Eric Pratama, seorang remaja berusia tujuh belas tahun, mengungkap jati dirinya sebagai seorang mutan. Eric dibesarkan oleh ibunya tanpa sosok seorang ayah karena suatu alasan yang belum boleh diketahui Eric.
Dirinya memiliki dendam pribadi terhadap pemimpin mafia yakuza yang bernama Tatsumi Shojo, karena kematian keluarga ibunya di Rusia sejak tujuh belas tahun silam akibat tragedi pembunuhan yang dilakukan para Yakuza.
Namun saat ini Yakuza sudah sangat jauh berkembang pesat dari segi bertempur di medan perang. Hal itu sangat jauh tak sebanding bagi orang biasa seperti Eric, apalagi dengan pemimpin mereka Shojo yang mempunyai kekuatan iblis di dalam dirinya, hingga Eric berniat untuk membentuk kumpulan gangsternya sendiri dengan sang kekasihnya Yuri dan adiknya Ardhias.
Dengan sebilah pedang katana, bersama sang kekasih, adik, dan teman-temannya memerangi mafia yakuza dengan saling bahu membahu, akankah Eric berhasil membalaskan dendamnya di masa depan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Swag131, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 : Membayar Tiket jalan-jalan 2
"Baiklah, kita akan menghampiri brandalan kelas X(10) itu untuk memberi mereka peringatan ..." ucap Eric dingin.
"Ya, kita akan membayar tiket jalan-jalan kita," sambung Ardhias.
Eric pun memutar pedal gas motor yang ia kendarai dengan membawa Ardhias di belakangnya, mereka berdua menghampiri sekumpulan pembalap liar itu.
Vroom! vroom!
Para brandal pembalap liar itu menoleh ke sumber suara rembesan gas motor Eric, beberapa orang yang sedang freestyle menghentikan aktivitas mereka, sedangkan gadis-gadis yang tadinya menonton para lelaki memamerkan motor modif, langsung gadis-gadis itu menoleh ke wajah tampan Eric, sontak mereka semua terkesima.
"Wah ..., yang baru aja datang siapa? ganteng banget ..."
"Mungkin pendatang baru ..."
"Liat motornya! keren banget ..."
"Hei, kalian berdua! kalian mau ikut bergabung dengan kumpulan kami?" ucap pemimpin kumpulan itu, Niko.
Eric langsung turun dari motornya dengan sok keren, namun saat Eric turun, para brandalan kelas X(10) itu menertawakan Eric dan Ardhias.
"Hahaha ..., Ada Mummy lokal sama orang yang sedang mimpi buruk ..." teriak salah satu orang, sambil yang lain juga ikut tertawa
Mereka semua menertawakan Eric dan Ardhias, karena saat ini Eric masih mengenakan piyama berwarna biru muda miliknya, sedangkan Ardhias mengenakan pembalut perban di wajahnya membuat dirinya terlihat seperti Mummy di malam hari. Sontak Eric teringat sesuatu yang dari tadi seperti menjanggal di pikirannya.
"Astaga! aku baru ingat, baju piyamaku." Gerutu Eric di dalam benaknya sontak rasa malu menjalar keseluruh tubuhnya.
Sedangkan Ardhias hanya langsung melangkahkan kakinya maju dan membentak para brandalan yang belum menghentikan tawa lepas mereka.
"KALIAN SEMUA AKU PERINGATKAN TIDAK BOLEH ADA KUMPULAN LAGI DI SINI ...!!!" Bentak Ardhias dengan suara lantang.
Mereka semua malah menambahkan tawa mereka terbahak-bahak, bahkan ada yang sampai terbaring lemas menahan perutnya yang sakit akan tertawa. Kini Ardhias mengeratkan kepalan tangannya, hatinya mulai kesal, kepalan tinjunya mulai gatal untuk memukul seseorang.
"Hahaha, kau pikir kau siapa? bagaimana bisa dengan kalian yang hanya berdua menyuruh kami berhenti berkumpul di sini, sedangkan dengan Polisi yang mengancam kami saja, kami tidak gentar sedikitpun oleh ancaman, selalu saja ada peluang bagi kami untuk kabur saat mereka melakukan Razia malam ..." ucap Niko dengan nada meremehkan, disambung dengan tawanya yang tak bisa terhenti.
Begitu juga dengan gadis-gadis, mereka sedang tertawa kecil sembari menutup mulut mereka. Mereka tertawa bukan karena melihat Eric yang mengenakan piyama, pasalnya saat ini mereka terkesima malu jika dilihat oleh Eric, sedangkan di sisi lainnya, para gadis itu tertawa melihat Ardhias yang lucu seperti Mummy.
Ardhias kini mulai bertambah kesal, ia langsung bertindak membuka perban yang menutupi wajahnya dan membelah perban itu menjadi dua bagian dengan hentakan kedua tangannya, langsung Ardhias menggulungkan kedua helai perban panjang itu di kedua tangannya menjadi gulungan gloves.
Seketika orang-orang yang tertawa terdiam, mulut mereka terngaga menatap ke arah wajah remaja lelaki tampan yang berada di hadapan mereka, lebih tepatnya lelaki yang mereka sebut Mummy. Gadis-gadis yang sedari tadi terkesima kepada Eric, sontak membuat mereka oleng, ingin memilih Pria tampan yang mana, mereka menjadi bingung. Pasalnya ketampanan Ardhias sudah hampir melebihi Eric, namun Eric belum tahu menahu soal wajah Ardhias yang sekarang.
Eric yang posisinya berada di belakang Ardhias langsung penasaran, di dalam benaknya ia bertanya-tanya, apa yang membuat sekumpulan brandalan itu berhenti tertawa, "Apakah hal itu disebabkan oleh Ardhias yang membuka perban di wajahnya?" gumam Eric dalam hati.
Kini Ardhias langsung mengeluarkan perkataan dari mulutnya, "Padahal kalian sudah aku peringatkan untuk membubarkan kumpulan ini, namun kalian malah menertawakan aku dan Kakakku, aku akan membuat kalian membayar untuk itu ...."
"Hah ...? kau pikir kami takut dengan kalian yang hanya berdua? berani sekali kalian mendatangi kawasan kami dan mengancam kami untuk membubarkan kumpulan ini, jika kau bersikeras, kau harus melewati mayatku dan semua orang yang ada di sini ..." gerutu Niko membuat para anggotanya menjadi sepaham dengannya.
"Hei ...! apa kalian sama sekali tidak mengenalku ...?" ucap Ardhias membuat raut wajah sekumpulan brandal pembalap liar itu penuh tanda tanya.
"Aku adalah Ardhias Basweda, mantan pemimpin WolfStreet ..."
Eric yang mendengar perkataan Adiknya Ardhias langsung menyunggingkan sudut bibirnya tersenyum kecil, ia langsung maju ke sebelah sisi Ardhias
"Dan aku adalah Eric Pratama, pemimpin baru WolfStreet ..." ucap Eric mematahkan jari-jari tinju tangannya.
Kini semua pembalap itu terdiam, lalu beberapa orang berbisik-bisik.
"Apa iya dia Ardhias ..."
"Aku dengar Ardhias adalah orang yang sangat kuat jika berkelahi, dia bersekolah di sekolah kita trisakti ...."
"Orang di sebelahnya itu Eric ...?"
"Eric ..., bukannya dia yang kalahkan Ardhias dua minggu yang lalu ...??
"Bagaimana bisa ada dua orang kuat itu berada di satu tempat ini secara bersamaan ...?"
Sekarang Ardhias menyunggingkan sudut bibirnya tersenyum kecil, langsung ia menantang semua orang untuk berkelahi.
"Jika kalian tidak percaya aku adalah Ardhias, dan tidak percaya dengan orang yang di sebelahku adalah Eric, maka majulah kalian semua melawan kami ...!!!" ucap Ardhias menantang.
Niko pun berjalan mengambil sesuatu dari balik motor miliknya, itu adalah sebuah tongkat bisbol berbahan besi padat yang dapat mematahkan tulang seseorang hingga patah ataupun remuk dalam sekali pukulan.
"Para pembalap liar semuanya ...!!! Ayo kita hajar dua orang yang berada di depan kita ini. Mereka sudah mengaku-ngaku menjadi dua orang yang kuat, tepatnya orang kuat yang bersekolah di sekolah kita trisakti, bahkan Aku dengar Eric Pratama adalah seorang pemimpin geng yang kuat yaitu WolfStreet, aku melihat tidak ada satupun anggota geng yang mereka bawa, mereka hanya mengaku-ngaku saja, ayo kita hajar mereka berdua ...!!!" teriak Niko serak memerintahkan semua anggota pembalap liarnya untuk menghajar Eric dan Ardhias secara bersamaan.
Sekarang semua pembalap liar itu turun dari atas sepeda motor mereka masing-masing, mereka semua berjalan ke arah Eric dan Ardhias bersama-sama, sedangkan para gadis menjauh mencari tempat yang aman untuk menyaksikan pertarungan itu.
Para pembalap liar itu pun mengepung Eric dan Ardhias, mereka semua memasang raut wajah menindas mereka, kini Eric dan Ardhias saling membelakangi satu sama lain, mereka memasang kuda-kuda siaga mereka. Niko yang menghentikan langkah kakinya di depan Eric, langsung melayangkan tongkat bisbolnya tepat di leher Eric.
Prakkk ...!!!
Semua orang tidak bisa mengedipkan mata mereka dengan mulut ternganga.
Eric sama sekali tidak bergeming dari posisinya, ia tidak melawan ataupun tidak menangkis serangan layangan tongkat bisbol Niko. Eric hanya menyunggingkan sudut bibirnya tersenyum kecil.
"A-apa? a-apa ini?" ucap Niko terbata-bata membuat anggota pembalap liar lainnya juga tercengang, mereka heran melihat Eric yang seolah tidak kesakitan.
"Padahal sudah kami peringatkan untuk membubarkan kumpulan ini ..." ucap Eric dingin.
Semua orang hanya memasang raut wajah menindas mereka, mereka tidak peduli dengan apa yang dikatakan Eric.
Ardhias yang menyadari tongkat bisbol itu masih menancap di antara bahu dan leher Eric, sontak ia langsung merebut tongkat bisbol itu.
"Hei ..." teriak Niko yang tongkat bisbolnya direbut oleh Ardhias.
"Hajar mereka ...!!!" perintah Niko sebagai pemimpin geng balap liar itu.
Semua brandal itu maju secara bersamaan ke arah Eric dan Ardhias, mereka semua bagaikan tsunami yang ingin menenggelamkan sebuah pulau, lebih tepatnya pulau itu adalah Eric dan Ardhias, hanya saja mereka tak menyadari jika pulau itu adalah gunung yang sangat tinggi, gunung yang sama sekali tidak bisa mereka tenggelamkan.
Ardhias langsung memukul para remaja brandal yang maju ke arahnya itu dengan tongkat bisbol yang ia pegang.
"Prakkk ...!" lelaki remaja kesatu terpukul di bagian perutnya hingga memuntahkan darah merah segar dari mulutnya.
"Prakkk ...!!" lelaki remaja kedua terpukul di bagian wajahnya hingga membuat tengkorak kepalanya retak.
"Prakkk ...!!!" lelaki remaja ketiga terpukul di bagian leher hingga membuat tulang leher itu patah serta tubuhnya jatuh tersungkur tak berdaya.
Kini orang-orang yang tadinya berlarian ke arah Ardhias sontak menghentikan langkah kaki mereka, mereka langsung bergidik ketakutan melihat ketiga teman mereka terbaring tak berdaya, "Ehm, bukankah sudah kami peringatkan ...?" ucap Ardhias mengulangi kata-kata Eric beberapa detik yang lalu.
Sedangkan Eric menangkis pukulan tangan dari Niko, sontak Niko menendang bagian pinggang Eric, Eric hanya menangkap pergelangan kaki yang melayang ke arah pinggangnya itu, membuat Niko tak bisa menggerakkan tubuhnya yang terkunci oleh gerakan silat Eric. Sedangkan para brandal yang ada di belakang Niko, lari berhamburan ke arah Eric yang sudah mengunci tubuh Niko, mereka ingin membantu bos mereka itu.
Namun Eric malah menendang tubuh bos mereka hingga terpental deras ke arah sekumpulan brandal yang berlari ke arah Eric itu, hal itu sukses membuat mereka jatuh tertabrak tubuh bos mereka sendiri, sementara itu para brandal yang tidak jatuh, mereka menghentikan langkah larian mereka untuk membantu Bos Niko berdiri.
Saat ini Niko merasakan kesakitan di dalam tubuhnya akibat tendangan yang Eric condongkan ke depan barusan.
"Aku tak menyangka akan hal ini ..., mereka sangat kuat, tapi aku yakin, mereka tidaklah sekuat Eric dan Ardhias yang bersekolah di sekolah kita trisakti ..." gumam Niko sembari mengelap darah yang tumpah di sudut bibirnya.
"Karena mereka sangat kuat, ayo kita hajar mereka secara bersamaan ...!!!" teriak Niko kepada seluruh anggotanya.
"Hiyaaa ...!!!" teriak semua sekumpulan brandal kelas X(10) itu.
Tiba-tiba ...
Vroom, vroom ...!!!
Sekumpulan geng bermotor sebanyak 30 orang berdatangan ke lokasi keramaian para brandal pembalap liar itu, 30 orang yang baru saja tiba adalah orang-orang yang mengendarai motor sport mahal. Salah satu orang dari kumpulan bermotor itu angkat bicara, itu adalah Raimon.
"Hahaha, Bos Eric. kami sudah tiba, apa ada yang bisa kami bantu di sini ...?" ucap Raimon
Para pembalap liar itu langsung bergidik ketakutan, mereka tau betul wajah-wajah anggota geng yang mereka takuti di sekolah.
"I-itu geng WolfStreet ..." ucap salah satu anggota brandal pembalap liar terbata-bata.
Kini semua para brandal dan juga gadis-gadis yang menyaksikan menjadi ketakutan, pasalnya yang mereka hadapi sekarang adalah kakak kelas mereka yang terkenal akan kuatnya mereka di sekolah. Ya, itu adalah geng WolfStreet sendiri.
"A-apa apaan ini ...? apa kau membayar mereka untuk ini ...?" ucap Niko ketakutan sembari bertanya dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah Eric, tangan Niko yang sedang menunjuk seperti bergetar. Eric pun angkat bicara seraya berkata,
"Kan aku sudah bilang, aku adalah Eric Pratama. Pemimpin baru WolfStreet ..." ucapnya penuh penindasan.
"Jadi sekarang bagaimana? apa kalian masih bersikeras melawan kami, atau kalian membubarkan kumpulan ini selamanya?" ucap Ardhias memberikan pilihan sehingga membuat para brandal yang mendengarnya terintimidasi.
"K-kami tidak akan biarkan surga kami dihancurkan oleh kalian ...!!!" teriak Niko keluar dari mulutnya.
Raimon langsung turun dari atas sepeda motornya sembari melangkahkan kakinya ke arah Niko dengan berbicara,
"Wah ... wah ... wah ..., sebagai adik kelas ternyata kau berani juga berbicara menantang seperti itu kepada kami ..." ucap Raimon penuh penindasan kepada Niko.
"I-itu ...!" ucap Niko terputus.
"Bukkk ...!!!" Satu pukulan tinju mendarat tepat di wajah Niko hingga membuatnya jatuh tersungkur kesakitan. Ya, pukulan barusan adalah Raimon yang melakukannya, sekali lagi hanya untuk memberi peringatan kepada mereka.
"Inilah yang akan terjadi jika kalian tidak mengindahkan perkataan kami, kami bukan hanya akan mengganggu kalian di tempat ini, bahkan di sekolah kami juga akan mengganggu kalian sampai jera ...!!!" ujar Ardhias dengan suara lantang.
Niko dibantu berdiri oleh teman-temannya sembari kembali mengelap bibirnya yang penuh dengan darah seraya berkata, "Kenapa kalian mengganggu kesenangan kami, apa urusan kalian ...?"
"Tentu saja itu adalah urusan bagi kami sebagai Kakak kelas kalian. Tidakkah kalian tahu bahwa hal negatif yang kalian lakukan sangat berdampak kepada pengemudi lintas malam, bisa saja seorang pengemudi supir bus yang tengah berusaha mencari nafkah demi anak dan istrinya sedang melewati lintas panjang ini pada malam hari, lalu kalian mengebut di jalanan membuat supir bus itu mengelak agar tidak menabrak kalian.
Jika ia kecelakaan dan mati di tempat, bagaimana kelangsungan hidup anak dan istrinya nanti, tidakkah kalian berpikir sampai ke situ? belum lagi para penumpang yang ada di dalam bus itu, keluarga mereka pasti sedang menantikan kedatangan mereka di rumah, jika mereka semua mati, itu sama saja kalian merenggut banyaknya nyawa penumpang. Dan tidakkah kalian tau ...? hal negatif yang kalian lakukan bukan hanya membahayakan orang di sekitar kalian, tapi juga membahayakan diri kalian sendiri ...!!! apakah kalian tidak ingat dengan wajah orangtua kalian yang khawatir sedang menunggu kepulangan kalian di rumah, apa kalian rela melihat orangtua kalian menangis saat melihat diri kalian mati di seret kerasnya permukaan jalanan aspal ...!!?" ucap Eric seperti seminar membangun pribadi karakter yang baik bagi para brandal itu.
Mereka seketika tertegun mendengar perkataan Eric, hati mereka tersentuh, gadis-gadis mulai menangis mengingat wajah orangtua mereka di rumah, serta para lelaki brandal itu juga mulai lembut hati mereka.
Niko yang terdiam mendengarkan perkataan Eric langsung menangis membasahi seluruh wajahnya, Niko mengingat kedua orangtuanya yang sedang menunggu kepulangannya di rumah, begitu juga para pembalap liar yang lain.
Ardhias juga tersentuh hatinya ketika mendengar perkataan Eric, ia langsung mengingat wajah ayah dan ibunya saat dirinya masih kecil, sebuah keluarga bahagia yang sangat ia ingat, dirinya berpikir ia ingin kembali lagi ke masa kanak-kanaknya, lagi-lagi Ardhias meneteskan air matanya, begitu juga seluruh Anggota geng WolfStreet. Ardhias hanya bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sekarang adalah anak yatim piatu.
Seketika semua brandal pembalap liar itu terduduk, beberapa dari mereka masih berdiri, ada juga yang berlutut, mereka semua melepaskan tangisan mereka sekencang-kencangnya karena memikirkan kedua orangtua mereka masing-masing.
Sedangkan Eric hanya tersenyum sinis, "Huh ..., dasar cengeng," gumamnya dalam hati. Seolah ia tidak sadar diri, saat ia rindu dengan ibunya yang tak kunjung pulang, sekali bertemu langsung meneteskan air mata.
"Hiks ..., baiklah ... Kakak kelas! kami tidak akan melakukan hal ini lagi! hiks ..." ucap Niko menangis sembari terisak-isak.
"Yah ..., baiklah bubarkan kumpulan ini, sebelum polisi datang ..." ucap Ardhias mengingatkan dengan matanya yang memerah berair.
Tiba-tiba ...
Wiu, wiu, wiu ...!!!
Benar yang dikatakan Ardhias, tak berselang waktu lama saat Ardhias baru saja mengingatkan polisi datang, ternyata tiba-tiba tiga mobil Polisi melaju cepat ke arah titik kumpulan mereka, jarak ketiga mobil Polisi itu masih cukup jauh, hingga membuat kumpulan yang mendengar suara sirine mobil Polisi langsung mereka berhamburan menaiki motor mereka, mereka semua kabur tak tentu arah, begitu juga Eric dan Ardhias beserta Raimon dan seluruh anggota WolfStreet memutar pedal gas mereka masing-masing dengan kencang.
Vroom! vroom! vroooommmm.....!!!
Sungguh malam yang berhamburan saat itu, jalan keluar lintas timur kota Axel padat dengan remaja-remaja yang berhamburan melarikan diri dari kejaran para Polisi yang tengah berpatroli malam.
"Cepat, Kak!!!" pinta Ardhias gelisah
"Ini aku udah gas pool ...!!!" sahut Eric
Vrooommmm ...!!!
Motor Eric dan Ardhias memisahkan diri dari kerumunan saat ada patahan belokan yang mengarah ke jalan pintas rumah Ardhias. Ya, ada jalan pintas yang menuju gang sempit, cukup muat jika sebuah motor masuk ke sana.
Tibalah mereka di depan rumah Ardhias, ketika Ardhias turun dan berbicara kepada Eric. "Kak!" panggilnya, sontak mata Eric menyala. "Kau siapa ...?" tanya Eric seperti tak mengenali Adiknya Ardhias itu, "Ini aku, Ardhias," jawabnya antusias. "Astaga ...! kenapa wajahmu sekarang berbeda ...?" tanya Eric kebingungan. "Entahlah, ayahku mengirimkan seorang dokter saat wajahku rusak setelah dipukul olehmu," jawabnya memelas. "Kau sungguh beruntung setelah aku memukul wajahmu, jika bukan karena aku kau tidak akan setampan ini, hahaha." Ledek Eric tertawa lepas.
"Justru aku tidak terbiasa dengan wajah yang seperti ini, aku ingin wajahku yang lama, makanya jika aku keluar, aku selalu memakai penutup perban," ujar Ardhias.
"Pasti jika bukan karena wajahmu, Alena tidak akan menerimamu, hahaha ...."
"Kau ...! sudahlah, lebih baik kita sudahi dulu malam ini, terlalu larut malam juga tidak baik, soalnya besok kita akan jalan-jalan, kan tidak asik jika berwisata dengan wajah mengantuk," ucap Ardhias memberi saran.
"Ah ..., iya. Kau benar ..., baiklah sampai jumpa besok di bus, Adik." Ucap Eric berpamitan.
"Oh ..., iya bentar, Kak! ini ada sebuah pil yang bisa membuat kita tidak mengantuk, ini berguna untuk kita besok. Pil ini sama dengan pil yang aku makan saat kita sedang di atas gedung sekolah, hanya saja pil ini memiliki efek samping, bisa membuat tubuh tidak bisa bergerak saat kita bangun tidur, efek sampingnya berlangsung dalam kurun waktu 1 jam," jelas Ardhias sembari menyodorkan tangannya memberi pil itu pada Eric.
"Hmm, baiklah. Aku terima pil ini, tapi aku akan berpikir dulu sebelum mencobanya," ucap Eric mengambil pil itu dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah.
Setibanya Eric dirumah, ia memasukkan motor hitamnya ke dalam garasi, selepas itu ia pun berjalan menaiki tangga terasnya, tanpa pikir panjang ia langsung membuka pintu rumahnya, keadaan dalam rumah masih gelap seperti saat Eric sebelum pergi tadi, ia hanya berjalan santai selepas mengunci pintu depan rumahnya itu.
Tiba-tiba lampu ruang tengah hidup, Eric yang baru saja sampai di ruang tengah menolehkan pandangannya ke arah tombol hidup lampu, di situ sudah muncul ibunya yang sedang menatap Eric penuh amarah.
"Dari mana saja ...?" tanya Ibunya membuat suasana mencekam.
"I-itu tadi ...."
"Gde ty byl, uzhe pozdno noch'yu, skol'ko raz tebe nado tebe govorit', ne vykhodi pozdno noch'yu, zavtra v shkolu, YA ustal ot tvoyego neposlushnogo povedeniya, YA skazal tebe, chto ochen' lyublyu tebya, ty moy yedinstvennyy rebenok, tvoye povedeniye takoye zhe, kak tvoy otets ...."
Ibunya berteriak marah dengan bahasa rusia yang Eric tidak mengerti, jika Ibunya marah itu tidak akan berhenti sampai amarah Ibunya Maria mereda.
Eric hanya memasang raut wajah mengkerut serta merasa pasrah, "Ini akan menjadi malam yang panjang ..." gumamnya dalam hati.
Baca di "Dangerous Minds" untuk kelanjutannya!
Oh ya, untuk rasa terimakasih nitip promo, saya sudah kasih 15 like dan favorit novel ini. Terimakasih, Thor!
buat temen2 yang mau baca tulisanku juga mampir yuuk