“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Menarik juga manusia
Volume suara ponsel: 🔉 "Hahaha! Jangan lari kau!..."
Wanita duyung yang baru saja selesai menjilati mangkuknya hingga bersih mendengat suara asing tersebut.
Dengan gerakan merangkak yang masih agak kikuk karena efek jaket kebesaran, ia mendekati Beni.
Kepalanya melongok dari samping bahu Beni, ikut menatap layar kotak kecil yang menyala dan menampilkan gambar-gambar manusia daratan yang bergerak-gerak dengan cepat.
"Eh? Kotak sihir apa itu?" tanyanya dengan suara yang melunak karena rasa penasaran yang luar biasa mengalahkan gengsinya. "Kenapa ada manusia mini yang terjebak di dalam kotak bercahaya itu? Dan suara apa yang keluar dari sana?"
Beni terlalu lelah bahkan hanya untuk sekadar membalas pertanyaan bodoh itu dengan ketus. "Ini namanya ponsel. Ini cuma rekaman video orang-orang yang ingin mengunggahnya di internet. Diamlah dan tonton saja kalau mau."
Wanita itu mengerutkan keningnya, namun matanya sama sekali tidak bisa beralih dari layar ponsel Beni.
Ia perlahan-lahan ikut duduk berselonjor di lantai, tepat di sebelah Beni. Jarak mereka berdua kini sangat dekat, hingga aroma sisa masakan ikan spiritual dan kesegaran air sumur dari tubuh Beni berbaur menjadi satu.
Di layar ponsel, video berganti menampilkan keindahan pemandangan kota metropolitan di malam hari, dipenuhi lampu-lampu neon yang berwarna-warni, gedung-gedung tinggi pencakar langit, dan kendaraan yang bergerak seperti aliran kunang-kunang.
"Wah..." wanita duyung itu berbisik pelan, matanya memantulkan cahaya dari layar ponsel. "Dunia daratan ternyata... seindah ini jika dilihat dari atas ya? Mirip dengan kumpulan ubur-ubur bercahaya di dasar jurang laut terdalam."
"Itu namanya kota," jawab Beni pelan, suaranya sudah mulai parau karena kantuk yang mendera. "Ruko tempatmu akan bekerja nanti ada di dekat tempat seperti itu. Jadi bersiaplah."
"Cih, masih saja membahas soal kerja dan babu," gerutu wanita itu, namun kali ini nadanya tidak lagi meledak-ledak.
Energi spiritual dari makanan yang ia santap tadi mulai bereaksi, menyelimuti tubuhnya dengan rasa hangat yang sangat nyaman, memicu rasa kantuk yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan selama hidup di laut yang selalu dingin bergolak.
Keheningan perlahan-lahan menyelimuti rumah kayu itu, hanya ditemani oleh suara musik latar lembut dari video ponsel Beni yang terus berputar otomatis.
Kepala Beni mulai terkantuk-kantuk, miring ke arah samping. Sementara di sebelahnya, wanita berambut hitam itu juga sudah tidak bisa menahan berat kelopak matanya lagi.
Kepalanya bergoyang pelan, sebelum akhirnya... puk, jatuh terkulai dan mendarat tepat di atas bahu Beni.
Beni yang setengah sadar merasakan beban hangat di bahunya, namun otaknya yang sudah mati rasa karena kelelahan memilih untuk tidak peduli.
Tubuhnya secara refleks bergeser sedikit mencari posisi nyaman, membuat kepalanya sendiri ikut bersandar di atas kepala wanita duyung tersebut.
Di bawah temaram sinar matahari pagi yang menembus jendela, kedua makhluk dari dunia yang berbeda itu akhirnya ketiduran dengan posisi saling bersandar satu sama lain di lantai kayu.
Ponsel di tangan Beni perlahan terlepas, tergeletak di atas lantai sambil terus menampilkan keindahan dunia luar yang menanti mereka berdua di hari nanti.
Rasa benci, amarah, dan kerugian finansial semalam seolah membeku, tergantikan oleh kedamaian singkat sebelum badai besar bisnis kuliner mereka dimulai di kota.