Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 - Jangan Pakai Namaku
Bu Ratna tidak masuk.
Untuk perempuan yang selalu pandai mengubah ruang menjadi panggung air mata, ia tahu kapan panggung tidak berpihak padanya. Di rumah Sari, dengan Nadia berdiri di depan pintu, Raka di sampingnya, Sari memeluk Rani, dan Joko yang mulai berani menatap lurus, Bu Ratna kehilangan keunggulan.
"Kami pulang," katanya akhirnya.
Nadia tidak menahan.
"Bagus."
Bella berjalan lebih dulu, wajahnya tertunduk. Bu Ratna menyusul, tapi sebelum turun dari teras, Nadia memanggil.
"Bu Ratna."
Langkah Bu Ratna berhenti.
"Jangan datang lagi untuk meminta barangku. Kalau butuh biaya akad Bella, minta pada calon suaminya."
Bu Ratna menoleh.
"Suatu hari kamu akan tahu bagaimana rasanya punya anak."
Nadia menatapnya.
"Semoga kalau aku punya anak, aku tidak memakai satu anak untuk mengorbankan anak lain."
Wajah Bu Ratna mengeras.
Bella menarik lengan ibunya.
"Bu, ayo."
Mereka pergi.
Setelah motor ojek yang mereka tumpangi menghilang, Sari duduk lemas di kursi.
"Aku kira mereka akan membongkar kotak."
Joko menggaruk kepala.
"Aku juga bingung harus bagaimana. Kalau aku sentuh, nanti dibilang kasar pada ibu tiri."
Nadia menatap kakak iparnya.
"Mas Joko, lain kali kalau mereka datang tanpa izinku, jangan biarkan masuk."
Joko tampak canggung.
"Itu ibumu."
"Ibu tiri."
"Tetap orang tua."
Sari menoleh pada suaminya. Ada kelelahan di matanya.
Nadia menangkap itu.
Ia tidak ingin bertengkar dengan Joko sekarang, tapi ia perlu menanam sesuatu.
"Mas, menghormati orang tua tidak sama dengan membiarkan istrimu diteriaki di rumah sendiri."
Joko terdiam.
Sari menatap Nadia cepat, seolah takut suasana menjadi panas.
Raka berkata tenang, "Saya mengerti Mas Joko kaget. Tapi setelah ini, situasi mungkin sering seperti tadi. Kalau rumah ini menjadi tempat Nadia menyimpan barang sebelum akad, Mas Joko berhak menjaga batas."
Joko mengangguk pelan.
"Iya. Maaf, Sar. Tadi aku lambat."
Sari terlihat kaget mendengar permintaan maaf itu. Ia menunduk, lalu berkata pelan, "Tidak apa-apa."
Nadia melihatnya.
Tidak. Bukan tidak apa-apa. Tapi untuk hari ini, setidaknya Joko sudah melihat.
Raka menoleh kepada Nadia.
"Saya harus kembali sebelum sore. Dokumen KUA saya antar ke Pak Hendra dulu."
"Terima kasih sudah ikut."
"Kamu sudah bilang terima kasih waktu di mobil."
"Yang ini untuk tadi."
"Kalau begitu saya terima."
Raka pergi setelah memastikan Nadia tidak butuh apa-apa lagi. Tante Mira menelepon sebentar kemudian, menanyakan kondisi, lalu berjanji membantu mengurus kain akad sederhana.
Sore itu, Nadia membantu Sari menata ulang kotak seserahan ke kamar. Ia juga membuat daftar barang. Semua dicatat: kain, kue, buah, alat salat, perhiasan kecil, uang tunai, dan beberapa perlengkapan rumah.
"Kamu seperti bendahara," kata Sari.
"Harus. Barang yang tidak dicatat mudah hilang."
Sari tersenyum.
"Kamu benar-benar berubah."
"Mbak takut?"
"Tidak. Aku cuma... masih menyesuaikan."
Nadia mengangguk.
Malamnya, kabar baru datang dari rumah Pak Darto.
Arman akhirnya datang bersama Bu Lilis. Mereka membawa rencana akad untuk Bella, tapi bukan dalam waktu dekat. Pak Hendra tetap pada keputusan: setelah akad Nadia dan Raka selesai, baru keluarga akan mengurus Arman dan Bella. Bella menangis, Bu Ratna memohon, Eyang Marni marah-marah, tapi tidak ada yang berubah.
Yang berubah adalah cerita yang mulai beredar.
Pagi berikutnya, saat Nadia membeli sayur di ujung gang, dua ibu berhenti bicara begitu ia datang. Nadia pura-pura memilih cabai.
"Mbak, cabai sekilo berapa?"
Penjual menjawab. Salah satu ibu tidak tahan.
"Nadia, kamu baik-baik saja?"
"Baik, Bu."
"Kami dengar kamu tidak mau membantu akad Bella."
Nadia menoleh.
Ah. Jadi itu versi baru.
"Membantu bagaimana?"
Ibu itu ragu.
"Katanya Bu Ratna datang baik-baik minta sedikit seserahan, tapi kamu mengusir."
Nadia mengambil cabai, menimbang di tangan.
"Bu, kalau ada perempuan masuk kamar dengan calon suami anak Ibu, lalu besoknya meminta anak Ibu membiayai akad mereka, Ibu bantu?"
Ibu itu langsung diam.
Penjual sayur tertawa kecil.
"Ya tidak lah. Itu namanya kebangetan."
Nadia tersenyum.
"Saya juga berpikir begitu."
Ibu yang tadi bertanya tampak malu.
"Berarti ceritanya tidak begitu?"
"Cerita yang keluar dari orang yang ingin mengambil barang biasanya memang dipoles."
Jawaban itu langsung menyebar lebih cepat daripada gosip awal.
Siang hari, Bu Ratna menelepon Sari. Sari mengaktifkan pengeras suara atas permintaan Nadia.
"Sari, bilang pada Nadia, jangan menyebarkan cerita buruk tentang Bella."
Nadia menjawab langsung, "Aku di sini, Bu."
Bu Ratna terdiam sesaat.
"Nadia, kenapa kamu membuat orang pasar membicarakan adikmu?"
"Aku menjawab pertanyaan."
"Kamu bisa diam."
"Aku sudah pensiun dari pekerjaan itu."
Sari menutup mulut.
Bu Ratna menarik napas tajam.
"Kamu ingin menghancurkan Bella?"
"Tidak. Bella sedang bekerja sangat baik menghancurkan dirinya sendiri."
"Nadia!"
"Bu, dengar baik-baik. Mulai hari ini, jangan pakai namaku untuk meminta simpati. Jangan bilang aku tidak mau membantu adik. Jangan bilang aku dendam tanpa alasan. Kalau Ibu menyebarkan cerita, aku akan meluruskan dengan versi lengkap."
"Kamu mengancam Ibu?"
"Aku memberi pemberitahuan."
Bu Ratna menurunkan suara.
"Kamu tidak takut dosa melawan orang tua?"
Nadia menatap ponsel.
"Aku lebih takut terus membiarkan orang tua berbuat zalim atas nama dosa."
Hening.
Lalu panggilan ditutup.
Sari menatap Nadia.
"Kamu yakin tidak terlalu keras?"
"Mbak, orang seperti Bu Ratna tidak berhenti karena kita lembut. Dia berhenti kalau tahu setiap langkahnya terlihat."
Sari mengangguk pelan, meski masih cemas.
Menjelang malam, Raka datang membawa kabar bahwa jadwal akad sudah keluar: Jumat pagi, di KUA kecamatan, lalu syukuran kecil di rumah Pak Hendra. Tidak ada pesta besar. Tidak ada tenda kampung. Tidak ada panggung untuk orang-orang yang ingin menonton Nadia jatuh.
"Aku suka," kata Nadia.
"Sederhana?"
"Bersih."
Raka memahami.
Ia menyerahkan selembar salinan jadwal.
"Pak Hendra juga meminta maaf. Bu Lilis masih sulit menerima, tapi beliau tidak akan menghalangi."
"Sulit menerima aku atau sulit menerima Mas Raka menikah?"
"Mungkin keduanya."
"Mas Raka terganggu?"
Raka duduk di kursi bambu teras.
"Sejujurnya, saya lebih terganggu kalau Ibu terlalu mudah menerima. Itu berarti ada rencana lain."
Nadia tertawa.
"Mas Raka ternyata bisa curiga juga."
"Saya tumbuh di keluarga Wiratmaja. Curiga adalah kemampuan bertahan hidup."
Kalimat itu ringan, tapi Nadia mendengar luka di belakangnya.
Ia duduk di kursi sebelah.
"Setelah akad, kita tinggal di rumah kecil itu?"
"Kalau kamu mau melihat dulu, besok saya antar."
"Mau."
"Rumahnya tidak besar."
"Aku tidak butuh besar."
"Perabotnya juga sedikit."
"Aku tidak butuh banyak."
Raka menatapnya.
"Apa yang kamu butuh?"
Pertanyaan itu membuat Nadia diam.
Apa yang ia butuh?
Dulu jawabannya selalu uang, perlindungan, tempat pulang, bukti bahwa ia tidak salah lahir. Sekarang semua terasa terlalu banyak untuk diucapkan.
Akhirnya ia menjawab, "Pintu yang bisa kututup dari orang-orang yang ingin mengambil hidupku."
Raka menatapnya lama.
"Kalau begitu rumah itu punya pintu. Dan kuncinya akan kamu pegang."
Nadia menunduk, menggigit bagian dalam pipi agar tidak tersenyum terlalu lebar.
Di ujung gang, seorang anak berlari membawa layangan putus. Suara azan magrib terdengar dari masjid kecil. Untuk beberapa detik, dunia terasa biasa.
Lalu ponsel Raka berbunyi.
Ia melihat layar.
"Arman."
Nadia mengangkat alis.
Raka mengangkat panggilan.
Suara Arman terdengar keras bahkan dari tempat Nadia duduk.
"Om, aku mau bicara dengan Nadia."
Raka menatap Nadia.
Nadia menggeleng.
Raka berkata, "Dia tidak mau."
"Ini penting."
"Kalau penting untukmu, belum tentu penting untuk dia."
Arman terdiam, lalu suaranya berubah dingin.
"Bilang pada Nadia, jangan terlalu bangga. Belum tentu Om bisa jadi suami sungguhan."
Mata Nadia membeku.
Raka tidak langsung menjawab.
Lalu ia berkata sangat pelan, "Arman, kalau kamu masih menghina saya untuk melukai Nadia, saya pastikan setelah ini bukan hanya Ayahmu yang marah."
Panggilan ditutup.
Nadia melihat tangan Raka. Jarinya sedikit gemetar, entah karena marah atau tubuhnya.
Ia mengambil gelas teh hangat di meja dan menggesernya kepada Raka.
"Minum dulu, Mas."
Raka menerima.
Nadia menatap jalan gelap.
Arman masih sama. Kalau tidak bisa menguasai perempuan, ia menyerang tempat yang paling sakit.
Bedanya, kali ini Nadia tidak takut.
Ia justru semakin yakin.
Satu minggu lagi terlalu lama.
🤣🤣🤣