NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 Aku Akan Kembali

Jam dinding di kamar Dira sudah menunjukkan pukul empat sore. Tapi, matanya sama sekali tidak melirik buku di tangannya. Sejak Manik dan Anjana pulang. Dira hanya duduk diam sambil melamun. 

Kata-kata Manik tentang Faza akan mampir pagi menjelang siang ini terus menyelimuti pikirannya. 

Mampir? Cuma satu kata itu, tapi sudah berhasil membuat jantung Dira berdetak tidak karuan. 

“Kamu tuh aneh, ngapain Faza mampir ke rumah? Memangnya dia gak ke sekolah. Tapi, kalau siang mampir masih masuk akal. Tapi,...” 

Kata-kata Dira terhenti saat waktu sudah masuk sore hari. Sudah melewati batas waktu yang disebutkan oleh Manik.

“Kayaknya dia…” 

“Assalamualaikum.” 

Suara salam yang terdengar samar dari luar membuat Dira kaget. Dengan cepat dirinya turun dari ranjang untuk melihat sosok tamu yang berkunjung. 

“Apakah dia datang?” gumam Dira sambil berjalan menuju pintu. 

Namun, suara Mbah Sekar yang menjawab salam. Membuat Dira kembali naik ke ranjang. Merebahkan tubuhnya sambil memakai selimut.  

Belum juga Dira memejamkan kedua matanya. Dia kembali bangun sambil duduk termenung. 

“Mungkin tetangga yang nanyain kenapa Mbah gak jualan nasi uduk hari ini,” ucap Dira sambil cemberut. Lalu mencoba memejamkan kedua matanya meski terasa berat. 

Sedangkan diluar, Mbah Sekar terdiam sejenak saat melihat Faza tengah berdiri di luar pagar sambil membawa tentengan. Lalu berjalan untuk membukakan pintu pagar untuk Faza. 

“Waalaikumussalam.” 

Faza langsung memberi salam pada Mbah Sekar. Tindakan Faza secara tiba-tiba langsung membuat Mbah Sekar tersenyum. 

“Maaf, Mbah. Saya tidak bermaksud apa-apa. Ini untuk Dira beserta keluarga.” 

Faza secara hati-hati memberikan bingkisan makanan ke Mbah Sekar. Jangan sampai apa yang dirinya lakukan merendahkan Mbah Sekar beserta keluarga. 

“Terima kasih banyak, lain kali tidak perlu membawa makanan seperti ini,” ungkap Mbah Sekar yang dibalas hanya senyuman oleh Faza.

“Ayo, masuk! Pasti ingin menjenguk Dira, kan?” 

Tebakan Mbah Sekar tepat sasaran. Faza kembali tersenyum saat kedatangannya sudah terbaca. 

“Tunggu disini. Biarkan Dira keluar.” 

Sikap yang ditunjukkan oleh Mbah Sekar kepada Faza jelas berbeda jika dibandingkan dengan Manik. Sebab, tak mungkin Faza masuk ke kamar Dira. Jelas Mbah Sekar tidak akan mengizinkan. 

Tok… tok. 

“Nduk, kamu masih tidur?” 

Karena tidak ada jawaban dari dalam kamar. Mbah Sekar berinisiatif melihat Dira secara langsung. Memastikan masih tidur atau sudah bangun. 

Krieeet. 

Saat pintu kamar terbuka. Hal pertama yang dilihat Mbah Sekar yaitu Dira tengah melamun.

Sambil tersenyum, Mbah Sekar berjalan menghampiri Dira. Menggenggam punggung tangan Dira hingga mengalihkan perhatian sang cucu. 

“Eh, Mbah. Kapan masuk ke kamar Dira? Kok tiba-tiba,” tanya Dira seperti orang linglung. 

“Sedang ngelamunin, apa?” tanya Mbah Sekar sambil menepuk punggung tangan Dira. 

“Gak melamunkan apa-apa,” jawab Dira sambil memalingkan wajahnya. 

Tampak sekali jika Dira mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya. Hal itu jelas sangatlah wajar untuk usia Dira yang baru mengenal cinta. 

“Ayo, ke ruang tamu, sekarang!” 

“Nggak, Mbah. Dira pengen istirahat di kamar saja,” tolak Dira malas-malasan. 

“Yakin, gak ingin ke ruang tamu?” 

“Yakin,” lirih Dira. 

Faktor kesehatan yang belum sepenuhnya pulih. Serta hati sedang gundah gulana. Bagi Dira istirahat di kamar dirasa cukup menghibur.

“Ya sudah kalau kamu memilih ingin istirahat di kamar saja. Mbah bilang sama temanmu yang pernah datang subuh-subuh ngantar sepeda. Jika kamu ingin istirahat.” 

“Tamu siapa, Mbah?” tanya cepat Dira sambil menahan tangan Mbah Sekar agar tidak pergi. 

“Teman laki-laki yang namanya” 

“Apakah namanya Faza, Mbah?” potong Dira cepat. Membuat Mbah Sekar kembali tersenyum.

“Iya, ada Nak Faza datang menjengukmu,” jawab Mbah Sekar. 

“Bagaimana? Mbah suruh pulang saja atau kamu menemuinya?” tawar Mbah Sekar. 

“Minta tolong suruh pulang saja, Mbah. Sudah sore. Sebentar lagi juga Magrib,” jawab Dira memalingkan wajahnya. 

Entah kenapa tiba-tiba Dira tidak mau menemui Faza. Padahal sebelumnya Dira menunggu kedatangan Faza. 

“Baiklah, jika kamu memang ingin istirahat. Mbah sampaikan padanya.“ 

“Eh, tunggu dulu, Mbah! Dira temui dia saja,” jawab cepat Dira. 

Rasa malas yang sebelumnya menyelimuti Dira karena kesal. Langsung hilang saat tidak tega melihat inisiatif Faza datang menjenguk. Dira langsung turun dari ranjang dan menyambar kerudungnya untuk keluar menemui Faza.

Melihat tingkah laku Dira yang malu-malu. Membuat Mbah Sekar menghembuskan nafasnya. 

“Nimas, putrimu sudah tumbuh remaja. Sebentar lagi dia lulus. Dia sudah mengenal rasa tertarik dengan lawan jenis,” ucap Mbah Sekar sambil melihat kepergian Dira. 

“Semoga laki-laki ini sosok tanggung jawab. Serta tidak membuat luka untuk Dira. Cukup kamu yang mengalami trauma karena laki-laki. Karena aku gak kuat jika Dira mengalami hal seperti itu,” ungkap Mbah Sekar jujur. 

Di ruang tamu tidak ada obrolan yang terjadi antara Faza dan Dira. Tiga puluh menit duduk berdua tanpa ada sepatah kata keluar. Hingga waktu Magrib akan tiba. 

Mereka pun juga duduk berjauhan. Hingga suara langkah kaki Mbah Sekar memecah kesunyian keduanya. 

“Nak Faza, sekalian makan bareng disini, ya? Gak habis jika hanya dimakan bertiga saja sama ibunya Dira.” 

Kedatangan Mbah Sekar sambil membawa piring. Membuat Faza langsung berjalan mendekat. Mengambil alih piring di tangan Mbah Sekar. 

“Apakah ada yang perlu saya bantu bawa, Mbah?” tanya Faza mencoba menawarkan diri setelah menaruh piring di atas meja. 

“Kamu belum menjawab pertanyaan Mbah. Mau makan disini?” 

“Iya, Mbah. Saya mau makan bersama keluarga Mbah disini.” 

“Itu di dalam ada gelas, sendok, mangkok, dan juga air kendi. Tolong dibantu membawanya.”

“Baik, Mbah.” 

Dira hanya diam sambil melihat tingkah laku Faza. Mulutnya hanya cemberut karena kata-kata yang ada di pikirannya tiba-tiba enggan untuk diucapkan. 

Perubahan ekspresi Dira sama sekali tidak terlepas dari pantauan Faza. Membuat sudut bibir Faza sedikit terangkat. 

Dira benar-benar terlihat sangat lucu jika sedang ngambek. Selayaknya Blue kucing manis milik Anjana. 

“Untuk Nimas dipisahin saja. Biar nanti Mbah yang mengantar sendiri ke kamar,” pinta Mbah Sekar yang memotong pandangan Faza yang sejak tadi tidak lepas dari Dira. 

“Baik, Mbah.” 

“Nduk, ayo kita makan sekarang. Jangan diam saja. Nak Faza sengaja beli makanan ini semua buat kita sekeluarga.” 

“Iya, Mbah.” 

Banyak makanan lezat tersaji. Makanan yang sangat jarang dimakan oleh Dira sekeluarga karena harganya yang mahal. 

Dira bingung mau makan apa. Nafsu makannya benar-benar hilang. Hanya rasa pahit yang tertinggal dari obat-obatan yang diminum. Membuat Faza langsung berinisiatif mengambil piring Dira. 

“Bubur ini enak. Cocok buat kamu yang lidahnya terasa pahit. Cobalah,” pinta Faza setelah mengambil bubur Manado untuk Dira. 

Setelah Dira menyuapkan bubur yang diambilkan oleh Faza. Tanpa disuruh, Faza menuangkan air dalam kendi di gelas Dira. 

“Jangan lupa minum yang banyak. Selain untuk menurunkan suhu tubuh, juga membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.” 

Penuturan Faza hanya membuat Dira mengedipkan kedua matanya berulang kali. Sama sekali tidak menyangka jika saat ini Faza terlihat sangat berbeda. 

“Air dalam kendi ini juga bagus. Karena memiliki pH tinggi, serta kesegaran alami tanpa terkontaminasi bahan plastik,” lanjut Faza yang kini membuat kening Mbah Sekar mengkerut mengawasi pemuda di hadapannya. 

“Kamu mau makan apa lagi? Sini aku ambilin!” 

Setelah hening panjang tanpa suara. Kini, justru Faza terlihat sangat cerewet. Bahkan, rela mengambil duri ikan gurame sebelum ditaruh di piring Dira.

“Ini juga enak,” ucap Faza kembali sambil mengambilkan Dira sepotong ayam bakar. 

“Jangan banyak-banyak, Za! Nanti aku gak habis.” 

“Dicoba makan dulu. Mumpung masih hangat. Kamu butuh tenaga tambahan dalam masa penyembuhan.” 

“Iya-iya, bawel banget kamu jadi orang.” 

“Kamu memang harus dibawelin.” 

Perasaan Mbah Sekar menghangat melihat interaksi keduanya. Apalagi saat Faza dengan sengaja menambah porsi makanan di piring Dira. 

Yang awalnya Dira tidak ingin makan banyak. Justru menghabiskan satu porsi bubur Manado beserta aneka lauk. 

“Sudah cukup, Za. Aku sudah kenyang.” 

“Itu tinggal satu suap lagi. Nanti ayamnya nangis kalau kamu gak menghabiskan makanannya.” 

“Apa hubungannya dengan ayam? Aku gak punya ayam.” 

“Ayam tetangga maksudku.”

“Gak ada yang punya.” 

Faza yang sebelumnya belum pernah berurusan dengan perempuan selain keluarganya. Jelas ucapannya terdengar garing saat merayu Dira untuk makan. Membuat Dira cemberut. Membuat Faza kembali menatap Dira. 

“Yang jelas aku senang kalau kamu menghabiskan makanan itu,” potong Faza menghentikan ucapan Dira.

Suasana hangat yang terjalin antara Dira dan Faza harus terganggu. Saat handphone milik Faza bergetar. Menampilkan nomor telepon tidak asing yang langsung membuat Faza terdiam sejenak. 

“Angkat saja, Za. Siapa tahu penting.” 

Suara Dira membuat Faza izin keluar rumah. Karena tidak mungkin membahas pekerjaan di depan Dira dan Mbah Sekar. 

“Sore, Ndan.” 

“Faza, kamu tidak membuka pesan yang aku kirim?” 

Suara Satria di balik telepon langsung membuat Faza menatap layarnya. Ada beberapa pesan teks dan video yang Satria kirim.

“Maaf, Ndan.” 

“Cepat dilihat! Jangan terlalu lama berada di rumah korban.” 

Sudut bibir Faza terangkat. Ya, kediaman Dira dikelilingi kamera cctv. Jelas Satria tahu jika dirinya mengunjungi Dira. 

“Baik, Ndan.” 

Faza buka pesan sekaligus video yang dikirim Satria. Rasa kesal menyelimuti dirinya saat di layar tampak Sisil mengendap-endap di ujung gang mengawasi rumah Dira.

“Sial, kenapa aku tidak menyadari keberadaannya?” gumam Faza terus mengawasi Sisil melalui video. 

Pikiran Faza yang terus tertuju pada kesehatan Dira. Membuat Faza sedikit lengah. Karena tidak ingin kelelahan itu menimbulkan masalah. Tentu Faza harus secepatnya menghentikannya. 

“Siapa yang dia hubungi? Aku harus mendapatkan informasi itu sekarang juga.”

Faza langsung menghubungi bawahannya. Siapa tahu saja, bawahannya yang ditugaskan mengawasi Sisil mendapatkan informasi yang diinginkan. 

“Dimana kamu?” 

“Membuntuti target, Ndan.” 

“Dimana?” 

“Di klub malam di daerah…,” jawab sang bawahan sambil menyebut klub malam di wilayah kawasan elit. 

“Tetap awasi dia! Laporkan siapa saya yang ia temui. Aku akan menuju ke tempat tersebut.” 

“Siap, Ndan.” 

“Hati-hati! Tetap waspada!” 

“Siap, Ndan.” 

“Jika ada hal yang dirasa bahaya. Tahan dulu.” 

“Baik, Ndan.” 

Faza tidak ingin membuang waktu berharga ini. Dirinya langsung masuk di kediaman Dira untuk berpamitan. 

“Mbah, izin pulang. Keburu malam,” pamit Faza ke Mbah Sekar. 

“Aku kira Nak Faza sholat Magrib berjamaah disini.” 

“InsyaAllah, lain kali Mbah.” 

Sebenarnya Faza masih ingin berlama-lama di kediaman Dira. Sholat Magrib berjamaah jelas ia menginginkan itu. Tapi, keadaan saat ini membuatnya harus pergi secepatnya. 

“Jangan lupa ibadahnya,” ucap Mbah Sekar selayaknya pada cucunya sendiri. 

“Baik, Mbah. Nanti di jalan.” 

“Ya sudah, hati-hati. Semoga segala urusan Nak Faza dilancarkan,” ucap Mbah Sekar penuh arti. 

Faza terdiam sejenak. Entah kenapa ucapan Mbah Sekar penuh dengan harapan sekaligus pertanyaan? 

Apakah saat ini Mbah Sekar mengetahui penyamarannya? Entahlah, Faza sama sekali tidak ingin berspekulasi macam-macam. Selama penyamarannya aman, dirinya tidak mempermasalahkan kecurigaan Mbah Sekar. 

“Aamiin, terima kasih banyak doanya, Mbah.” 

Setelah berpamitan dengan Mbah Sekar. Kini pandangan Faza ke Dira. Senyumnya sedikit terangkat. Tatapannya jelas terlihat berat pergi meninggalkan Dira. 

“Cepat sembuh,” ucap Faza. 

“Iya,” jawab pelan Dira sambil mengawasi sekitar. Karena dirinya tidak kuat jika harus menatap lama Faza. 

“Jangan lupa obatnya diminum.” 

“Iya.” 

“Jangan bergadang.” 

Mendengar ucapan Faza yang baginya terdengar aneh. Membuat Dira langsung menatap tajam Faza. 

Tatapan yang sebenarnya diinginkan oleh Faza sejak tadi. Hingga membuat Faza mengeluarkan kata-kata aneh yang jarang hingga tidak pernah ia lakukan. 

“Assalamualaikum.” 

“Waalaikumussalam.” 

Faza buru-buru keluar dari rumah Dira. Meninggalkan Dira yang saat ini terus memperhatikannya. Hingga saat tangannya sudah menyentuh motornya. Faza membalikkan badannya. Menatap dalam ke arah Dira, seakan-akan mengatakan ‘Aku akan kembali lagi’. 

Sedangkan ditempat lainnya. Tampak sosok laki-laki tengah khawatir sedang mengawasi kediaman Mbah Sekar, melalui layar handphone yang tersambung dengan kamera cctv. 

1
Susy Koes
keren banget novel ini. gak sabar nunggu up berikutnya 😄
Cichio23: Terima kasih masih tetap setia mami😍
total 1 replies
Susy Koes
semangat othor 💪tiap kali gak sabar nunggu updatenya
Cichio23: Makasih Mami Susy, love sekebon deh😍🤭
total 1 replies
Cichio23
Terima kasih banyak buat kakak hebat untuk like, subscribe, komen, maupun baca diam-diam. Dukungan sekecil apapun dari kalian itu nafas untuk author tetap ngetik😊🤭😍
Cichio23: Jujur Kak, kalau update sehari 5 bab othornya yang gak kuat langsung tipes,, hehehe. Kalau ramai baru diusahakan double update. Semangat juga buat kakak🤭😍😊🙏
total 2 replies
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!