Berkisah mengenai cinta lama bersemi kembali antara Tere dan Darryl yang sebelumnya berstatus sebagai kekasih masa muda (alias cinta monkey). Tere dan Darryl bertemu kembali dinegeri yang Tere singgahi saat pertukaran pelajar setelah 10 tahun kemudian.
Anehnya dalam kisah, Tere amat menyukai revan dan Darryl sudah jatuh cinta pada Cecile. Revan dan Cecile adalah sahabat dekat mereka sejak kecil.
Bagaimana Takdir mampu mengalahkan friendzone yang tegas mengukir cinta diantara kempat tokoh ini?
yuk mampir, dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The End
Cecile terkekeh di hadapan Tere. Ia dan Harry memutuskan untuk menemani Tere selama acara persiapan pernikahan Tere dengan Darryl.
"Cecile, Dia sengaja tidak pernah menghubungiku sejak dia melamarku, dan dia hanya menghubungi papahku saja!" tukas Tere.
"Benarkah dia memperlakukanmu seperti itu juga? tidak menemuimu sama sekali?!" tukas Cecile menyengaja sebuah kegusaran.
Tere mengangguk.
"Dia hanya menemui papahku saat menanyakan persiapan pernikahan kami. Mamahku bahkan sudah bisa beberapa kali bertemu dengannya sampai terlihat sengaja mendeskripsikan warna baju yang Darryl pakai saat mereka bertemu!" protes Tere lagi.
"Mau tau rahasianya?" singkat Cecile.
Tere mulai memandang serius.
"Darryl tidak tau cara menyelamatkan hatinya jika sampai memandang kedua matamu. Hasrat sering bergemuruh, namun tak menyentuh membuatnya semakin tersiksa. Ia lebih takut menatapmu. Suamiku yang mengatakannya, dan Darryl sudah membatasi interaksinya dengan para wanita. Dia ingin mencintaimu tanpa harus membandingkan. Tolong hargai dia seumur hidupmu, itu yang selalu ia butuhkan dalam hidupnya" tukas Cecile seraya tersenyum lebar.
"Aku mulai ingin bertanya, apakah rasanya sangat buruk saat hidup tanpa Darryl yang dulu selalu berada di sisimu?" tanya Tere dengan serius.
"Ternyata tidak. Selama mata tak menatap, maka ternyata hati tak meminta lebih. Kakekku yang telah memilih Harry, maka pandang mata yang lain memang harus kuabaikan. Aku mengikuti restu" tukas Cecile.
"Kamu sudah berubah sangat cepat" tukas Tere tersenyum sendiri.
"Sayangnya semua itu kata-kata dari Darryl saat kami bertemu di negerimu. Ia mengatakannya di sisi Harry tanpa menatapku sedikitpun. Ternyata benar juga, mungkin ini alasan yang tepat mengapa hatiku masih selamat" tukas Cecile.
"Ternayata dia justru membuatku merasa buruk untuk diriku sendiri" singkat Tere.
"Saat itu aku juga merasa sangat buruk, terutama saat sehari sebelum pernikahan. Apakah aku keterlaluan sampai menikahi orang terbaik dalam kekacauan hidupku sendiri?. Harry adalah pria yang sangat baik, meskipun saat itu Darryl yang terbaik, tapi akhirnya aku jatuh cinta pada kesabaran Harry padaku. Maka sekarang aku bisa meyakinkan hal yang sama tentang Darryl juga padamu, dia selalu memperlakukanku seperti ratu dalam dongengnya. Tapi sekarang sudah berbeda. Darryl sudah menemukan kisah nyatanya, dan kamu pantas menjadi Ratu di kehidupan barunya" tukas Cecile dengan hangat.
Tere menarik nafas dalam-dalam.
Tere tidak bisa berhenti tersenyum sendirian saat tirai penghalang mulai memberikan suara beradu dari saksi saat Darryl mengucapkan janji sucinya.
Suara langkah mulai membuat dua hati menjadi tak menentu.
Darryl tersenyum lebar setelah Tere mendongakkan kepalanya saat Darryl membuka tirai putih yang membatasinya dengan Tere. Akhirnya Darryl baru menyadari bahwa memandang Tere adalah anugerah yang menarik hatinya. Tere tersenyum lebar.
"Aku jatuh cinta" tukas Darryl.
"Bagaimana rasanya?" tanya Tere berbisik.
"Siapkan ruang kedap suaramu" ucap Revan lirih.
Dengan malu Tere memeluk Darryl. Darryl tersenyum lebar.
Seperti inilah pelukan terhangat yang kembali Darryl rasakan dalam hidupnya. Jauh lebih baik menyamakannya seperti saat ibunya memeluknya dulu.
Darryl menatap langit yang sama, lalu sengaja memejamkan mata dan mengingat gadis lugu yang membiarkan kedua matanya menatapnya dalam-dalam.
Tere.
Genggaman tangan menenangkan inilah yang akhirnya bisa Darryl dapatkan dalam waktu yang sudah tepat. Sangat tepat melengkapi celah hati yang kosong dan seringnya tak menentu. Maka disaat inilah kecupan yang paling nyata indahnya bagi Darryl. Terasa jauh lebih indah dari sekadar mengecup batang pohon yang kaku.
"Jangan berbohong. Kamu sudah sering melakukannya dengan banyak wanita yang jauh lebih cantik" tukas Tere dengan spontan.
Sejujurnya aku belum pernah melakukannya pada orang yang belum pernah melakukannya sama sekali. Konsekuensi besar jika harus bertanggung jawab seumur hidup" tukas Darryl.
"Cecile?" singkat Tere.
Darryl tersenyum lebar.
"Harry yang mendapatkan itu untuk yang pertama. Itu terjadi di jauh-jauh hari sebelum kamu datang dalam kehidupan kami. Ternyata aku hanya pemeran ketiga dalam kisah yang lain, kecuali yang ini. Aku harus bertanggung jawab pada wanita ini seumur hidup. Pertama kalinya dalam Tere adalah Darryl" tukas Darryl dengan hangat seraya membelai wajah Tere.
"Apakah pohon Terryl adalah singkatan nama kita? Aku sempat penasaran dengan itu" singkat Tere.
"Aku sengaja menamainya supaya kamu tetap mengingatku jika kamu datang lagi setelah kita dewasa" singkat Darryl.
"Itu tidak mungkin" singkat Tere.
"Memang. Akhirnya justru aku yang terjebak" singkat Darryl
Darryl memejamkan kedua matanya seraya membelai sisi wajah Tere. Tere memejamkan kedua matanya dan Darryl terkekeh. Tere membuka kedua matanya seraya tersenyum lebar. Tere tak menggubris. Ia tetap mengecup Darryl tanpa izin.
Tere segalanya.
Bukan. Darryl segalanya ketika Tere mengangkat tangannya keatas langit. Celah jemarinya sudah terisi dengan keyakinan. Seperti inilah cara menggenggam dan merasakan detak jantung yang selalu merasa hidup. Tere pun tak pernah sampai seyakin ini hingga secara sembunyi-sembunyi mulai mengidolakan Darryl.
Tere melirik seraya tersenyum lebar sendirian.
Darryl mempersilahkan tamunya masuk dan ponselnya berdering.
Maaf hanya sebentar. Silahkan duduk singkat Darryl seraya menunjuk ponselnya yang masih berdering.
Sayang bisakah menelpon nan?...Oh halo kesayangan papah tukas Darryl dengan spontan tersenyum setelah Tere memperlihatkan putri kecilnya yang sedang tersenyum lebar melalui panggilan Video.
Ponsel bergerak, wajah putri Darryl berganti menjadi ekspresi wajah papah Tere yang datar. Papah Tere mengambil ponsel Tere tiba-tiba seraya menghentikan panggilan videonya.
Oh inilah yang membuatku mudah mencintai papah mertua tukas Darryl dalam hati setelah menghela nafasnya. Darryl mulai menyambut hangat tamu bisnisnya tanpa gangguan yang sengaja Tere lakukan.
Papah baru menyadari bahwa restu dariku justru akan membuatnya lebih repot karenamu! singkat papah Tere dengan serius menatap Tere tajam-tajam.
“Dia bahagia jika mendengar suaraku kakek, dan papahku sangat mencintai ibuku seperti Raja dan Ratu tukas Tere meledek seraya menggerakkan tangan putrinya dan membuat suara tiruan anaknya.
Tapi tidak saat dia sedang bekerja! Oh rasanya aku mulai mengingat masa lalu saat ibumu sering melakukan itu juga! singkat papah Tere seraya beranjak dari tempatnya.
Tere tersenyum dan ibunya hanya menggeleng seraya terkekeh.
Jika ada yang bertanya apakah Darryl mudah merubah prinsipnya seperti dulu lagi?. Maka jawabannya tidak. Darryl mencintai dengan tulus, hingga menyatu bersama jiwanya juga secara utuh. Itulah satu-satunya alasan yang mudah menuntun hati mengidolakan seseorang.
Seperti inilah cinta.
Cinta telah tertulis bersama ketetapan semesta. Meski mustahil adalah alasan terbesarnya, namun garis takdir pasti mampu menuntun seseorang menemui belahan jiwanya.
Ada belahan jiwa yang di dekatkan sejak awal, namun ada yang datang begitu saja seperti sebuah ledakan hebat yang mengacaukan. Tapi intinya justru tak perlu menjaganya sekuat tenaga saat semua belum pasti, intinya hanya butuh penyisipan doa dan dia yang akan menemukan jalannya sendiri.
Masalah lain setelah ikrar janji itu pasti, tapi komitmen adalah dasar terkuat untuk saling memahami dan menghargai. Bukankah kita tau kuncinya?
Sang hati. ♥♡♥
"Keriputnya sudah terlihat sampai ke tanganku. Cepat sekali rasanya, dan rasanya aku harus menerima tawaran Terryl untuk melakukan perawatan" singkat Tere seraya meletakkan segelas susu untuk Darriel.
"Tidak perlu. Menurutku kamu justru semakin menarik kalau seperti ini" singkat Darryl mulai menoleh dan tersenyum lebar memandang wajah Tere.
Darryl masih memegang koran di tangannya, seraya sesekali melihat notifikasi di ponselnya yang diletakkan diatas meja.
Pandangan Tere mulai berubah, dan Darryl spontan menatapnya heran juga.
"Ada apa?" tanya Darryl heran.
"Ini masa puber keduamu ya?!" tanggap Tere serius.
"Memangnya ada?" tanya Darryl.
"Ada. Jadi kamu jangan berani melirik siapa-siapa di luar sana ya! Kalau aku tidak cantik lagi, kamu harus bilang ya? Model bajuku masih cocok denganku kan?" singkat Tere.
Darryl tertawa.
"Hmm kalau begitu, tolong yang ini. Di sebelah sini supaya aku tidak melirik siapa-siapa?" tukas Darryl seraya menunjuk pipinya.
Tere tersenyum lebar seraya mengecup Darryl.
Teriakan mulai terdengar, dan lincah bocah kecil membuat suasana halaman belakang yang sepi kembali hidup.
"Cecile! Harry! Revan! Berikan salam pada kakek dan nenek! Cepat!" tukas wanita muda yang mewarisi senyuman Darryl dan pandangan mata yang indah seperti Tere. Suami wanita muda itu mulai mencium tangan Tere dan Darryl dengan sopan menanyakan kabar. Tere dan Darryl tersenyum lebar.
Tere menggenggam jemari putrinya dengan spontan.
"Terryl, katanya mamah tidak perlu mengikuti perawatan itu" singkat Tere pada putrinya.
Darryl dan Terryl spontan tertawa.
Darryl mulai bernajak menghampiri suami putrinya yang sedang bermain bersama cucu-cucunya.
Semoga semua tetap indah hingga selamanya, bahkan setelah bumi ini...
Selesai~♥~