El. Gak apa-apa."
Sindiran itu tak Ellea dengar ketika ada keriuhan dari arah pintu masuk ruangan tersebut. Ellea memilih untuk bangkit dan pergi sejenak dari tempat itu.
Di depan cermin toilet, dia menatap dirinya dengan air mata yang sudah menggenang. Dia tersenyum begitu perih.
"Jika, aku memilih pendidikan, aku tidak akan pernah bisa melewati waktu berhargaku bersama Ayah," ucapnya begitu pelan.
Air matanya akhirnya tumpah. Dia memilih untuk masuk ke dalam salah satu toilet dan meluapkan semua air matanya.
"Ternyata semakin sakit dihina tanpa tahu alasannya seperti apa," gumamnya teramat pelan.
Denting ponsel terdengar. Ellea mengecek ponselnya dan ternyata sang suami yang mengirim pesan kepadanya.
"Di mana?"
"Masih di tempat pertemuan."
"Are you okay."
"Ya. Emang aku kenapa?"
Jari Ellea sudah mulai berdusta. Dia mengatakan baik-baik saja di tengah peluapan kesedihan yang mendalam.
.
Seorang pria memasukkan ponselnya ke saku jas karena dia harus menjadi pembicara sekarang. Wajahnya sangat tak bersahabat. Ada beberapa orang yang dia tatap dengan tajam. Setengah jam berlalu, dia turun dan mendapatkan tepuk tangan yang begitu meriah. Namun, wajahnya sudah sangat tak bersahabat sekali.
"Saya minta data nama-nama yang diundang."
Setelah data dia pegang, dia menyuruh salah satu staf yang membantunya untuk menghitung tamu undangan yang hadir.
"Kurang satu, Pak. Tapi, di sininya sudah tanda tangan."
"Tadi sih saya liat ke toilet, Pak," jawab salah satu tamu undangan.
"Biar saya yang cari, Pak."
Seorang wanita menawarkan diri untuk mencari tamu undangan itu ke depan pembicara tersebut. Belum juga sampai, ternyata Ellea sudah keluar dari kamar mandi. Dengan cukup kasar wanita itu menarik tangan Ellea.
"Ada apa ini?" tanya Ellea bingung.
Tangan Ellea terus ditarik hingga dia menjadi pusat tontonan tamu yang lain.
"Ini, Pak."
Pria tinggi itupun membalikkan tubuhnya dan seketika rahang pria itu mengeras dan menghampiri Ellea yang sudah mematung.
"Lepaskan tangan kamu!"
Mata Ellea seketika memerah dan pria itu segera memeluk tubuh Ellea. Semua orang pun amat terkejut melihat sang pembicara memeluk Ellea.
"Cek cctv dan bawa mereka yang sudah menghina istri saya."
Kejutan untuk para penghina Ellea. Mereka mulai ketakutan setelah Ahlam sang pembicara membawa Ellea pergi dari tempat tersebut.
.
"Mas, kenapa kita ke sini?" Mobil sudah berhenti di sebuah apartment mewah.
"Apa kamu mau pulang ke rumah dan Ayah melihat kamu seperti ini?" Ellea menggeleng dengan cepat.
Pak Sandi tersenyum penuh arti melihat sikap Ahlam kepada Ellea. Terlihat betapa Ahlam sangat menjaga Ellea.
Di dalam apartment, Ahlam menarik tangan Ellea untuk duduk di pangkuannya. Dia menatap dalam wajah Ellea yang sembab.
"Aku gak suka melihat kamu menangis."
Ahlam mencium sepasang kelopak mata Ellea secara bergantian. Seketika kehangatan menjalar di tubuhnya bahkan semakin memanas ketika Ahlam sudah mengecup leher jenjangnya. Dia pun sedikit meringis ketika bibir Ahlam mulai meng-hi-sap lehernya.
"Mas--"
Ahlam malah menunjukkan hasil maha karyanya yang begitu merah di leher putih Ellea.
"Bukan hanya kata, bahkan bukti cinta Mas berikan di leher kamu."
...***To Be Continue***...
Boleh minta komennya?? Kalau sehari up 2 bab kira-kira kalian bosan gak?
sangat menjiwai karektor, inspirasi cerita yang paling baik untuk dijadikan pedoman dalam hidup,..
setelah banyak mengeluarkan air mata seperti hujan akhirnya mentari muncul selepas badai ketawa ngakak habis ...bagai org gila pula ketawa tak henti henti 🤣🤣🤣🤣🤣...ada ada saja Thor ..tapi menarik dan lucu Thor menjiwai , seperti realiti.. mantap Thor inspirasi selalu Thor 👍👍👍👍
mungkin ini yang dikatakan setelah banyak mengeluarkan air mata disuggahi kelakuan absdul mereka nie ada-ada saja..
kena azab tuh sijalang
nyari mampos melawan 2 klrga raksasa./Sneer//Sneer//Sneer/