Aulia Zahra Wijaya, Putri dari Alm. Wijaya Arya, Wanita yang banyak memikat para Pria, tapi hanya satu yang bisa menarik perhatiannya.
Dia tinggal bersama Kakak Kandungnya Angga Wijaya yang meneruskan bisnis keluarga mereka, dan juga perusahaan yang dia kelola Wijaya Group, perkenalannya bersama 3 Sepupuh Kusuma merubah segalanya.
Dari jatuh cinta, konflik sampai dimana mereka harus berpisah, dan saling tarik ulur perasaan membuat Aulia harus bisa tegar dan mencoba tidak ingin jatuh lagi kepada pemilik hati.
Aulia memutuskan untuk fokus pada dunia bisnis keluarga, tapi hati selalu saja membawa Aulia dititik terlemahnya, dan pada satu titik kenyataan yang selama ia pegang ternyata semuanya salah, ia baru sadar pemilik hati itu tidak sengaja untuk melupakannya hanya saja ia harus mengalami Amnesia,
pemilik hati itu akhirnya mencari tahu kemana hatinya membawa, walau ingatan membuat ia lupa akan Aulia tapi hati tidak pernah salah, dan itu membawa mereka bersama kembali, tetapi perjalanan mereka tidak mudah untuk bersama selalu saja ada hal yang menghalangi.
bagaimana kisah cinta tersebut, tetapi Author membuat berbeda, silahkan dibaca dan diberikan like jika suka dan koment agar Author bisa mengembangkan ide apa saja dari readers serta vote yah, jika suka dengan Karya ini., terima kasih 'annyeong' 🤗😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flasback
bagi yang penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Andreas akan author ceritakan, semoga bisa membantu rasa penasaran readers yah.. selamat membaca 😉
........
Malam itu hujan deras sekali, Andreas mendapati kabar jika Ayla baru saja tiba dibandara, itu membuat dia
menyuruh Ayla untuk menunggunya untuk menjemput.
Bagaimana tidak bagi Andreas, Ayla layaknya teman, sahabat, adik dan juga orang yang menghibur dia saat Ibunya meninggal, karena terlalu senang, ia lupa membawa ponsel.
karena hujan yang sangat lebat disertai petir, Andreas tidak menghiraukan laju kendaraannya, Ia berusaha agar segera tiba di bandara.
Dilampu merah ia tidak melihat kalau lampu berwarna merah, karena terguyur hujan begitu lebat, Andreas pun melaju tanpa menengok kearah kiri dan kanan jalanan.
Tiba-tiba saja dari arah kanannya mobil box beroda enam mendekat kearahnya dan karena berusaha menghindar ia tidak lihat dari depan ada mobil truk tangki BBM yang melaju, akhirnya mobil Andreas penyot depan dan juga samping tepat dimana posisinga duduk.
tin tin tin
cciiiikkk..
suara klakson mobil dan juga rem berbunyi begitu melengking diguyuran hujan, Andreas yang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah, sebelum ia ditabrak hanya satu nama yang keluar dibibirnya 'Aulia'.
....
Aulia semenjak hujan dan juga petir, dia tidak bisa tidur, perasaannya begitu tidak nyaman, seakan terkontak batin oleh Andreas, ia berusaha menelepon tapi tak kunjung diangkat oleh Andreas.
membuat Aulia begitu khawatir dan juga gelisah, setiap kali petir menyambar itu akan membuat Aulia meringkuh kedalam selimut tebalnya, karena semakin takut ia memutuskan untuk pergi kedalam kamar Angel.
"ngel, aku disini yah" ucap Aulia yang tiba-tiba datang.
"lia, sini, kok kamu nangis takut banget yah, sini deh" ucap Angel mempersilahkan Aulia disampingnya.
karena masih merasa tidak enak hati Aulia memutuskan mengambil minuman dinakas samping tempat tidur Angel, Angel terbiasa minum ditengah malam makanya ia selalu standby gelas dan juga teko minuman.
entah karena suara petir atau perasaan Aulia yang tidak enak, tiba-tiba saja gelas itu jatuh dari genggaman tangannya.
brruukk
Angel yang melihat Aulia terdiam dan terpaku, langsung meringkuh mengambil gelas itu, untung saja lantai kamar Angel dilapisi karpet bulu tebal, gelas pun tidak pecah.
Angel menenangkan Aulia yang makin ketakutan, nampak Aulia menangis dalam pelukannya.
......
saat dua hari keberangkatan Ayah Adrian, Kakek Kusuma memutuskan untuk mencoba kemampuan Adrian.
Kakek pun memberikan Adrian tugas menjadi CEO di perusahaan itu, melihat Sekretaris Mike tiba-tiba saja masuk dengan raut waja yang pucat dan panik membuat Kakek dan juga Adrian penasaran.
"ada apa mike, apa yang sedang terjadi" ucap Kakek penuh wibawa.
sebelum memberikan kabar tidak lupa Sekretaris Mike membungkuk dan menyeka keringat dingin dikeningnya.
"maaf tuan, jika saya sudah lancang, hanya saja ini kabar yang harus segera saya sampaikan" ucap Mike ragu
Adrian dan juga Kakek Kusuma hanya menunggu kelanjutan informasi dari Mike tanpa basa-basi.
Mike yang tahu tatapan kedua orang dihadapannya, langsung berbicara sambik menunduk.
"baru saja tuan muda andre mengalami kecelakaan parah, tuan muda sudah dibawah kerumah sakit, kondisinya kini sedang kritis, dokter arya memutuskan untuk melakukan operasi.." ucap Mike terpotong.
melihat reaksi Kakek Kusuma yang berdiri mendadak, dan tiba-tiba langsung pingsan dihadapanya.
Adrian pun meringkuh memegang badan dan kepala Kakek, karena paniknya langsung memerintah Mike untuk segera membawa Kakek ke rumah sakit.
.....
Adrian yang melihat Andreas dari balik kaca pintu, dengan selang dan juga kabel disekujur tubuhnya tidak lupa selang masuk kedalam mulutnya beberapa layar monitor disamping kiri dan kanan tempat tidur pasien.
Adrian paham jika kondisi Andreas sangat kritis, Sekretaris Mike yang baru tiba di rumah sakit karena mengurus masalah dikantor, terpaku melihat kearah Adrian yang sedang merasa sedih.
Sekretaris Mike pun berjalan perlahan, belum sampai Mike, tiba-tiba saja Aditya datang dengan berlari menghampiri Adrian yang terdiam dibalik pintu.
"kak., gimana keadaan bang andre" ucap Aditya panik.
Aditya pun menengok kearah pandangan Adrian, dia dapat merasakan tanpa harus menjelaskan.
"lalu kakek, bagaiman kondisinya" lanut Aditya
Sekretaris Mike pun menepuk pundak Aditya.
"presdir belum sadar, tuan muda, lusa ayah tuan andre akan datang" ucap Mike
Adrian yang mendengar menoleh kearah Mike, Mike pun melanjutkan kembali
"jika pendapat saya tuan terima, apa boleh saya memberi masukkan**" tambah Mike
Adrian hanya mengangguk
"begini tuan, sudah 1 minggu kantor pusat tidak ada yang urus, 3 hari lagi akan ada penyelenggaran dibeberapa pusat perbelanjaan, bagaimana jika..." ucap Mike terpotong
Seakan tahu dengan maksud Mike, Adrian pun duduk dan melirirk kearah Mike.
"saya akan menggantikan kakek, dan akan bekerja sebagai presdir untuk sementara waktu" ucap Adrian.
Aditya yang bersandar di dinding sedari tadi, melirik kearah Mike dan juga Adrian tanpa menambah pembicaraan mereka, tidak lama ponsel Aditya bergetar
dreett dreett
panggilan dari Asst. Managernya Mas Dewo
"ia mas, oke baik aku kesana" ucap Aditya menyudahi
Aditya pun berjalan perlahan sambil duduk disamping Abangnya Adrian, dia menepuk pundak Adrian dengan wajah yang sangat menyesal karena harus pergi lagi ke tempat meeting untuk konser tour solonya,
Maklum bisa dibilang Aditya beberapa bulan ini, lagu debut solonya sedang memuncaki top chart musik, maka dia memutuskan untuk tour musik sekaligus jumpa fans walau hanya 5 kota tetapi itu menguras tenaga dan sudah 3 hari ia melakukan fan meeting bersama orang-orang yang akan mengurus konser solonya.
"kak, adit ingin sekali berada disini tapi jadwal tour adit sudah semakin mepet-mepetnya, jadi bisa kah.." ucap Aditya dengan nada frustasi
Melihat Aditya yang seperti tidak ingin beranjak dari rumah sakit membuat Adrian mau tidak mau harus menjadi lebih menuntun, bagaimana pun satu-satunya orang yang ada untuk Aditya adalah dia sekarang, Adrian tidak ingin kesedihannya dilihat oleh Aditya.
"lakukanlah yang terbaik, jangan terlalu memikirkan kami disini, semoga tourmu berjalan lancar abang akan selalu disini, jika kenapa-napa pasti akan menghubungi mu" ucap Adrian meyakinkan Aditya.
Mendengar Adrian berbicara, Aditya hanya bisa menghela nafasnya, seakan terpaksa untuk beranjak dari duduknya.
Aditya melihat kearah Mike
"jika ada sesuatu, tolong kabari aku, jaga para abangku dan juga kakek oke" ucap Aditya memegang pundak Mike untuk memberi kepercayaannya.
Aditya berjalan mendekat ke pintu kamar Andreas melihat kondisi Andreas sekali lagi yang terlihat memprihatinkan.
"semoga abang segera sadar" gumam Aditya.
.......
5 hari kemudian
Kondisi Andreas belum pulih, dia masih koma sudah 5 hari dia belum sadarkan diri, kata dokter tubuh Andreas sudah mulai pulih hanya saja otaknya belum merespon diakibatkan kepalanya yang terkena benturan yang sangat keras saat kecelakaan berlangsung.
Kepala Andreas mengalami cedera berat, maka dari itu dokter belum bisa melakukan apapun hanya menunggu, kapan akan Andreas akan cepat merespon setiap apa yang diberikan kepadanya termaksud dukungan dari keluarganya dengan memberikan obrolan-obrolan.
bagaimana pun orang koma masih bisa mendengar apa yang ada disekitarnya. Ayah Andreas yang sangat merasa bersalah, selalu berada disampingnya menemani Andreas, sesekali bergantian dengan Adrian, bertukar tempat keruangan Kakek Kusuma.
"rian, hari ini biarlah paman menjaga andre, nampaknya kau terlalu lelah, jangan terlalu memaksa" ucap Bima Ayah Andreas.
Adrian yang sedang duduk disofa sambil memangku tangan untuk menopang kepalanya terlihat memejamkan matanya.
Dia tersadar dengan kedatangan Pamannya dan langsung membenarkan Kembali duduknya.
"abaikan saja rian paman, rian tidak kenapa hanya sedikit lelah saja" ucap Adrian berjalan kearah wastafel menyirami wajahnya untuk menyegarkan kembali dirinya.
Nampak Ayah Bima menyimpan beberapa minuman dan makanan didalam lemari pendingin.
"sepertinya rian, ke ruangan kakek dulu, paman istirahatlah, saya akan menemani kakek, permisi paman" ucap Adrian yanh sedang merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan dan melonggarkan dasinya.
Ayah Bima yang sedang duduk disamping ranjang pasien selalu membelai lembut kepala anaknya yang tak berdaya, yang hanya dibantu dengan alat-alat pendukung yang terpasang dibadannya.
Adrian yang melihat tersentu, dia pun mendekat kearah Pamannya.
"paman, yang tabah, semoga andre secepatnya bangun, dan bisa bersama kita lagi" ucap Adrian menenangkan hati Pamannya yang nampak sedih dengan kondisi Anaknya.
Ayah Bima yang mendengar hanya membalas dengan menepuk lengan kekar Adrian dengan tersenyum.
"semoga saja, silahkan kau pergi keruangan kakek, paman titip kakek malam ini bersamamu" ucap Pamannya.
Adrian pun beranjak meninggalkan kamar inap Andreas, yah, selama Andreas belum sadarkan diri, Kakek pun hanya bisa terbaring dengan bantuan selang oksigen, walau sudah sadar tapi jantung Kakek sangat lemah.
Mungkin Kakek Kusuma belum siap menerima Cucunya akan seperti ini, maka dari itu, Adrian dan juga Ayah Andreas Paman Bima, sesekali juga Sekretaris Mike saling bergantian menjaga dan menemani mereka.
Karena Ayah Adrian (Bimo) dan juga Ayah Aditya (Baim) belum tiba di Indonesia, karena masih harus bekerja, maka merekalah yang silih bergantian yang menemani Pasien.
.....
Sudah 1 Minggu lebih Andreas masih terbaring tak sadarkan diri, Dokter berkata semua organ Andreas sudah pulih dan merespon semua obat yang masuk, itu menandakan bahwa kondisi badan Andreas sudah baik-baik saja.
Hanya saja Dokter belum bisa memastikan kapan Andreas akan sadar, hanya menunggu dan berdoa jalan satu-satunya.
Adrian yang sedang sibuk dikantor membereskan meeting bersama Klien, karena mereka baru saja melakukan proyek besar, nampak ponselnya berdering.
Drreett drreett
panggilan dari Aulia, bukannya Adrian tidak ingin mengangkat telepon itu, hanya saja Adrian belum tahu harus berbicara apa untuk meyakinkan Aulia tentang kondisi Andreas,
Yah, selama Andreas tak pernah muncul dihadapan dan menelpon Aulia, Aulia selalu menelepon Adrian maupun Aditya untuk mendengarkan kabar Andreas, tetapi bagi Adrian kondisi yang diderita oleh Andreas harus mereka simpan rapat-rapat, agar Aulia tidak mengetahuinya.
berulang kali, Aulia menghubungi, tetapi selalu Adrian tidak ingin menjawab, dia belum siap harus bicara bagaimana dengan seorang wanita yang kehilangan tanpa jejak kekasih yang sedang ia sayangi.
Maka dari itu Adrian memblokir nomor Aulia, bagi Adrian kesehatan Andreas dan juga Kakek sangat penting untuk saat ini.
"tuan, nampaknya tuan andre sudah siuman, saya baru diberi kabar oleh dokter arya" bisik Mike, yang baru tiba diruang meeting room tersebut.
Adrian yang mendengar langsung menghentikan rapat itu, dan menunjuk Sekretaris ruangannya untuk melanjutkan dan menyampaikan laporannya ke Adrian jika sudah selesai.
Adrian memutuskan untuk beranjak dari kantor menuju Rumah Sakit dibawah oleh Sekretaris Mike.
.....
Diluar ruangan Andreas nampak Ayah Aditya dan juga Aunty Alena dan juga Ibu Adrian sedang harap-harap cemas menunggu pemeriksaan selanjutnya tentang kondisi Andreas.
Adrian yang melihat langsung menghampiri Keluarganya dan sedikit bingung ada apa yang terjadi.
"ibu, paman aunty sedang apa diluar, bukannya andre sudah sadar.!" tanya Adrian mendekat kearah Ibunya Bianca.
Ayah Aditya yang sedang terduduk langsung melihat kearah keponakannya.
"kemarilah nak, tenangkan dirimu" ucap Paman Baim kepada Adrian.
Adrian pun turut duduk disamping Pamannya dan menunggu kelanjutan dari percakapan Pamannya yang terputus.
"andre sudah sadar, hanya saja dia kehilangan separuh ingatannya" ucap Paman Baim.
Mendengar ucapan Pamannya Adrian hanya mengernyitkan dahinya dan menunggu penjelasan selanjutnya tapi Pamannya tidak bergeming, begitu pun Ibunya dan juga Auntynya hanya harap-harap cemas menunggu Dokter keluar dari ruangan Andreas.
Dokter kepercayan Keluarga Kusuma itu pun keluar dan melepaskan kacamantanya dan melihat kearah para keluarga Kusuma, disusul oleh Ayah Andreas keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang tidak bisa dibaca.
"tuan andre sudah membaik, bahkan sangat baik, hanya saja benturan yang sangat keras dikepalanya yang saat kecelakaan terjadi pendarahan hebat, membuat sarafnya sedikit terganggu dan mengakibatkan tuan andre tidak mengingat kejadian setelah ibunya tiada, tuan andre mengalami amnesia lakunar dan disosiatif hanya memori sebagiannya saja yang ia ingat dan memori 2 tahun belakangan ini ia sama sekali tidak ingat" jelas Dokter Arya menjelaskan tentang penyakit yang diderita Andreas.
Semua yang mendengar kaget dan khawatir dengan kondisi Andreas, begitu pun Sekretaris Mike yang selalu setia dengan keluarga itu.
"jadi saya harap, para keluarga tidak memaksakan untuk tuan andre mengingat, jika itu terjadi maka akan ada dimana tuan andre sangat merasa kesakitan karena mencoba mengingatnya, jika tuan andre bertanya jawablah seperlunya, saya akan meresepkan obat-obat untuk tuan Andre, mari tuan bima ikut saya keruangan" tambah Dokter Arya
semua yang mendengar penjelasan dokter hanya saling melemparkan pandangan, tak kalah Ibu Adrian (Bianca) yang sangat khawatir dengan kondisi keponakannya.
bagi Bianca sebelum Ibu Andreas meninggal Andreas sangat akrab dengannya, baginya Andreas sudah seperti anaknya, Bianca pun masuk keruangan Andreas bersama Adrian.
Didalam ruangan, nampak Andreas tersenyum kepada dua orang itu, sepertinya Andreas tidak tahu bagaimana selama ini ia tidak pernah akrab dengan Adrian dan juga Auntynya itu.
"aunty, rian, kok hanya disitu, kemarilah" ucap Andreas menyambut Bianca dan juga Adrian yang baru saja masuk.
Adrian pun menuntun Ibunya mendekat keranjang Andreas, Bianca dan juga Adrian berusaha untuk tidak bersedih dihadapan Andreas.
"kamu sudah sadar nak, apa ada yang kami butuhkan, bilanh ke aunty sayang" ucap Bianca mengenggam erat tangan Andreas dan membelai lembut kepala Andreas.
Adrian hanya berdiri disamping Ibunya, Andreas yang mendapati perlakuan Auntynya hanya bisa tersenyum manis dan manja.
"memangnya andre kenapa aunty, bisakah aunty membuatkan sup kesukaan andre, andre sangat kangen dengan masakan itu, padahal andre selalu memakan buatan aunty" ucap Andreas manja.
"nampaknya andreas benar-benar tidak mengingat kejadian sesudahnya" gumam Adrian melihat kondisi Andreas.
Walau tubuh dan kondisi Andreas yang snagat baik, bagi Bianca dan juga Adrian, Andreas malah memprihatinkan, dia harus menghapus kenangan buruknya dan hanya mengingat kenangan yang manis saja.
"bukan maksud aunty, cuman kamu sudha lama tertidur membuat aunty kangen denganmu sayang, baik selepas aunty melihatmu aunty akan pulang untuk menyiapkannya" ucap Bianca kepada Keponankannya itu.
......
"lia, sudah dari kemarin kamu mengurung diri dikamar, apa kamu ingin abang menemui andre, dan menyeretnya kemari" ucap Angga kearah Aulia yang sedang termenung diatas ranjangnya.
Kamar Aulia sangat gelap, sepertinya Aulia sangat tidak ingin dirinya disorot, ruangan kamarnya gelap bahkan cahaya matahari Aulia tidak izinkan masuk, semua gorden ia tutup rapat-rapat.
Melihat kondisi Adiknya yang sangat memprihatinkan, membuat Angga geram dengan keadaan Aulia.
"jika abang mendekat kepadanya, abang tidak akan melihat aulia lagi, aulia hanya ingin dia sendiri yang kemari, aulia tidak ingin jika dia datang kehadapan aulia hanya karna terpaksa" ucap Aulia dibalik dekapan kedua pahanya, kepalanya ia sengaja benamkan.
Mendengar Adiknya berucap seperti itu membuat Angga sedih.
"apa karena lelaki itu, kau ingin meninggalkan abang, lia, abang hanya tidak ingin kau jadi seperti ini, kondisi sangat buruk, sementara dia entah dimana, itu yang membuat abang frustasi dengan semua ini" ucap Angga cemas.
mendengar Abangnya berucap, Aulia pun mendongakkan kepalanya kearah Angga yang terduduk dibibir ranjang.
"maaf bang, hanya saja aulia..." ucap Aulia terputus karena sakit dikepalanya yang membuat dia seakan-akan terputar-putar dna akhirnya pingsan.
Angga yang melihat Adiknya pingsan tak sadarkan diri, membuat Angga melotot dan kaget kearah Adiknya, Angga pun langsung mendekap Adiknya dan membawa keluar kamarnya.
"lia, aulia, astaga.." ucap Angga sambil berlari keluar untuk memanggil Angel dan juga Bunga.
"angel, unge, cepat kemari kita bawa aulia kerumah sakit cepat" ucap Angga panik dengan nada meninggi.
Mendengar Abang mereka berteriak-teriak, membuat keduanya yang sedang sibuk denga pekerjaan masing-masing langsung berlari kearah sumber suara dan mendapati Angga sedang menuruni tangga menuju parkiran mobil.
Keduanya pun langsung membantu Angga membuka pintu belakang mobil dan Bunga pun bertugas menyetir.
Diperjalan kerumah sakit, mereka sangat panik, tidak ada yang bersuara, mereka hanha fokus ke Aulia yang lemas tak sadarkan diri.
sesampainya diruangan UGD rumah sakit, Angga yang sedang menggendong erat Adiknya langsung dengan sigap menuntun tubuh Aulia diranjang pasien, tak lama kemudian Dokter Tian mengejek kondisi Aulia.
Sebelum merka tiba dirumah sakit, Bunga sudah lebih dulu menghubungi Dokter Keluarga Wijaya yaitu Dokter Tian, bagi orang kaya seperti mereka, hanya dokter kepercayanlah yang boleh menyetuh Keluarga tersebut, begitu pun dengan Keluarga Wijaya.
"bagaimana kondisi aulia dok" ucap Angga cemas.
Dokter Tian yang baru selesai mengecek keseluruhan kondisi Aulia nampak tenang dengan balutan jas kedokterannya.
"apa nona aulia tidak makan selama beberapa hari ini? kondisi lambung yang kosong yang tidak ada asupan sama sekali asam lambungnya pun meningkat menyebabkan penyakit lambung dan tukak lambung nona meningkat, kami akan memberikan perawatan untuk nona agar lambungnya kembali pulih" ucap Dokter Tian.
Mendengar Dokter Tian berucap langsung dijawab oleh Angel, yang selalu standby selama 1 minggu ini.
"sebelum-sebelumnya lia makan walau hanya sedikit dok, tetapi sudah beberapa hari ini dia tidak makan dan hanya meneguk air jika dia selepas menangis" jawab Angel memberi penjelasn pada Dokter Tian.
"*oh yah, apa akhir-akhir ini nona aulia, stres, ini juga bisa disebabkan karenanya. kami akan berusaha merawat nona, tuan angga tenang yah, saya permisi dulu" ucap Dokter Tian kembali
"silahkan dok*" ucap Bunga dan juga Angga.
Terlihat guratan kesedihan dimata Angga, ia tidak tahu harus bagaimana, sebelum Aulia sempat ia mendengar ucapan Aulia bahwa ia akan meninggalkan Angga, jika Angga berusaha membawa paksa lelaki yang membuat Aulia seperti sekarang ini.
Angga pun tidak kuasa menopang tubuhnya, ia pun terduduk dilantai dingin rumah sakit depan ruangan Aulia dirawat, Bunga yang baru keluar dari ruangan Aulia seraya mendekat untuk menenangkan Abangnya itu.
"bang, bukan hanya abang yang sedih unge dan juga angel sedih melihat kondisi aulia, tapi kami akan lebih sedih jika abang seperti ini, kami semua kuat jika abanh kuat" ucap Bunga membelai punggung Abangnya.
mendengar Adik sepupunya berucap membuat Angga hanya bisa tersenyum menguatkan dirinya.
"abang, abang takut kehilangan lagi unge, hanya aulia satu-satunya saudara abang, abanh sedih sekali melihat dia terbujur lemas seperti itu, bahkan penyakitnya yang saat kedua orang tua kami meninggal pun kambuh lagi, itu yang membuat abang seperti tidak bisa bebrbuat apa-apa unge" ucap Angga frustasi beberapa kali meremas kasar rambutnya.
melihat reaksi Abangnya sangat khawatir membuat Bunga menenangkan dan memeluk Abangnya yang sudah sangat ia kenal sedari kecil.
......
Andreas sudah bisa pulang, sebelumnya ia melihat kondisi Kakek Kusuma diruanganya, ditemani oleh Ayahnya.
"ayah, apa kita harus pergi meninggalkan kakek, sebelum ia sadar" ucap Andreas kepada Ayahnya yang berada disampingnya.
Ayah Andreas hanya menepuk pelan pundak Andreas berusaha untuk kasih pengertian kepada Anaknya yang belum tahu apapun, selama ia sadar.
"apa kamu perlu menunggu kakek, jika ia sudah sadar kita akan memberi tahunya sekarang kita pulang dulu, Pamanmu dan juga Auntymu sudah menunggu dirumah" ucap Bima
Mendengar ucapan Ayahnya, Andreas pun menoleh dan tersenyum
"bisakah" tanya Andreas yang hanya dibalas anggukan oleh Ayahnya.
"baik, kita pergi sekarang, tapi sebentar boleh andre kesini lagi.?" tanya Andreas.
Ayahnya pun mengangguk lagi, mereka pun memutuskan untuk pulang kediaman Keluarga besar mereka.
....
"paman, dimana adit? selama andre dirawat hanya dia yang tidak andre lihat.?" ucap Andreas merujuk ke Paman Baim
Pamannya dan juga semua orang saling melemparkan pandangan, Adrian yang menyempatkan untuk pulang sejenak karena jam makan siang kantor, langsung merangkul sepupuhnya itu dan tersenyum.
"apa kau tahu? selama kau dirawat, adit sudah menjadi idol negara ini, dan sekarang ia sedang melakukan tour untuk promosi album solonya" ucap Adrian dengan wajah yang sangat ceria.
Kening Andreas sedikit berkerut, tidak bisa mencerna dengan baik apa yang barusan ia dengar.
"benar apa yang kamu bilang, jika seperti itu, harusnya aku suda mengucapkan selama untuknya, karena cita-citanya sudah terkabulkan dan bebas dari ikatan keluarga ini" ucap Andreas sambil duduk diruang keluarga.
Aunty Alena, Ibu Aditya pun bersuara
"kau bisa memberinya selamat, dia akan pulang untuk melihatmu, ia meminta izin selama 2 hari untuk pulang, bagaimana?" ucap Aunty Alena.
Mendengar Aunty berucap Andreas sempat terkejut dan merasa senang.
"wah, sepertinya anak kecil itu sangat merindukanku, sampai-sampai ia harus menunda konsernya beberapa hari" ucap Andreas diselangi dengan tawa riangnya.
Semua orang yang ada diruangan itu pun ikut tertawa.
......
jangan lupa vote dan like yah readers
mampir yuk ke novelku yang berjudul
"pergi ke masa lalu"
"siculun dan pangeran tampan"
minta dukungannya lewat rate komen like dan votenya, apabila suka alurnya bisa klik favorit
salam santun dariku Rija Annisa
Semangat update bab barunya thor😍
Salam dari
"Infinity" (romance)
"Ve" (mystery thriller)
"Aku (Bukan) Pelakor" (young-adult romance)