Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Dengan napas yang masih tersengal dan tubuh yang nyaris kehilangan tenaga, Sora meraba-raba ke sekeliling dalam gelap gulita. Gudang kayu itu begitu pengap, hanya diterangi sedikit cahaya bulan yang menyelinap melalui celah-celah dinding bambu.
Di tengah dinginnya malam, ia berusaha mengingat letak tumpukan jerami yang biasanya digunakan sebagai alas kayu bakar.
Jari-jarinya yang gemetar akhirnya menyentuh beberapa ikat jerami kering. Seolah menemukan secercah harapan, ia segera menariknya mendekat.
Dengan sisa tenaga yang hampir habis, ia menyebarkan jerami itu di atas lantai tanah yang dingin. Meski tahu alas sederhana itu tidak akan banyak membantu, setidaknya ia tidak perlu tidur langsung di atas tanah yang lembap.
Setelah selesai, Sora mengembuskan napas panjang. Perlahan-lahan ia menjatuhkan tubuhnya ke atas hamparan jerami itu.
Namun, saat punggungnya menyentuh alas tersebut, rasa nyeri yang selama ini ia tahan langsung menyerang tanpa ampun. Luka-luka akibat pukulan kembali berdenyut hebat, seolah seluruh tubuhnya diremas oleh tangan yang tak terlihat. Napasnya tercekat, sementara wajahnya langsung memucat karena menahan sakit.
"Hiks..."
"Sakit..."
Suara lirih itu lolos tanpa mampu ia tahan. Air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Ia buru-buru menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga agar tangisnya tidak berubah menjadi isakan keras. Ia tidak ingin ada seorang pun mendengarnya. Tidak ingin kembali dimarahi hanya karena dianggap berisik.
Dalam benaknya terlintas wajah perempuan yang telah memperlakukannya dengan begitu kejam.
'Bibi Ratih... Tunggu saja... Suatu hari nanti, aku pasti akan membalas semua yang telah kau lakukan kepadaku.'
Ia menarik pakaian tipis yang melekat di tubuhnya hingga menutupi bahu dan lutut. Sayangnya, kain lusuh itu sama sekali tidak mampu menghalau udara malam yang menusuk tulang. Angin dingin tetap menyelinap melalui celah-celah dinding, membuat tubuh kecilnya menggigil tanpa henti.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki keluarga Hartono...
Penyesalan memenuhi hatinya.
Ia selalu membayangkan kehidupan di keluarga kaya akan dipenuhi makanan lezat, pakaian indah, dan kasih sayang yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Karena itulah ia begitu bersikeras ingin datang ke sana, bahkan rela meninggalkan orang-orang yang selama ini mencintainya tanpa syarat.
Namun kenyataan yang menunggunya justru jauh lebih kejam daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.
Rumah megah itu ternyata bukan surga.
Melainkan awal dari penderitaan yang perlahan menghancurkan dirinya.
***
Pada saat yang sama, suasana yang sama sekali berbeda menyelimuti rumah sederhana milik keluarga Pratama.
Meski rumah itu jauh dari kata mewah, kehangatan yang memenuhi setiap sudutnya membuat udara malam terasa begitu damai.
Sejak Seina tertidur, Mira hampir tidak pernah benar-benar beristirahat. Berkali-kali ia berjalan pelan menuju kamar putrinya, berusaha memastikan semuanya baik-baik saja.
Setiap kali melihat selimut Seina sedikit bergeser, ia segera membetulkannya dengan gerakan selembut mungkin agar gadis kecil itu tidak terbangun.
Sesekali jemarinya mengusap rambut halus yang menutupi dahi putrinya. Tatapannya dipenuhi rasa sayang yang begitu dalam, seolah takut jika ia mengedipkan mata terlalu lama, putrinya akan kembali menghilang.
Mira khawatir Seina merasa asing berada di rumah ini.
Perasaan itu membuatnya tidak sanggup tidur nyenyak. Hingga langit mulai berubah pucat menjelang fajar, matanya hampir tidak pernah benar-benar terpejam.
Anehnya, sedikit pun ia tidak merasa keberatan.
Sebaliknya, senyum lembut terus menghiasi wajahnya.
Kelelahan yang biasanya terasa begitu berat kini seolah lenyap begitu saja karena kebahagiaan telah memenuhi seluruh hatinya.
Begitu suara ayam jantan memecah kesunyian pagi, Mira segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia merapikan rambut seadanya, lalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan bagi keluarganya.
Gerakannya ringan, bahkan sesekali ia bersenandung pelan tanpa sadar.
Di sisi lain, Seina sebenarnya sudah terbangun jauh sebelum Mira berniat membangunkannya.
Kelopak matanya bergerak perlahan. Dalam keadaan masih setengah sadar, bibir mungilnya bergumam lirih.
"Kak..."
"Kak Sora..."
Nama itu keluar begitu saja, mengikuti kebiasaan yang terbawa dari kehidupan sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, matanya benar-benar terbuka.
Tatapannya tertuju pada langit-langit rumah bambu yang sederhana. Dinding anyaman bambu, aroma kayu yang khas, serta cahaya redup dari lampu minyak yang masih menyala perlahan menyadarkannya akan kenyataan.
Ia terdiam cukup lama.
Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.
'Benar... aku benar-benar telah kembali ke masa lalu. Dan kini, aku berada di rumah keluarga Pratama.'
cerita nya juga seru