Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
BAB 16
"Kak, sayurnya ditaruh di mana?"
Suara cempreng Mila memanggilku. Aku menoleh dan melihat pemandangan yang selalu sukses membuatku takjub. Anak perempuan yang seumuran denganku itu sedang memanggul galah kayu pikulan di bahunya, dengan dua keranjang besar penuh sayuran menggantung di kedua ujungnya. Beban yang seharusnya membuat punggung pria dewasa membungkuk itu dibawanya dengan sangat mudah.
"Taruh saja di dapur, Mil. Nanti biar aku cuci dulu sebelum disimpan," balasku sambil terus merapikan sisa sisa tanaman di kebun kecil kami.
Mila mengangguk dan berjalan menuju pintu rumah. Namun, tepat sebelum ia melangkah masuk, langkahnya terhenti. Sebuah titik putih kecil turun dari langit dan mendarat perlahan di pipi tembamnya. Ia mendongak. Diikuti ratusan titik putih lainnya yang mulai turun menari nari di udara.
"Kaaaaak! Saljuuuu!" teriaknya kegirangan.
Mendengar teriakan itu, aku ikut mendongak dan menengadahkan tanganku. Udara dingin langsung menusuk telapak tanganku saat butiran salju itu mencair di kulit.
"Salju ya... Alhamdulillah semua sayurnya sudah selesai dipanen," batinku lega. "Mengingat cuaca yang langsung anjlok begini, seharusnya ini sekitar bulan November atau Desember. Kalau kata Goran, ini namanya Zima, yang berarti musim kegelapan."
Aku bergegas berjalan ke arah kandang. "Mil, taruh sayurnya di situ dulu! Bantuin aku masukin kambing kambingnya ke dalam gubuk!"
"Oke!" sahut Mila riang, lalu menaruh pikulannya dan berlari menuju kandang.
Aku hanya bisa menggeleng gelengkan kepala sambil menghela napas pelan. "Gara gara aku sering keceplosan bilang 'oke', sekarang anak raksasa itu jadi ikut ikutan. Ya Allah, moga aja satu kata asing ini tidak sampai merusak dan merubah tatanan sejarah."
Menjelang malam, udara di luar benar benar berubah beku. Salju mulai menumpuk tipis menutupi bebatuan tebing.
Aku dan Mila duduk berdampingan di teras depan rumah. Kami sudah berganti mengenakan pakaian musim dingin, mantel tebal dan hangat yang dijahit dari campuran bulu serigala dan beruang hasil buruan Goran. Tangan kami menggenggam cangkir kayu, menyeruput cairan kemerahan sambil menikmati tenangnya pemandangan salju pertama.
"Kalau kalian bingung minuman apa ini... Goran yang mengajarkan padaku cara membuatnya. Namanya sedikit sulit disebutkan, yaitu vzvar. Minuman ini direbus dari buah buah beri liar yang sudah dikeringkan. Rasanya manis, sedikit asam, dan sangat pas untuk menghangatkan dada di suhu sedingin es ini."
"Ayah ke mana ya, Kak?" tanya Mila tiba tiba, menyela suara seruputannya sendiri. "Udah mau gelap tapi belum pulang pulang."
"Jangan jangan dia berburu Tur lagi," balasku sambil menghela napas. "Padahal sudah kukasih tahu kalau daging Tur itu terlalu besar buat kita bertiga makan. Hmmm..."
"Tur, kalau kalian tidak tahu, intinya adalah sapi liar purba. Ukurannya sangat raksasa. Seingatku di kehidupan modernku dulu, aku tak pernah melihat sapi sebesar itu. Melihat porsi makan Goran, jangan jangan Goranlah yang membuat sapi sapi itu punah?"
"Kak?" panggil Mila lagi.
"Hmm?"
"Kakak sering bilang kalau dunia luar itu luas banget kan?"
"Iya, luas banget."
Mila menatap ke arah jurang di bawah sana. "Laut juga Kakak bilang lebih gede dari sungai di bawah sana. Kok bisa rasanya asin, Kak? Terus sungai di bawah kok enggak asin?"
Aku tersenyum mendengarnya. "Kamu pernah jilat batu garam yang dulu itu kan?" pancingku.
"Iya, rasanya pahit."
"Iya, pahit asin. Nah, batu batu seperti itu ada banyak sekali di dasar laut. Setiap hari, matahari menyedot air dari laut pakai cahaya panasnya..."
Alis pirang Mila bertaut bingung. "Ngapain dewa nyedot air?"
Aku mengerjapkan mata. Lidahku mendadak kelu. "Susah sekali menjelaskan sains siklus hujan kepada anak ini. Goran selalu mencekokinya dengan mitologi pagan bahwa alam ini digerakkan oleh dewa ini dan dewa itu."
"Dengerin dulu!" tegasku agar ia tidak memotong lagi.
"Iya, iya," jawabnya patuh.
"Nah, pas airnya disedot matahari, airnya terbang dan masuk ke awan. Tapi rasa pahit asin yang kamu bilang tadi itu nggak ikut kesedot."
"Kenapa?" tanyanya kritis.
Otakku berputar cepat, mencari celah yang bisa masuk ke logika pagannya. "Karena... dewa nggak suka rasa asin!"
Mulut Mila membentuk huruf O kecil. "Oh gitu... terus terus?"
"Terus awan yang isinya air tawar tadi kepenuhan, jadi berat, dan akhirnya jatuh lagi ke bumi jadi hujan. Hujan itulah yang mengisi air di sungai sungai. Makanya sungai rasanya nggak asin," jelasku merangkum semuanya.
"Oh, jadi itu makanya sungai di bawah rasanya nggak asin!" Mila mengangguk angguk puas dengan teori gabungan sains dan dewanya.
"Yah, intinya begitu."
Obrolan kami terus berlanjut hingga langit benar benar gelap. Angin malam yang membawa butiran salju mulai terasa menusuk tulang, jadi aku mengajak Mila masuk dan menyalakan api di tungku perapian.
Begitu masuk, suasana hangat dan rapi langsung menyambut kami. Selama beberapa tahun terakhir, aku merombak total tata letak rumah kumuh Goran menjadi sangat efisien, layaknya rumah modern. Aku membuat kasur gantung dari rajutan tali dan kain tebal untukku dan Mila. Selain menghemat tempat, lantai batu di bawahnya jadi sangat mudah dibersihkan. Sementara itu, Goran tidur di sudut ruangan di atas tumpukan kulit dan bulu hewan yang kujahit menjadi satu layaknya kasur lipat raksasa agar mudah digeser geser.
Namun mahakarya terbesarku bersama Goran ada di area dapur. Kami merancang sistem air mengalir tanpa pompa. Rangkaian batang kayu lurus berongga menyalurkan air dari celah mata air di tebing yang mengalir ke air terjun, membawanya menembus dinding dapur langsung ke dalam sebuah bak kayu. Air itu terus mengalir segar, sementara sisa tumpahannya dialirkan kembali ke luar tebing melalui pipa di bawah lantai. Tidak ada lagi rutinitas mengambil air di luar.
Malam itu, aku sedang menyiapkan selimut di kasur gantung Mila. Suasana sangat damai, hanya terdengar gemeretak kayu bakar.
Lalu, kedamaian itu hancur.
GEDEBUK!
Suara hantaman benda yang sangat besar dan berat terdengar jelas dari luar pintu depan.
Jantungku berdegup kencang. Aku tahu langkah itu pasti Goran. Aku segera berlari dan menarik palang pintu kayu. Namun, saat pintu terbuka, pemandangan yang menyambutku membuat darahku membeku.
Tubuh raksasa Goran tergeletak terlentang di atas salju. Darah segar merembes ke mana mana, mewarnai salju putih di bawahnya menjadi merah pekat. Pakaian kulitnya terkoyak parah, dipenuhi luka sabetan pedang, dan yang paling mengerikan... dua batang anak panah bersayap besi menancap dalam di tubuhnya.
"Mila!!!!" jeritku sekuat tenaga, suaraku pecah oleh kepanikan.
Mendengar teriakanku, Mila bergegas lari keluar. Saat matanya menangkap sosok ayahnya yang bersimbah darah, wajahnya seketika pucat pasi.
"Ayah! Ayah kenapa, Kak?! Ini kenapa?!" tangisnya langsung pecah. Gadis kecil itu berlutut histeris di samping ayahnya.
"Sudah sudah! Ayo kita angkat ayahmu masuk dulu!" perintahku menekan kepanikan.
Aku mencengkeram lengan Goran. Dengan seluruh tenagaku, aku menariknya sekuat mungkin. Urat urat di dahi dan leherku sampai menonjol keluar, telapak kakiku tergelincir mundur di atas salju, namun tubuh raksasa seberat hampir dua ratus kilogram ini bahkan tidak bergeser satu sentimeter pun.
"Mila, bantu Kakak!" teriakku frustrasi.
Mila mengusap air matanya dengan kasar. Ia menyusupkan kedua lengan kecilnya ke bawah ketiak ayahnya. Dengan satu tarikan luar biasa dari otot ototnya yang menegang, Mila menyeret tubuh ayahnya melewati ambang pintu hingga ke depan perapian.
"Ambilkan air hangat dari dapur! Cepat!" perintahku seraya melempar mantel buluku ke lantai.
Goran mengerang tertahan. Napasnya tersengal sengal dan sangat dangkal. Matanya yang merah setengah terbuka menatapku.
"Anak... Bangsawan..." rintihnya parau, meringis menahan sakit yang luar biasa.
"Diam. Jangan buang tenagamu untuk bicara," tegasku.
Ya Allah... batinku memohon. Semua ingatan pelatihan PMR dan medis dasar di kampus dulu... kumohon, biarkan aku mengingat semuanya dengan benar sekarang.
Begitu Mila kembali membawa baskom kayu berisi air hangat dan tumpukan kain bersih, aku langsung bekerja. Panah di bahunya tidak menembus organ vital, tapi mencabutnya paksa dari luar hanya akan merobek dagingnya lebih parah. Aku mengambil pisau kecil, memotong gagang kayu panah itu sedekat mungkin dengan kulitnya agar tidak tersenggol, lalu menekan kuat luka di sekitarnya dengan kain bersih untuk menghentikan pendarahan.
Setelah pendarahannya sedikit terkendali, aku menumbuk kasar dedaunan obat penghenti pendarahan yang selalu kusimpan, lalu membalurkannya tebal tebal ke atas semua luka terbukanya. Terakhir, aku membebat bahu dan pahanya dengan sobekan kain bersih sekuat yang aku bisa.
"Aaargh...." rintih Goran pelan.
"Tahan, Goran! Tahan!"
Goran terus menggeram rendah, menggigit rahangnya sendiri menahan perih setiap kali aku menekan lukanya. Namun raksasa itu tidak memberontak sedikit pun. Waktu terasa berhenti. Tidak ada yang bersuara di dalam rumah ini selain gemeretak api dan isak tangis tertahan Mila yang terus menggenggam tangan ayahnya.
Akhirnya, pendarahan itu benar benar berhenti.
Aku mengikat simpul perban terakhir di bahu Goran. Tenagaku habis tak bersisa. Tubuh kecilku merosot ke lantai batu, terduduk lemas di samping kasur buatanku sendiri.
Darah Goran melumuri kedua tanganku hingga ke siku. Napasku memburu, dadaku naik turun kelelahan. Aku menatap tubuh raksasa yang kini berbalut perban seadanya itu, lalu beralih menatap sisa sisa bilah anak panah yang bersimbah darah.
Mila yang duduk bersimpuh di seberangku menatap wajah ayahnya dengan mata bengkak. Tangannya yang mungil masih menggenggam erat jari-jari ayahnya. Gadis kecil itu menoleh ke arahku, menatapku dengan sorot mata penuh ketakutan.
"Kak... apa Ayah akan mati?"
Aku menelan ludah, menatap lurus ke dalam mata biru anak itu, lalu menjawab dengan nada yang sangat tegas, meski suaraku masih menyisakan getar ketakutan.
"Tidak, Mil. Dia tidak akan mati."
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭