NOVEL DEWASA
Dalam bulan-bulan penuh kesepian sesudah kematian ayahnya, seorang gadis belia yang terpaksa hidup dalam pengasuhan paman dan bibinya yang begitu kejam dan menganggap dirinya sebagai beban dan malah memperlakukannya seperti seorang babu -- bertekad melarikan diri saat mengetahui rencana busuk sang bibi yang hendak menjual dirinya ke luar negeri.
Dalam pelariannya, gadis belia 18 tahun itu bertemu dengan seorang bodyguard tampan, Jack Peterson. Sang penyelamat yang memberikannya kehidupan baru dan identitas baru untuknya: Rose Peterson.
Dalam sekejap, segalanya berubah menjadi indah. Selayaknya dalam kisah Titanic, Jack dan Rose saling jatuh cinta.
Sayangnya, kehidupan bahagia seperti itu tidak selalu berjalan mulus. Ketika mereka memutuskan untuk menikah, ancaman datang kepada Rose. Dia harus memutuskan jalinan cintanya dengan Jack demi menyelamatkan nyawa calon ibu mertuanya dari kekejaman musuh yang tak dikenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juliana S Hadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
. . . ?
Waktu berkelebat bersama pemandangan yang kami lewati, di antara kehangatan dan kemesraan di antara kami berdua, dan akhirnya aku melihat papan tanda yang bertuliskan arah tempat fasilitas kesehatan mental beberapa kilo meter di depan. Waktu itu hari sudah hampir menjelang siang ketika kami tiba. Bang Jack menurunkan kaca jendela dan mengatakan sesuatu kepada penjaga gerbang yang tidak bisa kudengar. Penjaga itu mengangguk dan memeriksa papan jepit untuk mengonfirmasi apa pun yang dikatakan oleh Bang Jack kepadanya. Lalu ia pun melambaikan tangan agar kami masuk.
Serangkaian bangunan rumah sakit khusus itu mulai terlihat, dan aku mulai merasa gugup. "Kira-kira, apa ibumu akan menyukaiku?" tanyaku ketika mobil kami berhenti di parkiran.
Bang Jack tersenyum simpul. "Aku saja suka padamu. Mana mungkin ibuku tidak suka, ya kan?"
Hmm... mulai deh....
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, Sayang. Ada aku bersamamu, oke? Ayo, kita turun."
Baiklah. Kuhela napas dalam-dalam lalu membuka pintu di sampingku.
Seorang perawat datang menyambut saat kami turun dari mobil, dan Bang Jack berbicara dengannya, kemudian ia mengantar kami ke kamar pasien tempat ibunya Bang Jack dirawat.
Aku bergidik, merenungkan seperti apa rasanya tinggal di sini selama bertahun-tahun. Di mana hal-hal seperti terapi kejut listrik dan lobotomi adalah sesuatu yang sangat lazim. Aturan yang berbeda, pengobatan yang berbeda, dan waktu yang berbeda.
Apa yang akan mereka lakukan terhadap seseorang seperti diriku -- jika ada yang memberitahu mereka bahwa aku memiliki ketakutan tinggi pada ruangan yang gelap? Akankah aku terjebak di sini? Akankah aku bisa keluar dari sini? Tidak. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Rose.
Pemikiran itu membuatku muram, tubuhku jadi terasa sangat kaku.
"Jangan jauh-jauh dariku, oke?" pinta Bang Jack. "Tidak ada yang akan terjadi, tapi lebih baik aman daripada menyesal."
Aku mengangguk serius dan mengikutinya ke dalam. Kami berjalan melewati pintu masuk di dekat perawat yang sedang membagikan pil ke dalam cangkir kosong. Ia datang menyambut kami, kemudian kami berjalan lagi melewati dinding-dinding pucat dan kamar pasien berpencahayaan buruk dengan pintu terbuka. Sepatu bersol karet suster yang tebal menimbulkan suara mendecit yang bergema menakutkan.
Kami berbelok dan melewati beberapa kamar lagi. Kali ini semua pintunya tertutup. Lalu kami berbelok lagi melewati ruang perawat kosong dan berbelok di sudut lain, kemudian tiba di ruangan kecil dengan area duduk. Kami pun sampai.
"Maaf," kata si perawat, "sebagai kewajiban, kami harus memberi peringatan resmi kepada setiap tamu. Jangan pergi ke mana pun tanpa pengawasan, jangan membuat marah pasien yang mungkin menjalin kontak dengan kalian, dan jangan mempercayai apa pun yang mereka katakan. Mereka individu yang sedang mengalami sakit. Mohon kerjasamanya."
Ia tidak menunggu respons dari kami, tapi hanya mengangguk lalu berderap keluar melewati pintu.
Aku menatap kepergiannya selama beberapa detik, tertegun.
"Tunggu di sini sebentar," kata Bang Jack, lalu ia meninggalkanku yang berdiri di ambang pintu sementara ia mendekati ranjang rawat ibunya.
Ibunya, meringkuk di tempat tidur, memeluk boneka seraya bergumam sendiri. Wajahnya pucat sekali, pipinya cekung, tubuhnya kurus. Jelas sekali ia tidak dalam keadaan yang baik.
"Rose, kenapa belum pulang? Rose...."
Ya Tuhan, aku merasakan sesak di dadaku. Kasihan sekali melihatnya, begitu juga dengan Bang Jack. Aku tahu ia sedang berusaha menegarkan dirinya sendiri.
"Hai, Ma. Jack datang."
Oh, suaranya terdengar sangat lirih.
Ia mendongak, memandang putranya. "Jack? Kamu datang, Nak? Mana adikmu?" Sinar harapan menyorot di dalam matanya. "Kamu sudah menemukannya, kan? Mama tahu." Lalu ia berpaling ke pintu, ke arahku. "Rose? Rose anak Mama?"
Deg!
Ia melompat turun dan berlari ke arahku, meraih wajahku. Meneliti wajah -- yang ia kira putrinya -- dengan seksama, sementara air mataku yang entah kenapa tiba-tiba menetes. Terus saja mengalir.
"Rose... Rose sudah pulang...." Ia terisak, lalu memelukku selama beberapa saat dan kemudian mencium keningku. Seraya memegangi kedua pipiku ia berkata, "Anak Mama sudah besar. Mama sangat merindukanmu, Sayang. Mama rindu...."