Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Kinan Berhenti Mengejar
Beberapa hari kemudian setelah kejadian di mall, Oca dan Andira sempat khawatir kalau Kinan bakal terus murung. Tapi sahabat mereka itu justru terlihat baik-baik saja. Kinan masih makan siang bareng seperti biasa, masih tertawa setiap kali mendengar candaan Andira, bahkan masih ikut heboh kalau ada gosip baru di sekolah.
Tapi perlahan, Oca mulai menyadari ada satu hal yang berubah dari diri Kinan.
Gadis itu sudah tidak pernah lagi menghampiri ruang OSIS sepulang sekolah hanya untuk menunggu Devan menyelesaikan rapat. Ia juga berhenti mengirim pesan menanyakan apakah Devan sudah makan atau belum. Bahkan saat bel pulang berbunyi, Kinan kini lebih memilih pulang bersama Oca dan Andira, atau sesekali naik bus sendirian tanpa memberi kabar lebih dulu.
Awalnya Oca mengira perubahan itu hanya bertahan satu atau dua hari. Namun ternyata tidak. Sudah hampir seminggu, Kinan benar-benar menjalani harinya seperti biasa tapi tanpa melibatkan Devan.
Seperti pulang sekolah hari ini. Kinan sudah lebih dulu pulang naik bus, meninggalkan Oca dan Andira yang masih berjalan menyusuri koridor sekolah.
"Lo sadar nggak sih, udah hampir seminggu Kinan nggak pernah nyebut nama Devan sama sekali?" celetuk Oca akhirnya.
"Iya sih, gue juga ngerasa gitu," jawab Andira sambil mengangguk pelan.
"Dulu tiap hari ada aja yang dia ceritain. Entah Devan lagi rapat, lagi sibuk, atau cuma karena dia sempat ngobrol bentar sama Devan."
Andira mengangguk pelan, "rasanya sekarang dia malah nggak pernah nyebut nama Devan lagi.”
Oca mengembuskan napas pelan.
"Awalnya gue khawatir dia bakal terus kepikiran. Tapi sekarang malah kebalik."
Andira menoleh ke arah Oca. "Maksud lo?"
"Gue seneng dia udah bisa ketawa lagi. Tapi di sisi lain... gue juga ngerasa dia berubah."
Andira terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Menurut gue bukan berubah, dia cuma capek."
Oca menoleh menatap sahabatnya.
"Capek terus-terusan berharap sama orang yang nggak pernah benar-benar ngelihat usaha dia."
Kalimat itu membuat Oca terdiam. Ia tidak bisa membantah karena selama ini ia sendiri melihat bagaimana Kinan selalu berusaha meluangkan waktu untuk Devan, sementara Devan lebih sering tenggelam dalam kesibukan OSIS.
"Mungkin ini lebih baik buat Kinan," gumam Oca pelan.
"Iya," sahut Andira. "Kalau terus dipertahanin juga yang capek Kinan doang."
Mereka kembali melanjutkan langkah menuju gerbang sekolah sambil masih membahas Kinan. Mereka berdua sama-sama berharap, keputusan Kinan untuk berhenti mengejar Devan memang bisa membuat sahabat mereka itu benar-benar bahagia.
______
Di sisi lain, Devan juga mulai menyadari perubahan sikap Kinan. Gadis itu seolah sengaja menjaga jarak darinya, dan entah sejak kapan perubahan itu kini mulai mengganggu pikirannya.
Seperti biasa, hari ini Devan masih berada di ruang OSIS bersama beberapa pengurus. Tumpukan berkas di atas meja sebenarnya belum selesai ia periksa, tetapi pikirannya sama sekali tidak fokus karena bayangan Kinan terus memenuhi kepalanya.
Pada akhirnya, Devan memilih berdiri lalu melangkah keluar dari ruang OSIS.
Olivia yang sejak tadi sedang merapikan beberapa berkas langsung mengernyit heran. Biasanya Devan adalah orang terakhir yang meninggalkan ruangan, namun kali ini pekerjaannya bahkan masih belum selesai.
"Lo mau ke mana, Van?" tanya Olivia bingung sambil refleks meraih pergelangan tangan Devan.
Devan yang merasakan tangannya ditahan langsung melepaskannya dengan satu sentakan pelan. Tatapannya tetap datar saat beralih ke arah Olivia.
"Ada urusan," jawabnya singkat.
Olivia mengernyit. Pandangannya bergantian antara Devan dan tumpukan berkas di atas meja.
"Tapi ini kan belum selesai."
"Biasanya juga lo bisa nyelesain semuanya tanpa gue," balas Devan tanpa mengubah ekspresinya.
"Iya, tapi—" Olivia mencoba menyela.
"Gue buru-buru.”
Setelah mengatakan itu, Devan langsung berbalik dan keluar dari ruang OSIS tanpa menunggu jawaban Olivia.
Langkahnya menyusuri koridor sekolah dengan cepat. Tatapannya berkeliling, mencari sosok Kinan yang belakangan ini selalu menghindarinya.
Namun ketika hampir tiba di ujung koridor, yang ia temukan justru Oca dan Andira sedang berjalan berdua menuju gerbang sekolah.
Kening Devan berkerut pelan. Kinan tidak terlihat bersama mereka.
Tanpa menghampiri keduanya, Devan langsung mengubah arah langkahnya menuju parkiran motor.
Sesampainya di sana, ia segera mengenakan helm lalu menyalakan mesin motornya. Beberapa detik kemudian, motor itu melaju keluar dari area sekolah.
Mengejar bus yang membawa Kinan pulang.