Brianna, gadis berumur 20 tahun. Yang selalu menghabiskan harinya hanya untuk bersenang-senang. Tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi dan hanya menjadi benalu di rumah. Anak tunggal yang pasti akan mewarisi semua harta kekayaan orang tuanya.
Henry, pria dewasa berumur 35 tahun yang belum menginginkan untuk menikah selepas kehilangan tunangannya 10 tahun silam. Olivia yang merupakan tunangannya dinyatakan hilang dan jejaknya tak dapat dicari hingga detik ini.
Abraham yang merupakan ayah dari Brianna menjodohkan putrinya dengan putra dari sahabat lamanya. Berharap setelah menikah Brianna akan berubah menjadi seseorang yang lebih menghargai hidup dan masa depannya.
Saat Brianna bertemu dengan sosok Henry, mereka berdua sama-sama terkejut. Karna mereka sebelumnya pernah bertemu dalam sebuah tragedi tak terduga.
Bagaimana kisah rumah tangga Anna si gadis nakal dan Henry si pria dewasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutrieRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 PERKARA TIDUR
Saat Henry ingin keluar, tiba-tiba ponsel yang berada di sakunya berdering. Mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.
"Nomer ini lagi!" decaknya. Nomer yang pernah menghubunginya waktu di apartemen kala itu.
"Hallo! Siapa ini?"
Tut ... Tut ... Tut
Lagi-lagi panggilan sepihak dimatikan. Membuat Henry hampir saja melemparkan ponselnya karna merasa kesal. Siapa yang berani mengerjainya seperti ini. Tidak sembarang orang mengetahui nomer pribadinya. Setiap client atau pun rekan kerja akan selalu menghubungi Dave atau pun Celine-sekretarisnya.
"Kau sudah bangun?" Istrinya sudah berdiri di depan pintu kamar saat ia akan menghampirinya. "Ayo sarapan bersama," ajaknya. Anna menepis tangan suaminya yang ingin menggandengnya dan berlalu pergi meninggalkan Henry yang terheran-heran.
Di meja makan sudah berkumpul semuanya. Tapi di sana tak ada Zion, karna putra terakhir Chris sudah pergi untuk mengecek tempat yang akan menjadi acara pernikahannya nanti.
"Pagi .... Bibi Anna." Suara menggemaskan dari Naomi membuat senyum Anna merekah. Ia membalas sapaan dari keponakannya yang lucu itu. Bahkan Anna mendudukkan tubuhnya persis di depan Naomi. Memberi jarak pada Henry yang ternyata telah duduk di kursi sebelah Chris. Ada satu kursi kosong diantara mereka.
Jane menatap putranya dan menantunya bergantian. Apalagi tatapan Henry yang tak lepas memandangi Anna yang ia kira telah salah mengambil tempat duduk.
"Anna, kenapa duduknya jauh-jauhan?" tegur Jane.
Anna langsung menoleh, ia melirik kursi kosong disampingnya yang menjadi pembatas antara dirinya dan suaminya.
"Anna ingin di sini, Bu. Biar bisa leluasa memandangi keponakan yang lucu ini," gemasnya seraya menggoyangkan tubuhnya seperti menggoda Naomi.
"Kalian tidak sedang marahan, kan?" Jane kembali bersuara.
"Tidak!!!" jawab mereka bersamaan. Lalu keduanya saling pandang.
"Cieee .... Kompakan," goda Jason diselingi tawanya. Begitupun Naomi yang ikutan tertawa membuat suasana menjadi ramai dan ceria.
Chris yang sedari tadi diam hanya bisa menatap kebahagiaan yang ada di depan mata. Ia bersyukur keluarganya masih harmonis dan satu persatu masalah hilang.
"Oh ya, Ibu, Ayah, mulai hari ini Henry dan Anna akan pindah untuk tinggal di apartemen saja."
"Yahhh .... Kenapa Paman?" Naomi langsung protes, ia mencebikkan bibirnya.
Anna yang melihat keponakannya yang merajuk merasa tidak tega untuk meninggalkannya.
"Naomi, Paman dan Bibi akan tinggal di apartemen. Karna letak apartemen lebih dekat dengan kantor," jawabnya.
"Bibi Anna tetap tinggal di sini saja!" Naomi tiba-tiba turun dari kursinya dan berjalan menghampiri Anna. Ia memegangi bajunya seraya digoyang-goyangkan.
"Naomi sayang ....."
"Bibi tidak sayang Naomi!" Gadis kecil itu tiba-tiba menangis. Membuat Alice akhirnya turun tangan, tapi putri kecilnya tidak mau disentuhnya. Ia menginginkan Anna yang menggendongnya.
Setelah drama Naomi yang merengek minta Anna terus tinggal di rumah, akhirnya gadis kecil itu sedikit mau memahami. Ia merelakan Bibinya untuk pindah ke apartemen dengan syarat sering mengunjunginya di sini.
"Janji ya Bibi?" Anna mengangguk dan mencium keningnya sebagai tanda perpisahan. Ia melambaikan tangan saat mobil sudah berjalan meninggalkan halaman rumah. Terlihat wajah sendu dari mereka, seakan tidak rela kehilangan putra dan menantunya untuk tinggal pisah.
"Kamu menangis?" Henry melirik Anna yang matanya basah, lalu ia memalingkan wajahnya sambil menyeka air matanya.
"Tidak." Anna berusaha menutupi kesedihan. Keluarga dari suaminya sangat baik padanya. Ia merasakan keluarga yang begitu hangat.
***
Dave mengangguk-angguk saat menerima perintah dari bosnya.
"Baik, Tuan. Akan saya cari tahu secepatnya pemilik nomer itu." Ini bukan perintah yang sulit, Dave memiliki banyak teman yang bisa diandalkan.
Celine masuk setelah mengetok pintu, Henry melihat heran dengan pakaian yang dikenakan Celine kali ini. Dia memakai celana panjang dan blazer yang menutupi dadanya.
"Taruh saja disitu." Celine mengangguk dan berlalu pergi tapi belum sempat mencapai pintu, suara Henry tiba-tiba memanggilnya. Celine pun memberhentikan langkahnya dan dengan cepat membalikkan tubuhnya.
"Ada apa, Tuan?"
"Kapan kamu akan menikah?" Mata Celine membulat, tak pernah sekali pun Henry menanyakan soal hal pribadi kepadanya. Ini membuatnya bingung untuk menjawabnya. Di sisi lain ia belum memiliki calon dan juga ia terlalu canggung untuk membahas soal ini.
"Tidak tahu, Tuan," jawabnya sambil menunduk.
"Bagaimana jika kamu menikah dengan Dave, apa kamu mau?" Terlihat Henry menyunggingkan senyumnya. Berbeda dengan Dave dan Celine yang sama-sama shock dengan pertanyaan Henry.
"Tuan, kenapa Anda berbicara seperti itu?" Dave merasa tidak terima, tapi ia tak berani memarahi bosnya sendiri.
"Kalian kan sudah saling kenal dan sama-sama masih sendiri, apa salahnya?" goda Henry menahan tawa.
Pipi Celine memerah, ia malu dalam situasi seperti ini.
"Maaf, Tuan. Pekerjaan saya masih banyak, permisi." Celine pamit keluar dan cepat-cepat menutup pintu. Di balik pintu ia memegang dadanya yang bergemuruh.
"Tuan, Anda mempermalukan saya," ucap Dave dengan raut wajahnya yang tak dapat ditebak.
"Celine cantik dan kamu juga menyukai wanita seksi sepertinya. Apa kamu tidak mau?"
Dave terdiam, perlu diakui memang Celine cantik dan seksi tapi jujur saja untuk saat ini ia belum memikirkan soal pendamping hidup.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Mata Anna masih terjaga menunggu suaminya pulang. Ia takut untuk memejamkan matanya. Terdengar bunyi pintu dibuka, Anna langsung bergerak menghampiri.
"Lama sekali sih!" gerutunya saat melihat suaminya pulang dengan wajahnya yang sangat lelah. Kemejanya pun tak dikancing sempurna, menyisakan tiga kancing kemeja saja di bagian bawah. Sudah tentu bagian atasnya terbuka menampakkan dada bidangnya.
"Aku kerja!" ketusnya. Ia berjalan melewati Anna, melemparkan tas kantornya ke arah sofa dan duduk di sana. Setelah melepaskan sepatunya dan juga kemejanya, ia berjalan menuju kamar mandi.
"Nanti kamu tidur di mana?" tanyanya saat Henry baru membuka pintu kamar mandinya.
"Manusia kalau tidur dimana? Di jalanan?" Lagi-lagi Henry menjawabnya dengan ketus.
"Ya maksudku, ranjangnya kan cuma ada satu. Kamu mau tidur di sofa lagi?"
Henry menatap istrinya yang kini berdiri tepat di belakangnya. "Aku tidak mau tidur di sofa. Ini apartemenku, aku berhak atas semuanya yang ada di sini."
BRAKKK!!!
Henry lantas masuk dan menutup pintunya dengan keras hingga membuat Anna terjingkat kaget.
"Baiklah, aku yang tidur di sofa." Anna mengambil selimut dan bantal lalu berjalan ke sofa. Setidaknya ia sudah tidak ketakutan lagi karna Henry sudah pulang.
Secangkir teh yang baru ia buat sendiri masih mengepulkan uap panas. Malam ini, ia ingin sejenak merefreshkan pikirannya. Banyak hal yang sedang ia pikirkan.
Saat ia berjalan menuju sofa, yang ia lihat adalah Anna sudah tertidur pulas di sana.
"Kenapa anak ini tidur di sini?" Wajah polosnya yang ia akui sangat manis, sedikit membuat hatinya goyah. Sudah lama hidupnya tidak mengenal wanita lain setelah Olivia. Lalu Anna hadir secara tiba-tiba.
Congrats Henry!!!
buang Olivia kelaoot 😂😂😂