Cinta Adharra dan Rafael sudah terjalin saat mereka masih kecil. Usia keduanya yang terpaut beberapa tahun dan masalah silih berganti datang menguji cinta keduanya. Terlebih setelah kesalahan besar yang Rafael lakukan membuat Adharra goyah dalam kekecewaan. Walaupun saat bersama Rafael membuatnya lemah dan terluka tapi dia tidak bisa berhenti mencintainya, dia telah terjebak dalam cinta Rafael.
Akankah mereka bisa mempertahankan kisah asmaranya? Simak ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinbisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bertandang ke rumah tante Annisa, untuk kesekian kalinya dengan sambutan yang sangat bersahabat. Tidak membuat Tita seperti di atas angin. Iya masih sungkan dan malu, dengan sambutan hangat Annisa sekeluarga yang begitu baik dengannya. Yang jelas ia hanya orang asing, dan teman masa kecil anak sulung dari keluarga besar Dimas.
"Ayo, Ta, ikut makan, baru setelah ini kita berangkat," ajak Nisa pada Tita yang masih betah duduk di sofa ruang tamu.
Kapan hari Nisa memang berpesan akan mengajak Tita jalan-jalan ke butik. Dan menyuruh Tita bertamu lagi hari sabtu siang dikediaman Nisa sekitaran pukul 14:00 siang. Bukanya datang terlambat, gadis yang akan beranjak dewasa itu malah datang tepat waktu dan berbarengan dengan Annisa sekeluarga yang sedang makan siang.
"Makasih tante. Tita tadi di rumah sudah makan, jadi masih kenyang." tolak halus Tita.
"Gak apa-apa kalau makan lagi bukan. Tita, bisa memakan cemilan saja, ayo Arra sama Angga juga lagi makan, Tita ikut gabung ya. Ayo Nak." ajak Nisa kekeuh. Tita yang tidak enak menolak lagi, pun akhirnya mengekori si nyonya rumah yang berjalan duluan menuju ke ruangan tempat makan.
***
Vira duduk bosan memainkan Hpnya. Melirik ibunya yang masih sibuk melayani pelanggan.
"Hoam.., ngantuk." Vira menguap. Sudut matanya berair, sedari pagi ia menemani sang ibu yang mengurus usaha butiknya, hingga menjelang sore. Namun, rupanya Mamanya masih saja disibukan dengan pelanggan yang terus berdatangan dan meminta desain khusus.
Vira bangun, lalu dihampirinya wanita paruh baya yang sudah membesarkannya dengan tanpa sosok pendamping seorang suami. Vira adalah anak Broken home. Orangtuanya resmi bercerai saat ia masih anak-anak dan bersekolah kelas 5 SD.
Saat kecil ia sering dicemooh. Dikatai teman-temannya karena tidak memiliki keluarga yang lengkap. Apalagi gadis itu tidak pernah sama sekali mengenalkan sosok Ayahnya pada saat pertemuan orang tua di sekolah.
Teringat akan waktu itu, saat keluarga masih utuh, meskipun sikap Ayahnya yang tidak terlalu perhatian dengannya, setidaknya ayahnya masih ada disisi Vira, dan bisa ia lihat setiap ia berada di rumah.
Memang Ayahnya tidak begitu peduli dengan ia dan ibunya. Ayah Vira hanya sibuk bekerja, dan mengejar ambisinya menjadi pejabat. Sampai tiba, dititik saat keluarga Vira terlibat masalah pelik. Ayahnya yang terlibat kasus koruptor pejabat lainnya, dan itu membuat keluarganya hancur.
Ayahnya pun melampiaskan semua masalah itu dengan Ibunya. Ayah yang seharusnya menjadi tameng keluarga, yang menjadi tiang kokoh, malah kini menjadi belati yang mengoyak sisi kemanusiaan Vira. Ia benci saat ayahnya memukuli ibunya tanpa sebab, hingga sampai hari itu tiba. Ibunya tidak tahan lagi hidup dengan sang Ayah dan memutuskan bercerai.
"Mah, ayo pulang, Vira mau tidur di rumah. Mama apa tidak capek, dari tadi Vira lihat, gak ada istirahat?" celetuk Vira memeluk tubuh sang ibu.
Novia menyudahi pekerjaannya. Meletakan buku gambarnya di meja dan merapihkan barang lainnya yang masih berhamburan.
"Hmm, kamu lapar nak?" Novia malah meladeni sang anak dengan balik bertanya.
Vira langsung bereaksi, merengek dan memasang wajah kuyu. "Mamahh.."
Novia terkekeh kecil. Anaknya ini meskipun sudah beranjak dewasa, tingkahnya masih saja seperti anak kecil, dan sangat manja padanya.
"Iya, ayo kita cari makan dulu, baru setelah itu pulang. Tunggu sebentar ya, Mama mau beresin ini dulu sayang," final Novia tidak ingin berdebat lebih panjang lagi. Ia juga memang kelaparan. Apalagi ini sudah sore dan anaknya pun pasti bosan menunggui ia sedari pagi sampai sekarang yang sibuk mengais nafkah untuk biaya hidup mereka berdua.