NovelToon NovelToon
DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sasip

Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:

"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan

...Bagian I...

...Sahabat Bersayap Perak...

..."Kesepian bukanlah ketika tidak ada siapa-siapa di sekitarmu. Kesepian adalah ketika tidak ada satu pun makhluk yang memahami isi hatimu."...

Ada banyak makhluk yang hidup di Banua Ginjang. Sebagian menjaga bintang, sebagian menjaga embun dan sebagian lagi menjaga nyanyian angin.

Namun di antara semuanya, terdapat satu makhluk yang paling disayangi anak-anak langit.

Mereka disebut Sijonggi. Burung-burung kecil itu tidak sebesar Garuda Langit yang menjaga gerbang timur Banua Ginjang. Tubuh mereka hanya sedikit lebih besar daripada kedua telapak tangan orang dewasa.

Bulu-bulunya putih keperakan. Pada saat matahari langit mulai menyentuh pucuk Hariara Bolon, ujung sayap mereka memantulkan cahaya berwarna biru muda, seolah setiap helai bulu menyimpan sepotong langit.

Orang-orang tua di Banua Ginjang percaya bahwa Sijonggi tidak pernah tersesat. Bukan karena mereka mengenal jalan. Melainkan karena mereka mampu mendengar suara hati alam.

Jika seluruh bintang padam sekalipun, seekor Sijonggi akan tetap menemukan rumahnya. Karena rumah bukanlah tempat. Rumah adalah panggilan.

...****************...

Setelah peristiwa di Batu Ingatan, Deak Parujar menjadi lebih pendiam. Ia masih bermain bersama Partondion. Masih tertawa mengejar kupu-kupu cahaya. Masih membantu para penenun langit mengumpulkan benang-benang pelangi.

Namun sesekali, ia akan berhenti. Memandang jauh ke arah cakrawala Banua Ginjang. Ke arah tempat akar Hariara menghilang ke lautan awan.

"Apakah di sana benar-benar hanya ada air?" bisiknya suatu hari.

Angin menjawab dengan hembusan lembut. Namun kali ini, ia tidak mengerti artinya.

...****************...

Pada suatu pagi, Deak memutuskan berjalan seorang diri menuju Hutan Silampuyang. Hutan itu berbeda dengan taman-taman lain. Pepohonannya lebih tua, dimana batangnya berwarna putih keperakan dan daunnya tidak pernah gugur.

Konon, setiap pohon di sana menyimpan satu lagu yang belum pernah dinyanyikan. Maka siapa pun yang masuk ke dalam hutan harus melangkah dengan hati yang bersih. Sebab pepohonan dapat mendengar niat sebelum mendengar langkah.

Saat Deak memasuki hutan, seluruh dedaunan bergemerisik pelan. Bukan karena angin. Melainkan sebagai salam.

"Selamat pagi..." ucap Deak sambil membungkukkan badan.

Ia diajarkan sejak kecil bahwa alam bukan milik siapa pun. Alam adalah saudara yang lebih tua. Karena itu, setiap memasuki hutan, sungai, atau lembah, penghormatan harus diberikan lebih dahulu.

"Jika manusia kelak melupakan cara memberi salam kepada alam," kata Parbaringin pada suatu kesempatan mengajar kaum muda, "maka alam pun perlahan akan melupakan manusia."

Deak belum sepenuhnya memahami makna kalimat itu. Tetapi ia selalu mengingatnya.

Tiba-tiba, terdengar suara kepakan sayap. Tidak tergesa. Tidak pula ketakutan. Seolah sang pemilik sayap itu sengaja mengajak seseorang bermain petak umpet.

Deak menoleh.

Seekor burung putih kecil bertengger di ranting yang rendah. Matanya hitam berkilau. Paruhnya pendek. Namun yang paling indah adalah ekornya, panjang, menjuntai dan berwarna perak.

Burung itu memiringkan kepalanya. Memandang Deak. Deak balas memandang. Namun tidak satu pun dari mereka berdua yang bergerak.

Beberapa saat kemudian, burung itu berkicau. Bukan seperti sebuah lagu, melainkan hanya terdengar seperti tiga nada pendek.

Deak tersenyum dan bertanya: "Apakah kau mengajakku bermain?"

Burung itu mengepakkan sayap sekali. Lalu terbang. Tidak jauh. Hanya berpindah ke dahan berikutnya.

Deak mengikutinya. Burung itu kembali berpindah. Begitu seterusnya. Mereka bermain kejar-kejaran di antara pohon-pohon tua.

Hingga akhirnya, burung kecil itu berhenti di sebuah batu yang dipenuhi lumut hijau. Ia tidak terbang lagi. Ia hanya menatap Deak.

"Jadi kau memang sengaja membawaku ke sini?" tanya Deak lebih ke pernyataan dan bukan pertanyaan.

Burung itu mengangguk kecil. Atau mungkin hanya menggerakkan kepalanya. Sulit dibedakan.

Namun Deak yakin, burung itu mengerti ucapannya. Perlahan ia mengulurkan tangan. Burung putih itu tidak takut. Ia justru melompat ke telapak tangan Deak.

Terasa hangat walau ringan. Dan anehnya, begitu kaki mungilnya menyentuh kulit Deak, terdengar kembali bisikan angin.

..."Ia telah memilihmu... Bukan engkau yang menemukannya... Melainkan ia yang menemukanmu..."...

Deak menatap burung kecil itu lalu bertanya: "Siapa namamu?"

Burung itu kembali berkicau tiga kali. Suara itu terdengar seperti: "Ji...ong...gi..."

Anak itu tertawa dan akhirnya berkata: "Kalau begitu... Aku akan memanggilmu... Jonggi."

Burung kecil itu mengepakkan sayapnya dengan riang.

Tidak ada yang mengetahui bahwa sejak hari itu, seekor Sijonggi memilih menjadi sahabat seorang putri yang kelak akan mengubah tiga banua.

Dan tidak ada pula yang mengetahui bahwa persahabatan itu telah lama dinubuatkan oleh Hariara Bolon, jauh sebelum Deak Parujar dilahirkan.

Sebab ada perjalanan yang terlalu berat untuk ditempuh sendirian.

Bahkan oleh seorang putri langit.

...****************...

...Bagian II...

...Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan...

..."Air yang tenang tidak selalu memantulkan masa lalu. Ada air yang menyimpan hari-hari yang belum lagi lahir." —Petuah Tua Banua Ginjang...

Jonggi tidak segera mengajak Deak Parujar pulang.

Burung kecil itu melompat turun dari telapak tangan sang putri, lalu mengepakkan sayap peraknya pelan-pelan.

Namun kali ini ia tidak bermain-main seperti sebelumnya.

Ia menoleh sesekali ke arah Deak, seolah berkata: "Ikutlah."

"Ke mana kita pergi?" tanya Deak sambil tersenyum.

Jonggi hanya berkicau pendek. Lalu terbang walau tidak terlalu tinggi, hanya beberapa hasta di atas tanah, cukup rendah sehingga Deak dapat terus mengikutinya.

Mereka berjalan semakin jauh menembus Hutan Silampuyang. Pepohonan mulai berubah.

Batang-batang putih keperakan perlahan berganti menjadi pohon-pohon berkulit kebiruan yang berkilau saat disentuh cahaya. Daunnya tidak lagi berbentuk lonjong, melainkan menyerupai telapak tangan yang terbuka ke langit.

Saat angin berembus, daun-daun itu saling bersentuhan, namun tidak terdengar suara gemerisik. Yang terdengar justru suara seperti bisikan banyak orang yang sedang berdoa.

Deak berhenti dan bertanya: "Apakah pohon-pohon ini sedang berbicara?"

Jonggi menoleh. Lalu menganggukkan kepalanya pelan.

"Kalau begitu..." Deak merapatkan kedua telapak tangannya ke dada dan berkata sopan: "Aku permisi melewati rumah kalian."

Sekejap kemudian, bisikan dedaunan berubah menjadi lagu yang lembut. Seolah seluruh hutan menjawab salamnya.

...****************...

Semakin jauh mereka berjalan, udara menjadi semakin sejuk. Kabut tipis turun perlahan. Namun kabut itu tidak berwarna putih. Ia memancarkan cahaya kebiruan, seperti embun yang berubah menjadi napas.

Di tengah kabut, tampak sebuah telaga yang nyaris bundar sempurna. Airnya begitu bening hingga Deak tidak dapat membedakan mana permukaan air dan mana langit.

Tidak ada ombak. Tidak ada riak. Tidak ada seekor ikan pun yang terlihat berenang di dalamnya.

Yang ada hanyalah ketenangan yang begitu dalam sehingga Deak merasa seluruh isi hatinya ikut menjadi tenang.

"Indah sekali..." bisiknya.

Jonggi hinggap di sebuah batu pipih di tepi telaga. Burung kecil itu tidak berkicau. Ia hanya menatap permukaan air.

Deak ikut mendekat.

Ketika ia melihat ke dalam telaga, ia mengira akan melihat bayangan wajahnya sendiri. Namun, permukaan air tetap kosong.

"Aneh... Aku tidak punya bayangan." ujar sang putri kecil bingung.

Angin berembus pelan. Lalu suara yang sangat dikenalnya kembali terdengar.

..."Karena telaga ini tidak memantulkan siapa dirimu... Melainkan siapa yang sedang kau tuju..."...

Deak mengernyit dan berujar: "Aku tidak mengerti."

Air telaga mulai berpendar. Lingkaran-lingkaran cahaya muncul dari dasar, lalu perlahan naik ke permukaan. Satu demi satu. Semakin banyak. Semakin terang.

Tiba-tiba, bayangan mulai terbentuk. Bukan wajah Deak. Melainkan seorang perempuan muda. Rambutnya panjang. Pakaiannya putih berhiaskan tenunan yang belum pernah dilihat Deak. Di kedua tangannya tergenggam segumpal tanah bercahaya.

Perempuan itu berdiri seorang diri. Di sekelilingnya hanya ada samudra yang tak bertepi. Langit dipenuhi awan gelap. Petir terlihat menyambar di kejauhan.

Namun ia tidak tampak takut. Dengan perlahan ia berlutut. Menempelkan segenggam tanah itu ke atas permukaan air.

Keajaiban pun terjadi. Tanah kecil itu mulai membesar. Semakin luas. Semakin tinggi.

Lalu dari tengahnya muncul sebuah gunung. Gunung pertama. Gunung yang memecah kesunyian samudra. Gunung yang kelak akan menjadi tempat lahirnya sebuah peradaban.

Deak menahan napas, "Itu... Siapa?"

Perempuan dalam telaga perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu.

Mata perempuan itu, terlihat sama persis seperti mata Deak. Lembut. Jernih. Penuh harapan.

Perempuan itu tersenyum.

Kemudian berkata dengan suara yang terdengar seolah berasal dari seluruh penjuru angin, "Jangan takut kepada kesunyian. Sebab kehidupan selalu memilih lahir dari tempat yang paling sunyi."

Deak tanpa sadar mengulurkan tangan dan bertanya: "Siapa engkau?"

Namun tepat ketika ujung jarinya hampir menyentuh permukaan telaga, bayangan itu lenyap.

Air kembali tenang. Seolah tidak pernah terjadi apa pun.

"Putri!" Sebuah suara berat tiba-tiba memanggilnya dengan memecah kesunyian.

Deak menoleh.

Dari balik kabut muncul Parbaringin, tetua penjaga ingatan Banua Ginjang. Tongkat kayunya yang dihiasi sulur Hariara memancarkan cahaya lembut.

Namun wajahnya, tampak tidak setenang biasanya. Beliau terlihat terkejut. Sangat terkejut.

"Bagaimana..." bisiknya lirih, "...engkau bisa menemukan Telaga Sipaet?"

Deak menunjuk Jonggi dan menjawab: "Dia yang membawaku."

Parbaringin memandang burung kecil itu. Jonggi sang burung kecil, membalas tatapannya tanpa rasa takut.

Untuk sesaat, tetua tua itu membungkukkan kepala kepada seekor burung kecil.

Deak semakin bingung, "Mengapa Kakek memberi hormat kepada Jonggi?"

Parbaringin tersenyum tipis ketika menjawab: "Bukan kepada burung itu."

"Lalu kepada siapa?" tanya sang putri lagi.

"Kepada takdir yang sedang berjalan bersamanya." jawab Parbaringin lugas.

Deak semakin tidak mengerti.

Parbaringin lalu mendekati telaga. Beliau menyentuhkan ujung tongkatnya ke permukaan air. Telaga kembali memantulkan bayangan.

Namun kali ini, tidak ada perempuan. Tidak ada gunung. Tidak ada samudra. Hanya langit biasa.

Tetua itu menghela napas panjang dan bergumam litih: "Benar... Telaga telah memilihnya."

...****************...

Dalam perjalanan pulang, Parbaringin berjalan di sebelah Deak Parujar.

"Apa Telaga Sipaet itu Kakek?" tanya Deak sambil menolehkan wajah mungilnya ke arah sang kakek.

Parbaringin tersenyum. Lalu menjawab: "Di Banua Ginjang ini ada banyak danau. Sebagian menyimpan cahaya. Sebagian menyimpan mimpi. Sebagian menyimpan kenangan. Tetapi hanya ada satu telaga yang menyimpan kemungkinan."

"Kemungkinan?" tanya Deak lagi.

"Ya." jawab Parbaringin cepat, "Bukan masa depan. Karena masa depan belum tentu terjadi. Melainkan semua jalan yang mungkin akan dipilih oleh kehidupan."

Deak terdiam sesaat sebelum kembali bertanyq: "Jadi... Perempuan itu belum tentu benar-benar ada?"

Parbaringin memandang langit yang mulai memerah dan menjawab: "Belum tentu. Tetapi, kadang-kadang... Semesta memperlihatkan kemungkinan kepada seseorang... karena hanya dialah yang mampu mewujudkannya."

Mereka terus berjalan tanpa banyak bicara.

Sementara itu, jauh di atas Banua Ginjang, Burung Erung tampak terbang melingkari langit untuk ketiga kalinya sejak Deak Parujar dilahirkan.

Tak seekor pun penghuni langit menyadari kehadirannya. Kecuali Hariara Bolon.

Pohon Agung itu menggugurkan tiga helai daun emas yang melayang perlahan menuju Telaga Sipaet.

Di dalam batangnya yang telah hidup sejak awal penciptaan, Hariara menyimpan sebuah rahasia yang belum siap diungkapkan kepada siapa pun. Rahasia tentang seorang putri. Tentang seekor naga. Dan tentang dunia yang belum memiliki nama.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke Bab 5. Sekolah Semesta, Bagian I. Para Penjaga Lima Unsur.

1
MayAyunda
mampir kak ..cerita bagus ..lanjut
B042
unyu² sekali siula yak.. 😍
sasip
mohon maaf kalau terasa aneh, namanya jg imajinasi penulis.. semoga suka ya walau aga aneh.. 🙏🏻
Zed Analytical Number Nine
warna kelopak nya indah
sasip: terima kasih.. seindah dukungan kakak loh.. 😍
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Siapakah dia, siapa namanya?????
Tio Buki: Kisah Sumatra ya. Tapa nuli, atau Toraja nih.
total 2 replies
Tio Buki
Iya, seperti itu
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki: Oke dek. Semangat ya🙏
total 2 replies
Tio Buki
Aneh
Tio Buki
Kok begitu
Tio Buki: Oh begitu ya dek
total 2 replies
MayAyunda
lanjut kak keren
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
B042
cakep² ish gambarnya.. 😍
B042
ternyata bukan manusia yg mempunyai perasaan, tapi perasaanlah yg mempunyai pemilik.. seperti kesunyian atau kesendirian, apakah bisa dimiliki bersama² yak? secara kalo bareng² memilikinya, enggak sendiri dunks ya itu artinya..
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
B042
bagus banged ya kalau manusia bisa berkomunikasi dg alam.. jadi keinget sama mba rara neh.. wkwkwkwkwk..
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/
B042
wow banyak mahluk² ajaibnya.. 😍🥰😘
B042
KEREN..
B042
Ulos adalah kain tenun tradisional Batak (Sumatra Utara) yang melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang. Dikenal sebagai "pengikat kasih sayang," kain ini sakral dalam budaya Batak karena mendampingi setiap fase kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. (mbah google) 😉
B042
part ini mengingatkan pada sekolah alam yg sempet hapapening beberapa waktu yg lalu itu ya.. 😆😋😏
B042
"air menyimpan kenangan dan ia akan selalu mengingat", jadi kebayang film Frozen 2 yak? macam dengar kata² Olaf gitu deh.. 😋😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!