Mohon anak-anak di bawah usia tidak membaca cerita ini, terima kasih :)
Calissa mencoba melarikan diri, setelah dirinya di paksa oleh menikah dengan seorang lelaki bernama Brian. Calissa tahu, jika Brian adalah sosok lelaki kasar dan sangat suka main tangan.
Untuk menghindari pernikahan paksa, Calissa nekad melarikan diri dari rumah. Gadis muda berusia 21 tahun, yang begitu polos dan bahkan tidak mengenali dunia luar.
Hingga dia bertemu dengan sang mantan kekasihnya, Arsen. Dan menerima tawaran untuk tinggal bersamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Twenty Two : hukuman ??
Calissa sebenarnya masih sedikit mengingat bagaimana ekspresi Arsen saat menembak perempuan yang menyamar menjadi pelayan itu hendak melarikan diri, tanpa sengaja Calissa melihat Arsen tersenyum menyeringai di sana, meskipun senyuman licik itu terlihat sangat tipis dan hampir tidak terlihat di sana. Tapi itu benar-benar sedikit menganggu perasaan Calissa mengenai sosok Arsen yang sebenarnya.
Ya, Calissa tahu jika Arsen dari dulu sangat menyukai kekerasan, menjadi genk pembully yang ada di sekolah, bertengkar dengan orang lain, tapi Arsen bukan pembully yang melakukan penindasan pada sosok nerd atau kutu buku yang lemah, melainkan kepada pembully lain yang menindas murid yang lemah. Biasanya anak seperti Brian yang bertingkah brengsek dan sok jagoan itu yang menjadi sasaran Arsen.
Tapi semenjak Arsen masuk ke dalam penjara, karena di duga melakukan penjualan obat-obatan terlarang, semenjak itu Calissa kehilangan kontak dengan Arsen, karena dilarang untuk bertemu atau mengunjungi Arsen di penjara. Padahal Calissa sempat berfikir untuk mengunjungi mantan kekasihnya tapi karena dilarang, jadilah gadis itu tidak jadi melakukannya. Dan dia tahu kehidupan penjara sangatlah berat bagi lelaki berusia 19 tahun, tapi karena Arsen berasal dari kaum biasa, keluarganya tidak mampu membiayai atau menyewa pengacara untuk meringankan hukuman Arsen saat itu.
Mungkinkah Arsen mengalami kehidupan dan kekerasan di penjara, membuat lelaki itu memiliki sifat misterius dan justru tampak berbahaya. Mengingat ini semua, membuat Calissa bahkan tidak bisa tertidur dan tetap terjaga. Bahkan rasa penasaran membuat Calissa memiliki keinginan yang kuat untuk nekad masuk ke dalam ruangan rahasia milik Arsen.
Apakah Arsen akan marah, jika aku masuk ke dalamnya ?? Batin Calissa dengan rasa penasaran dan bingung, tapi gadis itu memutuskan untuk melakukan keinginannya itu. Dia akhirnya bangkit dari tempat tidurnya, dia ingat, jika Arsen akan kembali pulang malam hari ini. Gadis itu kemudian membuka laci meja, entah kenapa ada keinginan untuk membawa masker dan memasukkan ke dalam kantongnya.
Dengan penuh keyakinan, Calissa membuka pintu kamar secara perlahan, tidak ada siapapun di sana. Semua aman, suasana begitu sepi dan terlihat tidak ada seorang pelayan pun yang masih bekerja, semua barang sudah rapi, itu artinya para pelayan sudah selesai bekerja, dan mulai beristirahat di kamar masing-masing. Calissa menutup kembali pintu kamar memastikan tidak akan ada yang curiga sedikitpun.
Barulah, Calissa melangkahkan kakinya menuju ke ruangan yang sudah dia ketahui lokasinya. Setelah menemukan ruangan itu Calissa melihat lampu ruangan itu menyala, gadis itu secara perlahan membuka pintu, tidak ada suara dari pintu yang terbuka, memudahkan Calissa untuk bisa mengendap-endap tanpa ketahuan. Gadis itu melihat ruangan itu penuh dengan bercak darah, meskipun di depan ruangan terdapat lampu, tapi beberapa bagian lainnya sangatlah gelap, dan itu bukan hanya sekedar kamar biasa.
Melainkan berisikan beberapa lorong, Calissa mengikuti lorong itu, melewati beberapa kamar kosong, dan pastinya di dalam lorong itu isinya sangatlah amis, beruntung Calissa sebelumnya sudah berjaga-jaga membawa masker sebelum dirinya keluar kamar. Gadis itu menutupi hidungnya dengan masker, meskipun aroma amis darah tetap tercium, setidaknya sedikit tertutupi dengan masker.
Calissa kembali berjalan menuju ke arah ujung lorong, yang dimana terlihat sebuah ruangan aneh, yang di sana terdapat pintu lagi. Calissa kemudian membuka pintu ruangan itu, dan terkejut bukan main melihat beberapa kursi dan kasur, kemudian meja yang penuh dengan benda tajam yang berlumuran darah. Semuanya begitu penuh dengan darah, di tambah beberapa potongan tubuh atau anggota badan seperti tangan dan kaki, membuat Calissa merasa sangat miris, dia hendak kembali melangkah mundur, tapi..
“Kau benar-benar sangat nakal, Calissa..”
Calissa membulatkan matanya, melihat Arsen di belakangnya, tangannya berlumuran darah dan juga kaos yang dia kenakan juga terkena cipratan darah, tangannya membawa sebuah pisau lipat yang juga sama berlumuran darah. Arsen menyeringai licik, membuat Calissa merasa sedikit dan terancam. Dia bisa melihat sisi lain Arsen yang ada di depannya. Calissa memundurkan kakinya secara perlahan, sementara Arsen terus melangkah maju.
Calissa tidak menyadari jika di belakangnya terdapat meja, yang beruntung tidak ada alat apapun di sana, karena meja di ruangan itu ada dua. Satu meja penuh alat menyeramkan dan berlumuran darah, sementara satu hanya meja biasa yang masih bersih. Tubuhnya terkena meja yang masih bersih itu, hingga membuatnya terhimpit.
“Ar..Arsen...” Calissa merasa gugup dan tidak bisa melakukan apapun lagi.
Arsen menaruh benda dari tangannya ke meja, kemudian mengurung Calissa dengan meja menggunakan kedua tangannya itu.
“Harus dengan hukuman apalagi, Calissa ??” Ujar Arsen dengan nada pelan dan penuh penekanan.
“A...aku...”
“Aku akan menghukummu disini, sayang..” Ujar Arsen menyeringai licik.
...
Calissa tidak tahu, kenapa dirinya merasa sedikit ketakutan tapi juga bingung. Arsen mengikat kedua tangan Calissa dan kakinya dengan tali yang diikat di setiap kaki meja di bawahnya. Calissa berbaring di atas meja, yang meskipun keras tapi dia tidak berani untuk memberontak karena tatapan dan juga ekspresi wajah Arsen untuk saat ini, mirip seperti psikopat yang ada di film. Calissa tidak tahu, apakah Arsen akan menghukumnya atau tidak.
“Ar..Arsen.. Ke..kenapa kau mengikatku ??”
“Kita, akan melakukannya disini.” Ujar Arsen menyeringai licik.
Mata Calissa membulat sempurna, Arsen mendekati Calissa, berdiri di sebelah meja itu, kemudian menggunakan pisau lipatnya dia merobek pakaian yang dikenakan oleh Calissa sehingga membuat tubuh indah perempuan itu kembali terekspos. Calissa sedikit ketakutan, tapi tangan Arsen mencoba menenangkannya, dengan membelai lembut rambutnya.
“Tenang..”
“Arsen.. Di..disini.. ?? Kau.. Kau yakin.. ??”
“Sebagai hukumanmu.”
“Ma..maafkan aku..”
“Ssttt..”
Dan malam itu, akan menjadi malam yang tidak akan pernah terlupakan untuk Calissa karena sensasi yang tidak biasa itu kembali terjadi, dan kali ini dengan posisi yang sebenarnya sangatlah tidak nyaman baginya. Dan posisi ini benar-benar membuat punggungnya sakit. Tapi Arsen sepertinya sangat bergairah dan begitu senang dengan posisi ini.