Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21
Bu tania meluruskan kakinya sambil membaca beberapa dokumen yang dikirimkan dewi sekertaris nya, namun tak lama pintu terbuka lebar dengan kencangnya.
"Gatra?" ucap bu tania menatap gatra yang berjalan ke arahnya "kamu dari mana aja?" tanya bu tania bangun dari duduknya
"Siapin air hangat, saya mau mandi" suruh gatra sambil melepaskan jasnya dan pergi berjalan ke kamar
"Ngadepin gatra benar-benar gak bisa cuma pake sabar, kalau aku terus lemah dia bakal malah seenaknya dan makin keras" gumam bu tania sambil menatap gatra yang membanting pintu dengan keras
Tiba tiba seorang supir datang mendorong dua buah koper, bahkan ia kembali menurunkan dua koper lagi. "ini semua pakaian dan beberapa kebutuhan den gatra non" ucapnya ramah
"Iya pak, oh iya gatra pulang ke rumah kapan?" tanya bu tania menyelidik
"Barusan sekali non, den gatra cuma menunggu di mobilnya menyuruh bibi memasukan pakaian nya ke dalam koper" jawab supir itu
"Dia gak masuk ke rumah sama sekali?" tanya bu tania bingung, yang di jawab geleng ngan kepala oleh supir itu.
"Gatra bener bener susah di tebak, apa mungkin dia menerima pernikahan ini makanya dia mau pindah ke sini? apa ini cuma karena dia menghargai aku?" pikir bu tania
Setelah supir itu pergi bu tania pun segera melangkahkan kakinya ke dalam kamar sambil menarik dua koper setelah suara gatra memanggil namanya dengan keras.
"Gimana aku mau nyiapin air hangat kalo dia ada di dalem kamar mandi" gerutu bu tania menatap kamarnya yang kosong
Tiba-tiba gatra keluar dengan telanjang dada dengan wajah marahnya "bu? cepet"
Bu tania segera masuk dan menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya, gatra hanya menyenderkan punggungnya sambil melipat kedua tangannya menatap bu tania.
"Udah?" tanya gatra saat bu tania bangun dan menghampirinya "kamu belum jawab pertanyaan saya" ucap bu tania dengan nada tegasnya
"Pertanyaan?" gatra mengerutkan keningnya seolah tak mengerti padahal dirinya tau arah pembicaraan bu tania
"Kamu dari mana?" tanya lagi bu tania masih dengan suara tegasnya menatap gatra yang berwajah datar
"Dari mana ke, yang penting kan saya pulang. lagian udah bagus saya mau pindah ke sini tinggal sama ibu" jawabnya angkuh
Bu tania menatap tajam gatra sambil melipat kedua tangannya "saya ini istri kamu, bukan lagi dosen kamu. kita harus saling menghargai, jadi saya minta kamu bisa lihat saya sebagai istri kamu"
Gatra tersenyum sinis sambil mendorong dengan kasarnya tubuh bu tania agar keluar dari kamar mandi "istri saya? lebih tepatnya istri pilihan orangtua saya, bukan pilihan saya"
Bu tania menahan rasa sakit yang membakar hatinya, sakit di dadanya benar benar sakit sekali. tolakan gatra saatnya sebelum menikah saja sudah sakit, apalagi setelah status pernikahan kini di genggam keduanya.
"Brug"
Bu tania menahan pintu yang hendak di tutup oleh gatra dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca "kenapa kamu gak tanya sama papah, kenapa mereka jodohin kamu sama saya. bukannya papah nyuruh tanyain pertanyaan itu setelah kamu menikahi saya?"
Gatra tersenyum sinis sambil mengangkat kedua alisnya "aduh bu drama banget sih, udah basi gak penting. toh saya udah nikahin ibu" jawabnya enteng sambil menutup rapat pintu dengan sekuat tenaganya
Bu tania duduk di tepi kasur meremas sprei dengan sekuat tenaganya, rasanya ingin sekali bu tania berteriak bahwa ia bukan perempuan miskin yang menginginkan harta gatra dan keluarganya. agar pandangan gatra terhadapnya tak sebegitu buruknya, namun apa mungkin gatra akan berubah?
"Aku gak tau sampai kapan aku harus menahan sakit ini, yang jelas aku gak akan menutup nutupi siapa aku di depan gatra. semoga gatra bisa jauh lebih baik memandang ku" ucapnya lirih
Bukan hanya bu tania yang menderita karena pernikahan-nya, tapi juga pak rangga. ia sangat amat bersedih tentang pernikahan bu tania dan gatra, ia bahkan sampai tak datang hanya karena ia takut tak bisa mengontrol emosinya.
Jelas ia tau gatra bukan lelaki yang baik untuk perempuan seperti bu tania, pak rangga tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan bu tania kedepannya setelah menikah.
"Pak rangga?" tanya seorang mahasiswa yang berada di hadapannya
"Eh maaf maaf, tadi kamu tanya apa?" tanya pak rangga menghempas lamunan konyolnya yang selalu membayangkan hidup bahagia dengan bu tania, untuk kedua kalinya ia merasakan di tinggalkan wanita terkasih oleh perempuan yang sangat ia cintai.
"Ah si bapak, besok aja deh. saya cape tadi jelasin" gerutu mahasiswa tadi sambil menyalami pak rangga dan pergi
Pak rangga menghela nafas panjangnya, tentu bukan hal mudah melupakan seorang perempuan yang benar-benar sudah ia kagumi sejak lama.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya bu tania menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 11.23, melihat gatra keluar kamar dengan kunci mobil yang di genggamnya
"Keluar sebentar" jawab gatra menoleh sedikit ke arah bu tania
"Iya, tapi kemana?" tanya lagi bu tania mengejar langkah kaki gatra
"Haduh, bu tania repot banget sih!" bentak gatra sambil membalikan badannya menatap tajam bu tania
Bu tania terdiam tetapi tetap menatap gatra sambil sedikit tersenyum manis "kamu boleh panggil saya tania aja gak usah ibu"
Gatra tersenyum sinis sambil mendengus kesal "bu tania yang terhormat saya sama ibu kan tua'an ibu, masa iya saya panggil nama. gak sopan dong" ucapnya sambil tersenyum lebar menepuk pundak bu tania
"Tapi kita udah menikah, dan kamu sekarang imam saya. surga saya ada di kamu" jawab bu tania dengan mulut bergetar merasakan sakit di dadanya
"Itu mah kata ibu sama menurut ibu" saut gatra dengan nada rendah sambil tersenyum licik
"Menurut kamu?" tanya bu tania dengan mata berkaca-kaca
"Menurut saya? emang sekarang saya boleh ngeluarin pendapat?" tanya gatra kembali tersulut emosi
"Apa menurut kamu?" tanya lagi bu tania
"Gak tau, saya gak punya penilaian untuk ibu dan pernikahan ini. yang saya tau, ibu mantan dosen pembimbing saya dan gak akan pernah lebih dari itu" jawab gatra dengan tegas menatap mata bu tania yang sudah semakin susah menahan air matanya
Bu tania pun tak bisa lebih lama menahan air mata itu agar tidak tumpah, namun gatra seperti biasa saja tak merasa bersalah sedikitpun.
"Tunggu dulu" bu tania menarik lengan gatra saat gatra kembali melangkahkan kakinya pergi "dulu kamu pernah terima perjodohan sama saya, inget?" sambungnya
"Tau nafsu gak? ngerti nafsu gak?" jawab gatra kesal, dirinya memegang bahu bu tania dengan kasar "siapa si bu lelaki yang gak tergoda sama tubuh ibu yang waw ini" sambungnya yang semakin membuat bu tania menangis
Gatra pun pergi menggunakan mobilnya, sedangkan bu tania duduk di lantai yang dingin sambil menangis tersedu-sedu. meratapi pernikahan nya di hari pertama, pak dario sengaja mengambil cuti untuk gatra agar bisa menjadi pengantin baru yang biasanya. namun gatra ternyata malah asik bersenang senang dengan yang lain bukan istrinya.
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek