Setelah kedua orang tuanya wafat akibat insiden kecelakaan pesawat, Anya diasuh oleh mantan asisten rumah tangga mereka.
Meski hidup dalam kesederhanaan, Anya tetap merasa bahagia bersama keluarga barunya, hingga tiba-tiba sahabat baik sang ayah datang mencari gadis itu.
Guna membalas budi akan kebaikan keluarganya dahulu, serta pengorbanan yang pernah Anya lakukan pada putra sulungnya, Maxim berencana menikahkan Anya dengan sang putra yang notabene adalah cinta pertamanya.
Akankah Anya mampu menjalani kehidupan pernikahannya dengan bahagia? Terlebih ketika mengetahui fakta bahwa sang suami ternyata berperangai kasar dan telah memiliki seorang kekasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Axton.
Seharian ini Hana dibuat kesal dengan tingkah laku Axton yang uring-uringan. Rencananya untuk bermesraan dengan Axton di apartemen mereka pun kandas akibat kelakuan menyebalkan sang kekasih.
Bagaimana tidak, seharian ini Axton hanya sibuk mengutak-atik ponselnya dan marah-marah tidak jelas. Kadang ia juga terdengar mengumpati seseorang yang Hana sendiri tidak tahu.
Berkali-kali Hana mencoba merayu Axton, tapi pria itu tetap bergeming. Ia beralasan bahwa tubuhnya butuh istirahat setelah menginap di lokasi syuting selama tiga hari di luar kota.
Hana menjadi luar biasa jengkel, apalagi pada sikap Axton yang cuek dan hanya memerhatikan ponselnya. Hana tidak tahu apa yang sebenarnya Axton tunggu. Wanita itu bergerak tak sabar dan dengan cepat mengambil ponsel Axton, lalu duduk di pangkuan pria itu.
"Ck, kembalikan!" pinta Axton dengan raut wajah dingin.
Hana tidak menggubris permintaan Axton dan malah melempar ponsel kekasihnya itu ke atas ranjang, sebelum kemudian menahan kedua tangan pria itu di atas kepalanya.
"Jangan acuhkan aku! Memangnya Kakak tidak rindu padaku?" tanya Hana manja. Axton membuang mukanya sebelum menatap Hana kembali.
"Rindu, tapi aku sedang lelah. Jadi, tolong lepaskan aku?"
Bukannya mendengarkan, Hana malah semakin merapatkan tubuhnya pada Axton. Wanita muda itu bahkan mulai menggerakan pinggulnya lebih intim di pangkuan pria itu, lalu menciumi telinganya seraya berbisik sensual. "Jika aku tidak mau melepaskanmu, bagaimana?"
Axton terdiam sejenak. Dengan gerakan secepat kilat ia mengangkat Hana dan menggendongnya. Hana refleks mengeratkan kedua kakinya pada pinggang Axton sembari berteriak kegirangan.
Pria itu kemudian membanting Hana ke atas ranjang lalu menindihnya. Wajah Axton perlahan mendekati Hana yang kini telah terpejam seolah siap menerima apa pun yang ia berikan.
"Aku yang akan melepaskanmu!" bisik Axton dingin pada telinga Hana. Tangan pria itu meraba atas kepala Hana dan mengambil ponselnya yang tadi dilempar.
"Beristirahatlah, aku akan kembali nanti." Setelah mengatakan hal demikian, Axton melangkahkan kakinya meninggalkan Hana yang kini tengah berteriak-teriak menggunakan kata-kata kotor.
...***...
Anya tersenyum menatap puding dan brownies lumer yang baru saja selesai dibuatnya. Besok ia dan Axton akan datang ke rumah mertuanya, dan gadis itu berencana membawa makanan tersebut ke sana.
Maxim lah yang meminta mereka berdua untuk datang, sebab Maxim dan Theresa berencana menghabiskan waktu di Belanja untuk mencari ketenangan sekaligus pengobatan Maxim yang menderita penyakit jantung. Beliau juga sudah memercayakan urusan perusahaan di sini pada Callista dan salah seorang sekretaris kepercayaannya.
Lagi-lagi Maxim harus mengubur harapannya pada Axton yang enggan terjun mengurusi perusahaan. Beliau terpaksa membebani Callista yang masih tergolong sangat muda.
Setelah meletakan puding dan kue di dalam sebuah kotak makanan, Anya pun menaruhnya di kulkas.
"Selesai!" seru gadis itu puas. Ia menutup pintu kulkas dan berbalik. Namun, begitu Anya membalikkan tubuhnya, seseorang tiba-tiba datang memeluk.
Tangan Anya sontak terkulai tanpa daya, sebab Axton kini tengah merengkuhnya seerat mungkin. Lidah Anya terasa kelu dan tubuhnya kini berubah kaku.
Apa yang terjadi pada Axton? Mengapa pria itu tiba-tiba berlaku seperti ini? Kemana Axton yang kejam dan selalu menatapnya jijik? Kemana Axton yang tidak sudi disentuh olehnya?
Anya tersenyum sinis. Ia yakin ini hanya akal-akalan Axton saja, karena besok mereka akan bertemu keluarganya. Axton tentu tidak ingin hubungan mereka terlihat kaku di hadapan keluarganya, terutama di depan sang ayah.
Baru saja Anya hendak berniat melepaskan diri, Axton malah bergerak menyentuh simpul apron di belakang tubuh Anya. Dengan gerakan selembut mungkin pria itu melepas simpulnya kemudian menaruh apron tersebut di tempat penyimpanan.
"Aku lapar!" kata Axton tiba-tiba.
Anya mengernyitkan dahi.
"Bisa buatkan aku makanan?" tanya pria itu yang kini sudah melepaskan diri dan sibuk membuka-buka kitchen set.
Anya semakin dibuat keheranan. Selama ini Axton tidak pernah mau memakan masakan yang ia buat. Lalu, mengapa tiba-tiba Axton ingin memakan masakannya? Apa selama tiga hari berada di laut membuat otaknya terkikis panas matahari?
Apa Anya harus mengingatkan, apa yang pernah dikatakan Axton padanya?
"Kakak bukannya tidak ingin memakan masakanku?" tanya Anya dengan nada datar.
Bukannya menjawab, Axton malah melempar beberapa bahan makanan yang ada ke tangan Anya yang langsung sigap menangkapnya.
"Buatkan omurice, aku tunggu!" Setelah berkata demikian Axton pergi meninggalkannya untuk mandi dan berganti pakaian.
"Apa-apaan dia!" batin Anya kesal.
Setengah jam kemudian Axton sudah turun dari kamar menuju meja makan dengan wajah yang lebih segar. Sepiring Omurice menggugah selera juga telah tersaji di sana. Sementara Anya tengah mandi.
Pria itu mengambil makanan itu dan membawanya ke ruang televisi. Anya baru saja keluar dari kamar mandi, ketika jika memanggilnya.
"Temani aku di sini!" perintah Axton.
Anya mengerutkan keningnya. Tampak tidak mengerti akan apa yang dikatan Axton.
"Kau tuli?"
Mendengar perkataan Axton, Anya merengut kesal. Namun, kendati demikian ia tetap menuruti perintah sang suami dan mulai duduk di ujung sofa yang berjauhan dengannya.
Melihat itu Axton berusaha untuk tidak merasa jengkel.
Meski suasana di antara mereka berdua tampak canggung, Anya diam-diam tetap menyunggingkan senyumnya sedikit.
Terang saja, jauh di dalam lubuk hati gadis itu ada rasa keharuan yang hadir, mengingat betapa banyaknya usaha yang sudah Anya lakukan agar Axton mau memakan masakannya.
Anya pun mengakui debaran jantungnya saat bersama Axton masih sama menggila, meski sikapnya kini jauh lebih dingin dari saat mereka bertemu. Anya juga tidak memungkiri penderitaannya karena mengabaikan Axton.
Anya hanya ingin berusaha menguatkan diri, agar ketika pernikahan mereka berakhir, ia tidak begitu sulit melupakan Axton. Namun, mengapa disaat ia sedang mati-matian bersikap demikian, Axton malah menunjukkan sikap seperti sekarang ini?
Anya bersumpah untuk tidak akan terjebak oleh permainan pura-pura Axton.
Semangatt terus berkarya nya 💪💪💪💪