NovelToon NovelToon
TEROR LEAK (Jiwa Yang Tergadai)

TEROR LEAK (Jiwa Yang Tergadai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Mata Batin / Tumbal
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.

Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...

Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...

ikuti kisah selanjutnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setra Agung-2

Sementara itu, Wayan Ratri mengesot dengan susah payah. Gerakannya sangat sulit. Ia berjuang setengah mati. “Saras.. hentikan... Ratu Mas Mecaling sudah bangun... semua mati... termasuk gria...”

(gria\=keturunan Brahmana yang dianggap memiliki kekuatan ghaib. )

Saraswati menatap batu palinggih. (Batu Palinggih\= batu yang di ukir bertingkat dan dijadikan tempat meletakkan sesajen)

Wajah palsunya sendiri di batu itu sekarang sedang membuka matanya dengan terbeliak.

Mata itu berwarna merah. Bibirnya bergerak, menirukan omongan Saraswati yang asli.

“Gria... sini... Menyatu dengan saya...”

Ketut Candra tersentak kaget. Ia mulai mengerti. Dengan gerakan cepat menarik Saraswati menjauhi batu palinggih.

“Saras! Taksu kita! Sekarang! Iris tangan! Campur darah! Kalau nggak, kita semua jadi bubuh!” (Bubuh\=bubur)

Saraswati tersadar. Kemudian menggigit bibirnya sampai berdarah. “Aku... aku nggak mau jadi leak, Dadong!”

“Ini bukan jadi leak!” Ketut Candra menghardik. Air mata laki-laki itu tumpah. Tetapi suaranya sangat serak dan berbeda. “Ini demi menyelametkan cucu-cucu kita! menyelamatkan kamu juga!”

DUAAAR!

Petir kedua menyambar. Terkena batu palinggih. Wajah palsu Saraswati di balik batu retak. Dari retakan itu, keluar darah kental berwarna hitam. Kemudian mengalir ke tanah, ke arah kaki Saraswati asli.

Darah itu mendadak hidup. Dan naik ke betis. Rasanya sangat dingin. Seperti sisik ular.

Saraswati menjerit kesakitan. “PANAS! PANAS! AKU TERBAKAR!”

Ketut Candra tak lagi dapat berpikir. Ia mengambil Pisau Taksu.

SREEEK!_

Ia mengiris telapak tangannya sendiri. Darah langsung mengalir, dan mencengkram tangan Saraswati.

Crasssh!

Saraswati juga mengiris tangannya, dan lebih dalam.

“Aaaaa!”

Dua darah menetes, dan menempel diatas tanah.

WUUUSSSHHH!

Trisula di lengan Ketut Candra meledak cahaya putih. Cahaya nyambung ke telapak tangan Saraswati. Dari telapak tangan, itu muncul tato baru dan membentuk bunga teratai.

Kemudian cahaya tersebut masuk ke dalam Trisula milik Saraswati.

Taksu Gria dan Taksu Dalem sudah menyatu.

Ratu Mas Mecaling meraung kesakitan.

“TAKSU CUNDANG! KALIAN CUNDANG!”

Tangan busuk dari tanah langsung menyerbu. Mendadak muncul hingga ratusan tangan.

Ketut Candra berdiri di depan Saraswati. Trisula di tangannya yang semula hanya tatto, kini menjadi nyata, dengan tombak cahaya sepanjang dua meter.

“Saras! Di belakang Dadong! Jaga bayi! Jangan sampai mengejar mobil Satya”

Ketut Chandra memutar tombak. _

WUUUNG! WUUUNG!_

Tiap tebasannya, tiga tangan jadi abu sekaligus. Tapi tangan terus menyembul kembali. Seolah tak pernah habis.

Saraswati melihat ke arah mobil yang di tumpangi oleh Satya dan yang lainnya sudah bergerak pergi.

Di dalamnya, Dwi pingsan, bayi Kadek Cempaka menangis, Nyoman Lingga kakinya sudah hitam digigit tangan setra. Dia nggak bisa diam. Wira sibuk menenangkan bayinya.

Sedangkan Wayan Ratri sedang merangkak menuju ke arah mobil.

Saraswati mengusap darah di tangan ke kain kebaya. Kemudian mengambil banten pejati yang mengeluarkan cahaya berwarna hijau.

Bibirnya merapalkan mantra. Bukan mantra leak. Mantra bidan gria. Mantra kehidupan.

“Ibu Pertiwi... pinjem apine... anggon nulung...”

[Ibu Pertiwi... pinjam apinya... buat menolong...]

Apinya yang tadi berwarna hijau, mendadak berubah menjadi putih, dan terasa hangat. Ia mengambil trisulanya, dan menekan api itu ke ujung trisulanya, dan cahayanya berubah menjadi biru, kemudian melesat dengan cepat, dan membalut mobil tersebut.

Cahaya itu juga melesat menembus mobil, dan membalut kaki Nyoman Lingga yang menghitam karena di gigit tangan busuk.

SYUUUTTT!

 Luka Nyoman menutup. Hitamnya menghilang. Bayi Kadek Cempaka juga berhenti menangis.

“Bisa...” Saraswati terkaget. “Taksuku... bukan buat nyakitin... Tapi mengobati” ucapnya dengan senang. Bahkan ia dapat menembus pandangannya ke dalam mobil.

Syuuut!

Kembali cahaya yang keluar dari trisula milik Saras menghantam tangan-tangan busuk yang menyembul, dan langsung terbakar menjadi abu.

Wayan Ratri tertawa dari bawah pohon. Darah hitam masih di mulut. “Bodoh... Gria nggak pernah leak... Gria itu penyeimbang... Tapi telat... Ratu sudah bangun...”

Semantara itu, Ratu Mas Mecaling mengamuk. Dia menginjak tanah.

BUM!

Setra Agung terbelah. Kuburan terbuka. Kerangka bangkit dan berdiri semua. Mata bolong menyala merah.

Ratu menunjuk ke arah Saraswati.

“KAU... WAJAHKU... KAU PENGANTIKU... 200 TAHUN AKU TUNGGU GRIA LAHIR... TUBUHMU ADALAH TUBUHKU!”

Saraswati mengerti sekarang. Wajah di palinggih itu bukan kebetulan. Leluhurnya, Gria pertama, pernah mengikat perjanjian ghaib dengan Ratu Mas Mecaling agar di beri desa yang subur, dan balasannya adalah keturunan leluhur yang berjanji akan jadi pengantin Ratu Mas Kecaling setiap 200 tahun.”

Dan sekarang... gilirannya Ratu Mas Mecaling menagih janji dua ratus tahun lalu. Saraswati yang merupakan keturunan terakhir dari leluhur Gria harus menikah dengan Sosok bertaring panjang.

Ketut Candra sudah merasakan nafasnya tersengal . Tombak cahayanya mulai retak. “Saras! Lari! Dadong tahan!”

Saraswati melihat ke arah Kadek Cempaka. kemudian melihat ke arah mobil yang berjalan seperti lambat, seolah ada yang menahan.

Saat melihat Ketut Candra yang sudah siap untuk mati.

Ia mengambil Pisau Taksu. Bukan untuk mengiris tangan. Tetapi ia mengarahkannya ke jantung sendiri.

“Kalau aku mati, perjanjian batal kan, Ratu Mas Mecaling?!”

Ratu Mas Mecaling berhenti. Matanya menyipit.

“MATI... PERJANJIAN BATAL... TAPI DESA MATI JUGA... KUTUKAN TETAP JALAN... TANPA GRIA... TANPA PENYEIMBANG... SEMUA JADI LEAK...” jawab suara serak tersebut.

Saraswati di hadapkan pada pilihan. Apakah ia memilih untuk hidup, jadi pengantin Ratu Mas Mecaling. Maka desa akan selamat, tetapi Saras akan jadi leak abadi.

Sedangkan jika ia memilih mati, maka perjanjian akan batal. Tetapi desa akan terkena kutukan, semua jadi leak, termasuk bayi.

Ketut Candra berteriak, “JANGAN, SARAS!”

Saraswati menangis. Pertama kali ia menangis. Sungguh pilihan yang sangat sulit.

Perlahan ia tersenyum. Senyum seorang bidan. Senyum orang yang sama saat menolong ibu yang akan melahirkan.

“Dadong... ajarin Saras... Bagaimana cara jadi Gria yang benar...”

Ia membuang pisau ditangannya. Kemudian maju. Ke arah Ratu Mas Mecaling.

Tangannya mengangkat ke atas. Tato Padma (Tato bunga melati) di telapak tangan menyala.

“Aku nggak jadi pengantin. Aku nggak mati. Tetapi... Aku jadi... dokter Kandungan yang siap melayani masyarakat.”

Saraswati menempelkan telapak Padma alias bunga teratai ke dada Ratu Mas Mecaling.

ZRAAAAATTTT!!!

Cahaya putih dan hijau bercampur. Sesaat suara ledakan terjadi. Tetapi tidak panas. Berubah menjadi adem.

Ratu Mas Mecaling menjerit. Jeritannya sangat kencang.

NGIIIIIIKKKKKK!!!

Tubuhnya terbakar dari dalam. Asapnya tidak hitam. Melainkan berwarna putih. Dan bau dupa.

“TAKSU... GRIA... PENGKHIANAT...”

BLAAARRR!

Ratu meledak menjadi ribuan kunang-kunang. Terbang ke langit. Menjadi sosok yang tetap di puja para manusia.

 Bulan yang tadi menjadi purnama darah, perlahan balik menjadi putih. Purnama normal.

Kerangka yang tadi keluar dan akan menyerang desa, perlahan masuk kembali ke tanah. Kuburan menutup sendiri.

Pohon kepuh yang tadi terbakar, apinya mendadak mati. Hanya meninggalkan hitam gosong.m pada bagian pucuknya karena tersambar petir tadi.

Mendadak menjadi senyap.

Tap!

Wajah palsu Saraswati di batu palinggih jatuh dab pecah.

Saraswati jatuh berlutut. Padma alias teratai di tangannya menghilang. Trisula Ketut Candra juga mati. Jadi tato biasa lagi.

Wayan Ratri melesat pergi, dan entah kemana.

Ketut Candra menghampiri. Kemudian menangkupkan telapak tangannya ke wajah Saraswati. “Saras...”

Saraswati tertawa. Lemah. “Kita... kita nggak jadi leak...”

“Enggak,” Ketut Candra menangis. “Kita selamat.”

1
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
korain ada tambahn up lagi kk siti ruoanya notif
smgt kk 💪💪💪
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
dwi udh paham mkne dia membela saras semua itu terpaksa krn klo tidak mlh cucu mu mati
dasar ya
Tini Nurhenti
nu ws thor
Desyi Alawiyah
Iya Kak..
kinoy
ko JD gini
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: jamgan di baca, Kak.. ada episode yang lepencet. dalam.penghapusan
total 1 replies
Desyi Alawiyah
Semoga hati Kadek Arya terketuk, dan mau menerima Chandra sebagai menantu serta memaafkan Saraswati.. 😌

Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
Desyi Alawiyah
Tuyul? 😯😯😯
neni nuraeni
semoga Kadek Arya cepat luluh hati nya agar merestui pernikhn Saras dan chandra
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
edan ini si arya
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh aq mau si arya menyesal dengan sangat2
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung

kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: ggo opo kk 🤣🤣🤣
total 4 replies
Desyi Alawiyah
Udah deh Arya, jangan keras kepala... Gimanapun juga Saras kan anakmu.. masa kamu tega membenci anakmu sendiri.. 😥
Desyi Alawiyah
Kadek Dharma kali Kak 😄
neni nuraeni
iihhh seruuu lnjuttt
Anggita.🤗
mampir thor, lama gak baca jd kangen othor q. 🤭🤭
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih, Kak
total 1 replies
neni nuraeni
hadeeh si Komang Sinta mlh nylhin anak dan menantunya,,, pdhl mereka mati"an ingin menyelamatkan Kadek darma, kalau memang benci knp DTG,,, kalau sayang restui aja,,, toh anakmu ga knp",,, ih aku ya kasian ma Ketut Chandra ma saras
kinoy
emh..alamat alamat ni mah..Komang sints yg td y baik dah ni mah slh paham ke Saras JD nyalahin dah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh malah jadi incaran saras jadi sasaran kemarahan sang ibu pula
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: hooh g cuma repot tp kuuues tenan
total 7 replies
Desyi Alawiyah
Wayan Ratri yah? 😫😫

Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
Desyi Alawiyah
Waduh 🤣
kinoy
ea..ea..ea
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!