JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Indonesia, Aku Kembali!
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan udara yang cukup menguras tenaga, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat juga di bandara dengan selamat. Ketiganya memesan kamar di hotel yang telah dipilih Desita, dua kamar yang terbilang mewah untuk tempat tinggal sementara selama Desita belum mendapatkan rumah yang cocok.
"Fyuh, lelahnya," Desita melempar tas tangannya asal, dia langsung berbaring seraya melepas napas panjang.
Herman geleng-geleng kepala melihat tingkah pasangannya itu, merasa sedikit lucu melihat Desita seperti itu sekarang. "Mandi dulu ma, terus ganti baju," tegur Herman perhatian.
"Baru lanjut istirahat," tambah pria itu dengan lembut.
"Capek, pa!" balas Desita dengan suara pelan.
Herman menghela napas panjang mendengar perkataan Desita, istrinya. "Ha-ah, ya sudah. Istirahat saja kalau memang terlalu capek, ma," Herman tetap menjadi sosok suami hangat dan pengertian, tapi sayangnya kehangatan itu tak pernah anak perempuannya dapatkan sekalipun.
Desita tak menjawab, dia diam berbaring tanpa membuka matanya, meski nyatanya wanita itu belum tertidur.
Di kamar lain, tepatnya di sebelah kamar pasangan suami-istri Ferdinan, Rian sedang membongkar tasnya. Ya, Rian dan orang tuanya memesan kamar yang bersebelahan. Selesai mengeluarkan semua bawaannya yang tak seberapa, Rian pun melangkah ke kamar mandi, handuk mengalung indah di punggung lehernya. Di kamar mandi, Rian membuka pakaiannya dan melepas lilitan perban yang melilit bagian dadanya. Cukup lama waktu yang dibutuhkan hanya untuk melepas semua atribut yang digunakannya untuk penyamaran. Begitu terlepas, terlihatlah seorang gadis belia dengan potongan rambut pendek terkesan tomboi.
Rian menatap pantulan dirinya di cermin, seketika senyum sinis dilemparkannya untuk dirinya sendiri. "Menyedihkan sekali, ha-ah," helaan napas mengejek terdengar samar dari belah bibir gadis itu.
"Hanya di sini aku bebas menjadi diriku sendiri!" lanjutnya bergumam pelan.
Dia mendongak melihat langit-langit kamar mandi. "Kakak lihat sendiri, bukan? Huh, ternyata aku bisa menjadi seorang gadis meski harus tetap menyamar sebagai dirimu," katanya seakan berbicara dengan sang kakak yang telah lama tiada.
"Kakak jangan khawatir, aku bahagian saat ini!" senyum pahit di tengah dusta yang dibuatnya untuk menenangkan sang kakak, dia paham itu tak perlu, dia juga tahu apa yang dilakukannya tak masuk akal dan sia-sia. Dia berbicara dengan seseorang yang telah tiada, pastinya tak akan ada yang menanggapi ucapannya. Namun, Adriana tetap melakukannya di saat dia merasa lelah berada di antara semua masalah yang membuatnya stress, belum lagi tekanan dari Desita yang menuntut kesempurnaan, meski ibunya itu tak mengatakannya, tapi Adriana sangat mengenal tatapan menuntut yang terpancar dari kedua bola mata Desita.
Untuk menutupi kesedihannya, Adriana memulai ritual mandinya. Sesekali dia bersenandung, lagu apapun yang terlintas di kepalanya. Selesai mandi, gadis itu kembali melilit dadanya dengan perban. Hampir sepanjang waktu dia terus melakukan itu, hanya pada saat istirahat malam saja dia tak memakai lilitan perban. Sebagai gantinya, gadis itu memakai kimono tidur berukuran besar yang khusus dipesannya. Setelah kembali memakai lilitan perban dan juga baju santai, Adriana kembali menjadi Rian. Dia keluar dari kamar mandi kemudian berbaring untuk beristirahat. Mata gadis itu terpejam, dia butuh tidur untuk mengusir kelelahan yang dialaminya karena perjalanan jauh berjam-jam.
Beberapa jam berlalu, pintu kamar Rian diketuk dari luar. Rian mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, kemudian dia duduk menatap sekitar. Lagi, suara ketukan pintu kembali terdengar. Rian bergegas melompat turun dari ranjang dan melangkah dengan langkah lebar ke arah pintu, begitu dibuka, dia melihat ibu dan ayahnya sedang berdiri di luar, keduanya memasang senyum menatap anaknya yang terlihat masih sedikit linglung.
"Rian-ku sayang! Kamu baru bangun tidur, sayang?" ucap Desita.
"Ya, mom!" balas Rian disertai senyum yang pastinya disukai oleh ibunya.
"Kita cari makan dulu, yuk!" ajak sang ayah seakan menjelaskan mengapa keduanya mengetuk pintu kamar sang anak.
"Rian ambil jaket dulu, dad," Rian menghilang ke dalam, tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat. Tentu saja itu langkah kaki Rian yang telah kembali.
"Cuci mukamu dulu, Rian," kata Desita mengingatkan.
"Sudah mom, sekalian Rian ambil jaket dan dompet tadi." Rian menutup pintu kamarnya kemudian berjalan di belakang orang tuanya.
"Kenapa mom atau dad gak telepon Rian saja tadi?" tanya Rian mencoba mencari percakapan.
"Kalau mom dan dad menelepon kan bisa Rian saja yang ke kamar mommy dan daddy!" lanjut anak itu mengikuti orang tuanya masuk ke lift. Benda berbentuk kotak terbuat dari besi yang akan mereka gunakan untuk mencapai lobi, daripada bersusah payah menuruni banyak anak tangga.
Desita menatap Rian gemas. "Tentu saja kami sudah mencoba menelepon, tapi nomor kamu tak bisa dihubungi katanya," jelas wanita itu hangat.
"Upss, maaf mom!" Rian menggaruk tengkuknya yang tak gatal, memang salahnya langsung beristirahat setelah mandi. Dia lupa mengecek apa ponselnya telah dihidupkan kembali atau belum. Rupanya benda itu masih dalam keadaan mati.
"Coba kamu periksa dulu ponsel kamu," kata ayahnya.
"He-he-he, ponselnya Rian tinggal di kamar dad! Rian gak bawa," ucap Rian cengengesan.
"Lupa, kan!" Herman menggelengkan kepalanya menatap Rian yang masih cengengesan. Untungnya tak ada satu pun orang yang naik ke lift yang mereka naiki, jadinya mereka bertiga bebas berbicara tentang apapun. Mereka bertiga duduk di resto yang ada di depan hotel, memesan berbagai makanan yang diinginkan oleh Desita. Rian diam tanpa ikut campur memesan apapun, dia tahu Desita pasti akan memesankan untuk dirinya juga, meski tanpa bertanya apa yang diinginkannya.
"Ada lagi yang mau kamu pesan, Rian?" Rian menatap Desita dengan kerutan samar di dahinya, sedikit bingung kenapa sang ibu menanyakan apa yang dia mau. Tak seperti Desita yang biasanya.
"Yang mom pesan juga sudah cukup," kata Rian beberapa saat kemudian, dia tersenyum tipis menatap ibunya. Herman tak ikut campur, baginya selama sang istri senang, dia tak akan repot menanggapi. Apapun yang ingin dilakukan sang istri, dia akan mendukung dengan segala cara.
Kelar makan, ketiganya bertolak ke mall. Desita mengajak Rian berbelanja beberapa berang yang sepertinya akan diperlukan. Ingat, mereka hanya membawa sedikit barang saja ke sini, barang lain akan menyusul ketika rumah hunian mereka telah dibeli. Tentunya harus sesuai dengan keinginan sang nyonya rumah.
Rian dan Herman kebagian membawa barang yang telah dibeli Desita. Ada baju untuk Rian sendiri, Herman dan Desita, ada juga keperluan wanita yang pastinya milik Desita. Rian tak pernah membeli hal seperti itu, dia tak mau repot memakai ini dan itu di wajah atau badannya. Dia terlalu malas membuang waktu dengan hal-hal seperti itu.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝