Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.
Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.
Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Bertemu Damian Part 2
"Kau...!" Napas Evelyn memburu ghaib. "Jangan bilang... kau yang membuat temanku mematung dan membuat seluruh waktu di tempat ini berhenti?!"
Evelyn mendadak teringat kembali pada kepingan memori kemarin sore. Saat ia hampir mati ditabrak truk, waktu juga sempat berhenti secara ghaib, dan dalang di balik mukjizat aneh itu adalah dua sosok pria berwajah rupawan; Benjamin si naga Mage, dan pria gila di depannya ini.
Evelyn, yang sejak awal sudah membulatkan tekad untuk membalaskan dendam kematian tragis mendiang ibunya pada klan penguasa kegelapan, semakin dibuat emosi saat melihat wajah Damian dari jarak sedekat ini. Urat amarah di dadanya bergemuruh hebat, siap meledak kapan saja.
"Iya, benar sekali, Sayang. Akulah yang telah menghentikan putaran waktunya," jawab Damian santai, memajukan tubuhnya hingga aroma maskulin khas demon tingkat tinggi menguar memenuhi rongga hidung Evelyn.
Damian menopang wajahnya, menatap lekat-lekat garis wajah Evelyn yang tegang. "Kau tahu? Aku sengaja melakukan ini karena aku hanya ingin melihat wajah kekasih tangguhku tanpa ada gangguan. Aku sudah tidak sabar untuk membawamu pulang ke kastil megahku di Hutan Perak dan menjadikanmu ratu mutlak di samping singgasanaku. Dan malam ini... aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu tanpa perlu diganggu oleh siapa pun, termasuk sahabat manusiamu yang tidak berguna ini."
Evelyn semakin dibuat geram saat mendengar klaim sepihak dari mulut pria di hadapannya. "Ratumu? Jangan pernah berharap!" desis Evelyn tajam.
Meskipun emosinya sudah berada di ubun-ubun, akal cerdas Evelyn bergerak cepat. Di dalam benaknya, ia mulai menyusun rencana balas dendam yang matang. Sebelumnya, ia bahkan sudah memeras Benjamin untuk memberi tahu rute tersembunyi menuju kediaman Raja Demon ini.
Tawaran Damian sebenarnya bisa menjadi jalan pintas yang manis, namun harga diri Evelyn terlalu tinggi untuk sudi menjadi tawanan sukarela seorang iblis. Jika saja ia tidak memiliki urat malu, mungkin ia sudah menerima tawaran itu demi mempermudah misi balas dendamnya.
Namun tidak, Evelyn menolak tunduk. Ia akan mencari cara lain untuk menginjakkan kaki di teritori pria itu dengan usahanya sendiri.
Damian justru tertawa renyah mendengar penolakan mutlak tersebut. "Ah, sikapmu ini benar-benar membuatku semakin jatuh cinta padamu, Evelyn. Kau memiliki sifat keras kepala yang sama persis denganku. Kalau sudah begini, kau terbukti sangat cocok untuk bersanding di samping singgasanaku."
"Berhentilah mengatakan omong kosong dan memakai topeng wajah penipumu itu, Tuan. Aku yakin wajah aslimu tidak akan lebih baik daripada hantu gentayangan," cibir Evelyn sinis.
Damian menyentuh dadanya sendiri, berpura-pura terluka. "Sungguh, hatiku sangat sakit mendengar penilaian kejammu itu, Sayang. Tapi tak masalah. Wajah tampan yang kau lihat sekarang ini murni milikku, aku sama sekali tidak sedang menggunakan sihir penipuan untuk mengelabuimu."
"Cih. Aku sudah tahu rupa asli klan demon yang mengerikan itu," dengus Evelyn penuh antipati.
"Oh, jadi kau menolakku hanya gara-gara wujud demon-ku?" Damian menaikkan sebelah alisnya, tersenyum miring. "Rasku memang terkenal memiliki rupa sekelam malam, namun aku adalah raja tertinggi. Aku berbeda dari makhluk liar yang kau bayangkan. Lihatlah wajahku sekarang, bukankah aku sangat tampan? Apa kau benar-benar tidak terpesona sedikit pun melihat ketampanan paripurna ini?"
"Sudah cukup! Kau benar-benar tidak tahu malu, Tuan. Menggoda seorang gadis asing yang bahkan sama sekali tidak mengenalmu," potong Evelyn ketus.
"Kau pintar sekali, Sayang. Ternyata kau memang tidak mudah dibodohi," puji Damian, matanya berkilat penuh kepuasan. "Baiklah, karena semuanya sudah terlanjur basah, sekalian saja aku menampakkan wujud asliku padamu malam ini. Anggap saja ini perkenalan awal agar matamu terbiasa nantinya. Siapa tahu... setelah melihat wujud asliku, kau justru akan langsung terpikat oleh kekuatanku."
Dalam sekejap mata, atmosfer di dalam kabin sempit itu berdesir hebat. Gelombang energi hitam yang pekat meledak dari tubuh Damian. Kulitnya yang semula berwarna tan eksotis perlahan berubah menjadi merah membara yang mengerikan. Dari balik sela rambut cokelatnya, mencuat sepasang tanduk hitam legam yang memanjang dengan kobaran api hitam yang menguar pekat di ujungnya.
Sebuah ekor bersisik yang panjang menjalar keluar, meruncing tajam di bagian ujungnya. Gigi-gigi taring Damian memanjang di balik bibirnya, sementara sepasang manik mata hitam pekatnya kini menyala merah darah, memancarkan aura kepemimpinan tingkat tinggi yang mencekik udara.
"Bagaimana, Sayang? Sekarang... apa kau sudah berubah pikiran dan mau ikut denganku ke Hutan Perak?" tanya Damian, suaranya berubah menjadi berlapis ghaib, sarat akan getaran mistis yang mengintimidasi.
Evelyn yang menyaksikan transformasi mengerikan itu dari jarak dekat tentu saja merasa ngeri bukan main. Detak jantungnya bertalu-talu dihantam gelombang ketakutan. Namun, ia mati-matian menekan rasa takutnya, berusaha bersikap tenang dan menyembunyikan getaran hebat di kedua belah tangannya.
"Aku tidak sudi menjadi ratumu, apalagi tinggal bersama monster sepertimu!" tolak Evelyn mentah-mentah dengan tatapan mata yang menghunus tajam.
Damian mendesah frustrasi, menarik kembali tubuhnya bersandar pada dinding kabin. "Ck. Sial. Keras kepala sekali," gumamnya tak percaya atas penolakan itu. "Oke, baiklah untuk malam ini kau menang. Jika suatu saat nanti kau berubah pikiran atau membutuhkan bantuanku, datang saja ke kastil pribadiku. Aku akan dengan senang hati menyambut kedatangan calon ratuku," ucap Damian sembari mengulurkan tangan, mencolek gemas dagu Evelyn sekilas sebelum gadis itu sempat menghindar.
Evelyn sentak menepis tangan Damian dengan sentakan kuat, lalu memalingkan wajahnya ke arah samping jendela dengan raut jijik.
"Tidak usah banyak omong lagi, apalagi basa-basi yang tidak perlu. Pergi sana!" usir Evelyn, suaranya sedingin es.
"Tega sekali kau, Sayang. Lagi-lagi hatiku terluka karena penolakanmu," ucap Damian dramatis. "Sampai jumpa lagi di Hutan Perak, Ratu Kecilku."
Ctak!
Bsttt!
Damian merapal sihir hitamnya secara instan. Wujud demon-nya yang mengerikan melebur cepat menjadi kabut kegelapan, lalu lenyap tanpa sisa. Kabin sempit itu kembali mendadak kosong.
Bertepatan dengan hilangnya sang penguasa kegelapan, mantra pembekuan waktu runtuh seketika.
Dunia fana di sekeliling mereka kembali berputar normal dalam satu kedipan mata. Kincir raksasa bianglala kembali bergerak perlahan, embusan angin malam pantai kembali menusuk kulit, dan suara riuh tawa pengunjung festival di bawah sana kembali mendengung hebat memenuhi udara.
"Wah, Eve! Lihat ke bawah, lampunya bagus banget dari atas sini!" seru Sofia tiba-tiba, menunjuk-nunjuk kaca jendela dengan heboh.
Gadis itu bergerak aktif, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa detik lalu jiwanya baru saja dibekukan, dan sahabatnya baru saja bertaruh nyawa di depan Raja Demon.
Evelyn hanya bisa menghela napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih bertalu-talu. Ia meremas jemarinya kuat-kuat di balik saku sweter, menatap kosong ke arah langit malam yang bertabur bintang dengan tekad balas dendam yang kian membara di dadanya.