NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Perjuangan nyata.

Rasa kesal membuat tenggorokan Prisha terasa semakin perih dan terbakar. Jika ia tidak segera minum sekarang, ia pasti akan terkena radang tenggorokan esok hari.

"Cih, sebenarnya jika bukan demi masa depan cermerlang, aku tidak akan melirikmu sama sekali" cibir Prisha. "Siapa yang tahan dengan pria seperti dia? Mungkin si Utami itu melarikan diri karena sikapnya."

Menghempaskan rasa gengsinya ke lantai, Prisha kembali meraih tongkatnya, memaksakan diri untuk bangkit dan melanjutkan perjalanannya yang tersisa dengan sisa tenaganya sendiri.

Masalah terbesar baru muncul begitu ia sampai di ujung koridor utama. Rumah besar keluarga Tanubrata ini sama sekali tidak memiliki fasilitas lift. Hal itu dikarenakan arsitektur bangunan mansion ini sengaja dipertahankan untuk mengikuti gaya klasik Eropa kuno, bagaikan istana rumah para bangsawan di masa lampau yang mengagungkan kemegahan tangga besar di tengah ruangan.

Prisha berdiri di puncak tangga, memandang ngeri ke arah deretan anak tangga rapat yang begitu panjang di bawahnya. Tangga itu dibalut oleh karpet tebal berwarna hitam pekat, membuatnya terlihat semakin misterius dan menakutkan di bawah temaram lampu dinding malam hari. Mengingat ia baru saja jatuh dari tangga kampus siang tadi, melihat pemandangan ini sukses membuat bulu kuduk Prisha berdiri.

"Astaga ... Matilah aku." Ia celingak-celinguk melihat sekeliling, berharap ada satu saja pelayan lewat. Pada akhirnya itu hanyalah harapan hampa.

"Sial banget. Jika ada Davier, dia tidak akan membiarkan aku menderita seperti ini."

Sebelum ia memberanikan diri menurunkan kaki kanan untuk pijakan pertama, Prisha memejamkan mata sejenak, berkomat-kamit memanjatkan doa demi keselamatan nyawa dan kakinya yang tinggal satu. 'Tuhan, tolong jangan biarkan aku menggelinding lagi malam ini.'

Dengan penuh perjuangan, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya saat ia menurunkan tubuhnya selangkah demi selangkah. Setiap tekanan pada tongkat membuat tangannya bergetar, namun syukurlah, setelah beberapa menit yang terasa seperti satu dekade, Prisha akhirnya berhasil menapakkan kakinya di lantai dasar dengan selamat tanpa ada insiden tambahan.

Prisha segera berjalan menuju dapur bersih, membuka kulkas besar di sana, dan langsung meneguk segelas air dingin dengan rakus hingga perih di tenggorokannya sirna. Setelah puas melepas dahaga, ia mengambil beberapa butir buah anggur hijau segar dari mangkuk dan mengunyahnya pelan untuk mengembalikan energinya.

Begitu selesai, Prisha menatap ke arah tangga karpet hitam yang baru saja ia turuni dengan pandangan malas. Membayangkan dirinya harus kembali memanjat belasan anak tangga tinggi itu dalam kondisi kaki digips dan tubuh yang sudah terlanjur kelelahan, membuat nyali Prisha menciut.

"Ah, persetan. Aku tidur di sini saja," gumam Prisha pasrah.

Ia melangkah pincang menuju sebuah sofa panjang empuk yang terletak di ruang tengah, tidak jauh dari area tangga. Prisha merebahkan tubuhnya di sana, memposisikan kaki gipsnya dengan hati-hati, lalu memeluk bantal sofa. Rasa lelah yang luar biasa dengan cepat menarik kesadarannya masuk ke alam mimpi.

Suasana mansion kembali sunyi senyap selama beberapa waktu.

Namun, tanpa Prisha ketahui, pintu kamar di lantai atas perlahan terbuka kembali. Saka diam-diam melangkah keluar dari kamarnya. Sejak awal, pria itu ternyata tidak benar-benar mengabaikan Prisha; ia mengawasi pergerakan gadis itu dari balik bayangan lantai atas, memastikan apakah gadis gila itu akan menggelinding jatuh lagi atau tidak saat menuruni tangga karpet hitam yang curam.

Setelah dirasa napas Prisha sudah terdengar teratur tanda gadis itu telah tertidur pulas di atas sofa, Saka perlahan menuruni anak tangga tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia berjalan mendekat, lalu berdiri tegak di samping sofa, menatap wajah tidur Prisha yang tampak polos tanpa topeng keangkuhan kampus ataupun topeng genitnya saat menggoda.

Pandangan Saka kemudian turun, beralih pada sepasang tangan Prisha yang terletak di atas dadanya. Saka tertegun sejenak. Di bawah pendaran lampu malam yang minim, ia bisa melihat dengan jelas bahwa telapak dan jari-jari tangan Prisha tampak memerah padam dan sedikit lecet.

Itu adalah bekas luka akibat Prisha mencengkeram tongkat penyangganya dengan teramat sangat erat dan kuat selama sisa perjalanannya yang menyakitkan tadi, sebuah bukti nyata dari keras kepalanya seorang Prisha Kaelen yang menolak untuk menyerah pada rasa sakitnya sendiri.

Saka bergeming di tempatnya berdiri, membiarkan keheningan malam menyelimuti ruang tengah yang remang-remang. Sepasang matanya masih tertuju pada sosok Prisha yang meringkuk di atas sofa, memeluk bantal dengan posisi kaki gips yang diganjal seadanya.

Dalam diam, Saka tidak bisa menampik sebuah fakta kasat mata. Prisha memang gadis tercantik yang pernah ia lihat. Struktur wajahnya yang tegas namun simetris, hidungnya yang bangir, serta bulu matanya yang lentik memberikan kesan visual yang memikat.

Julukannya di kampus sebagai seorang 'Putri' bukanlah bualan belaka, meskipun ada embel-embel kata 'Jahat' yang selalu mengekor di belakangnya. Fisiknya begitu memanjakan mata, tipe wanita yang akan membuat semua pria menoleh dua kali saat berpapasan di jalan.

Namun bagi Saka, kecantikan visual tidak pernah cukup. Ia sama sekali tidak menyukai tipe gadis yang merepotkan. Di matanya, Prisha adalah representasi sempurna dari sosok gadis manja yang terbiasa hidup mewah berselimut privilese, sehingga seluruh dunianya seketika hancur lebur ketika harta itu disita dan ia tidak memiliki apa-apa lagi.

Terlebih lagi, rekam jejak Prisha sebagai sosok yang gemar menindas orang-orang di bawahnya membuat Saka memandang remeh esensi dari kecantikan fisik tersebut. Baginya, keangkuhan Prisha adalah cacat karakter yang fatal.

Karakter Prisha benar-benar berbanding terbalik dengan Utami, gadis yang selama ini mengisi ruang di kepala Saka. Utami memiliki hati yang lembut, tulus, dan penuh kebaikan. Sebagai gadis sederhana yang tumbuh dari bawah, Utami tahu betul bagaimana kerasnya dunia nyata.

Keberanian Utami untuk menghadapi kerasnya hidup dengan mengandalkan peluh dan kerja kerasnya sendiri adalah hal yang paling Saka kagumi. Sosok seperti Utami tidak akan pernah sudi menjual harga diri dan tubuhnya demi uang, sebuah kontras yang tajam jika dibandingkan dengan Prisha yang memilih jalan pintas dengan menjadi penggoda bayaran di mansion ini.

Saka menarik napas pendek, menatap jemari Prisha yang lecet akibat cengkeraman tongkat. Menurutnya, apapun usaha yang dilakukan Prisha untuk menggodanya, mulai dari berpura-pura jatuh di koridor hingga aksi nekat lainnya, semua itu akan berakhir percuma.

Benteng pertahanannya tidak akan runtuh oleh kedipan mata atau racauan manja. Ia sudah puas bermain-main dengan wanita seperti itu sebelum bertemu Utami. Sebab, yang dibutuhkan Saka untuk menjadi pendamping hidupnya adalah sosok berhati hangat seperti Utami, bukan seorang putri manis beracun seperti Prisha.

Saka berharap dalam hati agar Prisha bisa cepat menyerah dan mulai belajar untuk lebih menghargai dirinya sendiri sebagai seorang wanita. Lagipula, utang mendiang ayahnya sudah lunas.

Sekarang, yang perlu Prisha lakukan hanyalah memikirkan bagaimana cara membiadaptasi dengan garis kehidupan yang baru, mencari biaya hidup yang halal, dan menyembuhkan kakinya tanpa perlu membuang-buang energi untuk menjebak Saka ke dalam pesonanya.

Saka bersiap untuk berbalik dan melangkah kembali ke lantai atas. Namun, embusan angin malam yang mendadak berembun lewat celah ventilasi membuat tubuh Prisha sedikit menggigil. Gadis itu mengerutkan alisnya dalam tidur, semakin merapatkan pelukan pada bantal sofa guna mencari kehangatan yang minim.

Saka menghentikan langkahnya. Ia menatap sofa itu selama beberapa saat, bergulat dengan ego dan rasa kemanusiaannya sendiri. Akhirnya, dengan helaan napas berat yang terdengar samar, Saka berjalan mendekati lemari penyimpanan di sudut ruang tengah. Ia mengambil sebuah selimut tebal berbahan wol lembut yang tersimpan di sana.

Dengan gerakan yang sangat pelan dan tanpa suara, Saka membentangkan selimut itu di atas tubuh Prisha, menutupinya hingga batas dada agar gadis itu tidak terkena flu keesokan harinya. Setelah memastikan posisi gips Prisha aman dan selimutnya terpasang rapi, Saka memutar tubuhnya. Ia melangkah tegap menaiki tangga karpet hitam, meninggalkan lantai dasar dan Prisha sendirian di sana.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!