NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

"​Jadi dia bisa memasang raut serius juga," batin Gu Qingli sedikit terkejut.

​Penatua Ketiga mengangkat tangannya. "Mulai!"

​Yunche melesat maju. "Ha!"

​Pedang kayunya menebas cepat. Namun dengan keunggulan kultivasinya, Gu Qingli menghindar dengan sangat mudah.

​Yunche tidak berhenti. Tebasan kedua, ketiga, hingga tebasan beruntun ia lancarkan tanpa jeda. Namun Gu Qingli bergerak bagaikan bayangan ringan yang tak tersentuh.

​Perbedaan tingkat kekuatan tidak bisa dibohongi.

​Bang!

​Dorongan telapak tangan Gu Qingli telak mengenai bahu Yunche. Tubuh Yunche terlempar dan berguling di tanah.

​Tawa kecil kembali terdengar dari tepi lapangan. "Sudah kuduga. Bahkan menyentuh bajunya saja dia tidak sanggup."

​Yunche bangkit perlahan, mengusir debu di bajunya sembari meringis memegangi bahu. "Aduh... lumayan sakit juga."

​Gu Qingli menatapnya tenang. "Kau masih mau melanjutkan?"

​Yunche mengangguk. "Kenapa tidak?"

​"Kau tidak akan bisa menang."

​"Aku tahu."

​"Lalu untuk apa?"

​Yunche menyeringai kecil. "Aku cuma ingin mencoba."

​Gu Qingli terdiam.

​Yunche kembali melancarkan serangan. Kali ini, Gu Qingli tidak langsung menyelesaikannya. Ia mulai memperhatikan pergerakan Yunche dengan saksama.

​Pemuda ini memang lemah. Gerakannya polos dan tanpa teknik tinggi. Namun... ia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Setiap kali terhempas, Yunche bangkit kembali. Setiap kali serangannya mentok, ia mencoba sudut serangan yang baru.

​Tidak ada keajaiban bakat, hanya ketekunan yang mengagumkan.

​Bang!

​Untuk kesekian kalinya, Yunche kembali terhempas ke tanah.

​Gu Qingli menghela napas. "Cukup. Berhentilah."

​Yunche bangkit bertumpu pada pedang kayunya. "Belum."

​"Kau sudah kalah."

​"Belum," sahut Yunche terkeh-keh pelan.

​"Kau bahkan tidak sanggup menyentuh pakaianku."

​Yunche menyapu keringat di dahinya, lalu kembali menyejajarkan pedang kayunya. "Kalau begitu... aku akan mencoba sekali lagi."

​Gu Qingli mengerutkan keningnya gemas. "Kenapa kau begitu keras kepala?"

​Yunche terdiam sejenak. Sorot matanya menatap lurus ke arah Gu Qingli sebelum akhirnya ia tersenyum tipis.

​"Karena kalau aku berhenti sekarang... aku tidak akan pernah tahu apakah sebenarnya aku sanggup menyentuhmu atau tidak."

​Gu Qingli membeku di tempatnya.

​Kalimat sederhana yang terucap tanpa beban itu mendadak membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Namun Gu Qingli dengan cepat menepis perasaan aneh itu. Pasti karena aku terlalu banyak menguras energi, pikirnya membela diri.

​"Baiklah," ujar Gu Qingli seraya membetulkan posisinya. "Kali ini, aku yang akan menyerang."

​Yunche membelalakkan mata panik. "Eh, tunggu! Serius?!"

​"Ya."

​"Kenapa tiba-tiba?!"

​"Karena kau terlalu banyak bicara!"

​Belum sempat Yunche memprotes alasan absurd itu, sosok Gu Qingli sudah melesat bagaikan kilat. Yunche refleks memejamkan mata erat-erat.

​Namun... tidak ada benturan keras yang melayang ke tubuhnya.

​Ketika Yunche perlahan membuka mata, Gu Qingli rupanya sudah berdiri tepat di belakangnya. Ujung jarinya menempel ringan di punggung Yunche.

​"Jika ini pertarungan hidup dan mati..." bisik Gu Qingli pelan dari balik punggungnya. "...kau sudah tewas."

​Yunche terpaku sejenak. Kemudian, ia menghela napas pasrah dan mengangguk. "Ya... kau benar."

​Gu Qingli menarik kembali jarinya. Yunche berbalik dan menatapnya tulus. "Kau benar-benar hebat."

​Gu Qingli agak terkejut. Ia mengira pemuda itu akan merasa harga dirinya terinjak-injak atau kecewa. Namun Yunche justru tersenyum lebar. "Terima kasih sudah mau bertarung denganku."

​Tanpa menunggu balasan, Yunche berbalik hendak berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah, ia menghentikan kakinya dan menoleh kembali.

​"Gu Qingli."

​"Apa lagi?"

​Yunche menunjuk ke arahnya. "Besok kita latihan lagi, ya?"

​Gu Qingli mengerutkan kening. "Untuk apa?"

​"Sebab aku belum menang."

​"Kau tidak akan pernah menang dariku."

​"Belum tentu," kekeh Yunche.

​"Kau terlalu percaya diri."

​"Namanya juga usaha!"

​Gu Qingli menatap wajah polos itu beberapa saat, lalu menghela napas menyerah. "Baiklah."

​Mata Yunche berbinar. "Benarkah?"

​"Kalau kau memang tidak kapok."

​"Oke, sampai ketemu besok!" Yunche melambaikan tangan lalu berjalan pergi dengan santai.

​Gu Qingli masih berdiri di tengah halaman latihan, memperhatikan punggung pemuda itu yang semakin menjauh. Ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan. Besok... mereka akan bertarung lagi.

​Dari sudut kediaman yang teduh, Xiao Hanzhou memperhatikan seluruh rentetan kejadian itu dari awal hingga akhir. Matanya yang biasa memancarkan kesejukan kini meredup tajam saat menatap Yunche, lalu beralih ke arah Gu Qingli.

​Seorang murid Sekte Awan Biru mendatangi Xiao Hanzhou. "Kakak Senior Xiao, ada apa?"

​"Tidak ada," jawab Xiao Hanzhou dengan senyum tenangnya yang biasa.

​"Pemuda Keluarga Shen itu... sangat lemah, bukan?"

​Xiao Hanzhou mengangguk pelan. "Sangat lemah. Hanya sampah Pengumpulan Qi tingkat dua."

​"Lalu kenapa Kakak Senior terus memperhatikannya?"

​Xiao Hanzhou tidak langsung menjawab. Ia terus mengamati Gu Qingli yang masih terpaku di tengah halaman—gadis yang biasanya tak peduli pada siapa pun itu kini tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dan itu semua gara-gara pemuda tak berbakat tersebut.

​Xiao Hanzhou tersenyum dingin. "Hanya merasa... ini mulai menarik."

​Malam harinya, di dalam kamar Shen Yunche.

​Yunche duduk bersila di atas ranjang kayu sederhana. Matanya terpejam rapat saat ia mencoba memandu energi spiritual di sekitarnya masuk ke dalam tubuh.

​Lima menit... sepuluh menit... tiga puluh menit...

​Yunche membuka matanya, mengusir napas berat. "Kenapa susah sekali, sih?"

​Ia menggaruk kepalanya gemas, lalu mencoba sekali lagi. Kali ini, ia berhasil menarik setitik energi spiritual ke dalam meridiannya. Namun baru sekejap mengalir, energi itu lenyap begitu saja menguap entah ke mana.

​"Ah, sudahlah." Yunche menyerah dan merebahkan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit kamar yang sepi.

​Tanpa disengaja, bayangan pertarungan siang tadi kembali berputar di kepalanya. Sosok gadis bergaun putih dengan tatapan dingin, pergerakan anggun, dan jemari yang menempel di punggungnya.

​Yunche mendadak terduduk tegak. "Kenapa aku malah memikirkan Gu Qingli?"

​Ia menggeleng-gelengkan kepalanya keras-keras. "Jangan-jangan..."

​Raut wajah Yunche berubah sangat panik. "Jangan-jangan besok dia mau membalas dendam gara-gara aku mau merebut kuenya?!"

​Yunche menepuk dahi. "Gawat. Bahaya ini!"

​Ia bertekad besok pagi hal pertama yang harus dilakukannya adalah meminta maaf soal kue. Namun saat merebahkan tubuhnya kembali dan memejamkan mata, sebuah pemikiran kecil merayap lembut di hatinya.

​Dia benar-benar mau latihan denganku lagi besok?

​Tanpa ia sadari, sebaris senyum tipis terukir di bibirnya sebelum ia tertidur lelap.

​Di sisi lain kediaman Keluarga Shen, tempat rombongan Keluarga Gu menginap.

​Gu Qingli masih duduk bersandar di tepi jendela kamarnya. Cahaya rembulan menyiram paras cantiknya dengan lembut. Tangannya menggenggam cangkir teh hangat yang mulai mendingin.

​Pikirannya melayang pada sosok pemuda bodoh yang dengan percaya diri menantangnya tadi siang. Pemuda yang jelas-jelas tahu dirinya lemah, tetapi tetap bangkit berkali-kali tanpa rasa takut.

​Gu Qingli mengernyitkan alisnya. Kenapa aku memikirkannya? Tidak penting sama sekali.

​Ia berdiri, berniat meletakkan cangkir dan beranjak tidur. Namun langkahnya terhenti sejenak.

​"Besok..." gumamnya pelan pada udara malam. "...semoga dia tidak datang terlambat."

​Gu Qingli sendiri tidak memahami mengapa kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Dan ia pun belum menyadari bahwa sejak hari itu, sebuah kebiasaan baru telah lahir.

​Setiap pagi, Shen Yunche akan datang menantangnya bertarung dengan senyum tengilnya. Dan setiap pagi pula, Gu Qingli akan berdiri di sana, menunggunya.

​Awalnya mungkin hanya karena terganggu, lalu berubah menjadi rasa penasaran. Hingga akhirnya, tanpa mereka sadari... mereka mulai terbiasa dengan kehadiran satu sama lain di bawah langit yang sama.

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!