NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:816
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

BAB 33: DUA NAMA, SATU WAJAH

"Wajah ini sama persis. Garis mata, lengkungan bibir, bentuk hidung, bahkan lesung pipi yang hanya muncul saat tertawa tulus... semuanya serupa sampai tak ada satu pun orang yang bisa membedakan. Tapi di balik rupa yang sama itu, tersembunyi dua nama, dua kisah, dua jiwa yang berbeda bagai siang dan malam. Dua nama yang melekat pada satu wajah ini, berkelahi, berganti-ganti, dan saling menindih selama dua tahun penuh, meninggalkanku bingung: siapa yang sebenarnya sedang menatapku saat ini?"

Arka masih berdiri kaku di tempatnya, album foto kecil itu tergenggam erat di tangannya, seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menghubungkannya dengan kenyataan di tengah badai pengakuan yang menghempas tubuh dan jiwanya. Matanya tak lepas dari wajah wanita yang duduk memunggunginya di sofa itu. Wajah yang begitu ia hafal, wajah yang pernah menjadi satu-satunya alasannya bernapas dan berjuang.

Namun sekarang, saat ia menatap wajah itu, ia tidak lagi hanya melihat satu sosok. Di sana, di bawah cahaya lampu ruangan yang hangat namun terasa dingin itu, Arka melihat bayangan ganda. Ia melihat Elena yang lembut dan sederhana, bersisikan dengan Claire yang cerdas, berani, namun gelap dan penuh dosa. Dua nama yang berbeda dunia, namun menumpang hidup pada satu wajah yang sama persis.

"Dua nama..." gumam Arka pelan, suaranya bergetar menahan kekaguman pahit sekaligus rasa ngeri yang mendalam. "Dua nama yang begitu berbeda maknanya. Satu nama suci, bersih, tak bernoda. Satu lagi nama yang penuh debu masa lalu, penuh noda kejahatan, penuh jejak darah. Tapi keduanya tertulis di bawah wajah yang sama persis."

Arka melangkah perlahan mendekat, berjongkok tepat di hadapan Claire, memaksa wanita itu mendongak dan menatap matanya lekat-lekat. Ia mengangkat satu tangan gemetar, jarinya menyentuh pipi wanita itu, menyusuri garis rahang yang halus, menyentuh sudut mata yang basah air mata. Sentuhan yang dulu penuh kasih sayang, kini terasa dingin dan penuh tanya.

"Kenapa harus begitu mirip, Le... eh, Claire?" tanya Arka lirih, kesulitan menyebutkan nama yang benar, kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang samaran. "Kenapa Tuhan menciptakan kalian begitu mirip sampai kalian bisa saling bertukar hidup? Sampai aku, yang hidup bersamamu setiap detik, tidak pernah menyadari ada pergantian identitas yang besar dan mengerikan ini?"

Claire memejamkan matanya rapat-rapat di bawah sentuhan itu, tubuhnya menggigil hebat. Air mata makin deras mengalir dari celah kelopak matanya, membasahi jari-jari Arka.

"Karena kami sepupu dekat, Mas..." jawab Claire dengan suara yang tercekik, berat dan penuh kepedihan. "Ibu kami adalah saudara kembar. Ayah kami adalah saudara sepupu. Darah kami begitu dekat, genetik kami begitu mirip... sampai orang tua kami sendiri sering salah panggil nama saat kami masih kecil. Dulu kami menganggapnya berkah. Kami sering bermain tukar-tukaran baju, tukar-tukaran peran, hanya untuk bercanda atau mengerjai orang lain. Kami pikir itu hal lucu. Kami pikir itu anugerah."

Claire membuka matanya kembali, menatap Arka dengan pandangan yang penuh penyesalan terdalam.

"Tapi ternyata... kemiripan wajah itulah yang menjadi pintu neraka kami. Kemiripan itulah yang membuat Adrian mendapatkan ide gila itu. Dia bilang: 'Kalian sama persis. Siapa yang akan tahu kalau kalian bertukar tempat selamanya? Siapa yang akan curiga kalau Claire mengambil hidup Elena?'"

Claire tersenyum miris, senyum yang menyakitkan untuk dilihat.

"Dua nama, satu wajah... itulah senjata terbesar kami, Mas. Itu kunci dari semua kejahatan kami. Elena punya nama baik, harta, dan hak waris. Aku punya keberanian, kecerdasan, dan keinginan kuat untuk memiliki segalanya. Kami menggabungkan keduanya. Aku membawa kemiripan wajahku, aku memakai nama Elena, aku mengambil hak-hak Elena... dan aku membuang nama Claire jauh-jauh ke masa lalu, menguburnya di Surabaya bersama debu dan kenangan lama."

Arka menarik kembali tangannya perlahan, seolah kulit wanita itu tiba-tiba terasa panas dan membakar. Ia merasakan pusing yang hebat, merasakan betapa rumit dan liciknya permainan yang telah dimainkan di bawah hidungnya sendiri selama dua tahun.

"Jadi setiap kali aku memanggil nama Elena..." ucap Arka pelan, matanya menajam menembus ke dalam jiwa wanita itu. "Setiap kali aku berteriak, berbisik, atau memanggil nama itu dengan penuh kasih sayang... nama itu sebenarnya bukan milikmu. Nama itu milik orang lain. Nama itu milik gadis yang wajahnya sama persis denganmu, tapi jiwanya jauh lebih suci dan jauh lebih berhak atas segala sesuatu yang selama ini kamu nikmati."

Arka menunjuk dada wanita itu, tepat di tempat jantungnya berdetak.

"Dan di dalam sini... di dalam sini ada pertempuran abadi, bukan? Antara dua nama itu. Saat aku berbuat baik, saat aku menyayangimu, saat aku memberikan hal indah... kamu ingin menjadi Elena. Kamu ingin merasakan betapa enaknya dicintai dengan nama itu. Tapi saat ada rencana, ada kejahatan, ada keuntungan yang harus diambil... kamu kembali menjadi Claire. Kamu menanggalkan kelembutan Elena, dan memakai ketajaman serta kelicikan Claire."

Claire mengangguk lemah, bahunya terkulai lemas seolah tulang-tulang penyangganya telah patah satu per satu.

"Benar, Mas... Dua nama ini bertarung terus-menerus di kepalaku, di hatiku, di seluruh tubuhku. Aku lelah, Mas. Aku sangat lelah. Dua tahun ini aku hidup seperti orang gila. Di depan orang lain aku harus Elena: sopan, lembut, sederhana, penyayang. Di belakang layar, di depan Adrian, saat sendirian... aku harus menjadi Claire: tegas, licik, berani, penuh rencana. Aku harus berganti kepribadian secepat aku berganti baju."

Claire menatap Arka dengan mata yang basah dan lelah.

"Kadang aku sendiri bingung... siapa aku sebenarnya? Apakah aku Elena yang sedang berpura-pura menjadi Claire? Atau aku Claire yang lelah berpura-pura menjadi Elena? Dua nama itu menindihku begitu berat, sampai aku lupa bagaimana rasanya menjadi diriku sendiri... menjadi hanya Claire Nathania, tanpa samaran, tanpa ambisi, tanpa kejahatan."

Di sudut ruangan, Adrian yang sejak tadi diam mendengarkan akhirnya berbicara lagi. Suaranya parau dan berat, namun jelas terdengar.

"Itulah keajaiban sekaligus kutukan rupa kalian, Pak Arka..." ucap Adrian tanpa mengangkat kepalanya. "Satu wajah, dua identitas. Kami pikir itu sempurna. Kami pikir tidak ada celah yang bisa ditembus hukum atau siapa pun. Karena kalau ada masalah, dia bisa menjadi Elena. Kalau ada bahaya, dia bisa menjadi Claire. Dia punya dua hidup, dua perlindungan, dua masa depan dalam satu raga."

Adrian tertawa kecil, tawa yang hampa dan menyedihkan.

"Tapi kami lupa... bahwa manusia bukan sekadar wajah dan nama. Manusia punya hati. Dan hatinya... hatinya bingung. Hatinya terbelah. Hatinya tidak kuat menanggung dua beban berat sekaligus. Itulah sebabnya dia sering menangis diam-diam. Itulah sebabnya dia sering termenung. Itulah sebabnya dia sering menatap Bapak dengan pandangan yang tidak menentu. Dia tidak sedang melihat Bapak sebagai suami Elena... dia sedang berjuang memilih: mau jadi siapa saat itu? Elena atau Claire?"

Arka kembali menatap wajah wanita itu. Wajah yang indah, wajah yang sempurna, wajah yang sama persis dengan milik Elena Wijaya yang asli. Namun kini, wajah itu terlihat pucat, lelah, dan penuh retakan. Di balik keindahannya, wajah itu menjadi saksi bisu dari kepedihan memiliki dua nama yang saling bertikai.

"Dua nama, satu wajah..." ulang Arka pelan, kalimat itu kini menjadi kunci dari segala misteri yang menyiksanya. "Itulah alasan mengapa aku bingung selama ini. Mengapa ada hari di mana kamu begitu mencintaiku, dan ada hari di mana kamu begitu dingin. Saat itu... saat itu bukan perubahan suasana hati. Saat itu pergantian nama. Saat itu pergantian peran."

Arka menghela napas panjang, napas yang terasa kosong dan berat. Ia sadar sekarang, bahwa selama ini ia tidak pernah memiliki satu istri saja. Ia hidup dengan dua wanita berbeda yang berganti-ganti kendali atas tubuh yang sama, yang terikat oleh dua nama yang berbeda, namun disatukan oleh satu rupa yang identik.

"Dan malam ini..." lanjut Arka, suaranya tegas namun penuh kepedihan. "Malam ini topeng itu jatuh. Dua nama itu akhirnya terpisah. Elena kembali menjadi nama yang suci, yang bersih, yang jauh dari sini. Dan kamu... kamu kembali menjadi Claire. Claire Nathania dari Surabaya. Claire yang penuh masa lalu kelam. Claire yang kini duduk di hadapanku, telanjang dari segala samaran, telanjang dari segala kebohongan."

Claire mengangguk perlahan, air mata menetes pelan namun tak henti-hentinya. Ia menyeka wajahnya dengan kasar, seolah ingin menghapus jejak wajah itu sendiri, seolah ingin merobek kulitnya agar tidak lagi mirip dengan siapa pun, agar bisa menjadi dirinya yang sederhana dan hancur ini saja.

"Ya, Mas... Malam ini aku meletakkan nama Elena untuk selamanya. Aku tidak mau lagi membagi wajah ini dengan nama orang lain. Aku tidak mau lagi membawa beban dua jiwa sekaligus. Mulai detik ini... kalau Mas melihatku... lihatlah aku sebagai Claire. Hanya Claire. Wanita yang penuh dosa, wanita yang telah menipu Mas habis-habisan, wanita yang tidak pantas disebut Elena sedikit pun."

Claire menatap Arka dengan pandangan pasrah, siap menerima apa pun hukuman atau keputusan yang akan dijatuhkan padanya.

"Dua nama sudah selesai bertarung, Mas. Dan yang menang... adalah kenyataan. Kenyataan bahwa di wajah ini, hanya ada satu jiwa yang hidup. Jiwa Claire. Jiwa yang kotor, jiwa yang salah, jiwa yang berdiri di sini sekarang, mengakui segalanya, dan siap menerima akibat dari semua yang telah diperbuatnya."

Arka diam. Ia menatap wajah itu lagi. Wajah yang sama. Wajah yang ia cintai lebih dari nyawanya sendiri. Tapi kini, maknanya telah berubah total. Dua nama telah terpisah. Satu nama hilang dibawa angin, kembali ke pemilik aslinya yang jauh di sana. Satu nama lagi tertanam kuat, melekat erat, dan kini menjadi satu-satunya kebenaran yang menyakitkan di hadapannya.

Dua nama, satu wajah.

Dan di ujung segalanya... yang tersisa hanyalah kepahitan, penyesalan, dan kenyataan bahwa ia telah jatuh cinta pada kemiripan, bukan pada kenyataan.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!