NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jelang Sidang

Kenzi menatap Sintia dalam keheningan yang panjang. Angin pagi berembus pelan dari celah ventilasi, membawa aroma parfum maskulin Kenzi yang menenangkan. Pria itu maju satu langkah, membuat jarak di antara mereka mengikis. Ia mengangkat tangan kanannya, jemarinya yang hangat menyentuh dagu Sintia, memaksa wanita itu untuk menatap lurus ke dalam sepasang matanya.

"Kamu mau tahu kenapa?" bisik Kenzi, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dalam, memancarkan intensitas emosi yang selama tujuh tahun ini terkunci rapat. "Karena melihatmu hancur oleh pria sekelas Rian Mahesa adalah penghinaan terbesar bagi hidupku, Sintia."

Sintia terpaku, merasakan kehangatan dari sentuhan jemari Kenzi yang menjalar ke seluruh tubuhnya yang kedinginan.

"Tujuh tahun lalu, saat ayahmu merencanakan perjodohan kita, aku tidak melihatmu hanya sebagai sebuah aliansi bisnis," lanjut Kenzi, matanya berkilat oleh kilasan masa lalu yang intens. "Aku melihat seorang wanita dengan jiwa yang murni, wanita yang memiliki keteguhan yang luar biasa. Dan saat kamu menolakku demi Rian, aku bersumpah untuk melihat seberapa jauh pria itu bisa membahagiakanmu."

Kenzi melepaskan sentuhannya di dagu Sintia, lalu berbalik memunggungi wanita itu, menyembunyikan sedikit guncangan emosi yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.

"Namun, apa yang kudengar selama tujuh tahun ini? Kamu membiarkan dirimu dihina oleh wanita tua itu. Kamu menjual perhiasanmu demi pria yang tidak tahu diuntung. Dan puncaknya semalam... mereka membuangmu seperti sampah setelah merebut semua yang kamu miliki," kata Kenzi, suaranya kembali mendingin penuh otoritas. "Hutama Group tidak pernah membiarkan sesuatu yang pernah mereka inginkan dihancurkan oleh orang lain. Kamu adalah wanita yang pernah kupilih, Sintia. Dan melihat mereka memperlakukanmu seperti itu... membuatku ingin meratakan keluarga Mahesa dengan tanah."

Air mata Sintia akhirnya luruh juga, namun kali ini bukan karena rasa sakit hati akibat pengkhianatan Rian, melainkan karena rasa bersalah dan penyesalan yang teramat dalam kepada Kenzi, dan juga kepada almarhum ayahnya.

"Maafkan aku, Kenzi... Maafkan kebodohanku tujuh tahun lalu," tangis Sintia pecah. Ia menundukkan kepalanya, bahunya terguncang hebat. "Aku sangat bodoh... Aku mengabaikan nasehat Ayah, aku mengabaikanmu... dan sekarang aku mendapatkan balasannya."

****

Kenzi berbalik kembali. Kali ini, ia tidak membiarkan Sintia menangis sendirian. Pria bertubuh tegap itu melangkah maju dan menarik tubuh Sintia ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Sintia merasakan dekapan yang begitu kokoh, hangat, dan protektif. Dada Kenzi yang bidang terasa seperti sebuah benteng yang siap melindunginya dari badai apa pun di luar sana.

Sintia menenggelamkan wajahnya di dada Kenzi, menumpahkan sisa-sisa kerapuhannya di sana. Kenzi tidak mengucapkan kata-kata penenangan yang klise. Ia hanya mengusap rambut Sintia dengan gerakan perlahan namun pasti, memberikan kekuatan tanpa perlu bersuara.

Setelah beberapa menit, tangis Sintia mulai mereda. Ia melepaskan diri dari pelukan Kenzi dengan canggung, pipinya sedikit merona karena kedekatan mereka yang mendadak.

Kenzi menatap Sintia, lalu menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. "Menangislah sepuasmu hari ini, Sintia. Karena mulai besok, aku tidak akan membiarkan ada satu tetes air mata pun jatuh dari matamu karena kelemahan."

Kenzi berjalan menuju meja kerjanya yang berada di sudut ruangan, mengambil sebuah map dokumen berwarna hitam dan melemparkannya ke atas meja marmer di depan Sintia.

"Apa ini?" tanya Sintia sambil mendekati meja tersebut.

"Itu adalah senjata pertamamu," jawab Kenzi dingin. "Rian Mahesa baru saja menghubungi pengacaranya pagi ini untuk mengurus perceraian kalian. Dia ingin mendepakmu secara hukum secepat mungkin agar bisa meresmikan pernikahan sirinya dengan Suci."

Mendengar hal itu, kilatan amarah kembali menyala di mata Sintia. "Pria tidak tahu diri... Dia bahkan tidak berbicara baik-baik denganku."

"Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Dia berpikir dia memegang kendali," kata Kenzi, sepasang matanya menyipit penuh siasat kelam. "Di dalam map itu, ada bukti-bukti aliran dana dari rekening pribadimu dan asuransi ayahmu yang digunakan Rian untuk membangun usahanya dan membeli rumah yang sekarang mereka tempati. Pengacara terbaik dari Hutama Group akan mendampingimu di pengadilan."

****

Sintia membuka map tersebut, dan matanya membelalak melihat rincian data yang begitu detail, yang bahkan ia sendiri sudah lupa pernah mencatatnya. Kenzi benar-benar mempersiapkan segalanya dengan sangat matang.

"Kita tidak akan menolak perceraian itu, Sintia. Kita akan memberikannya," ucap Kenzi, nadanya terdengar seperti seorang jenderal yang sedang menyusun strategi perang. "Tapi kita akan merebut kembali setiap sen yang pernah kamu berikan untuknya. Kita akan buat Rian Mahesa keluar dari pengadilan sebagai seorang pria yang bangkrut. Dan untuk sahabat ularmu, Suci... dia pikir dia telah memenangkan istana, tapi dia tidak tahu bahwa dia baru saja masuk ke dalam sangkar yang akan kita bakar."

Sintia menutup map tersebut dengan hentakan keras. Ketakutan dan keraguan yang menggelayuti dirinya sejak semalam kini sepenuhnya lenyap. Di dalam sangkar emas baru milik Kenzi Hutama, seorang Sintia Arunika yang rapuh telah mati. Dan dari abunya, kini bangkit seorang wanita baru yang siap menghancurkan siapa saja yang telah menorehkan luka di hidupnya.

"Terima kasih, Kenzi," ucap Sintia, suaranya kini terdengar tenang, dingin, dan penuh dengan intimidasi yang mematikan. "Mari kita mulai permainannya."

Kenzi tersenyum puas melihat transformasi di mata wanita di hadapannya. Badai yang sesungguhnya kini telah resmi bergeser arah, siap memporak-porandakan kediaman Mahesa tanpa menyisakan satu batu pun yang tegak berdiri.

****

Gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi itu tampak begitu riuh, namun bagi Sintia Arunika, atmosfer di sekitarnya terasa seperti ruang hampa udara. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai tegel abu-abu, bergaung ritmis bersamaan dengan detak jantungnya yang kini telah sewarna besi: dingin dan tak tergoyahkan.

Sintia mengenakan setelan blazer potongan asimetris berwarna hitam pekat, dipadukan dengan celana bahan senada dan sepatu hak tinggi yang membuatnya berdiri lebih tegak dari biasanya. Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang dipulas riasan tegas. Tidak ada lagi Sintia yang layu. Tidak ada lagi wanita pengabdi yang matanya bengkak karena tangisan malam.

Di sampingnya, berjalan seorang pria paruh baya berkacamata dengan tas kerja kulit premium—Bramantyo, salah satu pengacara litigasi paling disegani dari firma hukum rekanan Hutama Group.

Dari arah koridor yang berlawanan, rombongan Alfandi Rian Mahesa muncul. Rian berjalan dengan kemeja batik sutra lengan panjang, didampingi pengacaranya yang tampak terus berbisik memberikan arahan. Namun, yang paling menarik perhatian adalah sosok wanita yang menggelayut manja di lengan kiri Rian.

Suci Wahyuni.

Wanita itu sengaja hadir, mengenakan gaun terusan berwarna merah menyala yang tampak sangat kontras dengan kesucian namanya. Wajahnya dipulas make-up tebal, seolah seluruh kosmetik di dunia dipakainya untuk menutupi rasa minder yang terselubung. Ia datang bukan hanya sebagai saksi istri siri, melainkan sebagai penonton yang ingin menyaksikan eksekusi mati bagi harga diri Sintia.

1
Rani Saraswaty
kenzi loo kn sdh di cekoki obt gk jls itu, knp msh anteng aja sih...kyk dibiarin kliaran biar bs bls yaa🙄
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!