Sakit tak berdarah dirasakan perempuan bernama Ananta Gayatri Rumi ketika laki-laki yang menjadi suaminya justru mendorongnya pergi. Tidak hanya itu Ananta Gayatri Rumi di ceraikan hanya karena masalah sepele, Laki-laki yang menjadi suaminya kecewa karena saat pulang kerja tidak menemukan istrinya di rumah.
Hanya perihal sepele yang menjadi alasannya.
Saat mengetahui kebenaran yang terjadi. Suaminya itu menyesal, tapi semua tak lagi sama. Talak sudah jatuh.
Tak habis akal, anak kepala desa itu memanfaatkan kedudukannya untuk menjerat istrinya yang sudah terlanjur dijatuhi talak tiga.
Dia memaksa Ananta Gayatri Rumi menikah dengan laki-laki pilihannya, laki-laki yang kerap perempuan itu ajak bicara.
Laki-laki tak sempurna yang akan dijadikan tumbal supaya dia bisa kembali rujuk dengan Ananta Gayatri Rumi.
Lantas siapa sebenarnya laki-laki pilihannya itu?
Benarkah rencananya sesuai dengan keinginannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak tak terlihat
Singgasana malam akan selalu menghadirkan hawa dingin, membekukan hati yang kian dijamah rasa tak bertepi. Diamnya bukan dalam keadaan baik, ada sesak yang bersarang, menyisipkan luka yang belum sempurna lenyap.
Dua insan, menepi dalam sudut kamar. Selimut dan bantal masih tertata rapi di atas ranjang. Tak ada yang ingin menciptakan panas agar kebekuan itu segera cair dan mengalir seperti hari-hari sebelumnya.
Sudah dua jam mereka berada di satu kamar, sejak sore Rumi sudah diijinkan pulang. Tapi, kebekuan langsung tercipta mana kala satu persatu tetangga kembali ke rumah mereka masing-masing setelah melihat kondisi Rumi.
Jaya yang akhirnya tidak tahan dengan keheningan yang tercipta berusaha terlihat tegar, tanpa mampu menepis kesakitan namun berhasil menutupi raut luka.
"Kamu akan baik-baik saja." ujar Jaya yang kini ikut duduk di samping istrinya yang sejak tadi terus menunduk.
Tak ada jawaban dari Rumi.
"Kita juga akan baik-baik saja." Jaya mengatakan dengan penuh harap.
Rumi tidak mengelak, namun dalam hati wanita itu menolak. Tatapan penilaian itu terus Rumi dapatkan dari orang-orang yang melihat keadaannya. Tidak menutup kemungkinan Jaya juga tengah kecewa berat padanya. Terbukti baru sekarang Jaya mau bicara.
"Mas dan kamu. Kita akan baik-baik saja." Rumi dapat menangkap keraguan yang terselip dalam kalimat itu. Karena Rumi melihat getaran pada manik teduh milik suaminya.
Rumi mengulum bibirnya. Dalam hati, wanita itu mengulang kata-kata Jaya. Benarkah akan baik-baik saja?
Sementara sejak tadi mereka bagai orang asing yang bahkan enggan untuk saling menatap satu sama lain.
"Mas percaya padaku?" Suara serak dan bergetar itu keluar dari bibir bengkak Rumi. Dia ingin tahu apa suaminya mempercayainya. Wajar kan, jika Rumi bertanya?
Jaya diam. Dan kediaman Jaya seolah menaburkan garam diatas luka Rumi.
"Aku memang tidak istimewa," rintih Rumi pada akhirnya.
Retak hati Jaya menyambut larut yang semakin gelap. Rumi istimewa dengan segala yang ada pada diri wanita itu. Tapi, tentu Jaya tidak mengatakannya.
Diam, tidak akan menghentikan pergerakan malam menuju pagi. Faktanya mereka kembali di temani keheningan ketika satu sama lain menelan kekecewaan di hati masing-masing.
Subuh menyapa. Malam dilalui tanpa memejamkan mata. Jaya dan Rumi sama-sama tidak sanggup untuk tidur.
Kemarin subuh suara tawa dan candaan meramaikan kamar 3x3 meter ini, kini hanya senyap, sekarang cuma tinggal kenangan. Kesan manis dan hangat, sudah lebur bersama rasa sakit dan kecewa.
Jaya tidak menyalahkan Rumi. Tentu saja! Begitupun sebaliknya, Rumi mengerti kekecewaan yang Jaya rasakan.
Semua memang telah berbeda. Dan Rumi lah yang membuat seolah semuanya masih sama.
Rumi meletakkan handuk dan pakaian siap pakai di ranjang untuk suaminya. Setelah itu ia keluar kamar.
Luka fisik dan hatinya masih utuh, tapi tidak menyurutkan niatnya untuk melayani sang suami.
Jika memang tidak bisa menerima, kenapa tidak bicara? Jika terlalu sakit, kenapa tidak bercerai saja? Rumi sempat berpikir, tapi kalah oleh rasa. Rumi tidak munafik, ada harap Jaya mau memeluknya dan berkata aku mempercayaimu. Tapi setidaknya Jaya juga tak lantas mengabaikannya, bukankan masih ada harap, dan berpikir waktu yang akan menghapus kecewa lelaki itu.
Mungkinkah?
Jaya ijin ke tempat kerja sebentar. Rumi mengijinkan tanpa berkata apapun.
Rumi tidak tahu jika Jaya tidak benar-benar pergi seperti ijinnya. Lelaki itu kini tengah berdiri di tepi danau, genangan air tenang menjadi pilihan Jaya, di tempat sunyi ini dia menimbang rasa. Memikirkan alur kehidupan yang menjeratnya dalam jurang kesakitan.
Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.
Cinta Jaya berliku sejak awal, dari yang pertama hingga kini Rumi. Entah sampai kapan takdir ingin terus menguji kesabarannya. Dan Jaya tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untuk wanita yang kini menjadi istrinya. Karena nyatanya dia begitu lemah.
Satu setengah tahun lalu, Jaya sudah memiliki segalanya. Jaya sudah menegak indahnya bahagia. Kali ini, bisakah lelaki itu menyesap bahagia tanpa seorangpun mengganggu?
"Tinggalkan."
Suara itu menyingkap keheningan.
Tatapan ibu dan anak beradu. "Tinggalkan wanita itu jika kamu tidak bahagia," itu sebuah pinta dari seorang wanita paruh baya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Tidak bisakah Ibu tidak ikut campur urusan rumah tangga ku?" Jaya mengatakan dengan pelan, agar wanita yang bergelar ibunya itu menikmati proses yang pernah dirasakan oleh Jaya saat Nyonya Sanjaya memaksa kehendaknya.
Dulu bersama almarhumah istrinya hal yang sama juga pernah di minta oleh wanita yang melahirkannya ini. Jaya memang tak pernah melafazkan kata pisah, tapi kematian telah merenggut jodohnya itu.
Malam-malam telah lama berlalu tanpa perempuan yang dicintainya begitu besar dan harus dilupakan untuk selamanya. Ia tidak lagi merangkai rindu, karena kenyataannya hidup tak semanis mimpi yang hanya singgah dalam waktu malam.
"Ibu selalu datang di waktu yang tidak tepat." cibir nyonya Sanjaya.
"Tolong jangan temui Rumi untuk kali ini!" adakah yang lebih menyakitkan daripada melihat anaknya yang rela memohon bagi pasangannya yang telah berselingkuh.
Nyonya Sanjaya membuang muka. Apapun gosip terbaru, dia pasti mendengarnya. Dia memang belum sempat ke rumah Hassan karena ketika mobil yang membawanya hendak berbelok bertepatan dengan motor Jaya yang melaju di perempatan jalan, akhirnya nyonya Sanjaya mengikuti kemana Jaya pergi. Dan disinilah mereka.
Sementara di rumah. Ketika mata telah lelah menatap lantai, dan hati telah puas menganalisa perasaan, Rumi berusaha tidur menjemput mimpi indah yang jauh berbeda dengan kenyataan. Bersama harapan, ia mengistirahatkan badan.
Doa dalam hati selalu baik karena ingin harinya ada hal baik yang merangkul diri memudarkan sakit lantaran derita yang entah kapan tuntas.
Rumi, sungguh maafkan aku!
Sebuah pesan dilewati Rumi. Ia terlalu lelah mengawal hati agar tak mengorek luka menembus inti kecewa.
Dihatinya kini hanya ada harap untuk Jaya, bukan pria mana pun. Terlebih-lebih untuk Harsa.
Rumi sudah sakit lahir batin dengan kelakuan lelaki masa lalunya itu. Tak bisakah lelaki itu mendapatkan hukum yang setimpal?
Bahkan Rumi tidak tahu apa yang terjadi pada lelaki itu. Tidak ingin tahu dan tidak perduli, jika bisa ia ingin lelaki itu dihukum atas perbuatannya. Tapi siapa ia yang akan mendapatkan keadilan.
Nyatanya, setelah kejadian yang mengerikan itu, sikap hangat Jaya mulai berubah, meskipun lelaki itu tetap memperhatikannya.
Itu semua karena ulah Harsa!
Rumi tidak banyak menuntut. Dengan masih diperhatikan dia sudah sangat senang. Walaupun ia harus menelan kekecewaan karena kejadian kemarin, acara hari ini harus tertunda.
Padahal mungkin mood-nya akan baik begitu bisa bertemu dengan Zahra.
Tapi kembali Rumi menyadari keadaannya yang saat ini sangat tidak layak untuk bertemu seseorang. Bahkan bibirnya masih terluka dan lagi....
Lagi-lagi Rumi hanya bisa terisak meraba bekas gigitan laknat Harsa yang berjejak di tubuhnya.
Haruskah ia mati saja, agar derita ini tak lagi menyiksanya?
Saya sungguh terharu,
Karya Anda sungguh berkesan 🤍
Gnti nama jadi jaya?