Semua orang tau bila Jessica sangat membenci musim dingin, terlebih-lebih ketika salju turun. Jika bagi orang lain salju adalah sebuah keajaiban, bagi Jessica salju adalah petaka. Jessica pernah kehilangan segalanya ketika salju turun. Ibunya meninggal di bawah rintik salju. Dan kekasihnya menghianatinya ketika musim dingin tiba.
Dan sejak itulah ia sangat membenci musim dingin. Karena musim dingin sangat identik dengan salju.
-
Hay Kak..
Jangan lupa tinggalkan like komentnya ya 🤗🤗🤗 bantu novel ini lebih maju dan berkembang🙏🙏🙏. Tinggalkan vote dan rate juga. Jangan lupa tambahkan ke daftar favorit biar gak ketinggalan bab barunya.
Dukung terus karya Author Lusica Jung 2. Di usahakan sehari up dua bab...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Ken
Tepat pukul 12 malam Ken tiba di rumahnya. Kepulangan Ken yang sangat tiba-tiba tentu saja mengejutkan semua orang yang bekerja dimansion mewah itu. Semua orang memberi salam hormat kepada tuan mudanya yang berjalan di depan mereka. Ken berjalan santai menaiki tangga rumahnya menuju lantai dua dimana kamarnya berada.
Ken meletakkan kopernya disamping tempat pakaiannya, melepas jaket kulitnya menyisahkan singlet hitam yang melekat pas ditubuhnya. Pemuda itu merebahkan tubuhnya pada kasur king size miliknya.
Mata abu-abunya menatap langit-langit kamarnya. Pemuda itu menutup matanya saat tatapan sendu Jessica ketika menyaksikan kepergiannya kembali melintas difikirannya. Ken menghela nafas panjang.
Pemuda itu bangkit dari posisi berbaringnya. Dengan santai ia berjalan menuju lemari pendingin yang ada disudut kamarnya lalu mengeluarkan sebotol wine dan membawanya menuju sofa yang ada ditengah-tengah ruangan megah itu.
Dengan lincah jari-jarinya menuangkan cairan berwarna merah itu pada gelas yang sebelumnya telah ia isi potongan es batu lalu meneguknya.
Ken berharap bisa mabuk detik ini juga agar bisa melupakan Jessica untuk sedetik saja. Tapi sayangnya hal itu tidak terjadi. Ia tetap tidak bisa melupakan gadis itu.
"AAARRRKKKHHHH!!!"
Brakkk!!!
Ken menggeram lalu melempar botol wine itu pada pintu kamarnya, membuat pecahannya berserakan dimana-mana dan cairan merah yang berasal dari botol tersebut mengotori lantai kamarnya yang semula berwarna putih bersih.
Ken mengacak rambutnya kasar, ia benar-benar seperti orang yang tidak waras sekarang. Dan mungkin keputusannya meninggalkan Korea adalah keputusan yang salah.
Dan kegaduhan yang Ken ciptakan membuat seluruh penghuni dalam rumah itu terusik, terutama penghuni yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Ken.
Brakkk!!!
Pintu kamar Ken dibuka dengan tiba-tiba dari luar dan sosok Jackson-lah berdiri diambang pintu dengan tatapan terkejutnya.
"Ya Tuhan!!" pekiknya berlebihan "Apa yang terjadi pada kamarmu, Ken!!! Dan kapan kau pulang?? Kabur dari rumah selama tiga bulan, dan pulang-pulang malah membuat keributan!!" tegur Jackson sambil menggelengkan kepalanya.
Ken mendecih dan menatap kakaknya itu tidak suka. Pemuda itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri sang kakak yang tak beranjak satu inci pun dari posisinya.
"Tidak usah berlebihan, Ge! Lagi pula siapa yang kabur? Aku pergi hanya untuk berlibur!!" ujar Ken membela diri.
Pemuda itu berbicara dengan nada sedikit tak bersahabat, kebenciannya pada Jack terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam.
"Ada apa ini?" tegur seseorang dari arah belakang.
Jackson menoleh, terlihat tuan dan nyonya Zhang menghampiri kedua putranya yang saat ini sedang terlibat perdebatan. Tuan Zhang menggelengkan kepalanya melihat keadaan kamar putra bungsunya yang berantakan. Banyak pecahan beling yang berserakan dimana-mana dan aroma tak sedap yang berasal dari cairan wine yang tumpah dilantai.
"Jelaskan pada Papa, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tuan Zhang seraya menatap Ken dan Jack bergantian. "Dan ini?? Kenapa banyak sekali pecahan beling dilantai, kau juga Ken?? Pergi kemana saja selama tiga bulan ini?" Tuan Zhang mencoba menuntut penjelasan dari Ken.
Terlihat pemuda itu menghela nafas. "Kenapa semua orang harus berlebihan sih? Lagi pula aku pergi hanya untuk berlibur dan menenangkan diri!" kata Ken kemudian beranjak dan berjalan menuju sofa yang ada didalam ruangan itu.
Nyonya Zhang mendesah panjang. Wanita itu mengayunkan kedua kakinya dan berjalan menghampiri putra bungsunya, Nyonya Zhang duduk disebelah Ken, wanita yang memiliki kecantikan yang tak lekang oleh waktu itu meraih tangan Ken dan menggenggamnya. Senyum hangat tersungging dibibir tipisnya.
"Hei, ini tak terlihat seperti putra, Mama. Mama tau, jika putra Mama ini memang pemarah dan arogan. Tapi dia tidak seperti ini, ada apa nak?
? Apa yang membuatmu seperti ini?? Apa karena---?"
"Jangan pernah menyebut nama itu lagi di depanku, Ma!!" pinta Ken menyela ucapan sang Ibu. "Ini tidak ada hubungannya dengan dia!!" katanya menambahkan.
"Lantas?" Ken menatap langsung manik hazel milik sang Ibu.
Melihat warna mata wanita yang telah melahirkannya itu membuat Ken kembali teringat pada Jessica yang memiliki warna mata sama dengan ibunya. Segera Ken mengakhiri kontak mata itu dan menundukkan wajahnya.
"Karena sesuatu yang lain!!" jawab Ken datar.
Tuan Zhang mengurai senyum tipis. Ayah dua anak itu beranjak dari posisinya lalu menghampiri Ken.
"Hei, anak nakal. Apa kau tidak ingin memeluk Papa tercintamu ini eo? Selama tiga bulan minggat dari rumah apa kau tidak merindukan, Papa??" tanya Tuan Zhang masih dengan senyum yang sama.
Ken mendengus geli. Pemuda itu menghampiri sang ayah lalu memeluknya. Sekeras apa pun Tuan Zhang pada putra-putranya, namun ia tetaplah seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya. Senakal apa pun Ken, baginya dia tetaplah permata hatinya, harta paling berharga yang dia miliki di dunia ini selain Jackson dan Victoria.
"Sudah pelukannya. Biarkan putramu istirahat, dia terlihat lelah!!" kata Victoria sambil menarik suaminya agar dia segera melepaskan pelukannya pada sang putra.
"Sebentar, Sayang. Aku masih belum puas memeluk bocah nakal ini!!" kata tuan Zhang dan kembali memeluk Ken.
"Dasar rakus, kau fikir hanya kau saja yang merindukannya. Aku ini Ibunya, aku yang melahirkannya. Minggr, biar aku memeluk putraku juga!!" Victoria menarik lengan suaminya dan menjauhkan dia dari Ken.
Melihat hal itu membuat Jack tersenyum haru. Meskipun kini Ken membencinya, namun sebagai seorang kakak tentu saja ia tidak bisa berbalik membenci Ken. Lagi pula semua itu salahnya. Dia memang layak dibenci oleh adiknya itu, ia sudah sangat jahat sebagai seorang kakak.
Jackson telah merebut kekasih Ken dan hal itulah yang membuat sang adik yang semula sangat menyayanginya kini berbalik membencinya. Meskipun pada kenyataannya Ken tidaklah benar-benar membencinya. Ia hanya merasa kecewa padanya.
Kemudian Ken mengalihkan tatapannya pada Jackson yang berdiri diambang pintu. Pemuda itu menghela nafas.
"Kau tidak ingin memelukku juga? Apa kau tidak merindukanku?" ucap Ken setengah datar. Sontak saja Jackson mengangkat kepalanya dan menatap Ken dengan tatapan tak percaya.
"Ken, apakah kau-"
"Dasar cerewet. Sudah, kemarilah!!" pinta Ken sambil merentangkan sebelah tangannya. Meminta supaya Jack mengganpirinya. Jack menyeka air matanya. Dan dengan langkah 1000, ua menghampiri sang adik kemudian memeluknya.
Melihat kedua putranya kembali akur membuat tuan Zhang dan Victoria tak kuasa menahan air matanya. Mereka menangis haru, setelah berbulan-bulan Ken mendiami Jack, akhirnya hari ini mereka akur kembali.
Victoria tak tau apa yang membuat Ken bisa memaafkan Jackson dengan tiba-tiba, namum hal itu tidaklah penting. Karena yang terpenting untuknya adalah kedua putranya bisa kembali akur seperti dulu.
-
"Jess, di sini." Seru Sania ketika melihat kemunculan sahabatnya itu. Jessica tersenyum lebar. Dengan segera ia menghampiri kedua sahabatnya.
"Maaf, aku telat. Apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Jessica para kedua sahabatnya.
Keduanya menggeleng dengan kompak."Belum lama, kita berdua juga baru saja tiba." Jawab Tania.
"Karena, Sica sudah datang. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang. Aku tidak ingin sampai terlambat dan tidak kebagian barang yang bagus dan berkualitas." Ujar Sania begitu antusias.
Hari ini Mall sedang mengadakan diskon besar-besaran. Jadi tidak salah jika Sania dan Tania yang di kenal sebagai maniaknya berbelanja menjadi begitu bersemangat ketika mendengar Mall mengadakan diskon besar-besaran.
Ketiganya bangkit dari kursinya masing-masing dan bergegas meninggalkan cafe setelah membayar apa yang mereka pesan dan mereka makan. Waktunya sangat terbatas dan karena itulah Sania dan Tania tak ingin melewatkan kesempatan emas yang mereka miliki.
-
Bersambung.
lanjut De🥰🥰😙😙kebahagiaan Ken dan Sica....semangaatttt