~NOVEL KE 15~
Nama ku Myrtle. Aku telah jadi yatim piatu sejak masih bayi. Kemudian aku ikut tinggal di rumah sepupu ibu ku dan menjadi bagian dalam keluarga nya.
Sebuah tragedi kemudian terjadi pada keluarga sepupu ibu ku itu. Hampir semua anggota keluarganya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Hanya menyisakan Sang Sulung, Rayn Millard seorang saja.
Sejak itulah Aku tinggal berdua dalam asuhan Kak Rayn. Sampai kemudian aku menyadari rahasia tersembunyi terkait Rayn.
Bahwa sebenarnya, kakak sepupu ku itu ternyata adalah vampir!
Bagaimana kelanjutan hidup ku setelahnya?
Haruskah aku tetap hidup bersama Rayn, atau pergi sejauh-jauhnya?
Bagaimana juga kehidupan ku bersama Ray nanti, bila sosok wanita vampir lain muncul dan mengaku sebagai pemilik Rayn? Wanita yang telah mengubah Rayn menjadi seorang vampir..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Mendengar kenyataan tentang aku yang telah meminum darah Kak Rayn, seketika hampir membuat kesadaran ku hilang.
Syukurlah Kak Rayn sigap menangkap pinggang ku. Sehingga aku tak sampai tersungkur jatuh ke lantai kamar mandi yang dingin.
'Gigi taring, minum darah.. Ya ampun.. ya ampun.. ya ampun! Myrtle Adelaine! Kamu memang benar-benar sudah berubah jadi vampir!' batin ku masih begitu terkejut.
Setelah lebih tenang, aku pun berusaha berdiri sendiri lagi. Tapi ku sadari kemudian kalau posisi ku dan Kak Rayn teramat dekat saat ini.
Karena merasa canggung, ku putuskan untuk keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Kak Rayn di belakang ku.
Begitu keluar dari kamar mandi, mata ku kembali melihat ke arah pintu. Dan seketika itu juga aku langsung bisa melihat pintu kebebasan ku lagi.
Tanpa membuang-buang waktu, aku oun segera melesat ke pintu. Dan aku berhasil!
Ku buka handel pintunya, lagi-lagi aku berhasil.
Di saat ku dengar suara Kak Rayn yang memanggil, aku sudah mulai melangkah dari kamar sekap ku selama ini.
"Myrtle! Tunggu dulu!" Panggil Kak Rayn di belakang ku.
Tapi aku tak menghiraukan panggilannya. Kaki ini terus saja ku pacu melewati lorong panjang yang tampak seperti lorong rahasia dengan cahaya temaram.
Aku tak menemukan siapa pun sepanjang pelarian ini. Bahkan hingga ku lewati satu pintu besar yang ternyata adalah akhir dari lorong panjang tersebut, aku masih tak menemukan siapa pun di perjalanannya.
Kak Rayn tertinggal di belakang. Jauh di belakang ku. Dan aku tak berhenti sampai di pintu besar itu.
Ku teruskan laju lari ku hingga kini aku sampai di sbeuah lorong sebuah mansion nan mewah. Kali ini oenernagannya sangat cerah. Sayangnya masih tak ada siapa pun yang ebrhasil ku temui hingga kini.
Tap. Tap. Tap.
Aku terus berlari.
"Myrtle! Tunggu dulu!"
Panggilan Kak Rayn masih juga mengejar ku. Dan itu menjadi pelecut semangat ku untuk terus berlari aejauh mungkin darinya. Dari tempat ini.
Sampai akhirnya aku mulai menemukan suara-suara.. Suara-suara orang di keramaian.
'Di mana ada suara, maka pasti ada jalan keluar!' pikiran ku mulai ber euforia.
Ku tujukan langkah ku kini menuju keramaian itu. Dan akhirnya, kembali ku lihat sebuau pintu cokelat besar di hadapan.
Di mana aku cukup yakin kalau ada banyak orang di balk pintu besar tersebut.
"Myrtle! Tunggu! Jangan buka pintunya!" Teriak Kak Rayn di belakang.
Ah! Larangannya itu malah membuat ku lebih tergoda untuk membuka pintunya. Aku yakin, pintu kebebasan ku berada di balik pintu besar di hadapan ku ini.
Akhirnya, begitu tiba di hadapan pintu besar tersebut, aku langsung menghentaknya hingga terbuka lebar. Dan, benar saja. Memang ku dapati keramaian di balik pintu besar ini.
Hanya saja, keramian ini jelas hukan sesuatu yang ku harapkan untuk bisa ku lihat saat ini.
Kini aku berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Mirip seperti sebuah aula besar. Dengan beberapa meja panjang yang berada di keempat sisi ruang aula tersebut. Ada juga sofa-sofa dalam junlah yang tak terhitung banyaknya di hampir seluruh titik di aula ini.
Yang paling membuat ku tercengang adalah penampakan orang-orang yang sedang bermes raan di mana-mana. Di atas meja, di atas sofa, berdiri menempel ke dinding, bahkan ada juga yang tergeletak tanpa rasa malu di atas lantai.
Mereka semuanya benar-benar seperti sedang berpesta se*s di aula ini.
Aku pun seketika membeku di tempat. Merasa canggung, malu dan juga jijik pada semua orang itu.
'Mereka semua gila! Apa mereka tak punya rasa malu atau apa sih?' omel ku dalam hati.
"Myrtle!"
Panggilan dari Kak Rayn yang kian dekat itu sintak saja menyadarkan ku pada tujuan yang ingin ku raih dari pelarian ku selama beberapa menit terakhir ini.
'Aku harus cari jalan keluar!' pekik batin ku sembari mengedarkan pandangan ke segala arah.
Dan akhirnya, aku menemukan sebuah pintu lain di ujung ruangan sana. Di mana pintu itu tampak sedikit terbuka.
Akhirnya, sambil bersikap pura-pura tak melihat kondisi di sekitar ku itu, ku tuukan langkah ku menuju pintu besar di sana.
Beberapa orang akhirnya melirik ke arah ku. Tak hanya beberapa bahkan. Karena hampir setiap orang yang ku lewati selalu saja menoleh ke arah ku. Namun aku tak membalas tatapan mereka.
Aku benar-benar muak dan ingin segera hengkang dari tempat penuh kegilaan ini. Namun kemudian pandangan ku tak sengaja menangkap penampilan sepasang orang yang sedang rebahan di atas sofa.
Yang tak sengaja ku lihat adalah, penampakan darah segar yang mengalir dari leher putih seorang wanita yang duduk di atas sofa. Itu terjadi ketika pasangan lelaki nya mengangkat kepala untuk melihat ku. Wanita itu tampak seperti setengah mabuk.
Setelah melihat leher berlumuran darah itu, mau tak mau pandangan ku juga langsung beradu dengan tatapan si lelaki yang hingga saat ini masih juga menimpa tubuh si wanita. Dan aku dibuat terkejut setengah mati. Karena ternyata lelaki itu adalah seorang vampir!
Ya! Dia adalah seorang vampir! Karena ku dapati gigi taringnya kelewat panjang, dengan lumuran darah yang mengalir dari mulut lelaki vampir tersebut.
Seketika itu juga aku langsung berhenti berlari. Dan secara spontan, ku edarkan pandangan ku ke sekeliling.
Kali ini, aku benar-benar memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh semua orang di aula besar ini. Dan ternyata, hampir semua orang melakukan hal yang sama.
Kegiatan yang mulanya ku kira adalah berbuat me sum, nyatanya adalah kgiatan menghisap darah. Dan itu dilakukan oleh hampur semua vampir di ruang aula ini.
Ya! Aku mendapati diriku tahu-tahu telah berada di tengah-tengah sekawanan vampir yang sedang makan! Dan kini, banyak dari mereka yang menatap ku dengan tatapan lapar!
Glek..
'Ya ampun.. ya ampun.. ya ampun!! Myrtle Adelain! Nasib kamu beneran sial banget sih! Terbebas dari kamar sekap, kamu malah masuk ke kandang vampir! Sekarang, kamu bisa mati kapan aja. Dan penyebabnya adalah karena darah mu akan dihisap habis sama semua vampir ini!' batin ku mulai berkecamuk dengan kekhawatiran-kekhawatiran.
Ku lirik lagi pintu besar di kejauhan. Sayangnya masih ada jarak belasan langkah lagi sebelum aku bisa tiba di sana.
'Gimana nih? Ya ampun, Myr!!'
Tiba-tiba saja pinggang ku ditangkap oleh sebuah tangan seseorang atau mungkin juga vampir di belakang ku. Seketika itu juga, aku berteriak ketakutan dengan suara yang sangat-sangat kencang.
"Aaaaaaaaaaarrrgghhh!!!!!"
***
PaMud Mampir
PaMud Papa Muda mampir
Ry Benci Pakpol Mampir