Celine, seorang mahasiswi cantik yang kabur dari rumah karena ingin menghindari perjodohan yang telah direncanakan oleh Ayahnya. Selama pelariannya, ia bertemu dengan seorang laki-laki dengan tingkah laku yang nakal, bernama Raymond. Dan ternyata Ray adalah Dosennya dikampus.
"Kak Ray lo jangan berani macam-macam ya sama gue." Celine.
"Bibir lo itu selalu menggoda gue, tau nggak?" Raymond
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi
"Kenapa ngebut-ngebut kayak dikejar setaan?" ditengah-tengah keheningan mereka, Celine membuka suara saat menyadari lelaki disampingnya melajukan mobilnya dengan tidak santai.
"Kak, gue belum mau mati ya!!" ucap Celine dengan nada ketus, karena Ray tidak juga menurunkan kecepatannya.
"Kenapa sih, Kak?" Celine memukul keras lengan Ray.
"Diam! jangan ganggu gue!" hentak Ray. Celine menelan salivanya, kenapa sih Ray selalu saja kasar dan sering membentaknya?
Celine menurut, segera ia bersandar pada sisi kirinya. Ada apa dengan lelaki ini? apa yang membuatnya tiba-tiba marah? ia pun tak mengerti.
Sudah sampai di baseman apartemen, Ray tidak parkir di tempat biasa ia memarkirkan mobilnya. Celine turun dari mobil, tanpa berkata apapun. Ray membiarkan gadis itu turun, pandangannya tertuju pada punggung Celine yang berjalan menuju lift. Namun tiba-tiba saja, ia berubah pikiran. Ray turun dari mobil menyusul Celine.
"Kenapa Kak?" Celine heran dengan kehadiran lelaki itu yang tiba-tiba.
"Gue harus ngantar lo sampe atas, disini bahaya, banyak cowok mesum!" mereka sudah berada didalam lift.
Celine hanya tersenyum getir mendengar itu.
"Gue nggak perlu takut, karena bahaya itu bisa datang ke gue kapan aja, walaupun gue udah didalam kamar. Apa bedanya sama lo, Kak? bukannya lo yang lebih bahaya sekarang?"
Celine berjalan cepat keluar dari lift meninggalkan Ray begitu saja. Ray masih memikirkan kalimat-kalimat Celine barusan, benar yang dikatakan gadis itu bukankah dia lebih berbahaya?
Ray masih berjalan pelan dibelakang Celine, saat tiba didepan pintu apartemen, Celine mulai menekan tombol kode pengaman. Ia masuk tanpa memperdulikan Ray, kemudian berbalik melihat Ray yang masih berdiri didepan pintu. "Lo masuk nggak Kak? kalau nggak gue tutup nih."
Ray tidak menjawab, ia maju beberapa langkah. Kedua telapak tangannya ia satukan dengan pipi Celine, kemudian mengecup bibir gadis itu tanpa ampun. Mata Celine membulat, mengerjap beberapa kali, memang ini bukan yang pertama kalinya Ray melakukan itu padanya.
Namun Celine merasakan ada yang berbeda, ada emosi saat Ray melakukannya. Celine mendorong keras tubuh Ray saat ia mulai kehabisan oksigen. Ray pun melepas pagutan bibirnya dari bibir Celine.
"Kak, elo kenapa sih?" sambil mengusap bibirnya sendiri yang basah karena perlakukan lelaki dihadapannya.
"Jangan pernah berpikir buat ninggalin apartemen ini!"
"Emangnya kenapa?"
Celine mulai berpikir mungkin Ray marah karena ia ingin mengakhiri kesepakatan mereka begitu saja. Tapi, menurutnya tidak ada yang salah kan dengan hal itu? harusnya Ray senang kan karena Celine tidak akan menyusahkannya lagi.
Apa Kak Ray nggak rela gue tinggalin? untuk sesaat, hati Celine tersentuh memikirkan kemungkinan itu.
"Siapa yang bakalan bersih-bersih disini nanti kalau lo nggak ada?"
Celine tersenyum lagi, bodoh sekali ia berpikir Ray akan semanis itu. Ternyata ia hanya khawatir tidak ada yang membersihkan dan menjaga apartemen ini?
"Duit lo banyak Kak, lo kan bisa nyewa jasa petugas kebersihan," Celine berbalik, berjalan hendak menuju kamar. Tujuannya adalah untuk melanjutkan kerjaannya yang tertunda tadi. Tapi apa otaknya bisa berpikir dalam keadaan seperti ini.
Celine menutup pintu kamar, ia benar-benar tidak memperdulikan Ray. Ia raih kembali laptop diatas meja sebelum duduk diatas ranjang, ia tidak mau membuang-buang waktu, semakin cepat ia menyelesaikan proposalnya, maka semakin cepat juga urusan kuliahnya selesai.
Nggak ada waktu lagi buat main-main Cel, nggak usah mikirin yang nggak penting. Sambil menekan tombol power pada laptopnya.
Ray kembali melajukan mobilnya, tujuannya adalah Red Velvet. Salah satu bar dan club malam favoritnya, dan saat ini ada beberapa teman yang menunggu kehadirannya disana. Sudah hampir dua minggu ia tidak pernah menerima ajakan teman-temannya, namun kali ini ia tidak mau menolak mengingat mereka selalu mengejek dan mengolok-ngolok dirinya dengan sebutan 'anak mami' atau 'si Ray takut Mama'.
Padahal, bukan itu alasan Ray. Ia punya alasan lain, apalagi kalau bukan karena ada Celine di apartemennya, tentu ia memilih bersama Celine meski belum bisa ia tiduri.
------------------------
"Nih si kampreet padahal masih lajang, tapi udah jarang aja keluar malam," celetuk Marvel salah satu teman Ray, saat lelaki itu sudah bergabung dengan mereka.
"Kita yang udah punya bini aja masih bisa keluar, asal pintar nyari alasan, lah dia?" sahut Jovia.
"Lo pada nggak tau sih, dia udah ada perliharaan di apartemennya. Cantik coy!" Erick yang sudah tahu menahu soal itu, tentu membuka suara.
"Diam! lo pada tau apa soal masalah gue?" Ray duduk ditengah-tengah mereka, meneguk salah satu minuman yang sudah tersedia disana.
"Masa? asik dong bisa pake kapan aja? gue kira dia takut dimarahin Mama," Marvel.
"Gimana rasanya si Celine?" tanya Erick.
Ray tidak menjawab, ia meneguk habis minuman beralkohol dihadapannya tak bersisa.
"Semakin gue kenal tuh cewek, semakin gue nggak tega buat nidurin dia, aneh kan?" pernyataan sekaligus pertanyaan dari Ray.
"Lo mau nidurin dia jangan bayaingin si Mytha dong, ya jelas bedalah," sahut Marvel, kemudian disambut gelak tawa oleh yang lainnya.
"Nggak usah bawa-bawa masa lalu gue, setaan. ini nggak ada hubungannya ama Mytha!"
"Oke, mungkin lo nggak tega karena masih Celine masih bocah kali Ray! makanya nyari yang gedean dikit." Erick menepuk-nepuk bahu Ray.
"Kayaknya si dosen yang biasanya selalu pake logika, sekarang udah mulai pake perasaan,"
Seketika kalimat yang dilontarkan Jovia membuat yang lainnya kembali tertawa. Baiklah saat ini kehadiran Ray adalah untuk di olok-olok oleh mereka.
"Perasaan? sejenis cinta? sorry ya gue nggak mau lagi dikelabui sama yang namanya cinta-cinta sialaan!" Ray tidak terima jika apa yang ia rasakan pada Celine sekarang adalah perasaan yang lebih dari rasa kasihan, apalagi cinta?
------------------------------------
Udah ya nih dua episode loh. Jangan lupa diramaikan. 😜