NovelToon NovelToon
NARSIH

NARSIH

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Thriller / Hantu / Iblis / Dendam Kesumat / Horor / Tamat
Popularitas:783.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

JUARA 1 LOMBA MENULIS HOROR TAHUN 2023

Prequel dari Rumah di tengah Sawah.

Pada tahun 1958, seorang dukun dikeroyok oleh warga desa hingga kehilangan nyawa. Setelah dukun itu tiada, barulah warga desa menyadari ada sosok perempuan yang tinggal di rumah sang dukun.

Namanya Narsih. Kulitnya putih bersih, berparas ayu, bersuara merdu. Tapi, siapa sebenarnya Narsih? Kehadirannya di desa Karang akankah membawa kebaikan atau malah sebaliknya?

Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selikur

Pono mengendap-endap mendekati tempuran sungai. Dikuasai oleh rasa penasaran saat terlihat nyala obor dari kejauhan. Bukankah semua orang sedang sibuk dengan agenda pemilihan Bayan? Siapa pula yang ada di tengah sungai pada malam hari?

"Mana mungkin orang buang hajat bawa obor seterang itu? Biar apa? T*i nya kelihatan?" gumam Pono dengan langkah berjingkat. Dia bersembunyi di antara semak-semak yang rimbun.

Yang pertama kali Pono lihat adalah Ki Mangun yang duduk bersila di atas batu besar. Pono mendengus kesal karena dugaannya keliru. Awalnya tadi dia mengira sesepuh desa itu tidak hadir di pemilihan Bayan karena sedang menderita sakit, nyatanya malah membuat ritual aneh di tengah sungai.

Selain Ki Mangun, Pono juga melihat Sugeng dan Tarno yang duduk di tepi sungai berpasir. Mereka berdua menunggui sesuatu yang berasap. Pono semakin jengkel merasa dikerjai.

"Jadi pemilihan Bayan hari ini rencananya si Mangun. Sugeng yang diutus keliling desa untuk mengumpulkan warga. Setelahnya mereka langsung ke tempat ini. Sial! Ritual apa yang mereka lakukan sembunyi-sembunyi?!" gumam Pono dengan tangan yang terus mencabuti rumput, saking geramnya.

Pandangan Pono teralihkan sedikit ke tengah tempuran. Ada tiga orang yang nampak berendam dalam air. Mbok Ginah, seorang laki-laki tampan dan seorang perempuan cantik berkulit pucat. Kecantikan yang membuat mata 'nggragas' Pono langsung membulat. Bagaimana mungkin di desa Karang ada perempuan yang kecantikannya melebihi Darmini?

Setelah beberapa saat mengamati sosok laki-laki tampan yang sedang berendam, Pono kemudian menyadari laki-laki itu adalah Wira. Sang Bayan yang baru terpilih mengalahkan Pono dengan telak.

"Apa mungkin mereka melakukan ritual supaya menang pemilihan Bayan? Waahh, ndak bisa ini. Curang namanya kalau kayak gini. Pantas saja aku kalah pemilihan dari bocah. Padahal aku jelas lebih diinginkan warga untuk memimpin," gerutu Pono sendirian.

Terdengar suara Ki Mangun berbicara. Sebuah kalimat nasehat tentang berumahtangga. Pono diam menyimak. Kemudian nampak Mbok Ginah menyuapkan bunga Melati pada Wira dan perempuan cantik di hadapannya.

"Pernikahan?" Pono melotot.

Bulu kuduk Pono mulai meremang. Teringat cerita mendiang Bapaknya dulu. Ritual pernikahan makan kembang hanya dilakukan ketika pengantinnya adalah mayat. Kembang digunakan sebagai syarat utama untuk meluruhkan aroma b*ngkai.

Belum reda rasa takut di benak Pono, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang meriah. Gegap gempita, seolah ada puluhan bahkan ratusan orang yang memenuhi tempuran sungai. Suara berisik penuh kebahagiaan yang membuat tengkuk Pono membesar.

Kini Pono dapat melihat sosok-sosok putih, berdiri mematung di antara bebatuan sungai. Wajah pucat, kuku hitam dengan senyuman yang menunjukkan deretan gigi hingga merobek pipi.

Di bagian ujung tempuran, pada bagian ceruk dengan bebatuan bertumpuk terlihat sosok tinggi besar dengan bulu menutupi sekujur lengannya. Nafasnya terdengar berisik. Sosok itu hanya diam bersembunyi di balik kegelapan. Hanya terlihat samar-samar mata merahnya yang menyala seperti kobaran api.

Lutut Pono bergetar hebat. Dia berkali-kali menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang terlanjur kering, tercekat tanpa suara. Perlahan Pono memutar badan, dan berlari tunggang langgang.

Pono benar-benar ketakutan. Dia berlari tak tentu arah. Dalam kegelapan malam, kakinya terantuk batu, tertusuk duri bahkan jatuh terjungkal. Tapi Pono tidak peduli dengan rasa sakitnya. Dalam benaknya hanya ada satu keinginan. Dia harus lari.

Nafas Pono tersengal. Cukup jauh dia berlari. Kedua tangannya diletakkan di pinggang. Pono kelelahan. Rumahnya sudah di depan mata.

"Darminii," teriak Pono saat sampai di teras depan rumah.

Terdengar suara seperti benda terjatuh dari dalam rumah. Kemudian suasana berubah hening. Pono mengernyitkan dahi. Beberapa saat berikutnya pintu depan terbuka.

Darmini menyambut dengan rambut yang acak-acakan. Perempuan itu mengenakan baju tipis yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Pono menjatuhkan tubuhnya di tengah pintu.

"Dar, tolong ambilkan aku minum. Rasanya mau mati kehabisan nafas aku," perintah Pono sambil mengatur nafas.

Darmini tak menyahut, hanya diam dan segera berjalan ke dapur. Tidak berselang lama, Darmini sudah kembali dengan kendi di tangannya. Pono langsung meminumnya dengan terburu-buru. Rasa dahaganya benar-benar tak tertahankan.

"Habis ngejar maling atau gimana Mas?" tanya Darmini centil.

Pono tidak menyahut. Dia enggan menceritakan apa yang sudah dilihatnya. Terlalu menakutkan, bisa-bisa istrinya itu pingsan mendengar cerita Pono.

"Emm, atau Mas saking senengnya terpilih jadi Bayan pulang lari-larian? Pengen secepatnya ngabari aku gitu," ujar Darmini sambil tersenyum. Mendengar perkataan Darmini, telinga Pono memerah, panas terbakar rasanya. Ucapan Darmini seolah memberi garam pada luka yang belum kering.

"Aku gagal. Nggak kepilih. Dicurangi sama dukun peyot Mangun itu," jawab Pono kesal.

"Lhah. Kok bisa? Terus, siapa yang terpilih jadi Bayan?" Darmini mengernyitkan dahi.

"Wira, anaknya Mangun. Mentang-mentang Bapaknya sesepuh desa, anaknya pun diatur supaya jadi Bayan," gerutu Pono.

"Wira yang ganteng itu to Mas? Memangnya dia ada di desa ini? Bukannya sekolah di kota?" tanya Darmini lagi.

Pono memicingkan mata. Dia semakin merasa kesal mendengar Darmini memuji Wira dengan sebutan ganteng.

"Piye? Ganteng katamu? Bocah ingusan yang ndak tahu gimana caranya kerja mbok katakan ganteng? Kamu itu kok ndak bersyukur to Darmini. Kangmas mu ini lho yang paling ganteng. Lebih dewasa, berpengalaman dan paling penting bertanggungjawab," sahut Pono memuji dirinya sendiri. Darmini tersenyum masam.

Pono berdiri dari duduknya. Tenggorokannya sudah terasa lega. Dahaga sudah terobati. Air putih satu kendi tandas tak bersisa.

Dengan langkah gontai, Pono berjalan ke kamar. Dia hendak berganti pakaian karena bajunya basah oleh keringat. Pono melemparkan baju kotornya ke sudut kamar. Barulah kemudian, jari-jari Pono terasa ngilu dan nyeri. Bekas duri, tergores kerikil, jatuh tersandung, semua rasa sakit itu kini terakumulasi. Tadi memang tak dirasa saking takutnya. Tapi kini Pono meringis kesakitan.

Pono duduk di sudut ranjang. Dia mendesis memegangi kulit jempol kakinya yang mengelupas. Sedangkan Darmini mengembalikan kendi ke dapur.

Di tengah rasa nyeri di kaki, indera penciuman Pono mengendus aroma menyengat di tempat tidurnya. Hidung Pono kembang kempis. Tercium bau keringat dan sedikit bau bawang seperti tempo hari.

Pono mengedarkan pandangan, mengamati kain sprei yang lusuh. Ekor matanya melihat putung rokok di bawah tempat tidur. Pono memungutnya dan kemudian menyadari, puntung rokok itu di dalamnya berisi tembakau kualitas rendah. Pono memasukkan puntung rokok ke dalam saku celana.

Timbul kecurigaan di benak Pono. Jangan-jangan ada seseorang yang sedang bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba Pono mengintip ke kolong tempat tidur. Dia sudah bersiap untuk menyeret siapapun yang ada disana.

Ternyata dugaan Pono keliru. Di kolong tempat tidur tidak ada siapapun. Hanya sarang laba-laba yang menumpuk dan beberapa cicak yang menempel di kaki dipan.

"Mas Pono sedang apa?" tanya Darmini. Perempuan itu sudah berdiri di ambang pintu.

"Ndak kok. Kolong tempat tidur kita kotor banget," jawab Pono. Darmini geleng-geleng kepala. Pono mengepalkan tangan dengan tatapan mata yang kosong.

Bersambung___

1
saprida Oke
dari novel ini paling sakit itu narsih, dari awal hidup selalu di siksa karna kekurangannya, setelah di hidupkan kembali pun tetap sakit, karna hanya di manfaat kan laki² yg dia cintai dengan tulus yg cuma mikirin impiannya dengan menghancurkan cinta tulus narsih, ini bakal jadi salah satu novel yg berkesan selama aku baca novel
saprida Oke
kak novel mu bagus banget 😍
Alexander
terima kasih atas karyanya
Alexander
apakah kalau hasil perselingkuhan masih bisa disebut pewaris sah ?
Alexander
mungkin sri tidak punya kaca di rumahnya. makanya dia tidak bisa melihat keburukannya sendiri.
Alexander
kok tidak malu mengaku akan melahirkan trah ki mangun padahal tidak dinikahi oleh wira.
Alexander
kalau ada manusia berhati tulus, sugeng adalah salah satunya.
Alexander
berarti lahirnya dipaksakan ?
Alexander
gimana tidak menyasar sri sedangkan perselingkuhan itu terjadi karena kesadaran dua orang.
Alexander
sudah adakah kosakata 'anomali' di tahun segitu ? mungkin sudah tapi aku rasa tidak akan diucapkan selumrah sekarang.
Alexander
Ya Allah 😂
Alexander
manusia yang kelakuannya lebih buruk dari demit.
Alexander
belum bisa melakukan apapun, cuma bisa menghamili /Facepalm/
Alexander
kenapa malah narsih yang dibenci. padahal wira sendiri yang tidak berani mengambil sikap. dan sepertinya ki mangun memang tidak memaksa.
Alexander
mungkin ki darso tidak akan mengambil pusaka itu jika penduduk desa tidak mendiskriminasi dia.
Alexander
katimin si kuli pasar yang cerdas.
Alexander
Astaghfirullah ..
Alexander
kebohongan yang sangat kejam
Alexander
wira menghamili sri tanpa menikahinya lebih dulu ?
Alexander
narsih itu tidak tau apa2 menjadi korban dari keegoisan banyak orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!