Mikhayla gadis berusia 19 tahun, tiba-tiba harus mengalami kejadian yang tak terlupakan. Dia yang datang ke Bali dengan niat berlibur setelah menang undian. Harus menerima kenyataan saat tak sengaja dia melakukan hubungan terlarang dengan Azka. One standing night yang tanpa sengaja mereka lakukan membuat Mika hamil. Apa yang Azka dan Mika harus lakukan? bagaiman dengan Sheryl kekasih Azka? Bagaimana juga dengan Fariz orang yang diam-diam Mika suka? Penasaran? yuk baca, cekidoooooot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzwa Chazanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part_22
"Sayang, haruskah sejauh ini. Kenapa kamu malah ngebiarin Sheryl tinggal di sini," tanya Azka setelah di dalam kamar.
"Bang, akan lebih baik kalo kita bisa mantau dia, jadi kita awasi gerak-gerik dia. Kalo dia di luar bisa jadi bikin rencana yang lebih kejam lagi. Mika bener-bener shock tiba-tiba ada yang ngaku di hamilin Abang. Pengen Mika jambak tau gak?" omel Mika.
"Beneran, Dek. Abang gak ngerasa lakuin itu," bela Azka.
"Awas aja kalo Abang macem-macem. Anumu Mika sunat sampai habis," ancam Mika.
"Ya ampun, jangan gitu dong. Baru di pake sekali pas sama Adek, itu juga gak sadar. Masa mau di abisin," kata Azka. Ngeri, Bray Mika kalo ngamuk galak banget.
"Makanya, buktiin dong. Jangan diem aja," ketus Mika.
"Abang, bakal buktiin. Bahkan sebelum tes DNA itu. Abang bakal kasih bukti kalo abang gak bohong." Mika tersenyum puas kali ini Azka bakal cari buktinya sendiri. Arya, sejak pertemuan hari itu dia susah dihubungi, kata Azka dia ke Singapura karena ibunya sakit dan harus di operasi di sana.
Mika pergi ke kamar o cegahma. Dia membawa makanan untuk Oma.
"Oma, maem dulu, ya. Abis itu minum obat," ucap Mika sambil menyuapi Oma Diana yang masih terlihat lemas.
"Oma, percaya, kan sama Mika." Oma Diana mengangguk.
"Mika, bakal bertahan, Oma. Mika gak bakal nyerah, mulai hari ini Sheryl tinggal di sini. Mika harap Oma gak terpengaruh dengan adanya dia. Oma harus sehat, biar nanti pas dedenya lahir bisa langsung Oma gendong," kata Mika.
"Mik, Oma janji bakal lebih sehat. Ayo sekarang suapin Oma," ujar Oma sambil tersenyum. Mika senang karena Oma sekarang jauh lebih baik. Sekarang giliran Sheryl yang harus di singkirkan.
"Tante, Azka gak anggep Sheryl ada. Sheryl harus gimana?" keluh Sheryl pada Mami Niar.
"Sayang, kamu, kan calon mantu Mami. Panggilnya Mami, ya. Dan soal Azka, nanti Mami bantuin buat deketin dia sama kamu."
"Bener, Mi. Makasih, ya." Sheryl memeluk Mami Niar. Mika yang mau menaruh piring ke dapur sedikit panas melihat pemandangan itu.
"Sabar Mika, ini bukan hal yang penting. Jadi, lu gak boleh down." Mika menyemangati dirinya sendiri.
"Lu gila, ya, Mik. Ngapain lu naro Boom waktu di rumah lu," pekik Celi yang gak abis pikir kenapa dia malah setuju Sheryl tinggal sedangkan Azka aja nolak.
"Rese, lu muncrat ini." Mika mengelap wajahnya yang kena semburan jus apel yang di minum Celi. Hari ini, dia ketemu Celi mau bahas soal Sheryl.
"Salah sendiri. Ih ... sumpah lu, gila tau gak. Itu sama aja lu ngasih kesempatan buat siluman rubah deketin laki lu, gimana, sih?"
"Cel, kalo dia di rumah gue bisa lebih ketat ngawasin dia. Daripada dia diem-diem bikin laki gue tepar terus ngajak bobo bareng lagi gimana. Gue nyadar dia tipe orang yang bakal lakuin apa aja, makanya gue bikin solusi ini."
"Hadeeehh ... gue tetep gak ngerti, sumpah."
"Cel, kadang kalo kita mau nangkep maling, kita juga kudu gaul sama tu maling, intinya ada saatnya dia bakal bongkar kebusukannya sendiri," ucap Mika.
"Terus, itu bisa hamil kalo bukan Azka siapa?"
"Itu dia gue juga gak tau. Soalnya Mami langsung yang nganter Sheryl periksa, berarti gak boong 'kan?"
"Kejadian berarti pas di Surabaya. Emm, coba lu tanya sama Azka. Waktu itu selain mereka ada siapa lagi yang barengan nginep di sana."
"Iya, deh nanti gue cari tau." Mika menyeruput minumannya.
"Bang Arya, belum ngasih tau soal CCTV itu," tanya Celi.
"Belum, ibunya lagi sakit. Gue gak enak kalo misal ngrepotin dia."
Setelah bertemu Celi, Mika ke toko kue ibunya. Mika memeluk Bu Tia dari belakang.
"Kamu kapan datang? Gak ucap salam?"
"Ibu aja yang gak denger. Hari ini toko ramai, Bu?"
"Alhamdullillah, seperti yang kamu lihat. Kamu pengen kue yang mana?" tanya Bu Tia.
"Balck forest aja, Bu kaya biasa."
"Kayanya, anak kamu cewe, deh. Sukanya yang manis-manis." Bu Tia duduk di depan Mika. Mika tersenyum.
"Bu, doain Mika, ya. Sheryl tiba-tiba ngaku hamil anak Azka. Sekarang dia tinggal di rumah. Moga-moga Mika sama Azka kuat ya, Bu buat ngadepin masalah ini." Bu Tia membulatkan matanya.
"Mika, terus bagaimana?" tanya Bu Tia cemas.
"Nunggu bayinya lahir, abis itu tes DNA kalo bukan anak Azka berarti Azka gak bohong. Tapi, kalo itu anak dia, mungkin Mika mundur. Dari awal emang gak seharusnya Mika di antara mereka, Bu," ucap Mika.
"Ya Alloh, Nak. Kamu yang sabar, ya. Ibu yakin kamu kuat." Bu Tia meraih tangan anaknya.
"Iya, Bu. Mika bakalan pertahanin apa yang jadi milik Mika, tapi kalo ternyata kata Alloh ini bukan milik Mika. Mika siap jika harus, kehilangan."
Bu Tia hanya bisa menatap anaknya sendu, dari awal semua ini gak mudah.
"Apapun, keputusan kamu. Ibu pasti akan dukung. Yang penting jaga kesehatan kamu dan anak kamu. Jangan terlalu memikirkan masalah ini."
"Iya, Bu. Dari awal Mika udah nyiapin hati Mika. Dan tentu aja, anak Mika yang paling penting."
Mika pulang dengan perasaan lega, hari ini dia udah cerita sama ibu dan sahabatnya Celi. Mika berdiri di depan pintu sebelum masuk.
"Oke, fighting. Ayo dede bayi, kita buktiin kalo papa emang milik kita. Semangat, ya kita hajar musuh kita," gumam Mika sambil mengelus perutnya.
Mika masuk ke dalam rumah, dan di suguhkan dengan pemandangan Sheryl yang sedang mengganggu Azka di dapur.
Mika langsung berlari dan memeluk tubuh Azka dari belakang, dengan sengaja dia sedikit menyenggol tubuh Sheryl.
"Abang lagi, ngapain?" Azka yang kaget langsung tersenyum setelah tahu ternyata itu Mika.
"Abang, lagi bikin teh. Kamu baru pulang. Padahal tadi Abang sengaja pulang cepet-cepet. Eh, sampai rumah Adek gak ada." Azka membalikan tubuhnya dan memeluk Mika. Tehnya mendadak terlupakan.
"Abang kangen, ya?" Mika mendongakkan wajahnya.
"Kangen banget malah." Azka hendak mencium Mika, namun sebuah suara bikin dia urung melakukannya.
"Ekhm ... Beb, gue gak keliatan, ya?" pekik Sheryl.
"Ya ampun, sorry, Shey gue pikir gak ada lu. Abis lu kasat mata, sih. Sayang, kita lanjutin di kamar aja, ya. Takut Sheryl ngiler, Abang, kan gak bisa ngasih. Udah punya kamu semua," ucap Azka sambil terkekeh.
"Tapi, gendong Mika cape," rengek Mika.
"Hmmm ... Adek, lagi pengen dimanja, ya. Sini-sini, Abang gendong. Nanti, sekalian Abang pijitin. Abang, juga udah kangen sama anak kita, pengen nengokin," ujar Azka sambil menggendong Mika ke kamar.
Jangan tanya muka Sheryl kaya apa, tentu saja udah kaya kepiting rebus. Merah menyala menahan amarah. Fariz yang ternyata memperhatikan cuma cekikikan.
"Oh, jadi ini maksud lu nyuruh Sheryl di sini. Gila gak kepikiran gue, lu segila ini. Mikhayla, selamat berjuang," gumam Fariz.
Bersambung.