NovelToon NovelToon
Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Mahar Satu Miliar Dari Pria Impoten

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pengantin Pengganti / Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Arum Mustika Ratu menikah bukan karena cinta, melainkan demi melunasi hutang budi.
Reghan Argantara, pewaris kaya yang dulu sempurna, kini duduk di kursi roda dan dicap impoten setelah kecelakaan. Baginya, Arum hanyalah wanita yang menjual diri demi uang. Bagi Arum, pernikahan ini adalah jalan untuk menebus masa lalu.

Reghan punya masa lalu yang buruk tentang cinta, akankah, dia bisa bertahan bersama Arum untuk menemukan cinta yang baru? Atau malah sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Dia datang membawa luka atau menyembuhkan luka?

Reghan keluar dari ruang dokter dengan langkah gontai. Tangannya gemetar saat menutup pintu, dan napasnya terasa berat seolah udara tak cukup memenuhi paru-parunya. Dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tatapan kosong. Setiap langkah terasa berat, bukan karena tubuhnya yang lemah, tapi karena kenyataan yang baru saja ia dengar.

Dia berhenti di depan jendela besar di ujung koridor. Dari sana, terlihat taman rumah sakit dengan beberapa anak kecil bermain, termasuk satu bocah yang memakai masker kecil dan dipegangi perawat, mengingatkannya pada Revano.

Anak itu tersenyum, meski tubuhnya rapuh. Reghan memejamkan mata, mencoba menahan perih yang tiba-tiba menyesakkan dadanya.

“Tuan Reghan.”

Suara itu datang dari belakang. Gavin baru keluar dari ruang dokter, ekspresinya masih sama seriusnya.

“Kenapa nggak langsung bilang aja ke Arum?” tanya Gavin pelan.

Reghan tidak menoleh. “Karena aku tahu dia akan menolakku. Bahkan kalau aku cuma datang buat bantu, dia tetap nggak akan mau lihat aku.”

“Dia itu ibunya Revan, Tuan Reghan. Dia berhak tahu siapa pendonor anaknya.”

Reghan berbalik menatap Gavin, matanya merah. “Aku nggak mau dia tambah terbebani. Selama ini dia sendiri yang ngurus Revan tanpa aku. Sekarang aku datang dengan kondisi begini, cuma bikin semuanya makin rumit.”

Gavin menarik napas panjang. Ia paham betul perasaan bersalah yang menyelimuti pria itu. “Kalau begitu apa rencanamu?”

Reghan menatap jauh ke taman di luar jendela. “Aku akan tetap bantu semampuku. Aku akan cari cara buat bantu anakku tanpa bikin Arum tahu dulu. Kalau memang harus ada adik kandungnya untuk donor, aku akan bicara langsung sama dia nanti ... tapi bukan sekarang.”

Nada suaranya tenang, tapi getirnya begitu dalam. Gavin terdiam sejenak, lalu berkata lirih, “Anda sadar kan, cara yang Anda maksud itu berarti membuka kembali semua luka kalian?”

Reghan tersenyum pahit. “Luka itu nggak pernah tertutup, Dokter Gavin. Aku cuma berpura-pura sembuh selama ini.”

Keduanya diam cukup lama. Hanya suara langkah kaki perawat yang lewat, dan aroma antiseptik tajam memenuhi udara.

Akhirnya Gavin berkata pelan, “Baiklah, tapi kalau Anda benar-benar ingin bantu mereka, biar aku yang atur supaya Arum nggak curiga dulu. Aku akan pastikan semua pemeriksaan berjalan tanpa gangguan. Tapi cepat atau lambat, dia harus tahu.”

Reghan mengangguk perlahan. “Aku tahu … tapi tolong, biarkan aku yang hadapi dia nanti. Aku nggak mau dia dengar dari orang lain.”

Saat Gavin melangkah pergi, Reghan kembali menatap keluar jendela. Matanya memanas.

Di taman bawah sana, seorang anak laki-laki yang mirip sekali dengan Revano tertawa kecil. Dalam hati, Reghan berbisik lirih seolah bicara pada dirinya sendiri.

“Papa janji, Revan … apa pun caranya, Papa bakal nolong kamu. Meski harus ngelawan semuanya, bahkan tubuh Papa sendiri.”

Dan di saat yang sama, di ruang rawat anak, Arum sedang memandangi Revano yang tertidur di pangkuannya, tak tahu bahwa pria yang dulu membuatnya hancur kini sedang berjuang diam-diam untuk menyelamatkan buah hati mereka.

Sore menjelang malam. Langit di luar rumah sakit mulai memudar menjadi jingga keemasan. Arum duduk di tepi ranjang Revano, memandangi wajah pucat kecil itu dengan pandangan kosong. Di sampingnya, infus kembali menetes pelan, mengalirkan cairan yang menjadi harapan bagi tubuh mungil anaknya yang semakin lemah.

Perawat keluar setelah mengganti selang infus, menyisakan keheningan yang menggantung di antara Arum dan anaknya.

Gavin berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan senja tanpa suara. Ada sesuatu di wajahnya, semacam beban berat yang ia sembunyikan rapat-rapat.

“Dokter…” suara Arum pelan, hampir seperti bisikan. “Kenapa saya ngerasa ada yang disembunyiin?”

Gavin menoleh, wajahnya terkejut sesaat sebelum ia kembali menata ekspresi. “Maksud kamu?”

Arum menggeleng pelan, menatap anaknya. “Saya tahu kamu nggak mungkin sembunyiin kabar buruk tanpa alasan. Tapi saya udah terbiasa, Gav. Kadang … lebih baik tahu sekarang daripada nanti.”

Suara Arum begitu tenang, tapi matanya berkaca-kaca. Gavin mendekat, lalu duduk di kursi samping ranjang.

“Aku nggak bermaksud nyembunyiin sesuatu dari kamu, Arum. Aku cuma nggak mau kamu tambah stres. Hasil pemeriksaan Re...” Gavin terhenti, menelan kata itu sebelum sempat menyebut nama.

Namun Arum langsung peka. “Re?” bibirnya gemetar. “Reghan? Maksud kamu?”

Gavin terdiam, dan dalam diam itu, Arum menunduk, bahunya bergetar halus.

“Dia di sini ya? Dia sudah tahu?”

Gavin tidak menjawab, tapi tatapan matanya sudah cukup menjadi jawaban. Air mata Arum menetes, menimpa punggung tangan Revano. “Kenapa dia harus muncul lagi sekarang…” katanya lirih, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Setelah semua yang udah terjadi, setelah semua luka itu.”

Gavin menatapnya iba. “Dia datang bukan buat nyakitin kamu lagi, Arum ... Tuan Reghan cuma pengin bantu Revan.”

“Bantu?” Arum tertawa kecil tapi getir. “Empat tahun lalu, bantuan dari dia hampir bikin aku mati, Gav. Sekarang aku harus percaya kalau dia datang dengan niat baik?”

Gavin tak bisa menjawab, dia tahu betapa dalam luka di masa lalu mereka. Luka yang bahkan waktu pun belum sempat menyembuhkan. Tapi di sisi lain, ia juga tahu di balik kerasnya Reghan, pria itu tulus mencintai anak yang bahkan belum sempat ia gendong dengan benar.

“Arum,” Gavin akhirnya bicara pelan, “aku tahu kamu nggak percaya sama dia ... tapi kamu percaya aku kan?”

Arum mengangkat wajahnya perlahan. “Tentu.”

“Kalau begitu, percayalah satu hal ... Reghan bukan lagi orang yang sama kayak dulu ... dia udah berubah.”

Arum menatap kosong ke arah jendela, tempat langit mulai gelap. “Kalau dia benar-benar berubah,” katanya dengan suara serak, “harusnya dia nggak datang bawa masa lalu yang udah aku kubur dalam-dalam.”

Suasana langsung hening, hanya suara detik jam di dinding dan dengung lembut mesin infus.

Gavin menatap keduanya, ibu yang rapuh tapi tegar, dan anak kecil yang berjuang antara hidup dan mati. Lalu ia menarik napas panjang.

“Kalau begitu, biar aku yang urus semuanya dulu. Kamu fokus jagain Revano, ya?”

Arum mengangguk perlahan. Tapi dalam hatinya, ada sesuatu yang mulai bergetar. Entah itu amarah yang belum padam, atau luka lama yang tiba-tiba terbuka kembali karena kemunculan Reghan kembali di hidupnya.

1
Mutaharotin Rotin
rasain kamu rehgan
imoe nawar
👍
Netty Netty
berarti selama kepergian arum dari rumah, reghan diam aja ya😤 tdk menyelidiki kasus arum 😤
Netty Netty
dari awal banyak typo 😍
Netty Netty
lucu ya othor, rumah horang kaya tdk ada cctv 🤣
Tek deli
dari awal penulisan kata"nya bagus,kesini kok alay thor, contoh masukkan jadi masukin.
Aisyah Alfatih: siap di perbaiki ke depannya 🙏
total 1 replies
Helni Dasril
kalo takut pergi saja bilang ga mau jadi istri nya udah gitu aja repot
Alya Risky
cerita nya bagus thor tapi tidak suka dengan endingnya
Esih Amooy esih ajh
bab nya tertulis 4 tahun kemudian,,,trs blgnya 3 tahun yg lalu, lah anak nya umur 3 thn pula...lah yg bner yg mna thooorrr haduh sayang bgt pdha ceritanya seru tpi trhalang sma 4 dan 3 thn itu🤣🙏bingung sumpah... mf y thor😄🙏lbih giat lgi lbih seru lgi y ceritanya💪💪smngat
Esih Amooy esih ajh
suami guna nya melindungi, bkn menghakimi😭😭
Esih Amooy esih ajh
mengabaikan istri trs memprioritaskan mantan la itu udh jelas mendepak istri scra terang2an....goblok reghan
Partini Minok Nur Maesa
semoga gavin dpt jodoh yg lbh dr arum
Esih Amooy esih ajh
yah harus nya di depan penghulu y wajib jabat tangan itu slh satu aturan menikah yg sah dn jgn lupakan walinya pula hrs ada🙏🙏😄
Bunda
vote untukmu kak
Partini Minok Nur Maesa
udah 4tahun kok blm dpt karma si uler Keket
Partini Minok Nur Maesa
hrsnya cukup percaya dgn tatapan mata itu sdh cukup buat arum.knp ada lelaki pengecut spt reghan
Partini Minok Nur Maesa
rumah sebesar itu gx ada CCTV pembodohan itu namanya
Partini Minok Nur Maesa
ternyata bkn arum yg ditolong buat arum hamil lalu kabur
Partini Minok Nur Maesa
percakapanya sedikit seperti membaca puisi 😁
Bunda
ijin baca 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!