NovelToon NovelToon
AZKA&ANNA

AZKA&ANNA

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Kembar / Teen School/College / Persahabatan / Tamat
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫

.
.
Season 3 :

Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:

" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "

Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :

"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"

Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Aulia, Vanesha, Baldwin, Zahida, Azka, dan Anna, sudah berada di pinggiran Masjid Agung Deli serdang. Aulia, dan Vanesha duduk di pinggiran air pancur berada di halaman Masjid Agung Deli serdang, mengawasi Baldwin, Zahida, Azka, dan Anna sedang berdiri di depan air pancuran.

Sejenak hening, detik selanjutnya Vanesha memulai pembicaraan.

“Aulia, maaf aku ikut campur dengan urusan rumah tangga kamu. Aku hanya ingin memberitahu kamu satu hal yang sampai 5 tahun ini aku ketahui mengenai masalah kamu. Azzuri dan Zalfa, bukanlah Suami-istri, dan Zalfa juga sebenarnya tidak mengandung anak Azzuri. Aulia, kamu sudah termakan, dan terhasut oleh ucapan Zalfa,” Vanesha menggenggam tangan Aulia, “Sebaiknya kamu kasih kesempatan Azzuri untuk menebus semua kesalahannya ke kamu. Selama 5 tahun ini, bukan hanya kamu saja yang terluka dan hampir putus asa. Azzuri juga, dia seperti orang gila mencari kamu, dan anak di dalam kandungan kamu. Dia berulang kali menjumpai Alexdian, bertanya kemana kamu berada. Menjumpai tuan Agung, bertanya dengan hal yang sama. Dan terakhir menjumpai Venus, Venus yang tak tega hanya bisa mengatakan jika kamu tinggal di Sumatera Utara. Dari sejak itulah Azzuri langsung menghubungi pihak satelit, menanyakan dimana titik lokasi kamu,” jelas Vanesha sedikit memberitahu Aulia tentang usaha, dan semua kebenaran mengenai hasutan Zalfa.

“Kamu tahu darimana Azzuri melakukan itu semua?” tanya Aulia menatap Vanesha duduk di sisi kirinya.

“Aku adalah seorang model, dan aku banyak tahu mengenai kebusukan Zalfa. Dia bukanlah model yang baik, Zalfa itu bermuka dua, dan penuh tipu daya. Mengenai Azzuri, aku hanya mengetahui dari Alexdian. Setiap Azzuri datang mencari mu, Alexdian membicarkannya kepadaku. Waktu kamu pergi semua orang seperti berduka,” Vanesha tidak melanjutkan ucapannya, karena jika mengingat kejadian 5 tahun lalu akan membuat hatinya kembali bersedih.

Aulia memegang tangan Vanesha, “Terimakasih atas saranya. Aku akan pikirkan itu lagi,” ucap Aulia sendu.

Vanesha hanya tersenyum.

“Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Perasaan dulu kita baru bertemu saat mendiang Andra masih ada. Tapi sekarang kita bertemu untuk yang kedua kalinya saat aku, kamu, dan tante Ningrum, sudah memiliki anak. Mana umur anak kita hampir seumuran semua,” ucap Aulia di sela tawa pelannya.

“Iya-ya. Perasaan aku dulu masih terus mengejar-ngejar Alexdian, yang masih terus mengejar Mama kamu, tante Marsya. Eh…sekarang sudah menjadi suami, dan sudah memiliki anak. Mana Baldwin mirip banget dengan Alexdian. Genit, dan tak takut dengan siapa pun,” Vanesha menggeleng, dan tertawa, “Ha ha ha..sangat persis seperti Alexdian waktu muda dulu,” sambung Vanesha.

“Ha ha ha….kamu mau tahu awal mula aku berjumpa dengan Azzuri? Waktu aku kembali ke Paris setelah liburan ke tanah air, aku dapat undangan. Aku di undang oleh tuan muda Alexdian, awal mula perjumpaan denganku baik, ramah, ok lah. Lama-lama saat ia cerita ini dan itu. Ternyata tuan muda Alexdian ada seorang pebinor dulunya. Mengejar-ngejar Mama, lucu banget kan? Dan di sana aku paling sebel saat bertemu dengan Azzuri. Gaya awal jumpanya itu stel dingin, dan cuek, ujung-ujungnya terus mengejar aku, sampek muak. Kalau kamu lihat Azka yang sok cool dan cuek, seperti itulah Azzuri dulunya,” ucap Aulia mengingat awal mula perjumpaan mereka.

“Kalau ingat-ingat dulu jadi lucu, ya?”

“Iya, ha ha..” angguk Aulia dengan tawa renyahnya.

Tak berapa lama Baldwin, Anna, Zahida, dan Azka, berjalan mendekati Aulia dan Vanesha. Anna, Azka, dan Zahida, menatap Baldwin dengan tatapan jijik.

“Kenapa kalian menatap Baldwin seperti itu?” tanya Aulia.

“Beyak, Mami…Balwin (Baldwin) beyak (berak),” sahut Anna dengan wajah polosnya.

“Kamu pup?” tanya Vanesha mendekati Baldwin.

Baldwin mengangguk dengan wajah takut-takut.

“Kenapa kamu nggak kasih tahu Mama?” tanya Vanesha.

“Ndak enak minta pulang saat melihat Anna lagi senang lihat pancuran,” sahut Baldwin dengan suara pelan.

“Sebaiknya kita pulang saja, lagian hari mulai sore,” ajak Aulia.

“Nggak apa-apa nih Baldwin naik mobil kamu? Dia lagi pup, loh?”

“Nggak apa-apa, namanya juga anak kecil. Lagian pakek pampers 'kan?” Aulia berdiri, “Sudah ayo kita pulang,” ajak Aulia, berjalan menuju parkiran mobil.

Sesampainya di parkiran mobil. Aulia, Vanesha, Zahida, Azka, dan Anna, masuk ke dalam mobil, duduk di kursi depan. Anna sendiri di pangku oleh Aulia. Sedangkan Baldwin dan Vanesha duduk di belakang. Tidak ingin mengotori mobil Aulia, Baldwin memutuskan untuk berdiri saja.

Mobil pun kini perlahan melaju menuju rumah Aulia, tak jauh dari alun-alun lubuk pakam. Tak sampai 20 menit mereka sudah sampai di parkiran rumah ruko milik Aulia. Vanesha sendiri langsung membuka pintu, mengangkat Baldwin, berlari menuju ke kamar mandi. Diikuti Azka, Anna, dan Zahida, berlari di belakang.

Aulia sendiri masih di dalam mobil, ia terus memandangi mobil Fortuner hitam seperti milik Azzuri. Penasaran dengan pengelihatannya, Aulia pun segera turun, berjalan masuk melalui pintu samping. Sesampainya di depan pintu samping, Aulia melihat ada sandal hak tinggi milik wanita, dan di sampingnya ada sepatu pansus cowok berwarna bata. Pansus cowok mirip dengan milik Azzuri.

Hal itu membuat Aulia semakin penasaran. Bergegas ia masuk, memakai sandal rumah, kedua kakinya terus berjalan memasuki ruang tamu. Dan benar saja, sesampainya di ruang tamu, Aulia melihat Azzuri dan Zalfa. Duduk di antara Ningrum, Marsya, Tarjok, tuan Agung, dan tuan muda Alexdian.

Darah Aulia mendadak menggelegar, melihat Zalfa tersenyum penuh maksud kepadanya.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Aulia dingin, Zalfa langsung menutup senyumnya, dan tertunduk.

“Sesuai janjiku, aku sudah membawa Zalfa kehadapan kamu,” Azzuri menatap Zalfa, “Cepat jelaskan!” perintah Azzuri kepada Zalfa.

“Aulia, maafkan aku. Maafkan atas kebohonganku,” pinta Zalfa, ia bersujud di hadapan Aulia.

“Aku akan memaafkan kamu, asal sekarang kau pergi dari rumahku!” usir Aulia, tangannya mengarah ke pintu samping.

“Tapi kau belum mendengar semuanya. Biarkan wanita itu mendengarnya,” pinta Azzuri lembut.

“Aku tidak perlu mendengar ataupun membiarkan seorang penipu menginjak rumahku. Aku sudah percaya sama kamu, dan aku mau wanita ini segera pergi dari rumahku!” tegas Aulia sekali lagi.

“Sebaiknya kamu pergi saja. Jangan buat Aulia semakin marah,” sambung Marsya, mengusir dengan lembut.

Zalfa langsung berdiri, “Terimakasih…terimakasih,” ucap Zalfa, ia langsung berlari, keluar rumah Aulia dari pintu samping.

Aulia kini terlihat berjalan mendekati Azzuri sedang duduk di samping tuan Agung, dan terdengar suara tamparan.

Plaak!!!

“Aulia…kenapa kamu menampar Azzuri, nak?” tanya Marsya, ia langsung berdiri, menahan kedua lengan Aulia dari belakang.

“Tidak masalah nona besar, biarkan Aulia menampar ku hingga ia puas,” bela Azzuri.

“Tapi nak Azzuri…”

Menyadari ada 3 bocah sedang mengintip di depan ruangan, tuan Agung langsung berdiri, mendekati bocah tersebut, Azka, Zahida dan Anna, mereka bertiga diam-diam mengintip.

“Hei, kenapa kalian di sini. Mari main sama Kakek di atas,” ajak tuan Agung.

“Main perang-perangan di atas ya, Kek,” usul Azka.

“Iya,” angguk tuan Agung.

1
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂
kebayang lucunya Anna kalau pas nyerocos kaya gitu.. 🤗🤗🤗
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂: iya 😊😊
total 2 replies
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂
mungkinkah Aulia akan memberikan kesempatan buat seorang ayah untuk kedua anak kembarnya? 🤔
sari. trg: Mungkin kak.

Terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rini Antika
Semangat terus dalam berkarya Kak 💪💪
Shandy
Dali... abang Azka ndak boyeh ya. 😂
sari. trg: ha ha ha....😅
total 3 replies
Denry Deny
gemes
Denry Deny
Semangat
Denry Deny
Om jeyek.
Shandy
masuk dia.... aku penasaran nanti kakak ini pereman
Shandy
Mami... mami cini
Shandy
benar...
Shandy
keren
Denry_Den Den
bocah zaman now
sari. trg: hehehe
total 1 replies
Denry_Den Den
mulut tetangga
Denry_Den Den
cemburu
Denry_Den Den
aku yakin besar nanti Azka pasti jadi pria dewasa yang sopan
Denry_Den Den
,keren
Denry_Den Den
Jangan menyerah
Denry_Den Den
orang Medan ya thor?
Denry_Den Den
Gemes
~~N..M~~~
khas logat medan ya.
sari. trg: Iya kak, main-main dulu ke Medan. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!