----
"Ugh ..."
Nayra tersentak bangun dari mimpi buruknya ... sebuah mimpi tentang seorang wanita yang di khianati oleh orang-orang terdekatnya.
Namun sialnya, mimpi buruk itu ternyata menimpa dirinya sendiri!
Dia di khianati oleh orang-orang terdekat yang dia percaya, termasuk suaminya sendiri.
Setelah dia mengalami keguguran dan kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya, dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakit yang dia terima.
"Kalian akan merasakan, apa yang aku rasakan! Tunggulah pembalasanku!"
Spin-off dari Novel : Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku.
Bagaimana mana kisahnya....
Yuk baca kisah lengkapnya....
Jangan lupa like, komen dan kasih rating 5.
Follow Ig : Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. MENYERAH
SRETTT!!!
TAK... TAK... TAK...
Suara langkah kaki yang begitu kencang menuju kearah ku.
"Nayra! Kamu sudah gila..." teriak suamiku.
Suamiku berlari dari luar kamar melihat diriku memegang pisau. Dirinya langsung memeluk tubuhku dan mengambil pisau yang ada di tanganku.
Prang...
Pisau itu di lempar jauh oleh suamiku. Dirinya terus memeluk erat tubuhku yang kini mulai mengamuk di pelukannya.
"Lepaskan aku mas! Hiks... Hiks.. Hiks..."
"Nayra! Kamu tenang Nayra." suamiku memegang erat tangan ku dari belakang.
"Lepaskan aku! Haa.. Haa.. Ha..." teriakku dengan suara yang tercekik dan terisak-isak.
"NAYRA! Apa kamu ingin mati? HAAA!" teriak suamiku saat aku mencoba melepaskan tangannya.
"Lebih baik aku mati, mas! Apa gunanya aku hidup jika harus seperti ini... Aku capek mas! Aku capek! hiks... hiks..hiks.." air mata kesedihan mengalir deras membasahi pipiku.
Rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk bertahan hidup. Aku ingin mengakhiri hidupku saat ini juga.
"Nayra! kamu sadar, Nay! Apa yang ingin kamu lakukan saat ini... Haah.?!"
Aku mendengar perkataan suamiku dengan suara yang sangat khawatir terhadap apa yang aku lakukan saat ini.
"Apa kamu ingin mati? HAAA! Jawab aku, Nay!"
"Lepaskan aku mas!"
Suamiku melepaskan pelukannya. Aku menatap wajah suamiku yang begitu khawatir, wajahnya tampak serius dan terlihat sangat cemas.
"Baik! jika itu yang kamu mau Nay!" ucap suamiku.
Suamiku kemudian mengambil kembali pisau yang ia lempar jauh tadi. Kemudian memberikan pisau itu ke tangan ku.
"Ambil pisau ini Nay! Jika kamu ingin mati silahkan! Silahkan mati di hadapan ku Nay!" ucap suamiku dengan suara yang tegas namun terdengar sangat khawatir.
Haaa... Hiks... Hiks... Hiks...
Aku hanya terdiam dan menangis terisak-isak di hadapan suamiku yang menyuruh ku mati di hadapannya.
"Kenapa kamu diam saja Nay? Silahkan Nay! Apa kamu takut.?"
Tubuhku semakin membeku dan gemetar hebat mendengar perkataan suamiku. Rasanya aku tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.
Haaa... Hiks... Hiks... Hiks...
"Kenapa Nay... Kenapa kamu diam saja? Lihat aku Nay. Lihat aku NAYRA!!!"
Suamiku bertanya sambil berteriak kepada ku. Aku melihat wajahnya yang begitu marah, urat lehernya keluar suaranya juga semakin mengerang saat mengatakannya.
HAAA... Hiks... Hiks... Hiks...
Tangisan ku semakin kencang. Aku tersadar apa yang aku lakukan saat ini adalah salah. Tidak seharusnya aku berpikir untuk mengakhiri hidupku sendiri.
Suamiku memeluk tubuhku. Untuk pertama kalinya aku melihat suamiku yang begitu cemas kepada ku, selama kami menikah.
"Maafkan aku Nay..." suamiku memeluk erat tubuhku, tangannya mengelus-elus rambut ku.
"Mas! a-aku... Hiks... Hiks... Hiks..." diriku menangis terisak-isak di pelukan suamiku, dengan tubuh yang bergetar hebat.
Tanpa aku sadari ternyata pergelangan tangan kiri ku sedikit tergores pisau. Suamiku melihatnya, dan mengobati luka di tanganku.
Suamiku membersihkan darah di pergelangan tangan kiri ku, ia mengoleskan obat luka dan menempelkan plester.
"Ssttt... A-awww..." rintih diriku menahan rasa perih di pergelangan tangan ku, saat suamiku mengoleskan obat.
"Tahan sebentar..."
Aku melihat suamiku dengan tatapan kasih sayang terhadapnya. Entah mengapa walaupun hanya sebuah hal kecil yang ia lakukan untukku aku selalu menganggap itu sangat berarti.
Apakah karena diriku tidak pernah lagi mendapatkan kasih sayang dari orang lain? atau mungkin aku yang melebih-lebihkan semuanya? Diriku sendiri tidak tahu harus menganggapnya apa?.
"Sudah selesai..." ucap suamiku menatap wajah ku dengan tatapan penuh penyesalan.
"Nayra... Maafkan aku! Aku seharusnya tidak berkata seperti itu kepada mu tadi." suamiku meminta maaf kepada ku lagi. Kali ini suaranya terdengar sangat tulus saat mengatakannya.
"Mas... A-aku, aku juga minta maaf mas! Aku sudah membuatmu khawatir... Hiks.." suara ku masih serak dan terisak-isak.
Suamiku memeluk erat diriku dan mencium keningku. "Aku berjanji, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi."
Saat mendengar perkataan suamiku hati semakin luluh terhadapnya. mendengar permintaan maafnya yang tulus dan janjinya kepada ku, itu sudah cukup untukku memaafkan semuanya.
...══════ஜ▲ஜ══════...
Satu minggu kemudian...
Di sebuah perusahaan yang sangat besar, sebuah perusahaan yang begitu terkenal dan menjadi salah satu perusahaan ternama di negara A.
Ardiansyah Baskara CEO muda dari perusahaan itu sedang duduk di kursi depan meja kerjanya sambil membaca sebuah buku.
Ardiansyah sedang membaca buku novel yang sebentar lagi akan di jadikan sebuah web series dari perusahaan saingannya.
Novel dari Aqila yang akan ia hadiri dalam undangan saat akan di tayangkan dua bulan yang akan datang.
Perusahaannya juga ada di dalam industri yang sama yaitu industri pembuatan film dan web series.
"Apa ini? Mereka sengaja mengundang ku? Sepertinya aku akan menjadi tamu spesial bagi mereka?" tangan Ardiansyah memegang surat undangan itu.
Brak...
Ia melempar buku novel yang ia baca barusan. Tampaknya mereka sengaja mengundang dirinya agar ia merasa kalah. Itu yang Ardiansyah pikiran saat ini.
Tuk... Tuk... Tuk...
Seseorang mengetuk pintu dari luar ruangan.
"Masuk."
Krek...
Dika asisten pribadi Ardiansyah masuk ke dalam ruangan. Ia membawa sebuah berkas di tangannya dan memberikannya kepada Ardiansyah.
"Pak! Ini berkas yang bapak minta."
Ardiansyah mengambil berkas itu dan memeriksa isi dari berkas itu.
"Permisi pak! Kenapa bapak meminta saya untuk mencari informasi tentang wanita itu?" tanya asistennya.
"Kenapa? Aku akan memberikan kejutan kepada mereka... Wanita ini akan aku jadikan alat untuk menghancurkan keluarga Atmadja." Ardiansyah tersenyum licik.
Ardiansyah tersenyum menyeringai. Ia menjetrikan jari tangannya.
Tak... Satu jentikan jari tangannya sebagai tanda bahwa ia akan menghancurkan keluarga Atmadja.
Bukan hanya perusahaan yang bersaing di industri itu. Tapi keduanya adalah musuh di kehidupan pribadi, antara keluarga Atmadja dan Baskara.
"Siapkan mobil! Kita pergi sekarang, antar aku menemui wanita ini." titah Ardiansyah kepada asistennya.
"Baik pak!"
Ardiansyah pergi ke lokasi syuting pembuatan film adaptasi dari novel karya Aqila.
Tampak suasana lokasi yang begitu ramai. Ardiansyah mencari dimana Aqila berada.
Saat itu Ardiansyah melihat Aqila duduk manis di lokasi syuting sambil dilayani oleh orang-orang di sana.
Bagaimana tidak! Aqila di kenal sebagai penulis ternama dan juga film itu di produksi oleh perusahaan ayahnya sendiri. Ia hanya duduk manis melihat orang-orang berkerja di lokasi syuting.
"Itu dia wanita yang aku cari..." Ardiansyah melihat Aqila yang sedang duduk manis.
Tak... Tak... Tak...
Adriansyah berjalan mendekat, saat itu seorang wanita tidak sengaja menyenggol dirinya.
Brak...
"Aduh... Maaf! Maaf! Saya sedang buru-buru."
Adriansyah melihat wanita itu berjalan dengan tergesa-gesa dan berhenti di depan Aqila.
"Siapa wanita itu... Lalu apa yang dia bawa di tangannya?"
Ardiansyah melihat Aqila membawa wanita itu ke tempat yang jauh dari lokasi syuting. Ia mengikuti mereka sampai ke dalam kamar mandi dan mendengar apa yang seharusnya tidak ia dengar.
"Nayra... Dasar bodoh! Kenapa kamu datang kesini? HAAAH... Apa kamu sengaja! Ingat Nayra! Aku tidak akan segan-segan membunuh mu, jika rahasia ku sampai tersebar!"
PLAKKK...
Ardiansyah tersenyum sekaligus terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Sepertinya aku menemukan hadiah yang lebih besar..."
Brak...
Ardiansyah tidak sengaja menyenggol tong sampah membuat Aqila melihat ke arahnya.
Ardiansyah bersembunyi di dalam kamar mandi agar tidak ketahuan oleh mereka.
Tak... Tak... Tak...
Aqila berjalan perlahan mendekati sumber suara itu. Tangannya perlahan menyentuh gagang pintu kamar mandi.
Krek...
...══════ஜ▲ஜ══════...
...𝐁𝐄𝐑𝐒𝐀𝐌𝐁𝐔𝐍𝐆...
...•...
baca nya
kalau aku yang jadi istri mu, wes tak tinggal pergi